
Dua anggota Satuan Polisi Air Kepolisian Resor Serdang Bedagai, Sumatera Utara, tewas tertembus timah panas setelah keduanya terlibat perseteruan, Rabu (29/4).
Korban adalah Brigadir M Dedi Sofyan (37) yang ditembak rekannya, Brigadir Satu Suprianto Sugiro (28), di rumahnya di Jalan Karya, Gang Masjid, Kelurahan Tualang, Kecamatan Perbaungan, Serdang Bedagai.
Suprianto diduga bunuh diri di lokasi yang sama, dengan menembak keningnya. Polisi hingga Rabu malam masih mendalami motif penembakan dan tindakan bunuh diri itu.
Informasi yang diperoleh Kompas, Rabu sekitar pukul 11.30, Suprianto mendatangi rumah Dedi sambil membawa senjata laras panjang SS1 V2. Suprianto marah-marah dan adu mulut dengan Dedi di dapur hingga menembakkan peluru ke tubuh Dedi di bagian kepala, dada, dan kaki.
Saat Eka Kumala Sari, istri Dedi, datang, Suprianto meminta Eka untuk menembak dirinya. Suprianto mengatakan hendak bunuh diri, tetapi Eka lari ke luar rumah. Eka kemudian mendengar bunyi letusan. Suprianto, warga Perbaungan, diduga menembak kepalanya sendiri.
Senjata SS1 V2 ditemukan dalam pelukan Suprianto, sementara senjata revolver milik Dedi masih utuh tersimpan di lemari. Jenazah keduanya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan untuk diotopsi.
Motif Bisnis Rentenir
Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara Inspektur Jenderal Eko Hadi Sutedjo mengatakan motif dua personel Polisi Air Kepolisian Resor Serdang Bedagai saling tembak adalah bisnis peminjaman uang.
Eko Hadi mengatakan untuk sementara polisi menyimpulkan aksi nekad Brigadir Satu Sigiro menembak mati rekannya, Brigadir Dedi, dilatarbelakangi bisnis peminjaman uang.
"Dari keterangan teman-temannya, Brigadir Satu Sigiro mempunyai pekerjaan meminjam-minjamkan uang kepada masyarakat dan polisi. Dia mendapatkan modal dari kakaknya, kemudian Brigadir Dedi bagian menagih. Jadi ada ingkar janji di antara mereka berdua," kata Eko Hadi kepada wartawan, Kamis, 30 April 2015.
Dua anggota Polair Polres Serdang Bedagai tewas mengenaskan tertembak senjata dinas laras panjang jenis V2 Rabu, 29 April 2015. Sigiro menembak Dedi di kaki dan dada. Lalu Sigiro mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya sendiri dengan senjata yang dia gunakan untuk menembak Dedi.
Keduanya ditemukan tergeletak tak bernyawa di dapur rumah Dedi, di samping Kantor Kepolisian Sektor Perbaungan antara pukul 11.3 hingga 12.00 WIB.
Setelah peristiwa mengenaskan itu, ujar Eko, kepolisian berfokus untuk menyelidiki pemberi izin senjata yang digunakan Sigiro di luar jam dinas. "Karena Briptu Sigiro menggunakan senjata dinas dalam keadaan tidak dinas," ujar Eko.
Setelah lepas dinas, menurut Eko, Sigiro seharusnya langsung menyerahkan senjatanya ke pos. Namun Sigiro malah membawa senjata tersebut ke rumah Dedi hingga terjadi insiden tersebut.
Juru bicara Polda Sumatera Utara Ajun Komisaris Besar Mangantar Pardamean Nainggolan menuturkan dari penjelasan saksi yang diperiksa, Sigiro mendatangi rumah Dedi dalam keadaan emosi sambil menenteng senjata.
"Briptu Sigiro menembakkan senjatanya ke arah kaki dan dada Brigadir Dedi. Seketika Brigadir Dedi tewas. Mengetahui Brigadir Dedi tewas, Briptu Sigiro menembak kepalanya sendiri dengan senjatanya dan tewas di tempat," ujar Nainggolan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar