
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Saud Usman Nasution menuturkan upaya pemblokiran yang diajukannya ke Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) merupakan bagian dari jihad.
"Kalau berjihad yang benar, sebagai pemerintah, kita berjihad untuk meluruskan terorisme," ujar Saud ketika diskusi di kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Jakarta, Minggu (5/4).
Saud mengklaim apa yang dilakukan lembaganya sebagai alternatif di tengah hiruk pikuk fenomena terorisme dan adanya saling tuding. "Tak ada ulama yang meluruskan, hanya menyalahkan."
Dengan dalih memerangi hal tersebut, BNPT bersikap tegas.
"Berapa banyak teroris yang harus dihadapi? Kita harus menyiapkan komponen bangsa agar bisa menghindari propaganda. Di Syiriah saja mereka datang untuk melakukan tindakan balas dendam," katanya.
Menurutnya, upaya jihad tersebut juga dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pihak.
"Kami sudah bekerjasama dengan 17 universitas Islam se-Indonesia. Juga training of trainer, bagaimana pola penanggulangan terorisme," ujarnya.
Selain itu, Saud menuturkan lembaga negara tersebut juga telah berdikusi dengan sejumlah civitas akademika.
"Kami dibantu untuk meluruskan. Kita belum ada yang mau berjihad untuk meluruskan itu. Hanya mau mengoreksi," ujarnya.
Di satu sisi, berdasar penelurusan BNPT, mayoritas generasi muda yang mudah terkena terpaan media sosial, mereka berpotensi untuk terjurumus dalam aliran jihad yang tak sesuai ajaran.
"Mereka memperoleh pemahaman yang keras dari media sosial," tuturnya. BNPT juga menerima laporan dari Aliansi Guru Agama Se-Indonesia, bahwa banyak siswa-siswa yang sudah memulai pemahaman radikal.
"Jangan ajak berjihad untuk pergi ke Syiriah sana. Ini kan merugikan. Perang menyebabkan menderita anak-anak (korban) itu," ucapnya.
cnnindonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar