
Yahudi Ethiopia, warga negara kelas tiga di Israel, Minggu (3/5) mengamuk dalam aksi demo anti-rasis paling besar dan keras di jantung Tel Aviv. Sedikitnya 40 orang cedera.
Channel 2 melaporkan polisi menembakan gas air mata dan water canon untuk membubarkan ribuan pengunjuk rasa. Yahudi Ethiopia melemparkan botol dan batu ke arah polisi yang berusaha menahan mereka di Rabin Square -- jantung itu kota Israel dan pusat kegiatan bisnis.
Aksi demo ini bukan yang pertama. Tiga hari lalu, ribuan Yahudi Ethiopia turun ke jalan, setelah video kebrutalan polisi Israel terhadap seorang tentara Israel dari Yahudi Ethiopia menyebar di media sosial.
Dalam video terlihat dua polisi Israel mendorong, memukul sampai jatuh tentara berkulit hitam, dan menganiaya. Tidak ada prajurit kulit hitam di militer Israel selain Yahudi Ethiopia.
Al Jazeera melaporkan sedikitnya 40 orang terluka, termasuk 23 polisi, dalam bentrok besar-besaran ini. Channel 2 melaporkan seorang wanita yang ikut aksi demo mengatakan; "Saya sudah tidak percaya lagi dengan polisi, mereka rasis dengan sesama Yahudi."
Aksi protes dimulai dengan damai. Pedemo, yang diperkirakan berjumlah ribuan, memblokir salah satu jalan utama di pusat Tel Aviv, dan menyebabkan kemacetan. Polisi berusaha membubarkan massa, dan bentrok tidak terhindarkan.
Diakui Kitab Suci, Didiskriminasi Polisi
Puluhan ribu Yahudi Ethiopia tiba di Israel antara 1980-an dan 1990-an, saat Ethiopia terkena bencana kelaparan sangat parah. Mereka diterbangkan dalam opreasi sangat rahasia, setelah dewan para rabbi -- petinggi agama Yahudi dari berbagai sekte -- membenarkan bahwa Yahudi Ethiopia adalah keturunan langsung Suku Dan serta tercatat dalam kitab suci.
Jumlah mereka terus memengkak, dan kini diperkirakan berjumlah 135 ribu di antara 8 juta penduduk Israel dari berbagai latar belakang. Namun, sejak tiba di Israel mereka tidak menjadi sasaran diskriminasi polisi, serangan rasis penduduk Yahudi dari Eropa dan Timur Tengah.
Setengah dari mereka hidup dalam kemiksinan absolut, dan hanya 50 persen dari generasi yang lahir di Israel berpendidikan tinggi.
Tindakan rasis tidak hanya dilakukan polisi, tapi menjadi kebijakan tak tertulis pemerintah Israel. Rejim-rejim Tel Aviv dituduh memulangkan ribuan dari mereka kembali ke Ethiopia.
Tahun 2013, pemerintah Israel diduga memaksa perempuan Yahudi Ethiopia mengikuti program keluarga berencana paksa, dengan memberi suntikan pembatasan kelahiran.
Ben Hartman, wartawan Jerusalem Post, mengatakan aksi protes ini adalah gejala dari masalah yang lebih luas di Israel. "Yahudi Ethiopia adalah minoritas yang tidak memiliki kekuasaan politik dan dukungan," ujar Hartman.
Namun, Yahudi Ethiopia hanya satu dari minoritas terdiskriminasi. Lainnya adalah Druze dan Arab, yang tidak akan bisa berintegrasi dengan Yahudi dari Eropa; Shepardim atau Azkenazim.
INL | ALARABIYA


Tidak ada komentar:
Posting Komentar