Tampilkan postingan dengan label Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Utama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Mei 2015

Alhamdulillah! Rohingya Tak Dipulangkan, Aceh Siapkan Lahan




Bupati Aceh Utara, Muhammad Thayib




Pengungsi Rohingya adalah rahmat bagi masyarakat Aceh, jadi muliakan tamu Allah ini dengan perlakuan yang baik



Kesungguhan menolong pencari suaka Rohingya yang terlunta, tak bisa sekadar memberi mereka layanan medis, pangan, atau pakaian belaka. Ada hak-hak dasar: hidup, bermasyarakat dan beraktivitas bebas selayaknya manusia.



Sadar kebutuhan ini, masyarakat sipil dan birokrasi pemerintahan di Aceh Utara menunjukkan wujud nyata demi kemanusiaan, pada pertemuan, Selasa, 26 Mei di Lhokseumawe.



Kesimpulan ini lahir dari hasil pertemuan Lembaga Kemanusiaan ACT Foundation, Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya (KNSR) dan Pemerintah Kabupaten Utara.



“ACT Foundation hadir di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kuala Cangkoy, pada hari pertama ketika para pencari suaka dari Myanmar dan Bangladesh itu direlokasi dari penampungan di Gelanggang Olahraga Lhoksukon. Kami tahu, Bupati Aceh Utara menegaskan, pencari suaka ini adalah rahmat, dan pemerintah Aceh Utara welcome dengan mereka,” kata M. Insan Nurrohman, Vice President ACT.



“Kemanusiaan, mengalahkan alasan apapun. Kami salut, rakyat Aceh Utara dan Bupatinya kompak, meskipun saat itu beredar pernyataan beberapa pejabat Pusat yang belum sepenuhnya menunjukkan sikap yang bulat,” tambahnya.



Insan mengungkapkan itu selepas pertemuan. Menurutnya, sikap pemerintah dan rakyat Aceh Utara, wujud nyata masyarakat humanis. Sekat-sekat kebangsaan bisa gugur demi kemanusiaan.



“Fakta menyolok mata, ada orang-orang sekarat ratusan orang, meminta pertolongan kita dan Aceh Utara memberikan pertolongannya spontan. Ini layak mendapat apresiasi. Sangat humanis,” ungkap Insan.



ACT yang telah menerjunkan tim tanggap darurat di Kota Langsa (Aceh Utara) maupun Birem Bayeun (Aceh Timur), merespon cepat pernyataan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla yang menyatakan kesiapan Indonesia menampung bahkan hingga sepuluh ribu pencari suaka.



“Kami merepresentasikan elemen masyarakat sipil Indonesia, menemui Pemerintah Aceh Utara, untuk bahu-membahu memberi pengayoman lebih layak bagi Muslim Rohingya. Setelah berbulan-bulan di laut, stress, lalu di tenda atau gedung-gedung alakadarnya, sudah sepantasnya kita siapkan hunian lebih layak,” tegas Insan.



Maka, ACT, bersama KNSR – sebuah wadah yang diinisiasi ACT menghimpun berbagai elemen sosial yang satu visi menolong Muslim Rohingya – menemui Pemerintah Aceh Utara. “Kami perlu akses lahan dan dukungan otoritas formal di Aceh Utara,” tutur Insan.



Apa respons Bupati Aceh Utara? 



Bupati Aceh Utara, Muhammad Thayib mengatakan, ”Pengungsi Rohingya adalah rahmat bagi masyarakat Aceh, jadi muliakan tamu Allah ini dengan perlakuan yang baik. Sebagai bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh, kami mendorong dan menyiapkan lahan untuk tempat tinggal lebih permanen bagi pengungsi Rohingya.”



Pernyataan ini, menunjukkan konsistensi. Muhammad Thayib tidak mengubah dukungan. Malah mempertegas dengan langkah konkret. Sebagai wujud dukungan awal, Pemerintah Aceh Utara menyediakan satu area kluster di Kecamatan Nibung seluas 2500 meter persegi.



“Saat ini kepemilikan masih di Exxon Mobile. Di depan bapak-bapak semua, sudah kami tanda tangani surat tersebut dengan harapan pihak Exxon bisa memberikan lahan yang sudah lama kosong untuk calon tempat tinggal mereka,” kata Muhammad Thayib.



Pertemuan yang berlangsung hangat ini juga dihadiri Penasihat Bupati, Tgk Sulaiman Daud dari Partai Aceh, Ketua Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya Wilayah Aceh Utara: Diki Saputra, Kepala Bagian Pemerintahan Aceh Utara: Murtala, Asisten I Bupati Aceh Utara: Anwar, Kepala Bagian Pembangunan Aceh Utara: Syaifullah serta Kepala Bagian Humas Aceh Utara: Amir.



Ketua KNSR Wilayah Aceh Utara, Diki Saputra menegaskan,”Sebagai sebuah komite, KNSR menyambut positif sikap konkret Bupati Aceh Utara dan menjadikan ini modal perjuangan kemanusiaan untuk Rohingya. Sesuai mandat pembentukannya, KNSR berjuang di ranah advokasi dan diplomasi,” ungkapnya.



“Dengan adanya lahan untuk mendirikan shelter terpadu di atasnya, dunia memiliki sebuah pilot project kemanusiaan di mana pembelaan untuk Rohingya lainnya akan memperoleh energi positifnya. Kami optimistis, semua pencari suaka Rohingya yang masuk ke wilayah Republik Indonesia, akan memperoleh perlakuan manusiawi dan sama-sama kita muliakan sebagai manusia. Dengan begitu, bangsa ini memang layak menyandang bangsa humanis,” ungkapnya.


Mesin Pembunuh Berjubah Biksu, Otak Pengusiran Jutaan Muslim Rohingya





Ribuan orang Rohingya terdiskriminasi dan memilih kabur dari tempat asal mereka di Myanmar. Nasib mereka mengenaskan karena ditindas dan dikucilkan di negeri bermayoritas Buddha tersebut.



Etnis Rohingya yang mayoritas Muslim memilih mati di negeri orang ketimbang bertahan di negara junta militer tersebut. Hal itu karena permasalahan yang terjadi dari tahun ke tahun dengan mayoritas masyarakat di Myanmar.



Kepergian mereka juga dipicu oleh seorang biksu Buddha yang menjadi dalang di balik neraka bagi kaum Rohingya. Biksu bernama Ashin Wirathu itu menyebarkan kebencian ke tengah masyarakat Myanmar.



Ashin menanamkan ketakutan kepada masyarakat Buddha di Myanmar bahwa suatu saat kelompok Muslim minoritas akan menguasai negara yang dulu dikenal dengan nama Burma itu. Seperti dilansir BBC, kemunculan Ashin Wirathu tepat 10 tahun lalu. Biksu dari daerah Mandalay kelahiran 1968 itu putus sekolah pada usia 14 tahun. Setelah itu, dia memutuskan untuk menjadi biksu.



Nama Ashin Wirathu pun mencuat setelah dia terlibat dalam kelompok ekstremis anti-Muslim '969' pada 2001. Karena aksinya, pada 2003 dia dihukum 25 tahun penjara. Namun, pada 2010 dia sudah dibebaskan bersama dengan tahanan politik lainnya.



Setelah peraturan pemerintah Myanmar melonggar, Ashin Wirathu semakin aktif bersuara di media sosial. Ashin menyebarkan pesan melalui rekaman ceramah yang diunggah di YouTube dan Facebook. Sampai saat ini, dia berhasil menjaring sekitar 37 ribu pengikut.



Pada 2012, ketika pertumpahan darah antara etnis Rohingya dan Buddhis terjadi di Provinsi Rakhine, Ashin semakin dikenal dengan pidato penuh amarahnya. Ceramah dia selalu dimulai dengan kalimat yang berbunyi, "Apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah sebagai seorang nasionalis". Saat ditanya, apakah dia adalah 'Bin Laden Burma', pria itu tidak menampiknya.



Ashin menyebarkan ajaran kebencian dalam setiap ceramahnya. Dia selalu menyasar pada komunitas Muslim dan seringkali memojokkan Rohingya. Pria inilah yang memimpin demonstrasi yang mendesak orang-orang Rohingya direlokasi ke negara ketiga. Ashin juga diketahui telah mengambinghitamkan kaum Muslim atas bentrokan yang terjadi di Myanmar.



Pada tahun 2007 di Myanmar para bisku buddha memimpin perlawanan terhadap kekuasaan mliter di Myanmar. Pesan Ashin saat itu tidak mendapat dukungan banyak orang. Namun, banyak biksu di Myanmar yang memilih bungkam menghadapi Ashin dan sebagian lainnya, takut diserang kelompok Ashin. Ashin juga diketahui memimpin lebih dari 2.500 biksu di biara Mandalay.



Dia pun mendapatkan dukungan dari pemerintah karena menyuarakan pendapat soal pandangan-pandangan populer, misalnya soal Rohingya. Ashin seolah menjadi corong pemerintah yang tidak bisa menyuarakan keinginannya sendiri karena alasan diplomatik.



Namun, kaum perempuan Myanmar merupakan satu-satunya kelompok yang konsisten menentang pandangan biksu yang disebut media Barat gemar menyebarkan teror tersebut. "Dia memberi reputasi buruk untuk negara kita. Dia menodai jubah biksu yang dia gunakan," kata Sekretaris Jenderal Liga Perempuan Burma, Tin Tin Nyo.



Tin Tin juga mengatakan, kampanye Ashin yang mengusulkan peraturan yang membatasi perempuan menikahi pemeluk agama lain, bukanlah bentuk perlindungan perempuan melainkan bentuk kontrol atas perempuan.



"Perempuan dapat memutuskan sendiri siapa yang ingin dia nikahi. Perempuan dapat memilih sendiri agama yang ingin dianut," tutup Tin Tin.

Biksu Radikal Burma Trauma dengan Indonesia, Kok bisa?





Akar masalah dari Rohingya adalah rezim militer yang tengah berlangsung di negara Myanmar. Rezim tersebut yang membuat etnis Rohingya tak memiliki kewarganegaraan. Kekejaman yang dilakukan mereka menjadi sorotan publik mancanegara.



Bukan hanya itu nasib umat Rohingya pun terkatung-katung dengan mengungsi keberbagai penjuru dunia seperti Indonesia dan juga Arab Saudi.



Konflik Rohingya tidak dapat dipisahkan dari latar belakang sejarah, corak keagamaan, dan psikologi budaya kedua kelompok yang berseteru. Saat ini gelombang pengungsi Rohingya telah mencapai lebih dari 12 ribu jiwa di Indonesia.



Hadirnya biksu Ashin Wirathu dikenal sebagai sosok radikal yang menyeruakan kebencian terhadap keberadaan Muslim di Myanmar, tak pelak majalah Time maupun New York Times pun melabeli Ashin Wirathu sebagai Osama Bin Laden versi Burma.



Penyebab sang biksu kejam lantaran dipicu dari trauma dengan negara Indonesia yang dahulunya terkenal sebagai penganut agama Buddha terbanyak yang lambat laun tergerus akan hadirnya umat Islam di bumi Nusantara.



"Biksu ini (Ashin Wirathu) mempunyai trauma yang tinggi terhadap Indonesia. Dirinya memiliki dendam kepada umat Islam, dan takut penganut agama Buddha menjadi terkikis di negara Myanmar seperti yang terjadi dulu di Indonesia," ujar Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas , Jumat (22/5).



Sementara itu, Ilyas menambahkan agar umat Muslim Indonesia menahan diri agar tidak tersulut dengan adanya permasalahan yang terjadi di Myanmar.



"Sentimen Buddha jangan di balas di sini, umat Islam tak mengajarkan balas dendam dan juga menghukum yang lemah tanpa belas kasih," ujarnya.



ROL

Biaya Pengungsi Rohingya yang sudah Dihabiskan, Gubernur Aceh: “Banyak Sekali, Saya Sudah Tak Ingat”






Sampai saat ini Pemerintah Pusat belum menyalurkan anggaran biaya bantuan untuk pengungsi Rohingya.



Pemerintah Aceh yang mengurus ribuan pengungsi Rohingya sudah menggelontorkan banyak uang untuk kebutuhan pengungsi Rohingya dan Bangladesh. Gubernur Aceh Zaini Abdullah meminta pemerintah pusat segera membantu biaya operasional pengungsi.



Namun, Zaini tak menyebutkan secara pasti dana yang sudah dihabiskan masyarakat dan pemprov untuk mengurusi warga Rohingya.



"Saya sudah tidak ingat berapa, karena banyak sekali," ujar pria yang akrab dipanggil Doto Zaini ini, Selasa (26/5/2015).



Ia menambahkan, Jusuf Kalla (JK) sudah mengutus Kementerian Sosial dan BNPB untuk membantu Pemda Aceh. Dia yakin ada pos anggaran di Kementerian Sosial untuk kemanusiaan.



"Saya rasa, itu (anggaran) harus sesegera mungkin. Kalau enggak mana mungkin daerah sendiri. Ini besar dananya dan ini kami selalu jalin komunikasi," ujarnya.



"Saya kira, Mensos sudah ada dana ini," tambahnya.



Pengungsi Rohingya di tampung di tiga kabupaten di Aceh. Total ada 11 ribuan pengungsi. Kendati dana menipis, Zaini memastikan pengungsi tetap ditangani dengan baik.



Ia juga tidak mengetahui detail program pemerintah pusat terkait sekolah bagi anak pengungsi Rohingya tersebut.



"Saya enggak tahu, ini kan program pemerintah. Menurut Pak Wapres sudah ada perjanjian tiga negara antara Malaysia, Thailand dan Indonesia. Ya dimufakatkan apa-apa saja yang diurus," ucapnya.

Senin, 25 Mei 2015

Rakyat Aceh akan Terus Bantu Pengungsi Rohingya





Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Sosial diminta mengizinkan sementara waktu para pengungsi Rohingya dan Bangladesh tetap berada di Aceh. Pemerintah diharapkan memperhatikan nasib mereka dengan memberikan kebutuhan dan fasilitas.



Permintaan tersebut disampaikan anggota parlemen Aceh, Iskandar Usman Al-Farlaky, saat menerima kunjungan kerja Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa meninjau keadaan pengungsi di kawasan Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa, Minggu, 24 Mei 2015.



“Untuk sementara waktu, biarkan mereka ditampung di sini. Saya meminta pemerintah membantu memfasilitasi kebutuhan dan tempat yang layak,” kata Iskandar dalam keterangannya kepada Tempo, Senin, 25 Mei 2015.



Permintaan agar para pengungsi tinggal sementara di Aceh sangat beralasan. Menurut Iskandar, warga Aceh mempunyai solidaritas yang tinggi dalam membantu mereka. Warga Aceh menyelamatkan mereka di laut kemudian berbondong-bondong membantu kebutuhan sehari-hari mereka setelahnya.



“Walaupun tanpa dikoordinasi, warga Aceh langsung tergerak memberikan bantuan.”



Semangat tersebut patut menjadi pemicu pemangku kekuasaan di Indonesia untuk mengambil langkah strategis dalam menyelamatkan masa depan para pengungsi.



“Apa pun langkahnya, jaminan kehidupan para pengungsi harus jadi prioritas,” ujarnya.



Pemerintah diminta terus mengambil langkah politik terkait dengan dugaan kekerasan yang diterima para imigran tersebut di daerah asal masing-masing. Termasuk mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa memfasilitasi serta menekan Myanmar dan Bangladesh bertanggung jawab penuh atas situasi yang terjadi.



Sementara itu, Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Aceh Darlis Azis menuturkan pihaknya bersama Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya (AMAPR) terus mengumpulkan bantuan untuk disalurkan kepada pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang ditampung di beberapa tempat di Aceh.



“Saya rasa, biarkan untuk sementara mereka di sini. Tidak ada masyarakat yang keberatan,” katanya.



Darlis, yang baru saja mengunjungi lokasi penampungan untuk memetakan kebutuhan pengungsi, menyatakan dukungan pemerintah yang sangat diperlukan adalah penempatan mereka di tempat layak.



“Seperti menyediakan shelter (barak) yang layak secepatnya. Sekarang sebagian mereka di tenda-tenda,” ucapnya.



Dia mendukung upaya pemerintah memberikan perlindungan dan bantuan untuk sementara waktu kepada para pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang terdampar di Aceh.



(ADI WARSIDI/TEMPO)

Aceh dan Rohingya, Simbol Revolusi Ukhuwah Abad Ini





Oleh : Raidah Athirah, Penulis Muslimah, tinggal di Polandia



ORANG-orang di dunia dikejutkan dengan sebuah tindakan heroik yang akan selalu dicatat oleh sejarah. Diingat oleh zaman dan dikenang oleh anak cucu peradaban.



Kebangkitan ukhuwah Islamiyah telah hadir. Memecah nasionalisme ketika hati batu hanya menghalau yang teraniaya. Menunjukkan kepada dunia bahwa ukhuwah ini tak ada sekat. Mereka yang berani bertindak atas ukhuwah yang tak perlu didengungkan tapi dibuktikan bahwa deritamu adalah kepiluanku saudaraku Rohingya.



Siapa orang-orang pemberani itu? Yang meruntuhkan simbol kesombongan teritorial? Siapa manusia-manusia berhati langit itu yang tak patuh pada kezaliman? Siapa pejuang-pejuang kebenaran itu yang bergerak menunjukkan ukhuwah melawan arus perintah yang zalim? Siapa sumbu ukhuwah yang membangkitkan ribuan hati relawan kemanusiaan?



Selamat kepadamu wahai pemilik rencong ‘BA’, SIN, MIM, LAM,HA ‘!

Selamat kepadamu wahai putra-putri pemberani Iskandar Muda!

Selamat kepadamu wahai tanah rahim Cut Nyak Dien!

Selamat kepadamu wahai putra-putri pejuang Tuanku Tengku Umar!

Selamat kepadamu wahai putra -putri tanah ulama!



Tak ada yang menggerakkan mereka selain seruan takbir dan doa orang-orang lemah, sekarat dan terombang ambing di laut tanpa harapan.



Inilah mereka saudara dari tanah para pejuang, yang melakukan revolusi ukhuwah tanpa ketakutan. Keberkahan dan kemuliaanlah untuk mereka di tanah Serambi Mekah, Aceh. Kau adalah simbol revolusi ukhuwah yang bangkit melawan kekeringan moral zaman.



Tak ada yang menggerakkanmu selain seruan takbir dan doa orang -orang lemah, sekarat dan terombang ambing di laut tanpa harapan.



Allah Tuhan Pemilik Langit dan Bumi menunjukkan kuasaNya dalam jejak-jejak pemberani nelayan Aceh. Keberkahan bagimu wahai saudara di tanah Serambi Mekkah.



Inilah saudara kita Rohingya yang terbuang. Yang ditekan. Yang terkatung-katung dalam derita tiada akhir tanpa tanah lahir, perlindungan dan masa depan. Yang jasadnya di laut menjadi saksi kemanusiaan yang pudar. Semoga Allah mengampuni atas kelemahan ukhuwah kita yang sekarat.



Inilah saudara kita Rohingya yang tangis dan teriakannya keluar dari mulut yang kehausan, kelaparan, dan kesakitan.



Mereka yang diberi gelar manusia perahu, pengungsi Myanmar, imigran gelap adalah saudara kita yang lemah dan tertindas, Rohingya.



Anak-anak kurus, wanita tangguh dalam ujian kelaparan dan ibu penuh air mata mengiklaskan kematian di depan mata, para lelaki yang sekarat, simbol muhajirin abad ini. Mereka adalah kehormatan kita, ukhuwah yang perlu pembuktian.



Dan saudaraku di tanah Serambi Mekah, kau adalah simbol Anshar abad ini. Segala puji bagi Allah untuk inspirasi ini. Semoga anak turunanku diberi kesempatan bertaut rahim di tanah Aceh.



Mari bertakbir menyongsong lahirnya simbol revolusi ukhuwah Islamiyah abad ini, Aceh dan Rohingya .



Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!




Jablonna, Polandia

Mahasiswa Aceh di Turki, Peduli Rohingya‎ dengan Lagu






Datanglah, datanglah ke Bumi Aceh/Kami akan memelukmu duhai saudaraku/



Sebagai putra bangsa, kita tak perlu sungkan untuk merasa iri. Ini iri yang 'nyunah'‎: iri pada intelektual saat beramal saleh dengan ilmunya; pun, iri dengan orang berada manakala ia banyak bersedekah. Dalam konteks ini, Aceh membuat saya iri. Nelayannya di Aceh Utara, Aceh Timur, tanpa ragu menolong Muslim Rohing, langsung menjemputnya di laut.



Tiba di pantai, masyarakat bersahaja, di sana pun berduyun-duyun menolong. Mereka jelas bukan intelektual pun bukan pula orang berada. Tapi dengan begitu mereka menjadi intelek sekaligus berada. Mereka intelek karena bekal keislamannya, belajar dari meunasah-meunasah.



Aura spiritualitas adalah keseharian masyarakat Aceh sedari dulu; hal yang melayakkannya menjadi provinsi bersyari'ah. Mereka berada, karena sanggup ikhlas berbagi. Bagai kaum Anshar berbagi sesuatu yang mungkin mereka sendiri masih memerlukannya, untuk kaum Muhajirin yang datang hanya membawa dirinya tanpa harta apapun.



Aceh, bagian Indonesia, telah berbagi spirit kedermawanan. Ia menginspirasi seantero negeri‎ dan dunia. Mengejutkan begitu luas, beribu hati. Lalu semalam,‎ seorang sahabat yang sedang studi di Ankara, Turki, berkirim kabar. Seorang ‎mahasiswa Aceh di Turki‎ merilis sebuah lagu untuk Rohingya. "Lagu ini sebagai solidaritas untuk Muslim Rohingya yang terdampar di Aceh," kata Teuku Bustanul Arifin, di tepi laut hitam, Trabzon, pelantun lagu ini.



Lagu itu judulnya 'Nasibmu Rohingya" terinspirasi dari puisi Azwir Nazar. Teuku Bustanul Arifin pun, mencoba menyanyikannya. "Tidak semuanya punya uang untuk membantu, demi komitmen atas kemanusiaan, kita harus mengambil peran semampu kita," ujar mahasiswa Ilahiyat tersebut. Nah, hasilnya? ‎



Lagu tini bisa didengar via, https://m.soundcloud.com/dhilf/nasibmu-rohingya. ‎Seperti ini liriknya:







/Mengingati /Nasibmu/Pecah tercabik sekujur tubuh/Mengapa aku lemah/Tak mampu untuk menolongmu/Kau disembelih aku tertawa/Kau dikejar aku diam/Kau terlunta aku alpa/Kau dibuat bak binatang/Apa yang harus ku kata/Pada sang Nabi cinta/Bila seluruh hidupmu/Adalah air mata/Terkatung beratap langit/Pakaianmu gelombang badai/Lapar dahaga harimu/Rohingya.../



/Ku tahu kaulah ujian tali imanku/Cinta ini membara dalam dada/Sayang ini membuncah mengguncang 'arasy/Tapi bagaimana nanti kujawab/Datanglah, datanglah wahai saudaraku/Kami akan memelukmu sepenuh cinta/Datanglah, datanglah ke Bumi Aceh/Kami akan memelukmu duhai saudaraku/



Kabar bagusnya, Azwir Nazar, mahasiswa Hubungan Internasional asal Aceh yang studi di Ankara, Turki ini, menyilakan kami - ACT Foundation, memanfaatkan lagunya untuk segenap tools kampanye kepedulian Rohingya. Dengan begitu, lagu ini menjadi amal jariyah bagi pembuatnya. Rohingya, Aceh, Indonesia: bersaudara. Di sini aku merasa iri, iri atas kuatnya jiwa filantropi orang-orang Aceh.



(Andika Rahman, Global Philanthropy Network-ACT)

Menyelamatkan Rohingya: Mengingat (Lagi) Kebaikan Orang Aceh








Mengapa Aceh yang sering dituding langgar HAM, sementara mereka menjadi yang terdepan dalam upaya penyelamatan pengungsi etnis Rohingya?



Oleh ARMAN DHANI, tinggal di Jakarta



Bagaimana kita mengingat Aceh? Ah tidak, bagaimana seharusnya bangsa ini mengingat Aceh. Tanah Serambi Mekah itu tempat di mana adat dan syariat ditegakkan, kemanusiaan masih, dan akan selalu ada. Kemerdekaan Indonesia, kekayaan negara ini, dan segala macam kemapanan yang kita punya, sedikit banyak berhutang pada masyarakat Aceh.



Pesawat Dakota RI-001 Seulawah adalah satu dari sekian banyak bukti kebaikan masyarakat Aceh. Seulawah atau gunung emas ini — merujuk pada nama gunung api di Aceh Besar — merupakan cikal pesawat yang digunakan republik untuk kepentingan negara.



Pesawat ini dibeli dari hasil sumbangan rakyat Aceh atas permintaan Sukarno yang datang khusus ke Aceh, medio Juni 1948. Dalam pertemuannya dengan Gubernur Militer Abu Daud Beureueh di Hotel Aceh, samping Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Presiden RI pertama itu menangis, mengiba agar rakyat Aceh membantu dana pembelian pesawat.



Menurut Pemerhati Sejarah Aceh, Abdurrahman Kaoy, saat itu Abu Mansor datang ke Pasar Atjeh memungut sumbangan dari warga yang berada di pasar tradisional samping Masjid Baiturrahman itu.



“Mereka dengan ikhlas memberikan perhiasan, emas, dan segala barang berharganya untuk disumbangkan,” ujar Kaoy. Sebelum kembali ke Pulau Jawa membawa sumbangan rakyat Aceh, dalam pertemuan akbar dengan rakyat Aceh di Lapangan Blang Padang, Sukarno berorasi mengajak rakyat Aceh membantu perjuangannya.



Tidak hanya emas, kita tahu bagaimana besar hati bangsa Aceh dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.



Daud Beureueh, bapak bangsa dari Aceh itu berkata;




“Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden. Asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah. Sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid.”



Tapi kita tahu, Aceh bukan kali ini saja berbuat baik. Megawati Sukarnoputri menangis terisak-isak pada tanggal 29 Juli 1999 di Aceh. Hal serupa pernah dilakukan ayahnya di tanah yang sama. Ia berjanji bahwa ketika ia memimpin negeri ini, “Untuk rakyat Aceh, percayalah, Cut Nyak tak akan membiarkan setetes pun darah tumpah di Tanah Rencong,” tapi kita tahu dan kita paham.



Dari Istana Negara, Megawati justru mengirimkan 40.000 pasukan ke Aceh dalam rangka Darurat Militer.



Menuding Aceh Kolot



Apakah yang terjadi boleh jadi hanya sejarah, tapi kita tahu betapa besar kualitas karakter manusia-manusia Aceh ini. Mereka adalah manusia-manusia yang ingin tegaknya syariat. Lebih dari apapun, mereka tak peduli meski harus dinilai kolot.



Namun syariat yang mereka pegang dengan erat, bukan sekedar tempelan, bukan sekedar label. Tapi ia adalah sebuah ikhtiar untuk menjadi umat yang terbaik.



Saya, yang bukan warga Aceh, barangkali bisa menyebut syariat dan qanun (peraturan daerah) adalah sebuah diskriminasi. Kita yang bukan orang Aceh mudah saja menyebut bahwa pemberlakuan syariat adalah pelanggaran hak asasi.



Tapi adilkah kita menilai sesuatu yang belum kita pahami? Agama Islam barangkali adalah sebuah urat nadi, sebuah identitas yang membuat manusia-manusia Aceh tidak segan membantu dan menolong. Kita barangkali hanya berhenti pada satu sisi yang dianggap buruk, namun tidak melihat sisi lain yang punya wujud lebih baik.



Di tengah lambat, lelet, dan abainya pemerintah Indonesia terhadap para pengungsi Rohingya, nelayan Aceh dengan nalar yang masih bekerja menyelamatkan para pengungsi itu. Marzuki Ramli, 45 tahun, adalah salah satunya. Nelayan asal Kuala Langsa itu, bersama kawan-kawannya, menyelamatkan ratusan pengungsi korban kejahatan keamanusiaan itu.



Kebaikan nelayan Aceh bagi pengungsi tak hanya sebatas menyelamatkan. Pada gelombang pengungsi sebelumnya, warga Aceh membantu dengan memberikan makanan ke tempat penampungan. Bahkan ada beberapa warga Aceh yang ingin mengadopsi anak-anak pengungsi.



Mereka tidak mengenal apa itu kedaulatan atau eksodus. Sesuatu yang ditakutkan Jendral TNI Moeldoko, bagi Marzuki, nelayan sederhana itu, “Ada orang yang mengapung-apung di laut. Kalau kalian terlambat datang, bisa mati semua.”







Indonesia baru saja menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi; Konferensi Asia Afrika dan segala hal yang mereka sebut sebagai upaya menegakan kedaulatan. Di tengah acara itu Bandung mendeklarasikan diri sebagai kota HAM.




”Agak ironis sebenarnya, ketika kita kerap kali mengkritik syariat islam di Aceh yang dianggap melanggar HAM, justru merekalah yang paling gegas menolong sesama manusia.”



Dalam kasus ini, Rohingya lebih relevan ketimbang sekedar deklarasi kosong.



Ini bukan pertama kali Indonesia mendapat kedatangan tamu pengungsi. Pada 1979-1996 pernah pula muncul fenomena manusia sampan. Mereka adalah orang-orang Vietnam yang mengungsi akibat perang saudara. Ada 250.000 pengungsi Vietnam yang lantas tinggak di pulau Galang, di bagian selatan pulau Batam. Selama kurun waktu 7 tahun mereka tinggal di pulau itu, untuk kemudian pulang setelah perang saudara berakhir.



Mengingat sejarah itu, ini bukan pertama kalinya pemerintah Indonesia menerima pengungsi. Maka adalah sebuah sikap yang congkak dan abai, mengusir para pengungsi hanya berlandaskan masalah teritorial dan kedaulatan bangsa.



Indonesia seharusnya Malu



Maka ketika masyarakat Aceh menolong pengungsi Rohingya, pemerintah seharusnya malu. Peran negara diambil alih oleh masyarakat, sementara aparatus yang ada hanya mampu berlindung di balik aturan kolot.



Syariat Islam bukan sekedar label, ia adalah pedoman hidup masyarakat Aceh. Mereka membuktikannya tidak dengan sekedar memberlakukan qanun, tapi menolong orang orang Rohingya yang malang.



Ketika negara sibuk berkutat pada hukum-hukum positif tentang kedaulatan negara, tentang agenda politik dan hal-hal genit lainnya. Orang Aceh hanya paham satu hal, sesama Muslim mereka wajib saling menolong, dan itu saya kira lebih mulia dari sekedar Nawa Cita.



Tapi, yah, bagaimana lagi? Apa yang bisa diharapkan dari sebuah pemerintahan yang diam saja pada pembunuhan anak-anak di Paniai Papua?



Barangkali kelak, jika semuanya sudah terlambat, Pemimpin Besar Nawa Cita kita akan blusukan ke Aceh.







Arman Dhani 

adalah seorang penulis lepas.

Tulisannya bergaya satire penuh sindiran.

Ia saat ini aktif menulis di

blognya www.kandhani.net.

Follow Twitter-nya, @Arman_Dhani.

Minggu, 24 Mei 2015

3 Syarat Jokowi Mau Tampung Rohingya






Meski pemerintah pusat merasa telah mendapatkan solusi untuk pengungsi Rohingya, Pemerintah Aceh dan Sumut masih menanti kejelasan sikap dari pemerintah pusat




JAKARTA — Pemerintah pusat telah bersedia menampung para migran dari Bangladesh dan Myanmar untuk jangka waktu setahun. Tapi kesediaan ini bukan tanpa syarat.



Setidaknya ada 3 syarat yang tersirat dalam pernyataan Presiden Joko "Jokowi" Widodo yang disampaikan pada Sabtu, 23 Mei 2015.



1. Malaysia dan Thailand juga harus terima pengungsi



"Dan alhamdulilah, semuanya sudah sepakat dan kita juga sepakat, tapi dengan catatan-catatan. Kita menerima, Malaysia juga sama, Thailand juga sama," kata Presiden Joko "Jokowi" Widodo.



"Dan kemarin alhamdulilah, Myanmar juga ingin menghambat agar tidak lagi banyak yang mengungsi keluar. Ini saya kira sebuah jalan keluar yang baik, karena semua negara mau menerima. Karena itu sisi kemanusiaan yang kita ambil."



2. Dukungan finansial dari PBB dan negara lainnya



Jokowi mengatakan bahwa catatan lainnya adalah Indonesia menginginkan bantuan dari PBB, terutama terkait finansial.



"Ini tadi kan sudah saya sampaikan, biaya-biaya akan ditanggung oleh UN dan beberapa negara yang belum, masih dalam pembicaraan, belum bisa saya sebut. Kalau itu sudah kira-kira final, baru kita mempersiapkan," kata Jokowi.



3. Resettlement dalam waktu setahun



Meski Jokowi mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia akan menyiapkan penampungan, itu tidak bisa dilihat sebagai hal yang permanen.



"Resettlement juga dipastikan tidak lebih dari satu tahun," kata Jokowi.



Sebelumnya pemerintah menyatakan akan mengevaluasi status dari pengungsi ini. Bila mereka memang pengungsi, maka akan ada proses resettlement, menempatkan mereka di negara yang mau menerima.



Namun bila ternyata mereka pergi karena pertimbangan keuangan, yang disebut sebagai economic migrant, maka pemerintah akan melakukan repatriasi, atau memulangkan mereka ke negara asal. *rappler

Rohingya ke Masyarakat Aceh, “Terimakasih Banyak!”






Rohngya berharap dapat menetap di Aceh atau di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragam islam.



Para pengungsi Rohingya, Myanmar, menyampaikan terimakasih kepada masyarakat Aceh karena telah membantu menangani mereka selama berada di pengungsian.



"Kami hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat Aceh yang telah menyelamatkan nyawa kami dari kelaparan dan terancam karam di lautan," ujar Muhammad Husien, pengungsi asal Myanmar ketika mendapat kunjungan Mensos Khofiffah di lokasi pengungsian Kuala Langsa, Kota Langsa, Minggu.



Dalam lawatan kerjanya ke Aceh, Menteri Sosial Koffifah Indar Parawansa, tiba di Kota Langsa sekira pukul 11.00 WIB dan langsung menuju pendopo yang diterima Wakil Wali Kota Langsa Marzuki Hamid beserta jajarannya. Sekira 1 jam lebih, Menteri Koffifah melakukan pertemuan dengan unsur muspida dan tokoh masyarakat yang hadir.



Kemudian mengunjungi kamp pengungsian Kuala Langsa guna mengetahui situasi dan perkembangan para pengungsi Rohingya yang ditampung di sana. Mensos melihat dapur umum dan menyerahkan bantuan secara simbolis.



Dijadwalkan setelah kamp Kuala Langsa, mantan Menteri Peranan Wanita era Pemerintah Gusdur itu juga mengunjungi kamp Rohingya di Bayeun, Kabupaten Aceh Timur dan kamp penampungan di Kabupaten Aceh Tamiang sebelum bertolak ke Bandara Kuala Namu, Sumut, untuk kembali ke Jakarta.



Khofifah juga mengaji bersama anak-anak pengungsi Rohingya.



Setiba di Pelabuhan Kuala Langsa yang dihuni 672 jiwa yang terdiri dari 257 warga Rohingya dan 425 warga Bangladesh, Mensos menggendong seorang anak pengungsi Rohingya yang menangis.



Saat datang, bertepatan dengan waktu makan siang, ia sempat melihat penyajian makan siang yang disajikan saat itu berupa nasi putih dan gulai ayam dilengkapi sebuah pisang yang disajikan di atas piring plastik.



Di lokasi tersebut Mensos membagikan Alquran dan jilbab kepada para pengungsi karena mereka semua sesudah didata adalah muslim. Saat menyerahkan Alquran, Mensos memangku anak-anak dan mengajak mereka mengaji bersama.



Ratusan muslim etnis Rohngya dari Myanmar yang terdampar diperairan Aceh Utara, Aceh Timur dan Kota Langsa berharap dapat menetap di Aceh atau di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragam islam.



Di pengungsian tersebut terdiri dari 118 laki-laki, 76 perempuan dan 63 anak-anak Rohingya. Mereka tiba di perairan Kuala Langsa tersebut pada 15 Mei lalu tepatnya di pesisir Aceh Timur.



Menteri Khofifah juga menyampaikan rasa terima kasih atas upaya masyarakat Aceh yang ikut membantu penanganan pengungsi Rohingya.



"Atas nama pemerintah kami sampaikan terima kasih atas seluruh upaya pemda dan masyarakat Aceh," kata Mensos.



Berdasarkan data jumlah pengungsi Rohingya dan Bangladesh berjumlah 1.759 jiwa di empat titik tersebut dengan rincian sebanyak 564 jiwa di Punteut Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe.



Sebanyak 672 jiwa ditampung di Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa, 476 jiwa di Bireun Bayeun, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur, dan sebanyak 47 jiwa di gedung milik pemda Kabupaten Aceh Tamiang.

Nelayan Aceh Pantas dapat Penghargaan “Pahlawan Kemanusiaan”






"Atas nama kemanusiaan kami berharap Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat memberikan penghargaan (kepada nelayan) sebagai pahlawan kemanusiaan,"



Dalam sebulan terakhir, nelayan Aceh menyelamatkan lebih 1.500 lebih imigran Rohingya dan Bangladesh dari tengah laut. Mereka sempat terombang-ambing dengan kondisi boat mati mesin. Para nelayan yang melihat pemandangan pilu itu kemudian menyelamatkan 'manusia perahu tersebut'.



Para nelayan Aceh telah menunjukkan rasa empatinya dengan menyelamatkan lebih seribu pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang terdampar di tengah perairan provinsi itu. Pemerintah diminta memberi penghargaan kepada para nelayan tersebut.



Permintaan itu disampaikan Koordinator Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya (AMPAR), Basri Effendi.



"Pemerintah RI dan Pemerintah Aceh perlu memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para nelayan yang di tengah keterbatasannya, mereka turun tangan untuk membantu 'manusia perahu' yang sedang sangat menderita," katanya, Minggu (24/5/2015).



Seperti diketahui, sekitar 28 nelayan dari Desa Simpang Lhee, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur, melakukan aksi heroik dengan menarik kapal imigran itu ke tepi muara pantai Aceh Timur.



Saat itu, Para nelayan di Kuala Langsa, Aceh, harus menanggalkan pukat mereka dan berhenti mencari ikan demi menyelamatkan ratusan pengungsi Rohingya dan Bangladesh di lautan.



Nelayan Aceh juga berkorban materi. Bahan makanan untuk di laut berhari-hari habis dibagikan kepada para pengungsi. Begitupun solar untuk menyelamatkan nyawa imigran di tengah laut.



Mereka ditemukan nelayan tradisional terapung di tengah lautan dalam keadaan kelaparan, setelah meninggalkan negaranya yang sedang bergejolak dan diusir negara-negara lain yang disinggahinya.



Dengan pertimbangan kemanusian para nelayan asal Aceh berjibaku menyelamatkan para manusia perahu yang sebagiannya melompat ke laut untuk meminta bantuan. Nelayan menarik mereka satu-satu ke dalam boat, untuk dibawa ke daratan.



Di daratan para nelayan bersama warga desa kemudian bahu membahu memberi bantuan darurat seperti makanan, minuman bahkan kain, sebelum bala bantuan lain datang. Para imigran itu sekarang ditampung di Aceh Utara, Aceh Timur, dan Langsa, dan kondisi mereka jauh lebih baik dari saat pertama ditemukan.



"Hari ini seluruh dunia melihat Rohingya selaku etnis terzalimi, mereka tidak diakui oleh negaranya dan diusir oleh negara-negara tujuan yang disinggahi. Dalam kesedihan itu masyarakat Aceh khususnya nelayan Aceh menunjukkan rasa empati di tengah gersangnya rasa kemanusiaan dunia," ujar Basri.







Dia merasa ironi kalau nelayan dilarang membantu para pengungsi Rohingya, karena itu sangat paradoks dengan niat tulus yang ditunjukkan para nelayan. AMAPR pun menginisiasi pemberian penghargaan kepada nelayan setelah melihat peran mereka yang cukup heroik dalam menyelamatkan manusia-manusia perahu. Aksi itu diharapkan bisa diikuti pemerintah.



Dedikasi kemanusian ditunjukkan para nelayan Aceh untuk menyelamatkan manusia Rohingya yang diambang maut, tanpa mengenal batas teritorial dinilai pantas diapresiasi.



"Atas nama kemanusiaan kami berharap Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat memberikan penghargaan (kepada nelayan) sebagai pahlawan kemanusiaan," sebutnya.

Pemerintah Janjikan Rp 2,3 Miliar untuk Pengungsi Rohingya





Dalam satu bulan terakhir, Indonesia didatangi ribuan pengungsi Rohingya dari Myanmar dan juga dari Bangladesh. Kapal-kapal kayu yang mengangkut mereka secara gelap terdampar umumnya di Provinsi Aceh.



Para pengungsi itu kini ditampung di empat titik di Aceh. Mereka juga telah diberikan bantuan Rp 2,3 miliar. Bantuan dikucurkan oleh Kementerian Sosial dalam bentuk barang.



"Bantuan untuk penanganan pengungsi Rohingya di Kabupaten Aceh Timur nilainya Rp 611 juta," ujar Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Kementerian Sosial Margowiyono di Langsa, Minggu (24/5/2015). Bantuan itu berbentuk barang seperti tenda gulung, matras, perlengkapan keluarga, perlengkapan anak, makanan, dan selimut.



Barang-barang bantuan itu dikirimkan dari gudang regional Palembang, gudang pusat Bekasi, dan gudang Sumatera Utara.



Sementara bantuan untuk penanganan pengungsi di Kabupaten Aceh Tamiang nilainya Rp 171 juta, berupa barang-barang keperluan pengungsi yang dikirim dari gudang regional Palembang, dan gudang pusat Bekasi.



Sedangkan bantuan untuk penanganan pengungsi di Kota Langsa senilai Rp 609 juta dan Aceh Utara senilai Rp 931 juta.



Berdasarkan data pemerintah, pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang berada di Aceh jumlahnya 1.759 orang. Dari jumlah itu, 564 orang berada di Punteut, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.



Sedangkan di Pelabuhan Kuala Langsa (Langsa) terdapat 672 pengungsi, di Bireun Bayeun (Aceh Timur) 476 pengungsi, dan 47 orang di Kabupaten Aceh Tamiang.



Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa akan mengunjungi para pengungsi di Langsa dan Aceh Timur untuk melihat kondisi mereka serta menyerahkan bantuan. (Ant)

Mensos Khofifah: “Semoga semua Ikhtirar masyarakat Aceh Dicatat Malaikat”





Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyampaikan rasa terima kasih atas upaya masyarakat Aceh yang ikut membantu penanganan pengungsi Rohingya.



"Atas nama pemerintah kami sampaikan terima kasih atas seluruh upaya pemda dan masyarakat Aceh," kata Mensos di Langsa, Minggu (24/5/2015), seperti dikutip Antara.



Mensos mengatakan, sejak awal para pengungsi itu terdampar di perairan Aceh Utara, Pemerintah Aceh sudah melakukan upaya layanan dan sudah disampaikan ke pemerintah pusat.



"Kalau masyarakat Aceh pasti dasarnya sangat kuat dalam upaya ini, maka mudah-mudahan seluruh ikhtirar ini dicatat malaikat, dan malaikat tidak akan salah mencatat," katanya.



Berdasarkan data, jumlah pengungsi Rohingya dan Bangladesh sebanyak 1.759 jiwa di empat titik. Rinciannya, sebanyak 564 jiwa di Punteut Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe.



Sebanyak 672 jiwa ditampung di Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa; 476 jiwa di Bireun Bayeun, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur; dan sebanyak 47 jiwa di gedung milik pemda Kabupaten Aceh Tamiang.



Pada 10 Mei lalu, gelombang pertama pengungsi Rohingya tiba di perairan Aceh Utara dan dibantu oleh nelayan setempat yang menyelamatkan mereka. Sejak itu, berbagai bantuan disalurkan baik dari masyarakat maupun Pemerintah Aceh.

Wanita Rohingya dan Bayinya ini 2 Bulan Arungi Lautan





Ribuan pengungsi muslim Rohingya, termasuk wanita dan anak-anak, terombang-ambing di lautan tanpa makan, tanpa minum, dan tanpa perbekalan yang memadai. Mereka mencoba mencari pertolongan agar terhindar dari kekerasan di tanah kelahirannya.



Mimpi mereka untuk mendapat perlindungan dan kebebasan harus pupus. Militer Malaysia dan Thailand termasuk Indonesia menghadang perahu dan meminta mereka menjauh dari daratan negaranya.



Alhasil, mereka harus terkatung-katung di tengah lautan dan mulai kelaparan dan kehausan. Tidak sedikit dari mereka harus merenggang nyawa akibat tidak kuat menahan lapar dan dahaga.



Sedih, kecewa, putus asa menjadi hiasan mereka dalam melewati hari-hari. Selama seminggu lebih, mata mereka hanya melihat hamparan air Lautan Andaman.



Secercah harapan hidup kembali muncul ketika sejumlah nelayan Aceh menemukan mereka di tengah lautan. Para nelayan itu segera mendekat perahu para pengungsi dan melakukan aksi heroik,

Penyelamatan.



Mereka lalu mengaitkan tali ke kapal para pengungsi itu. Tali terikat kuat, mesin menyala, dan kapal itu melaju menuju "tanah harapan".



Rukiyah (20) pengungsi Rohingya, bersama dengan bayinya yang berusia empat bulan terdampar di perairan Aceh Timur setelah sekitar dua bulan terombang-ambing di laut.



"Selama dua, tiga bulan di kapal karena di Myanmar susah," kata Rukiyah, dengan bahasa Melayu terbata-bata saat ditemui di penampungan sementara pengungsi Rohingya di Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa, Minggu.



Rukiyah menceritakan, setelah melahirkan bayinya Muhammad Mahin di Myanmar, sekitar usia kurang dari dua bulan dibawa dengan kapal keluar negara tersebut.



Dia terpaksa berlayar bersama seorang adik dan kakaknya dengan kapal nelayan , sedangkan suaminya sendiri sudah lebih setahun bekerja di Malaysia.



"Ada kapal kami ikut saja, tidak tahu dibawa kemana karena hidup di Myanmar susah," katanya.



Rukiyah juga mengaku tidak tahu akan kemana, ia hanya ingin berkumpul dengan keluarganya. Hampir setiap hari suaminya yang berada di Malaysia menelepon menanyakan kabar mereka.



"Kalau telpon sering nangis," katanya sambil memperagakan tangan orang menangis dengan mengusap-usap mata.



Rukiyah adalah salah satu dari 672 pengungsi yang ditampung di Pelabuhan Kuala Langsa. Di lokasi tersebut terdiri dari 118 laki-laki, 76 perempuan dan 63 anak warga Rohingya dan 425 warga Bangladesh.



Pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat Aceh terus mengulurkan tangan membantu mereka yang berada di empat titik pengungsi di Aceh.

Sabtu, 23 Mei 2015

Bocah 12 Tahun ini Kemudikan Kapal Rohingya




Attaurahman, berusia 12 tahun dipercaya untuk mengemudikan kapal yang membawa ratusan pengungsi asal Myanmar dan Bangladesh. (CNN Indonesia/Denny Armandhanu)



Seorang bocah Rohingya berusia 12 tahun dipercaya untuk mengemudikan kapal yang membawa ratusan pengungsi asal Myanmar dan Bangladesh. Dia bersama ratusan pengungsi lainnya berhasil diselamatkan dari kapal yang telah rusak tersebut di perairan Aceh Timur.



Adalah Attaurahman yang mengaku seperti dilansir CNN Indonesia, Kamis (21/5), dipercaya oleh kapten asal Thailand untuk mengemudikan kapal tersebut.



Di penampungan wilayah Birem Bayeun, Attaurahman mengatakan, awalnya dia dipercaya untuk membagikan nasi pada ratusan pengungsi Rohingya dan Bangladesh dalam perjalanan dari Myanmar menuju Thailand.



"Kapten sayang pada saya. Karena saya membagikan nasi, saya bebas masuk ke ruang kemudi dan lihat cara mereka membawanya. Saya kemudian, dan seorang dewasa lainnya, dipercaya untuk mengemudikannya," kata Attaurahman.



Kesaksian para pengungsi lainnya mengatakan, setelah sampai di Thailand mereka tidak diperbolehkan menginjak daratan dan tetap berada di kapal selama sekitar satu bulan.



Dalam perjalanan menuju Thailand, kata Attaurahman, ada delapan kapal. Sebanyak 500 orang di kapal mereka dibagi dan dipindahkan ke empat kapal, sementara empat kapal lainnya dibawa oleh kapten dan awaknya.



"Kapten memanggil dua orang, saya dan seorang dewasa. Dia memberi tahu cara kemudikan kapal," ujar Attaurahman yang sejak itu didaulat menjadi kapten cilik.



Kapten dan para awaknya kemudian meninggalkan kapal tersebut. Selama sekitar 3 bulan mereka terombang-ambing di lautan sebelum akhirnya ditemukan oleh nelayan.



Pengakuan Attaurahman ini dibenarkan oleh pengungsi Rohingya lainnya. Berdasarkan pengalaman ini, Attaurahman mengaku bercita-cita ingin menjadi pelaut jika besar nanti.



"Saya ingin menjadi pengemudi kapal," kata dia.



Saksi lainnya, Hasan Ali, mengatakan bahwa di tengah lautan datang lima orang dari Myanmar, membawa makanan dan minuman untuk ditukar dengan bagian mesin kapal.



"Mesin diangkat, bensin juga dibawa. Ditukar dengan beras, air, cabe dan garam," kata Hasan.



Kapal mereka tidak diperbolehkan merapat ke Thailand dan Bangladesh. Bantuan dari kedua negara tersebut hanya berupa makanan seadanya, dilemparkan dari atas laut. Pasokan yang tipis, Hasan dan Attaurahman bersama lebih dari 380 pengungsi lainnya hanya makan sehari sekali, minum dua kali sehari.



"Ada dapur di kapal, untuk memasak nasi dan garam. Mi instan kami makan mentah tanpa dimasak," kata Hasan.



Ribuan warga Rohingya kini ditampung di beberapa lokasi di Aceh. Sebagian besar tiba pekan lalu saat kapal mereka mencapai pantai Lhokseumawe dan Langsa.



CNN

Mengapa Orang-orang Rohingya Eksodus Besar-berasan?





Pencabutan kartu identitas penduduk yang dikenal sebagai Kartu Putih bagi orang Rohingya oleh pemerintah Myanmar mungkin menjadi salah satu faktor yang membuat mereka nekat mempertaruhkan nyawa mengarungi laut.



Sekitar 300.000 Kartu Putih, tanda terakhir yang menunjukkan mereka adalah penduduk Myanmar, sudah diminta dikembalikan oleh pihak berwenang dan dinyatakan tidak berlaku sejak 31 Maret lalu.

Dengan kartu itu, kaum Rohingya antara lain boleh memberikan suara dalam pemilihan umum.



Mayoritas etnik Rohingya, yang jumlahnya ditaksir antara 1,3 hingga 1,5 juta jiwa, tinggal di negara bagian Rakhine di dekat perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh.

"Mereka sudah dianggap bukan warga negara, sekarang dokumen tidak ada," jelas Utusan Khusus Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk Myanmar, Tan Sri Syed Hamid Albar.



"Bila tidak ada dokumen dan tidak ada tempat bagi mereka, bergerak pun tidak boleh, untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain tidak boleh, ada undang-undang yang menyekat pergaulan, yang bahkan menyekat cinta, maka akhirnya mereka mencari jalan," tambah mantan menteri luar negeri Malaysia itu.



Perjalanan dua bulan



Mereka menumpang kapal-kapal yang diduga dikendalikan oleh jaringan penyelundup manusia dengan tujuan utama Malaysia.



Pulau Langkawi, Malaysia didarati oleh 1.107 orang, pengungsi Rohingya dan migran Bangladesh, yang kemudian ditempatkan di Pusat Detensi Imigrasi Belantik, Negara Bagian Kedah.



Sekitar 1.800 orang diselamatkan di Aceh melalui tiga gelombang. Ribuan orang lainnya diperkirakan masih berada di laut.



Bila dirunut, dari segi waktu tampaknya ada korelasi antara jatuh tempo Kartu Putih dan tempo perjalanan para pengungsi yang mengaku berangkat kira-kira dua bulan.



Seorang anggota parlemen Myanmar dari etnik Rohingya, Shwe Maung, mengatakan masa berlaku Kartu Putih dinyatakan berakhir setelah muncul protes keras dari kelompok-kelompok nasionalis Buddha (Buddhis) Februari lalu, padahal baru saja disahkan rancangan undang-undang yang menyatakan pemilik kartu mempunyai hak pilih.







Kala itu, pemerintah Myanmar mengatakan akan membentuk komisi guna mengkaji persoalan Kartu Putih. Pencabutan, tuturnya, jelas membuat warga resah.



"Masih tidak jelas jenis kartu apalagi yang akan diberikan, tapi belum ada sampai sekarang."



Menyusul gelombang kerusuhan, termasuk tahun 2012 yang menewaskan setidaknya 200 orang , mereka ditempatkan di kamp-kamp dan tidak diizinkan bekerja di luar lingkungan tempat tinggal. Pemerintah beralasan lokalisasi dilakukan untuk melindungi mereka dari amukan massa.



Tanpa kartu, mereka khawatir akan ditangkap dan dimasukkan ke penjara menjelang pemilihan umum di Myanmar yang dijadwalkan akan digelar bulan Oktober-November, kata seorang pemuka masyarakat Rohingya.



"Bila mereka tetap di Myanmar, mereka akan dimasukkan ke penjara, keselamatan jiwa mereka terancam dan hak pilih mereka sudah dicabut," kata Mohammad Sadek, pengurus Komite Pengungsi Rohingya Arakan (RARC) di Malaysia kepada wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir.



"Oleh sebab itu Rohingya menganggap sekarang waktu yang tepat untuk menyelamatkan diri," kata Sadek.



Rohingya oleh pemerintah Myanmar dianggap sebagai pendatang dari Bangladesh, meskipun mereka secara turun-temurun tinggal di Rakhine.



PBB menggolongkan Rohingya sebagai minoritas yang paling teraniaya di dunia.



BBC

Jumat, 22 Mei 2015

JK bilang: “Indonesia Biadab jika Biarkan Pengungsi Mati di Laut”






"Air Asia saja yang korban meninggal semua kita bantu, masak orang yang masih hidup ini tidak kita bantu?"



Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), kamis akhirnya memerintahkan untuk menampung semua pengungsi Rohingya yang mengapung di tengah laut.



Apabila di atas 10.000 orang akan disiapkan satu pulau sebagai tempat pengungsian sementara selama satu tahun. Pulau tersebut akan dipilih antara kepulauan Riau atau sebuah pulau yang ada di Aceh.



"Saya perintahkan Menlu dan Polkam agar menampung semua pengungsi Rohingya tersebut," papar JK kepada para wartawan Indonesia di Tokyo (21/5/2015).



JK menganggap kalau Pemerintah Indonesia membiarkan orang yang sudah sekarat susah itu dibiarkan mati, "Kita biadab kalau membiarkan mereka meninggal (di laut). Di mana naluri kemanusiaan kita?" tambahnya.



JK meminta semua pihak untuk menerima pengungsi tersebut, "Air Asia saja yang korban meninggal semua kita bantu, masak orang yang masih hidup ini tidak kita bantu sih?" tambahnya.



Apabila para pengungsi jumlahnya 10.000 atau lebih maka JK akan menyiapkan satu pulau tertentu di Indonesia untuk menampung mereka sementara. Biaya makan mereka disepakati dibayar bersama antara Indonesia dan Malaysia.



"Tadinya mau di pulau galang tetapi infrastrukturnya rusak sehingga tidak jadi. Lalu sekarang kita pusatkan ke sebuah pulau di Aceh, atau satu lagi di kepulauan di Riau, masih diteliti lebih lanjut kemungkinanya belum diumumkan," ungkap JK lagi.



Lalu ada yang bertanya kepada JK mengenai anak-anak para pengungsi, "Saya bilang anak-anak itu ya coba saja dimasukkan ke panti asuhan sementara atau masukkan ke pesantren untuk belajar sementara."



Sebelumnya Menolak



Sebelumnya PBB dan Organisasi HAM internasional mengecam langkah TNI-AL Indonesia menolak kapal berpenumpang migran Rohingya asal Myanmar dan Bangladesh menepi di Indonesia.



Panglima laut, Aceh Timur, yang menyelamatkan pengungsi rohingya mengatakan pihaknya merasa 'tidak sampai hati' apabila tidak memberikan pertolongan terhadap orang-orang yang mereka jumpai di tengah laut dalam kondisi memprihatinkan.



"Rasanya kami tidak sampai hati untuk tidak menolong. Susah, karena ini masalah kemanusiaan," ungkap Panglima Laot Provinsi Aceh, Teuku Bustaman.



Bahkan nelayan Aceh, Julok, Aceh Timur, diancam POLAIR (Polisi Air) akan memenjarakan para nelayan jika melakukan penyelamatan lagi.



"Dia (polisi) bilang, kami akan dipenjara jika membantu orang (rohingya) ini lagi. Tapi kami tidak peduli, karena ada anak-anak di dalamnya. Tadinya jika mereka tidak juga boleh ke darat para nelayan akan demonstrasi," ungkap Sunan, 38.



TRIBUN/ACW

1 Juta Muslim Burma Hidup dalam Kondisi Apartheid





Sebagian besar dari 1,1 juta penduduk muslim Rohingya tidak memiliki kewarganegaraan dan hidup dalam kondisi seperti apartheid. Sekitar 140.000 orang mengungsi dalam bentrokan berdarah dengan warga Buddha di provinsi Rakhine di wilayah barat pada 2012.



Badan-badan PBB mendesak pemerintah di kawasan itu untuk melindungi ribuan imigran yang terdampar dalam kapal-kapal di Teluk Benggala dan Laut Andaman dengan persediaan makanan dan air yang terus menipis.



Ratusan imigran, termasuk Rohingya dari Myanmar dan warga Bangladesh, yang lari menghindari kekerasan dan kemiskinan di negara asal, diusir balik ke laut oleh Thailand, Malaysia dan Indonesia pada Mei.



Indonesia, bersama dengan Malaysia dan Thailand, awalnya menolak untuk menerima manusia-manusia perahu yang kelaparan dan nyaris meninggal dunia tersebut.



Panglima militer Myanmar mengatakan sebagian "manusia perahu", yang mendarat di Malaysia dan Indonesia bulan ini, diduga berpura-pura sebagai warga Rohingya untuk mendapatkan bantuan PBB dan banyak di antaranya pelarian dari Bangladesh, kata media pemerintah, Jumat.



Wakil Menlu AS Antony Blinken, Kamis, "mengindikasikan sebagian besar korban diperkirakan mengasumsikan diri mereka sendiri sebagai Rohingya dari Myanmar dengan harapan menerima bantuan dari UNHCR", kata harian Global New Light of Myanmar.



Ia mengutip laporan bahwa para manusia perahu itu berasal dari Bangladesh.



"Saya tekankan perlunya menyelidiki negara asal mereka daripada menuduh sebuah negara," demikian dilaporkan harian itu.



Blinken menekankan perlunya Myanmar mengatasi penyebab migrasi tersebut, "termasuk diskriminasi dan kekerasan berlatarbelakang rasial dan relijius".



Warga Rohingya sejak lama sudah mengeluhkan diskriminasi pemerintah di Myanmar dan ditolaknya kewarganegaraan mereka. Myanmar membantah diskriminasi terhadap etnik tersebut dan mengatakan hal itu bukanlah sumber masalah.



Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, Kamis, menjanjikan bantuan dan memerintahkan angkatan laut untuk menyelamatkan ribuan orang yang terkatung-katung di lautan. Sementara pejabat Thailand mengatakan Myanmar telah sepakat untuk menghadiri konferensi darurat untuk membicarakan krisis itu.



Malaysia dan Indonesia mengatakan mereka akan menampung sementara sebanyak 7 ribu imigran yang saat ini masih terkatung-katung di lautan, tapi tidak lebih dari itu.



Kedua negara juga mengatakan bahwa tempat perlindungan sementara akan didirikan untuk menampung para imigran, namun Thailand yang selama ini menjadi titik transit bagi imigran yang ingin ke Malaysia untuk bekerja mengatakan, mereka tidak akan mengikuti langkah itu.

Kebaikan Warga Aceh yang Mengharukan






Mungkin ini adalah cerminan dari anjuran memuliakan tamu (peumulia jamee) yang disampaikan junjungan umat Islam, Nabi Muhammad shallalahu alaihi wassalam.



Denny Armandhanu, Wartawan CNN



Rohingya menjadi sorotan bulan ini di seluruh dunia. Aceh pun demikian. Ribuan kelompok etnis minoritas tertindas di Myanmar ini terdampar, atau terpaksa berlabuh di Aceh. Dalam keadaan mengenaskan, kurus kering kelaparan, hitam legam terbakar matahari, nyaris meregang nyawa.



Tidak sanggup rasanya menahan haru menyaksikan keikhlasan tanpa pamrih yang ditunjukkan masyarakat Aceh, terutama di perdesaan nelayan, saat menangani "tamu" yang tiba-tiba datang di pantai mereka.



Di saat banyak negara, termasuk Indonesia, menafikan keberadaan Rohingya atas nama kedaulatan negara, wilayah, ketahanan sosial dan tetek bengek lainnya, warga Aceh tidak pikir dua kali menarik Rohingya ke daratan, melayaninya dengan istimewa.



Mungkin ini adalah cerminan dari anjuran memuliakan tamu (peumulia jamee) yang disampaikan junjungan umat Islam, Nabi Muhammad shallalahu alaihi wassalam.



Ambil contoh di desa Simpang Lhee, Julok, Aceh Timur. Belum juga ratusan pengungsi Rohingya sampai di pantai, dapur umum sudah berdiri. Dengan kasih sayang seorang ibu, Mirawati, memasak makanan dalam jumlah besar untuk para pengungsi yang lunglai.



Hingga siang, Mirawati dan ibu-ibu lainnya menyendok nasi ke piring, membaginya sama rata, lauk pauk tersedia, sayur tidak lupa. Beberapa orang Rohingya bahkan diberikan dua piring nasi, dijilatinya jari-jari setelah makanan tandas dilahap. Betapa tidak, tiga bulan terakhir mereka cuma makan nasi dan garam, itu pun hanya sehari sekali.







Seluruh warga desa tumpah ruah memasak, melayani, merawat dan menghibur warga Rohingya. Hari ini mereka tidak masak untuk keluarga di rumah. Bahkan dirinya sendiri lupa makan.



Beberapa wanita desa terlihat mematutkan baju bekas untuk dipakaikan pada para pengungsi. Seorang Rohingya terlihat telah mengenakan gamis cantik dengan manik-manik di jilbabnya, ini bukan seperti pakaian bekas, tapi pakaian baru yang dikenakan saat lebaran. Senyum mereka merekah lebar.



Anak-anak Rohingya akhirnya bisa mandi, ditambah keramas. Berbulan-bulan kulit mereka kering, tidak kenal air tawar dan sabun. Mereka tertawa saat kepala diguyur air. Pemandangan yang akan menyenangkan siapapun juga.







Para bapak terlihat sibuk membagikan makanan yang seperti tidak akan ada habisnya. Kabarnya, sudah berkarung-karung beras ditanak hari ini. Kebetulan, sekarang adalah musim panen.



Sementara para pemuda, menghibur remaja Rohingya yang masih murung. Sesekali mereka menghalau wartawan yang gatal ingin mewawancarai—termasuk saya—agar pria itu bisa makan dengan tenang.



Para pemuda ini merangkul, menepuk punggung, dan mengipasi remaja Rohingya yang lahap makan dua piring nasi itu. Suhu di luar saat ini sekitar 36 derajat celcius memang.



Kabar kedatangan tamu dari Rohingya ini disebarkan melalui pengeras suara di meunasah (musholla) hingga ke berbagai desa. Berdatanganlah para pemberi bantuan yang lain.



Tidak kurang warga dari sepuluh desa memberikan bantuan.







Ditindas di negaranya, dibunuh, disiksa, dihancurkan rumahnya, diusir dari banyak negara, warga Rohingya menemukan kemanusiaan di Aceh. Kementerian Luar Negeri Indonesia mencatat, setidaknya 1.300 warga Rohingya sudah terdampar di ujung Indonesia ini. Jumlah ini belum termasuk dengan skitar 380 lain yang baru tiba di Julok pada Rabu kemarin.



Ditanya motivasi melakukan kebaikan, beberapa warga Aceh mengernyitkan dahi. Seakan mengatakan "mengapa tidak?"



Seolah ini sekadar pertanyaan retoris yang tidak layak untuk ditanyakan karena jawabannya seterang siang.



Bagi masyarakat di perkotaan besar, tindakan masyarakat Aceh ini langka, mengherankan. Tapi bagi masyarakat Aceh, ini adalah yang seharusnya dilakukan, setidaknya sebagai seorang manusia beragama.







Apalagi, seperti dituturkan beberapa warga, mereka pernah merasakan hidup kesusahan saat konflik bersenjata ataupun bencana tsunami yang menewaskan ratusan ribu orang.



Kedatangan Rohingya merupakan berkah tersendiri bagi masyarakat Aceh, kesempatan bagi mereka untuk memberikan bantuan, mencari pahala. Warga Aceh yakin, kebaikan mereka akan dibalas oleh Allah.



"Ada rahasia Allah mengapa warga Rohingya bisa sampai di Aceh. Bisa jadi, kebaikan kami akan dibalas dengan kemakmuran yang luar biasa," ujar Mulyadi, 40, sopir mobil rental, kepada CNN Indonesia.



Di bagasi mobilnya, bertumpuk pakaian bekas untuk disumbangkan.

Kamis, 21 Mei 2015

Pulau Khusus untuk Muslim Rohingya, Paling Cocok Dimana?





Dalam pertemuan menteri luar negeri kemarin di Kuala Lumpur, Indonesia dan Malaysia akhirnya sepakat akan menampung para pengungsi Rohingya yang dalam beberapa bulan terakhir terkatung-katung di lautan. Sebagian dari mereka bahkan sudah mendarat di Malaysia dan Indonesia.



Ketiga negara menyepakati para pengungsi untuk ditampung di salah satu pulau milik Indonesia. Namun belum diputuskan di pulau mana mereka akan ditampung.



Untuk dana penanganan imigran tersebut, kementerian luar negeri mengatakan hal itu masih akan terus dibahas.



"Yang pasti itu bukan pakai anggaran dana dari Kemlu. Saat ini, pakai anggaran dana dari dinas sosial," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, di kantor Kementerian Luar Negeri, Kamis(21/5).



Sementara itu, jumlah dana yang akan dikeluarkan untuk membantu para imigran tersebut belum diketahui banyaknya.



"Itu perlu perhitungan teknis, masalah dana, saya tidak bisa mengeluarkan angka sendiri, karena kita tidak tahu berapa kebutuhannya dan beberapa yang akan masuk," terangnya.



Pemerintah Indonesia, lanjut Tata, akan terus membahas masalah dana tersebut. Tak hanya Indonesia, masalah dana bagi para imigran juga akan terus dibahas oleh UNHCR dan negara lain yang akan membantu.



Para pengungsi Rohingya berjumlah sekitar 1.500 orang terdampar di perairan Selat Malaka pada pertengahan bulan ini. Tujuan mereka mengungsi dari Myanmar adalah untuk mencari pekerjaan di beberapa negara ASEAN.



Diperkirakan kini ada 4.000 pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang masih terombang-ambing di laut. Mereka awalnya hendak ke Malaysia untuk mencari nafkah, tapi ditipu oleh calo imigran dari kapal berbendera Thailand. Dua bulan terakhir mereka ditinggalkan di laut tanpa bahan makanan dan air bersih oleh para penyelundup.



Sejumlah usulan berdatangan sebagai masukan untuk menampung para imigran asal Myanmar itu. Sebagian kalangan mengatakan warga Rohingya itu bisa ditampung di suatu pulau kosong atau pulau transit.



Wakil Presiden Jusuf Kalla juga menyatakan pendapat yang sama.



JK sudah memberi instruksi kepada Gubernur Aceh Zaini Abdullah, untuk menangani para pengungsi dengan sebaik-baiknya.



Terkait dengan usulan meminjamkan salah satu pulau di Indonesia untuk para pengungsi, JK mengatakan opsi tersebut sedang dipelajari pemerintah.



"Ya kalau jumlahnya besar ya tentu kita harus tempatkan di suatu tempat yang cocoklah, yang baiklah. Kita lagi mempelajarinya," tutur JK di kantornya



MDK