Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Mei 2015

Nelayan Aceh: “Kalau Nasib Kami seperti Mereka, Bagaimana?”




Foto: Pak Mohamad Adenan bersama relawan ACT dari KAMMI, yang naik kapal nelayan milik bos Pak Adenan.



NELAYAN-nelayan itu sedang mengecat kapal kayunya di pinggir Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa, Aceh, saat kami menghampiri dan menyapa mereka. Sebagian badan kapal berkapasitas 50 ton itu nampak kilap. Kapal ikan sumber penghidupan mereka itu nampak baru kembali.



Seorang nelayan berusia paruh baya sambil terus sibuk bekerja menanyakan identitas kami. Setelah berbasa-basi, Mohamad Adnan meminta kami naik ke atas kapal. Dengan hanya balok kayu, kami meniti ke atas kapal.



Adnan yang dituakan oleh nelayan-nelayan lainnya itu berhenti bekerja dan menemui kami. Adnan juga menawarkan makan siangnya. Namun dengan sopan kami mengatakan kami sudah makan siang. Kami terkesan dengan keramahannya, yang menjadi salah satu karakter positif orang Aceh.



Sebagaimana diberitakan, pada Jumat pagi (15/5/2015), ada enam kapal nelayan Aceh yang menolong para manusia perahu asal Myanmar dan Bangladesh. Kapal Adnan adalah kapal yang mengangkut sisa pengungsi, berjumlah 45 orang.



“Kami baru melaut satu hari, saat menemukan orang-orang asing itu,” ungkap Adnan.



Biasanya kapal berada di laut 5 sampai 6 hari. Kapten kapal yang memimpin Muhammad Adnan dengan 40 ABK lainnya, memutuskan untuk mengevakuasi para manusia perahu asal Myanmar dan Bangladesh itu. Keputusan dilakukan usai saling kontak antarnelayan via radio, dan diminta saling merapat.



“Kami ikut mendekat ke lokasi dimana orang-orang itu berada,” tutur ayah dari enam anak ini.



Adnan mengatakan kapalnya adalah kapal terakhir yang mengangkut pengungsi. “ Lima kapal yang lain sudah di depan kami,” tambahnya.



Saat kapal nelayan dan pengungsi saling menekat, beberapa pengungsi langsung terjun ke laut untuk mendekat ke kapal Mohamad Adnan. Menurut penglihatan Adnan, ada juga perempuan yang nekat terjun berenang mendekati kapalnya. Jarak dua kapal sekira 30-40 meter. Para pengungsi itu berteriak-teriak, “ Allahu kbar, Allahu akbar!”



Didorong rasa iba, kapten kapal memerintahkan Mohamad Adnan dan kawan-kawannya segera lebih mendekat, untuk mencegah mereka terjun ke laut.



“Saat kami menolong mereka, tak ada di hati kecuali rasa iba. Saya membayangkan saat itu, seandainya mereka itu adalah kami, tentu kami saat itu akan sangat berharap pertolongan dari siapapun,” kata Adnan, yang selama 5-6 melaut bisa mendapat upah 150-200 dari bos pemilik kapal.



“Apa salah mereka? Dan mengapa mereka seolah-olah tak boleh kita tolong?” jawab Adnan ketika ditanya keputusan mereka untuk melakukan tindakan penyelamatan.



Usai kapal saling merapat, para pengungsi itu berpindah kapal. Mereka langsung duduk di dek kapal, dan sebagian, mungkin karena kelelahan, langsung berbaring. Sebagian laki-laki terlihat luka-luka yang masih setengah kering. Ada luka di lengan, punggung, kaki dan kepala.



Adnan mengatakan karena masalah bahasa, ABK kapal tak banyak bicara dengan pengungsi.



“Yang kami lakukan segera mengeluarkan makanan dan air bekal kami mencari ikan untuk sepekan, yang masih banyak, karena kami baru berada di atas laut sehari semalam,” urai Adnan.



Adnan mengaku makin trenyuh melihat para pengungsi itu makan dengan lahap. Mereka nampak sama sekali tak mampu menyembunyikan rasa lapar dan haus mereka.



“Bahkan saat kami baru mau selesai menaruh makanan ke piring, mereka langsung menyambarnya,” ungkap Adnan.



Bagaimana perasaan Adnan bisa membantu orang yang sedang sangat butuh pertolongan?



“Hati saya lega, bisa menolong orang kesusahan. Mereka berada di laut sama seperti kami. Mereka manusia sama seperti kami,” kata Adnan.



Adnan dan kawan-kawannya menyatakan tak menyesal, usai mendaratkan para pengungsi itu, kapalnya sempat tertunda untuk melaut kembali oleh aparat.



Kesempatan itu digunakan untuk mengecat kapal milik bosnya.



“Mungkin karena kami masih dibutuhkan katerangannya kali,” ujar Adnan. (Ajm-ACT)

Senin, 25 Mei 2015

Pilu Saat Mendengar Pekikan Takbir di Tengah Laut






Tak lagi punya harapan di tanah kelahiran membuat pengungsi Rohingya ingin bertahan hidup di negara lain. Ditambah lagi sikap baik warga Aceh yang telah menyentuh hati mereka.



AR RAHMAN atau biasa disapa Pak Do trenyuh melihat pemandangan itu. Hatinya tergerak. Rasa kemanusiaannya mencuat keluar. Meski kondisi gelap, dilihatnya secara samar perempuan dan anak-anak yang kumal dan lemas tersebut melambai dengan air mata berderai.



Tangan mereka terulur meminta bantuan. Pak Do tercekat. Dengan bergegas dia dan perahunya mendekat. Meski hatinya kala itu waswas. Puluhan laki-laki melonjak dan mengucap takbir, membuat rasa haru dan takut bercampur jadi satu.



"Saat mereka ucapkan takbir itu, hati saya pilu. Mata serasa mau menangis. Bukanlah manusia jika kami membiarkan mereka mati di laut sana," katanya.



Itulah peristiwa malam Jumat, 14 Mei 2015, di tengah laut, 35 mil dari Pelabuhan Kuala Langsa, Aceh. Peristiwa yang menguras emosi dan rasa kemanusiaan Pak Do serta teman-temannya yang malam itu melaut. Padahal, yang mereka tolong itu bukan sanak bukan saudara.



"Ketika tahu bahwa mereka seiman, kami langsung bergegas memberikan pertolongan," ucap Pak Do.



"Ada sesuatu yang dibela. Sesuatu yang lebih berharga daripada hanya hidup dan mati. Ini soal keimanan dan kemanusiaan. Masihkah kami memiliki iman? Masihkah kami jadi manusia seutuhnya?" tuturnya bijak.



Aceh memegang erat budaya Peumulia Jamee alias memuliakan tamu. Banyak tarian dan syair lahir dari penjamuan tamu. Itu pula yang ditunjukkan keluarga Nur Rahmah.



Perempuan warga kampung Kuala Langsa tersebut sengaja mengajak anaknya datang ke penampungan pengungsi yang hanya berjarak 100 meter dari rumahnya. Dia tersenyum melihat tiga perempuan Rohingya yang mendekat kepadanya.



"Jujur saja, di rumah tak ada apa-apa lagi untuk dimakan. Beras sudah diberikan ke sini (pengungsi, Red) pas hari pertama mereka datang. Namun, saya senang membantu. Allah Maha Pemberi. Dia bisa memberikan rezeki kepada siapa pun yang Dia mau," ujarnya.



Akrab dengan keluh kesah dan tawa mereka, akrab dengan mimpi dan kegetiran mereka. Itulah interaksi antara masyarakat Aceh dan pengungsi Rohingya serta Bangladesh saat ini.






BUTUH PERTOLONGAN: Warga Aceh memeluk pengungsi Rohingya di kamp Birem Bayeun, Aceh Timur.

(Aqwam F. Hanifan/Jawa Pos)



Wartawan Jawa Pos masih mengingat betul saat terhentinya rombongan para pengungsi di tapal batas Kabupaten Aceh Timur dan Kota Langsa akibat belum jelasnya kesepakatan lokasi penampungan beberapa waktu lalu.



Lamat-lamat terdengar suara para tokoh agama lewat pengeras masjid-masjid serta kutipan ayat Alquran dan hadis yang memerintahkan membantu para pengungsi. Warga pun menyambutnya dengan berduyun-duyun untuk menyumbang.



Seorang nenek bersama cucunya yang mengendarai motor bebek terlihat ngebut sambil membawa satu kardus dan satu kresek pakaian bekas. Napasnya tersengal-sengal saat berhenti di depan rombongan pengungsi.



"Untong golom teulat (untung belum terlambat, Red)," katanya. Kepada wartawan, si nenek mengatakan berasal dari Keude Bayeun, 10 kilometer dari lokasi.



Di Puskesmas Julok juga ada kejadian lucu. Saat itu Azhari, warga lokal, ingin merawat seorang pemuda Rohingya. Kepada satpol PP yang mengawal, Azhari mengaku bahwa pemuda Rohingya tersebut adalah orang Aceh.



Namun, saat ditanya dalam bahasa Indonesia, si pemuda hanya geleng-geleng kebingungan. Petugas pun tahu bahwa orang tersebut adalah pengungsi dan langsung dinaikkan bus.



"Saya sempat bawa dia ke rumah tadi untuk kasih makan. Saya ingin angkat dia jadi adik. Sialnya, malah ketahuan sama petugas yang itu," ucapnya sambil menunjuk seorang petugas satpol PP.



Bantuan dan dukungan masyarakat Aceh kini terus mengalir. Namun, sampai kapan? Ada suatu masa akan terhenti. Lantas, ke manakah nasib para pengungsi itu akan tertuju?



Bagi pengungsi Rohingya, pulang kembali ke Myanmar adalah tabu.



"Kami hidup di sana susah. Kami tak diakui sebagai manusia. Sekolah susah. Ibadah susah. Bekerja pun susah. Kami pun dibunuhi di sana. Saya tak ingin kembali. Lebih baik mati di sini daripada kembali," kata Ruqiyah Hatun, 20 tahun.



Mungkinkah berencana menikah dengan orang Indonesia? "Oh tidak. Saya sudah punya suami dan anak," katanya.







Keinginan serupa disampaikan Mohammad Ayas. Bocah 10 tahun itu mengaku senang tinggal di Indonesia. "Saya tak ingin pulang ke Myanmar. Di sini saya bahagia. Di sana tak bisa sekolah. Saya ingin sekolah," katanya merengek.



Kemiskinan dan penindasan militer membuatnya terpaksa berhenti menempuh pendidikan saat duduk di bangku kelas tiga.



Keinginan untuk bertahan di Indonesia terbuka. Kemarin (24/5), saat berkunjung ke Kuala Langsa, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menjanjikan mereka bisa tinggal di Indonesia sebagai pencari suaka.



Meski begitu, para pengungsi Rohingya punya harga diri yang tinggi. Sama tingginya dengan rasa hormat yang mereka punya terhadap negeri ini. Tak selamanya tangan harus menjulur meminta. Mereka sadar akan amat menyusahkan. Tayyub Ali mengatakan hal tersebut. Karena itu, dia berharap segera mendapat pekerjaan.



"Saya ingin bekerja. Tak ingin menyusahkan orang Indonesia. Mereka terlalu baik kepada kami. Saya ingin bekerja di restoran," kata pria yang menjadi penerjemah lansir Jawa Pos.



"Indonesia memang bukan Australia atau Amerika Serikat. Namun, harapan untuk mencapai masa depan itu di sini masih tetap ada," sambungnya.



"Saya cinta negeri ini dan orang-orang di sini. Namun, suatu saat saya harus meninggalkannya," ujaranya pelan.



Tayyub menatap langit yang dipenuhi bintang, dan tahu bahwa langit itu, tanah itu, bukanlah tanah airnya. Dia menghela napas dan berusaha mengatasi perasaannya.



JawaPos

Sabtu, 23 Mei 2015

Bocah 12 Tahun ini Kemudikan Kapal Rohingya




Attaurahman, berusia 12 tahun dipercaya untuk mengemudikan kapal yang membawa ratusan pengungsi asal Myanmar dan Bangladesh. (CNN Indonesia/Denny Armandhanu)



Seorang bocah Rohingya berusia 12 tahun dipercaya untuk mengemudikan kapal yang membawa ratusan pengungsi asal Myanmar dan Bangladesh. Dia bersama ratusan pengungsi lainnya berhasil diselamatkan dari kapal yang telah rusak tersebut di perairan Aceh Timur.



Adalah Attaurahman yang mengaku seperti dilansir CNN Indonesia, Kamis (21/5), dipercaya oleh kapten asal Thailand untuk mengemudikan kapal tersebut.



Di penampungan wilayah Birem Bayeun, Attaurahman mengatakan, awalnya dia dipercaya untuk membagikan nasi pada ratusan pengungsi Rohingya dan Bangladesh dalam perjalanan dari Myanmar menuju Thailand.



"Kapten sayang pada saya. Karena saya membagikan nasi, saya bebas masuk ke ruang kemudi dan lihat cara mereka membawanya. Saya kemudian, dan seorang dewasa lainnya, dipercaya untuk mengemudikannya," kata Attaurahman.



Kesaksian para pengungsi lainnya mengatakan, setelah sampai di Thailand mereka tidak diperbolehkan menginjak daratan dan tetap berada di kapal selama sekitar satu bulan.



Dalam perjalanan menuju Thailand, kata Attaurahman, ada delapan kapal. Sebanyak 500 orang di kapal mereka dibagi dan dipindahkan ke empat kapal, sementara empat kapal lainnya dibawa oleh kapten dan awaknya.



"Kapten memanggil dua orang, saya dan seorang dewasa. Dia memberi tahu cara kemudikan kapal," ujar Attaurahman yang sejak itu didaulat menjadi kapten cilik.



Kapten dan para awaknya kemudian meninggalkan kapal tersebut. Selama sekitar 3 bulan mereka terombang-ambing di lautan sebelum akhirnya ditemukan oleh nelayan.



Pengakuan Attaurahman ini dibenarkan oleh pengungsi Rohingya lainnya. Berdasarkan pengalaman ini, Attaurahman mengaku bercita-cita ingin menjadi pelaut jika besar nanti.



"Saya ingin menjadi pengemudi kapal," kata dia.



Saksi lainnya, Hasan Ali, mengatakan bahwa di tengah lautan datang lima orang dari Myanmar, membawa makanan dan minuman untuk ditukar dengan bagian mesin kapal.



"Mesin diangkat, bensin juga dibawa. Ditukar dengan beras, air, cabe dan garam," kata Hasan.



Kapal mereka tidak diperbolehkan merapat ke Thailand dan Bangladesh. Bantuan dari kedua negara tersebut hanya berupa makanan seadanya, dilemparkan dari atas laut. Pasokan yang tipis, Hasan dan Attaurahman bersama lebih dari 380 pengungsi lainnya hanya makan sehari sekali, minum dua kali sehari.



"Ada dapur di kapal, untuk memasak nasi dan garam. Mi instan kami makan mentah tanpa dimasak," kata Hasan.



Ribuan warga Rohingya kini ditampung di beberapa lokasi di Aceh. Sebagian besar tiba pekan lalu saat kapal mereka mencapai pantai Lhokseumawe dan Langsa.



CNN

Jumat, 22 Mei 2015

Kebaikan Warga Aceh yang Mengharukan






Mungkin ini adalah cerminan dari anjuran memuliakan tamu (peumulia jamee) yang disampaikan junjungan umat Islam, Nabi Muhammad shallalahu alaihi wassalam.



Denny Armandhanu, Wartawan CNN



Rohingya menjadi sorotan bulan ini di seluruh dunia. Aceh pun demikian. Ribuan kelompok etnis minoritas tertindas di Myanmar ini terdampar, atau terpaksa berlabuh di Aceh. Dalam keadaan mengenaskan, kurus kering kelaparan, hitam legam terbakar matahari, nyaris meregang nyawa.



Tidak sanggup rasanya menahan haru menyaksikan keikhlasan tanpa pamrih yang ditunjukkan masyarakat Aceh, terutama di perdesaan nelayan, saat menangani "tamu" yang tiba-tiba datang di pantai mereka.



Di saat banyak negara, termasuk Indonesia, menafikan keberadaan Rohingya atas nama kedaulatan negara, wilayah, ketahanan sosial dan tetek bengek lainnya, warga Aceh tidak pikir dua kali menarik Rohingya ke daratan, melayaninya dengan istimewa.



Mungkin ini adalah cerminan dari anjuran memuliakan tamu (peumulia jamee) yang disampaikan junjungan umat Islam, Nabi Muhammad shallalahu alaihi wassalam.



Ambil contoh di desa Simpang Lhee, Julok, Aceh Timur. Belum juga ratusan pengungsi Rohingya sampai di pantai, dapur umum sudah berdiri. Dengan kasih sayang seorang ibu, Mirawati, memasak makanan dalam jumlah besar untuk para pengungsi yang lunglai.



Hingga siang, Mirawati dan ibu-ibu lainnya menyendok nasi ke piring, membaginya sama rata, lauk pauk tersedia, sayur tidak lupa. Beberapa orang Rohingya bahkan diberikan dua piring nasi, dijilatinya jari-jari setelah makanan tandas dilahap. Betapa tidak, tiga bulan terakhir mereka cuma makan nasi dan garam, itu pun hanya sehari sekali.







Seluruh warga desa tumpah ruah memasak, melayani, merawat dan menghibur warga Rohingya. Hari ini mereka tidak masak untuk keluarga di rumah. Bahkan dirinya sendiri lupa makan.



Beberapa wanita desa terlihat mematutkan baju bekas untuk dipakaikan pada para pengungsi. Seorang Rohingya terlihat telah mengenakan gamis cantik dengan manik-manik di jilbabnya, ini bukan seperti pakaian bekas, tapi pakaian baru yang dikenakan saat lebaran. Senyum mereka merekah lebar.



Anak-anak Rohingya akhirnya bisa mandi, ditambah keramas. Berbulan-bulan kulit mereka kering, tidak kenal air tawar dan sabun. Mereka tertawa saat kepala diguyur air. Pemandangan yang akan menyenangkan siapapun juga.







Para bapak terlihat sibuk membagikan makanan yang seperti tidak akan ada habisnya. Kabarnya, sudah berkarung-karung beras ditanak hari ini. Kebetulan, sekarang adalah musim panen.



Sementara para pemuda, menghibur remaja Rohingya yang masih murung. Sesekali mereka menghalau wartawan yang gatal ingin mewawancarai—termasuk saya—agar pria itu bisa makan dengan tenang.



Para pemuda ini merangkul, menepuk punggung, dan mengipasi remaja Rohingya yang lahap makan dua piring nasi itu. Suhu di luar saat ini sekitar 36 derajat celcius memang.



Kabar kedatangan tamu dari Rohingya ini disebarkan melalui pengeras suara di meunasah (musholla) hingga ke berbagai desa. Berdatanganlah para pemberi bantuan yang lain.



Tidak kurang warga dari sepuluh desa memberikan bantuan.







Ditindas di negaranya, dibunuh, disiksa, dihancurkan rumahnya, diusir dari banyak negara, warga Rohingya menemukan kemanusiaan di Aceh. Kementerian Luar Negeri Indonesia mencatat, setidaknya 1.300 warga Rohingya sudah terdampar di ujung Indonesia ini. Jumlah ini belum termasuk dengan skitar 380 lain yang baru tiba di Julok pada Rabu kemarin.



Ditanya motivasi melakukan kebaikan, beberapa warga Aceh mengernyitkan dahi. Seakan mengatakan "mengapa tidak?"



Seolah ini sekadar pertanyaan retoris yang tidak layak untuk ditanyakan karena jawabannya seterang siang.



Bagi masyarakat di perkotaan besar, tindakan masyarakat Aceh ini langka, mengherankan. Tapi bagi masyarakat Aceh, ini adalah yang seharusnya dilakukan, setidaknya sebagai seorang manusia beragama.







Apalagi, seperti dituturkan beberapa warga, mereka pernah merasakan hidup kesusahan saat konflik bersenjata ataupun bencana tsunami yang menewaskan ratusan ribu orang.



Kedatangan Rohingya merupakan berkah tersendiri bagi masyarakat Aceh, kesempatan bagi mereka untuk memberikan bantuan, mencari pahala. Warga Aceh yakin, kebaikan mereka akan dibalas oleh Allah.



"Ada rahasia Allah mengapa warga Rohingya bisa sampai di Aceh. Bisa jadi, kebaikan kami akan dibalas dengan kemakmuran yang luar biasa," ujar Mulyadi, 40, sopir mobil rental, kepada CNN Indonesia.



Di bagasi mobilnya, bertumpuk pakaian bekas untuk disumbangkan.

Kamis, 21 Mei 2015

Kisah Heroik Nelayan Aceh: Diancam Penjara Polisi Air, Nelayan Aceh Tak Peduli





Dalam sebulan terakhir, nelayan Aceh menyelamatkan lebih 1.500 lebih imigran Rohingya dan Bangladesh dari tengah laut. Mereka sempat terombang-ambing dengan kondisi boat mati mesin. Para nelayan yang melihat pemandangan pilu itu kemudian menyelamatkan 'manusia perahu tersebut'.



Baru saja berangkat melaut, para nelayan di Kuala Langsa, Aceh, harus menanggalkan pukat mereka dan berhenti mencari ikan demi menyelamatkan ratusan pengungsi Rohingya dan Bangladesh di lautan.



Sekitar 28 nelayan dari Desa Simpang Lhee, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur, melakukan aksi heroik dengan menarik kapal imigran itu ke tepi muara pantai Aceh Timur.



Sunan, 38, mengatakan saat itu sekitar pukul 6 sore, Kamis pekan lalu saat sebuah kapal nelayan kecil menghampiri mereka, mengaku melihat banyak sekali orang di atas kapal, beberapa di antaranya bahkan ada di dalam air. Lantas saja, Kapal Sunan dan beberapa kapal lainnya menghampiri.



"Begitu mereka melihat kami, beberapa melompat ke air. Ada yang berenang, ada yang begitu sampai air tidak muncul lagi, tewas tenggelam, mungkin karena perut kelaparan sehingga tidak ada tenaga," kata Sunan lansir CNN di pelabuhan Kuala Langsa tempat ratusan pengungsi ditampung, Kamis (21/5).



Sunan mengaku sedih melihat keadaan para pengungsi tersebut. Saking padatnya kapal, warga Rohingya dan Bangladesh ini hanya duduk dengan kaki tertekuk. Namun paling memilukan adalah melihat wanita dan anak-anak balita didalamnya.



"Ketika melihat anak-anak kecil, usia balita, hati saya teriris. Akhirnya kami memutuskan tidak mencari ikan dan membantu mereka," ujar Sunan.







Padahal, saat itu dia baru saja berangkat melaut. Biasanya, dia melaut selama 4-5 hari dan menangkap ikan paling tidak dua ton, tergantung musimnya.



Menyelamatkan Rohingya, Sunan dan para nelayan lainnya terpaksa kehilangan penghasilan, namun mereka tidak menyesal.



"Kami tidak menyesal menyelamatkan mereka, ini kebanggaan bagi kami jadi pelaut. Di laut jika ada yang butuh pertolongan pasti dibantu," ujar Sunan.



Sekitar enam kapal nelayan turut membantu upaya penyelamatan setelah dikontak. Satu per satu pengungsi dinaikkan ke kapal. Mereka berada di sekitar 40 mil dari pantai, perjalanan ke daratan membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam.



Di kapal, bekal melaut selama empat hari langsung dimasak untuk memberi makan para pengungsi yang selama berbulan-bulan kurang asupan makanan.



"Bekal untuk melaut kami masak, ada ikan kami bakar. Mereka awalnya berebut, tapi kami bilang utamakan wanita dan anak-anak," kata Sunan.



Namun sesampainya di pelabuhan, para pengungsi tidak bisa langsung ke darat karena masih harus mendapatkan persetujuan dari polisi air. Sunan menyayangkan sikap yang mengecam tindakan nelayan dan mengancam akan memenjarakan mereka jika melakukan penyelamatan lagi.



"Polisi air itu mengatakan, 'kalau di Malaysia dan Thailand orang-orang (pengungsi) ini tidak diterima," tutur Sunan meniru Polisi Air.



"Dia (polisi) bilang, kami akan dipenjara jika membantu orang (rohingya) ini lagi. Tapi kami tidak peduli, karena ada anak-anak di dalamnya. Tadinya jika mereka tidak juga boleh ke darat para nelayan akan demonstrasi," lanjut Sunan.



Sunan memang tak akan dipenjara, terlebih setelah pada Rabu, para menteri luar negeri dari Indonesia, Malaysia dan Thailand bertemu sepakat untuk memberikan pemukiman sementara bagi sekitar 7.000 para imigran yang berada di perairan kedua negara.



KRONOLOGI KAPAL DITEMUKAN



Kapal pengungsi tersebut mulanya ditemukan Razali, 36, Selasa siang (19/5), sekitar 38 mil dari daratan dengan waktu perjalanan sekitar 4 jam.



’’Saya hampiri mereka dan kasih makan. Setelah itu, saya kontak teman-teman untuk segera merapat,’’ jelas Razali.



Namun, karena jumlah pengungsi begitu banyak, para nelayan itu tidak sanggup memasok makanan ke kapal yang terkatung-katung di laut tersebut. ’’Karena itu, kami dorong saja sampai muara,’’ katanya.



Selasa sore (19/5), para nelayan mulai berupaya menarik kapal pengungsi. Awalnya, hanya tiga perahu kecil yang menarik. Setelah mencapai jarak 28 mil, lima perahu lain datang membantu.



’’Kami sampai muara sekitar pukul satu malam. Setelah dari muara, baru mereka kami naikkan ke perahu untuk dibawa ke kampung,’’ jelas Razali.



Kondisi para pengungsi amat memprihatinkan. Banyak yang sakit-sakitan dan hampir meninggal. ’’Kami dapati ada seorang yang mati, lalu dibuang ke laut oleh mereka,’’ ucap Fakhri, 46, nelayan lainnya.



’Kalau tidak kami selamatkan, mereka pasti akan tenggelam. Kami masih punya rasa kemanusiaan,’’ tegas Razali.



Nelayan Aceh juga berkorban materi. Bahan makanan untuk di laut berhari-hari habis dibagikan kepada para pengungsi. Begitupun solar untuk menyelamatkan nyawa imigran di tengah laut.



’’Saya kira (rugi) sekitar Rp 5 juta. Tetapi, saya ikhlas. Rezeki bisa dicari. Tetapi, kesempatan menyelamatkan ratusan nyawa orang, kapan lagi kami dapat?’’ katanya.



Saat penyelamatan oleh nelayan, sebenarnya ada anggota Polair Aceh Timur yang sedang berpatroli. Namun, mereka hanya melihat dan kemudia berbalik arah.



’’Mereka lihat kami, tetapi mereka balik lagi,’’ ungkapnya.



Kondisi mengharukan terjadi saat para imigran sampai di darat. Setelah mereka ditampung di Meunasah (surau) desa, bantuan pakaian dan makanan dari kampung-kampung sekitar tidak henti berdatangan.



’’Semua bantuan itu murni dari masyarakat, tidak ada yang dari pemerintah,’’ tegas Muhammad Nasir, sosok tetua kampung.



Warga Aceh lainnya, Muhammad, (42) mengaku tidak peduli jika pemerintah melarang mereka menampung para pengungsi.



"Masalah aturan pemerintah, itu urusan pemerintah. Kami hanya tahu menolong orang itu wajib. Ini wilayah Serambi Mekah, dimana budaya dan agamanya masih kuat. Allah yang akan membalas kami," ungkap warga Simpang Lhee, Julok, Aceh Timur tersebut.



CNN/JPNN

Inilah Remaja Rohingya Paling ‘Berjasa’ di Mata Dokter & Relawan





Bahasa yang berbeda menjadi kendala utama bagi para tim medis dalam menangani para pasien pengungsi Rohingya dan Bangladesh di Aceh. Hanya ada satu orang yang fasih berbahasa Inggris, yang akhirnya digunakan sebagai penerjemah para dokter serta relawan.



Adalah Muhammad Dul Hassan, warga Rohingya yang diselamatkan dari kapal di Kuala Langsa yang kini menjadi penghuni tetap salah satu bangsal di Rumah Sakit Kuala Langsa. Dia ditugaskan oleh para dokter untuk menjadi penerjemah pasien dari Rohingya atau Bangladesh.



Peran Hassan sangat penting, saking pentingnya dia kini mendapatkan tempat tidur khusus di rumah sakit tersebut.



"Setiap hari Hassan membantu di sini, hanya dia yang bisa berbahasa Inggris," ujar Yahrini, kepala perawat di RS Kuala Langsa lansir CNN Indonesia, Kamis (21/5).



Dalam setiap kunjungan dokter, remaja 17 tahun itu mendampingi dan menerjemahkan keluhan para pasien. Kebanyakan menderita penyakit pencernaan atau luka pada tubuh. Pekerjaan ini dilakoninya sejak mendarat di Aceh Jumat pekan lalu.



"Saya tidur di sini setiap malam dan membantu dokter menjelaskan keluhan," kata Hassan.



Juru bicara RS Kuala Langsa, Arwinsyah, mengatakan saat ini ada 57 yang tengah dirawat karena berbagai penyakit. Salah satunya adalah remaja wanita berusia 15 tahun yang tengah hamil tujuh bulan.



"Dia mengatakan suaminya dibunuh," kata Arwinsyah. Tidak diketahui apakah suaminya dibunuh di Myanmar atau di atas kapal.







Kemarin, balita Rohingya berusia tiga tahun bernama Shahera Habibi meninggal dunia akibat tetanus. Menurut Arwinsyah, saat baru tiba di RS pekan lalu kondisi Shahera sudah parah, kejang-kejang dan kaku.



"Dia dimakamkan di pemakaman rumah sakit," ujar dia.



Selain menjadi penerjemah di rumah sakit, Hassan juga kerap dipakai kemampuannya untuk mendampingi relawan atau wartawan. Pasalnya, tanpa Hassan petugas bantuan hanya menggunakan bahasa isyarat karena hampir sebagian besar pengungsi tidak bisa bahasa Inggris atau Melayu.



Karena jasanya, Hassan mendapatkan sejumlah uang dari dokter dan para relawan. Uang ini digunakannya untuk membeli handphone. Setiap hari, digunakannya ponsel itu untuk menelepon ibunya yang masih berada di kamp pengungsi Nayapara di Bangladesh.



"Saat pertama kali menelepon ibu, beliau mengira saya sudah tewas, karena tiga bulan tidak beri kabar," ujar anak kedua dari lima bersaudara ini.



Dia naik ke kapal pengungsi setelah diimingi akan bekerja di Malaysia. Selama tiga bulan di lautan, dia menyaksikan pembunuhan dan pertengkaran para pengungsi di kapal karena berebut makanan.



"Warga Bangladesh di kapal membunuhi kami karena kami dikira tidak memberi mereka air dan makanan. Karena kelaparan, mereka jadi gila," ujar Hassan.



Hassan mengatakan bahwa saat ini ayahnya bekerja di sebuah rumah sakit di Arab Saudi. Ditanya apakah ia berharap tinggal, siswa kelas 9 ini mengaku manut pada keputusan pemerintah Indonesia.



"Jika saya diminta tinggal maka saya akan tinggal, jika tidak saya akan patuh," kata dia.



CNN

Selasa, 19 Mei 2015

Kisah Tragis Rohingya di Laut, Baku Pukul Berebut Makan Demi Nyawa





Kisah pilu nan tragis dikisahkan oleh para pengungsi Rohinga dan Bangladesh yang saat ini berada di penampungan Langsa, Aceh. Mohammad Amin, salah seorang pengungsi mengutarakan, untuk mendapatkan makanan, tidak sedikit dari pengungsi yang harus baku pukul, hingga saling tikam.



“Satu keluarga dipukuli hingga mati dengan papan kayu oleh keluarga lainnya yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak lelakinya. Jenazah mereka kemudian dibuang ke laut,” ujar Amin, seperti dilansir Telegraph pada Senin (18/5/2015).



Kondisi ini tercipta akibat rasa frustasi, yang bercampur dengan insting bertahan hidup. Hal ini bisa dimaklumi, karena terombang-ambing di tengah laut bisa membuat sifat orang berubah, terlebih saat mereka dalam kondisi terdesak.



Sementara itu, seorang pengungsi lainnya bernama Mohammad Rafique meceritakan bagaimana anak-anak dan wanita kelaparan akibat tidak mendapatkan makanan. Para pengungsi Bangladesh, menurut Rafique, tidak pernah mau berbagi makanan dengan pengungsi lainnya.



Pria berusia 21 tahun itu bahkan mengatakan, tidak jarang justru pengungsi Bangladesh mengambil makanan milik pengungsi Rohingya.



“Mereka mengambil makanan kami. Mereka mendorong beberapa orang ke laut. Mereka memukuli dan menyerang kami dengan pisau. Saya dipukul dengan papan di kepala dan kaki,” paparnya.



Tapi sebaliknya, para imigran Bangladesh menyalahkan warga Rohingya yang menurut mereka melakukan penyiksaan. “Orang Burma (Myanmar) tidak memberi kami makanan dan air. Mereka menyiksa kami setiap hari,” kata seorang imigran Bangladesh bernama Mohammad Abdur Rahim.



Saat ini, para pengungsi tersebut masih bisa sedikit bernapas lega karena bernasib lebih baik dari para pengungsi lainnya. Mereka tidak lagi harus merasakan terjangan ombak di lautan lepas, karena mereka bisa berkumpul, bercengkrama dan beristirahat di lokasi penampungan yang disedikan Pemerintah Daerah Aceh.



SINDO

Sabtu, 16 Mei 2015

Kesaksian Pilu Muslim Rohingya: Diusir TNI-AL, Ditolong Nelayan Aceh






Sebab dalih kedaulatan, tentara TNI-AL memerintahkan para pengungsi Rohingya pergi menjauh dari daratan, hingga ditolong oleh sejumlah nelayan Aceh





KUALA LANGSA, Aceh — Ratusan pengungsi dari Myanmar dan Bangladesh resah ketika mereka diusir pergi oleh angkatan laut Indonesia dan Malaysia. Tak disangka, mereka justru selamat karena kebaikan hati para nelayan Aceh yang membawa mereka ke darat dan memberi mereka makan.





Marzuki Ramli, 45 tahun, nelayan asal Kuala Langsa, saat itu sedang bersama 30 nelayan lainnya menangkap ikan menggunakan pukat pada Kamis malam, 14 Mei 2015. Ia berada di perahu miliknya yang yang berukuran 26 x 6 meter, sekitar 35 mil dari pinggir pantai.





Sebuah kapal nelayan kecil tiba-tiba melintas, dan meminta bantuan. Diketahui mereka sudah tiga bulan tarkatung-katung di lautan lepas.





“Woi, cepat pergi ke sana, ada orang yang mengapung-apung di laut. Kalau kalian terlambat datang, bisa mati semua,” kata orang itu seperti dituturkan Marzuki pada dikutip Rappler, Jumat, 15 Mei.





Marzuki dan nelayan lainnya segera mengarah ke kerumunan orang-orang yang mengapung tersebut. Jaraknya sekitar 5 mil atau 1 jam perjalanan dari tempat mereka menangkap ikan.





Ketika sampai, para nelayan langsung menarik satu demi satu para pengungsi tersebut dari laut. Perahu Marzuki hanya sanggup menampung 250 orang.








Marzuki segera mengontak nelayan yang lain, dan datanglah 5 perahu nelayan yang membantu Marzuki mengevakuasi para pengungsi. Totalnya ada 672 orang, terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak.





“Begitu kapal nelayan merapat, para pengungsi langsung melompat ke perahu,” kata Marzuki.





Butuh dua jam bagi Marzuki dan 5 kapal lainnya untuk melakukan evakuasi tersebut, karena kondisi langit sangat gelap dan ombak yang tinggi.





Ada dua orang yang diduga preman ditinggal di tengah laut.





“Ini dari pengakuan para pengungsi bahwa ada dua orang yang disebut sering memukul, daripada berkelahi maka kami tinggal,” katanya.





Ada lagi, satu orang yang sudah meninggal dengan kondisi tangan putus di kapal juga ditinggalkan.





Nelayan memasak untuk pengungsi yang kelaparan





Saat mereka ditemukan, para pengungsi hanya memakai celana pendek dan kaos singlet. “Kebanyakan dari mereka tidak pakai baju, dan tubuhnya lemas,” kata Marzuki.





Setelah menarik para pengungsi, nelayan mengeluarkan stok air minum dan bahan makanan. Gula dan kue langsung disantap habis oleh para pengungsi yang kelaparan.








Karena tak cukup, para nelayan memutuskan untuk mengeluarkan stok beras dan memasak untuk para pengungsi.





“Butuh waktu sekitar 20-30 menit untuk memasak,” katanya. “Makannya pun di tangan, karena persediaan piring tak cukup.”



Ar Rahman Salah satu nelayan dari Langsa, mengatakan ia mendapatkan informasi dari radio komunikasi mengenai kapal yang hampir tenggelam di perairan Aceh Timur.



"Lalu saya dan kawan-kawan menuju lokasi untuk menolong mereka. Ketika sampai di sana kami melihat ratusan orang, laki-laki dan anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia. Ketika melihat kami laki-laki melompat ke laut dan berenang, sedih kami melihatnya," jelas Ar Rahman.



"Laki-laki melompat ke laut sambil histeris dan berteriak Allahu Akbar. Mereka meminta tolong dengan bahasa mereka," jelas Ar Rahman dilansir BBC Indonesia.

Proses evakuasi para pengungsi ke pelabuhan Kuala Langsa kala itu dilakukan oleh lebih dari enam kapal nelayan dari Langsa.



Mereka lalu dibawa ke Teluk Langsa dan ditangani kepolisian setempat serta pemerintah daerah.





Cerita mengenai kebaikan nelayan Aceh bagi pengungsi tak hanya sebatas menyelamatkan. Pada gelombang pengungsi sebelumnya, warga Aceh membantu dengan memberikan makanan ke tempat penampungan.





Bahkan ada beberapa warga Aceh yang ingin mengadopsi anak-anak pengungsi.





“Saya benar-benar tulus ingin merawat anak Rohingya. Apalagi mereka adalah warga Muslim. Sesama Muslim, kita harus saling membantu. Apalagi dulu saat konflik Aceh, kita juga pernah merasakan bagaimana penderitaan akibat perang,” kata Ilyas, warga Aceh.





Mereka dihalau AL karena dalih 'kedaulatan'





Para pengungsi yang ingin pergi ke Malaysia ini ditinggalkan kapten kapal terombang-ambing di tengah laut. Ketika mereka mendekati Indonesia, mereka mengatakan kapal TNI AL menghampiri, memberi makanan dan minuman, lalu disuruh pergi.








Dalam keadaan resah karena mesin kapal mati dan terapung-apung beberapa hari di lautan, kapal milik angkatan laut Malaysia mendekat. Lagi-lagi, mereka hanya diberi bantuan makanan dan minuman. Perahu mereka lalu ditarik ke tengah laut oleh angkatan laut Malaysia.





“Kami dilepas di tengah laut, dekat perairan Indonesia,” kata Sahidul, salah seorang pengungsi.





Panglima TNI Jenderal Moeldoko membenarkan penolakan tersebut.





“Untuk suku Rohingya, sepanjang dia melintas Selat Malaka, kalau dia ada kesulitan di laut, maka wajib kita bantu. Kalau ada sulit air atau makanan, kita bantu, karena itu terkait human. Tapi kalau mereka memasuki wilayah kita, maka tugas TNI untuk menjaga kedaulatan,” dalih Moeldoko.





Menurut Moeldoko, bila para pengungsi dibiarkan masuk ke wilayah Indonesia, mereka akan memunculkan persoalan sosial.





“Urus masyarakat Indonesia sendiri saja tidak mudah, jangan lagi dibebani persoalan ini,” katanya.




Saat ditanyakan bagaimana nasib para pengungsi Rohingya ini jika tak ada negara yang mau menampung, Moeldoko menolak berkomentar. Moeldoko mengatakan itu urusannya menteri Luar Negeri.




Rappler

Kisah Nelayan Aceh Penyelamat Pengungsi Rohingya




Ar Rahman atau biasa disapa Pak Do, ialah salah satu nelayan Aceh yang turut membantu proses evakuasi para pengungsi Bangladesh dan Myanmar.




Beberapa pengungsi melompat ke laut dan berteriak 'Allahu Akbar' 

begitu mereka melihat nelayan-nelayan Aceh yang 

berupaya menyelamatkan mereka.



Hampir 800 pengungsi Bangladesh dan Rohingya dari Myanmar diselamatkan oleh kapal nelayan di Aceh pada Jumat (15/05) lalu, setelah sempat dihalau oleh TNI AL dan Angkutan Laut Malaysia pada awal pekan ini.



Salah satu nelayan dari Kota Langsa, Ar Rahman, mengatakan mendapatkan informasi dari radio komunikasi mengenai kapal yang hampir tenggelam di perairan Aceh Timur.



"Lalu saya dan kawan-kawan menuju lokasi untuk menolong mereka. Ketika sampai di sana kami melihat ratusan orang, laki-laki dan anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia. Ketika melihat kami laki-laki melompat ke laut dan berenang, sedih kami melihatnya," jelas Ar Rahman yang biasa disapa Pak Do.



Ar Rahman mengatakan perempuan dan anak-anak bertahan di kapal yang oleng sebelum dievakuasi.



"Laki-laki melompat ke laut sambil histeris dan berteriak Allahu Akbar. Mereka meminta tolong dengan bahasa mereka," jelas Ar Rahman lansir BBC Indonesia.



Proses evakuasi para pengungsi ke pelabuhan Kuala Langsa kala itu dilakukan oleh lebih dari enam kapal nelayan dari Langsa.



Sebanyak 421 pengungsi merupakan warga Bangladesh yang semuanya laki-laki. Sementara pengungsi Rohingya berjumlah 256 orang terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak.



Mohamad Rofiq, pengungsi Rohingya dari Myanmar, mengatakan ketika ditolak masuk ke perairan Indonesia dan Malaysia, mereka diberi bekal makanan dan bahan bakar oleh angkatan laut kedua negara.



"Makanan hanya sedikit dan kami berikan untuk bayi terlebih dahulu. Kami sangat kelaparan dan lelah setelah terombang ambing di laut selama empat hari," ungkap pria berusia 21 tahun itu.






Mohamad Rofiq, pengungsi etnik Rohingya asal Myanmar, memulai perjalanan dari Bangladesh ke Malaysia dua bulan lalu. Namun, kini dia terdampar di Aceh.



Rofiq mengaku sempat mengungsi ke Bangladesh melalui jalan darat yang berbatasan dengan Myanmar.



Di sana, dia bertahan selama beberapa tahun sampai mendapatkan kartu pengungsi dari Badan PBB yang mengurusi masalah pengungsi (UNHCR).



Dua bulan lalu dia memulai perjalanan dari Bangladesh menuju Malaysia melalui laut.



"Kami berada di laut selama dua bulan ke Malaysia, lalu ke Thailand dan bertahan di perairan negara itu selama kurang dari dua bulan. Kemudian kami disatukan ke kapal yang lebih besar menuju Malaysia. Tetapi di perjalanan kapten kapal meninggalkan kami," jelas Rofiq.



Rofiq mengatakan keluarganya masih berada di pengungsian di Bangladesh.



Gelombang kedua



Ratusan pengungsi masih ditempatkan di gudang Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa. Di antara mereka, puluhan orang dilarikan ke rumah sakit karena kekurangan makanan dan menderita dehidrasi.







Gelombang pengungsi ini merupakan yang kedua tiba di Aceh dalam satu pekan ini. Sebelumnya hampir 600 pengungsi terdampar di Lhoksukon dan kini menempati lokasi pengungsian di Tempat Pelelangan Ikan Kuala Cangkoy, Kecamatan Lapang, Aceh Utara.



Diperkirakan gelombang pengungsi masih akan berdatangan karena ada ribuan pengungsi yang berada di laut.



Belum diketahui secara pasti berapa jumlah kapal yang mengangkut para pengungsi ini. Namun PBB meminta Indonesia dan Malaysia tidak menolak kedatangan mereka.



BBC

Jumat, 15 Mei 2015

Cerita Anak yang Ditelantarkan Hingga Tidur di Pos Satpam




Potret bocah D saat ditelantarkan orangtuanya. (Liputan6.com/Taufiqurrahman)



Tim Polda Metro Jaya dan KPAI mengamankan orangtua yang diduga menelantarkan 5 anaknya di kawasan Citra Gran, Cibubur, Jawa Barat. Para tetangga setempat mencium gelagat tidak beres saat mengetahui bocah D dilarang masuk ke rumah sejak sebulan lalu.



D seharusnya mendapat perhatian yang layak dari orangtuanya, baik dalam segi pendidikan maupun lainnya. Namun bocah berusia 8 tahun itu justru mendapatkan perlakuan sebaliknya dari kedua orangtuanya. Tragis.



Dua foto keseharian D saat masih ditelantarkan oleh orangtuanya. Foto ini didapatkan dari tetangga D yang ikut merawat bocah malang tersebut.



Okky, yang rumahnya masih berada satu kompleks dengan sang anak ini menceritakan, kejadian yang menimpa D tidak hanya sekali. Namun kali ini merupakan yang terparah saat D ditelantarkan di luar rumah selama sebulan oleh ‎orangtuanya.



"Ini saya foto waktu D tidur di pos satpam.‎ Dia tidak dikasih makan dan tidak boleh masuk rumah oleh kedua orangtuanya," kata Okky saat berbincang dengan Liputan6.com di Cibubur, Jumat (15/5/2015).






Bocah D saat tidur di pos satpam Kompleks Citra Gran, Cibubur, Jawa Barat. (Liputan6.com/Taufiqurrahman)
Bocah D saat tidur di pos satpam Kompleks Citra Gran, Cibubur, Jawa Barat. (Liputan6.com/Taufiqurrahman)



Karena merasa iba, Okky bersama warga lainnya memberi makan dan pakaian yang layak untuk D. Tidak hanya makanan, D pun tidur tidak lagi di pos satpam.



"Warga sini akhirnya kasih dia makan, terus tidurnya juga pindah-pindah ke rumah warga. Diurus sama warga kompleks," tutur Okky.



Senada dengan Okky, tetangga D lainnya, Agustini mengungkapkan, saat ditelantarkan itu D memakai pakaian yang tidak layak. Bahkan badan D juga bau akibat tidak pernah mandi.



"Bajunya 6 hari nggak pernah ganti,‎ nggak pernah mandi badannya bau. Katanya nggak boleh sama mama," ungkap Agustini.



Agustini yang rumahnya hanya beberapa meter dari rumah D sempat menegur orangtuanya. Namun bukannya sadar, orangtua D justru marah-marah kepada dia dan beberapa warga lainnya yang peduli terhadap sang anak.



"Si orangtuanya pas diberi tahu jawabnya ini anak saya, mau saya siksa terserah saya. Bahkan nuduh menculik anaknya dan mau melaporkan saya ke polisi. Saya bilang saya nggak takut," kesal Agustini.



Agustini sempat mendengar kalau D bersekolah di daerah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Namun saat ditanya kepada D kenapa dia tidak bersekolah, bocah tersebut tak pernah menjawab. "Katanya sih di SDN 01 Cileungsi‎ sekolahnya, tapi ditelantarin begitu nggak pernah sekolah lagi," ujar dia.



Menurut Agustini, D pernah mengaku kerap dipukul dengan ‎menggunakan benda. Tetangganya yang lain sering mendengar jeritan seperti suara perempuan yang sedang marah-marah.



"Waktu ditolong saya, sempat ada bekas siksaan, benjol-benjol dan benjolan penuh di kepala. Suka ngaku ke saya, dipukulnya pakai kayu, pakai botol. Kalau perempuan di dalam tidak kelihatan, tapi tetangga sebelah, saya telepon suka dengar jeritan," tutur Agustini.



Selain D, ada 4 saudara perempuannya yang masih anak-anak. Kondisi mereka tidak kalah memprihatinkan. Keempat saudara perempuan D yakni L dan C (9) yang merupakan saudara kembar, serta A (5) dan DI (4). Mereka tidak pernah keluar rumah, hanya D saja yang keluar rumah.



Namun, kini D bersama keempat saudara perempuannya tersebut sudah berada di tempat yang lebih baik setelah dievakuasi oleh polisi dan KPAI.



Terlihat Murung



Ketua KPAI Erlinda mengungkapkan kondisi kelima anak usai dievakuasi dari rumah di Kawasan Cibubur, Jawa Barat. Anak-anak itu terlihat senang, terutama D. Namun tidak bagi L, anak sulung dari 5 bersaudara itu. Dia masih murung.



"Agak berat (memulihkan) anak sulung perempuan, sampai hari ini masih terlihat murung," kata Erlinda di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (15/5/2015).



Erlinda melanjutkan, L juga tidak mau bermain dengan anak-anak lainnya di Save House yang disediakan Kementerian Sosial. Bahkan ketika ditanyakan seputar orangtuanya, L tetap bungkam seribu bahasa.



"Yang sulung sejauh ini belum mau bersuara apapun. Dia tidak berinteraksi dengan anak-anak lain," ujar Erlinda.



Ayah Membantah



Ayah bocah D, UP (45) menyangkal penelantaran yang dituduhkan kepada dirinya. UP membantah semua tuduhan menelantarkan anak, tidak memperbolehkan anaknya pulang, bahkan sampai tidak memberikan makan.



"Sama sekali nggak ada, fitnah itu, susah begini jadinya," kata UP pada 14 Mei 2015.



Dia mengaku, D adalah anak lelaki tunggal yang hingga berusia 5 tahun dititipkan kepada sang nenek. Karena itulah sang ayah merasa kurang memiliki ikatan batin dengan putra tunggalnya itu.



UP menganggap, D terlalu manja hingga membuatnya bersikap tegas. Namun perlakuan itu berbeda dengan yang diberikan kepada 4 anak lainnya yang perempuan.



Dia menjelaskan, kondisi di rumahnya termasuk sebuah perumahan elite yang tidak ada pagarnya. Jika ada tetangga yang mengaku kalau anaknya dibiarkan bebas keluar-masuk rumah, itu merupakan hal biasa.



"Dia kan anak cowok, nggak masalah lah. Nggak ada perkara. Tetangga saja yang fitnah kita," ujar UP.



liputan6

Rabu, 13 Mei 2015

Kisah Nestapa Muslim Rohingya Terdampar di Aceh






Muslim Rohingya yang terombang-ambing di laut, bukan 3 atau 4 hari, tapi dua bulan. Mereka kelaparan dan ketakutan.



Dua imigran yang diyakini bagian dari rombongan warga Muslim Rohingya ditemukan terdampar di Pantai Idi Cut, Darul Aman, Aceh Timur, Selasa, 12 Mei 2012.



“Menurut keterangan, mereka mengaku melompat dari kapal tongkang yang sedang berada di Selat Malaka dan kemudian berenang hingga terdampar di pantai Idi Cut sekitar pukul 7:00 pagi tadi,” kata Kapolres Aceh Timur, AKBP Hendri Budiman, pada Rappler.



Sebelumnya, ada 572 imigran gelap asal Myanmar dan Bangladesh yang ditemukan di Selat Malaka, kawasan Pantai Seuneudon, Aceh Utara, pada 10-11 Mei. Mereka saat ini ditampung di GOR, tapi akan dipindahkan ke tempat lain di Aceh Utara. Belum jelas, apa yang akan dilakukan pemerintah pada mereka.



Kedatangan mereka membawa segudang kisah pahit tentang penindasan terhadap mereka, keinginan bekerja di Malaysia dan perjalanan laut berat yang mereka tempuh.



Disudutkan di Myanmar



Dus Mamath menatap hampa, seolah menyimpan beratnya beban hidup. Pria 27 tahun berkulit hitam ini memberi salam kepada setiap orang yang ditemuinya. Lalu dia melanjutkan ucapannya, “Burma, I’m Moslem.”



Dus mengaku dari daerah Bau Dupha di kawasan Rakhine. Istrinya bernama Jamilah, 23 tahun. Dari hasil perkawinannya, mereka dikarunai 3 orang putri. Istri dan anak-anak mereka dengan berat hati ditinggalkannya di kampung.



“Kami tidak punya rumah karena dilarang oleh pemerintah yang mayoritas beragama Buddha. Istri dan anak-anak saya sekarang tinggal di kamp,” katanya kepada Rappler dalam Bahasa Inggris yang terbatas.



Disebutkan bahwa aparat keamanan Myanmar sering datang ke kamp tempat warga Muslim Rohingya tinggal untuk meneror mereka. Kadang-kadang warga Muslim yang minoritas dipukuli, tanpa kesalahan. “Malah ada tetangga saya ditembak,” tuturnya, yang dibenarkan rekannya.







Mimpi bekerja di Malaysia



Pada akhir Maret, Dus dan dua rekannya, Muhammad Toyyub, 32 tahun, dan Muhammad Husen, 35 tahun, memutuskan untuk merantau ke Malaysia. Baik Toyyub maupun Hussen sudah berkeluarga dan punya anak.



Dus mengatakan dia bermimpi bisa mengubah nasib dengan bekerja di Malaysia, meski hanya sebagai buruh. Mereka membayar lebih dari US$ 1.000 kepada agen liar yang diduga berasal dari Myanmar, Thailand dan Malaysia.



“Kami pergi ke Malaysia untuk mengadu nasib karena tidak ada yang bisa dikerjakan di Myanmar. Kami tak bisa bekerja apa-apa di negara kami karena kami tidak diakui sebagai warga Mynmar,” ujar Dus dengan nada sedih.



Cerita hampir sama dikisahkan Abdul Motin, 42 tahun, imigran asal Bangladesh. Dia berangkat ke Malaysia bersama 4 rekannya dari Sylhet karena agen menjanjikan pekerjaan dan kehidupan yang layak.



“Sekarang saya ingin bekerja di Malaysia karena kehidupan di Bangladesh susah. Tapi saya dan tiga teman saya dari Sylhet telah ditipu oleh agen padahal kami membayar 200.300 Lack kepada mereka.”



Rekan senegaranya, Muhammad Kasem, mengatakan membayar sekitar $ 1.000 kepada agen liar.



“Untuk biaya pergi ke Malaysia, saya menjual lembu dan tanah,” katanya.



Dua bulan tersiksa di laut



Impian pekerjaan yang baik tidak seindah nasib mereka di perjalanan menyeberangi lautan. Menurut Dus, agen mereka awalnya menjanjikan akan tiba di Malaysia dalam waktu 4 hari. Namun kenyataannya mereka terombang-ambing hampir dua bulan di lautan.



Setelah menempuh perjalanan dua minggu dari kampungnya, mereka dikumpulkan dalam satu perahu besar. Jumlahnya mencapai 600 orang, terdiri dari warga Rohingya dan Bangladesh.







Duduk mereka berdempetan. Kakinya menekuk ke dada. Tidak ada yang bisa berselonjor. Di kiri dan kanan, depan dan belakang dipenuhi barisan manusia. Mereka tak kenal satu sama lain. Dus hanya kenal dua rekan sekampungnya.



“Kami tidak bisa tidur selama dalam kapal. Kalau ada yang coba merebahkan tubuh atau menjulurkan kaki, kami dipukul dan ditendang. Malah anak buah kapal sempat mengancam akan menembak kami,” katanya dengan wajah menyiratkan ketakutan.



“Saya sempat dipukul dan ditendang beberapa kali oleh kapten kapal.”



Selama dalam perjalanan, mereka kekurangan makanan dan minuman. Paling sehari hanya diberi segelas air. Makanan dalam jumlah sangat sedikit diberi 3 hari sekali.



“Enam orang dalam kapal kami meninggal dunia karena sakit dan kelaparan. Mayat mereka disuruh buang ke laut oleh kapten,” katanya.



Saat kapal kayu yang ditumpangi sudah berada di perairan perbatasan Malaysia dan Indonesia, kapten memberitahu bahwa mereka hampir tiba di Malaysia. Kapten juga bilang ia hendak pulang sebentar di rumahnya di Singapore. Lalu, sebuah speedboat datang menjemput kapten dan anak buah kapal.



“Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka mengancam akan menembak kami. Kami semua menangis karena tak ada seorangpun bisa mengemudi kapal,” katanya.



Kapal yang mereka tumpangi terombang-ambing di Selat Malaka selama 4 hari sampai akhirnya ditemukan nelayan tradisional Seuneudon, Aceh Utara, yang sedang melaut, Minggu dinihari. Pada paginya mereka berhasil mencapai pantai.



Nasib masih belum jelas



Pemerintah Indonesia belum mengeluarkan pernyataan resmi apa yang akan mereka lakukan dengan para pengungsi Rohingya ini.



"Pemerintah tentu saja pertama menginvestigasi dulu penyebab dan sebagainya," kata Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia AM Fachir, Senin, 11 Mei. Dia mengatakan pemerintah akan menggandeng kementerian dan lembaga seperti kepolisian.



"Mungkin kita akan melibatkan IOM (International Organisation for Migration). Itu adalah proses yang biasa," pungkas Fachir.



Masih belum jelas, apakah pemerintah akan memulangkan para imigran ini atau membiarkan mereka tetap di Indonesia.







Muhammad Akamot Ali, salah satu imigran asal Bangladesh meminta tidak dipulangkan ke negerinya, karena sulit mencari nafkah. Dia meminta agar mereka sementara waktu ditampung di Indonesia, untuk kemudian kembali meneruskan rencana ke Malaysia.



“Kami terdampar saat pergi ke Malaysia. Tujuan kami mencari kerja ke sana,” ujarnya.



Namun imigran lainnya, Motin, mengatakan ingin pulang dan berharap Kedutaan Besar Bangladesh di Jakarta bisa mengirim utusan ke Aceh.



“Jika ada pejabat Kedutaan datang dan membawa pulang ke Bangladesh, kami bersedia pulang. Apalagi kami tak punya uang lagi karena semua telah diambil oleh agen,” katanya.

Warga Aceh Ingin Adopsi Balita Muslim Rohingya






'Sesama Muslim, kita harus saling membantu. Dulu saat konflik Aceh, kita pernah merasakan bagaimana penderitaan akibat perang'



Lelaki berbadan tegap dengan kumis tebal itu memilih duduk di sepeda motor yang diparkir di sebelah utara Gedung Olahraga (GOR) Lhoksukon, ibukota Kabupaten Aceh Utara.



Ilyas, 58 tahun, mengaku tak tega melihat ke dalam gedung, tempat ditampungnya ratusan imigran etnis Rohingya asal Myanmar dan Bangladesh. Selain kondisi mereka yang cukup memprihatinkan, bau menyengat dari dua toilet seolah menyurutkan langkahnya ke ruangan.



Awal pekan ini ribuan pencari suaka etnis Rohingya terdampar di pantai Seuneudon, Aceh Utara, Minggu, 10 Mei 2015. Mereka terusir dari negaranya akibat kekerasan pasukan pemerintah Myanmar dan tak diakui kewarganegaraan.



“Saya tahu ada manusia perahu yang terdampar ke Aceh Utara, kemarin sore. Segera saya datang ke sini setelah berbelanja berbagai jenis makanan Rp 1 juta untuk bantu mereka semampu saya,” kata Ilyas kepada Rappler, Selasa malam, 12 Mei.



Dia datang untuk kedua kalinya dengan sebuah harapan, ingin mengadopsi seorang anak Muslim Rohingya.



Ilyas sendiri sudah memiliki tiga orang anak. Yang bungsu tahun ini bakal tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dua lainnya sudah menikah.



“Saya sangat ingin sekali kalau diberikan kesempatan merawat dan menyekolahkan anak Muslim etnis Rohingya. Tapi bagaimana caranya? Apalagi anak-anak saya sudah besar,” ujar pria yang berprofesi sebagai sopir truk ini.



Dia telah berbicara tentang keinginannya dengan petugas Tagana Dinas Sosial Aceh Utara. Tetapi, jawaban yang didapat jauh dari harapan. Petugas Tagana mengaku tak punya kewenangan terhadap nasib para pengungsi yang hendak mengadu nasib ke Malaysia.



Relawan Tanaga hanya bertugas menyiapkan makanan dan keperluan lagi bagi para pencari suaka. Sebuah dapur umum telah didirikan di samping gedung sejak 582 imigran ditampung di GOR Lhoksukon yang berukuran 20 x 40 meter, yang biasa digunakan untuk bermain bulu tangkis.



Meski sulit untuk dapat mengadopsi seorang anak Rohingya, Ilyas tetap bertahan di luar gedung hingga menjelang tengah malam. Warga dari Kecamatan Matang Kuli itu mengaku sayang karena penderitaan berat yang dialami etnis minoritas Rohingya di negara asal mereka.



“Saya benar-benar tulus ingin merawat anak Rohingya. Apalagi mereka adalah warga Muslim. Sesama Muslim, kita harus saling membantu. Apalagi dulu saat konflik Aceh, kita juga pernah merasakan bagaimana penderitaan akibat perang,” katanya.



Dari 582 warga Rohingya yang terdampar, terdapat 81 perempuan dan 51 anak-anak. Di antara anak-anak berusia di bawah 12 tahun, terdapat sejumlah balita.



‘Belum dikaruniai anak



Keinginan untuk mengadopsi anak Rohingya juga diungkapkan pasangan Ahmad, 43, dan Fatimah, 35. Mereka sengaja datang ke GOR Lhoksukon dari desanya di pelosok Aceh Utara, Selasa sore. Pasangan itu mengaku tak punya anak.



“Kami sudah menikah tujuh tahun, tapi belum dikarunai anak. Kalau diizinkan kami bersedia mengambil seorang anak mereka untuk kami rawat dan kami sekolahkan,” kata Ahmad yang diiyakan istrinya.



Saat pasangan itu berada di luar GOR, sejumlah perempuan Rohingya dan sepuluh anak keluar dari GOR, hendak mandi di rumah warga. Fatimah segera merogoh dompetnya. Setiap anak dikasih uang Rp 2.000. Sedangkan, untuk perempuan Rohingya diberikan uang Rp 20.000. Terlihat senyum bahagia dari anak-anak dan perempuan Rohingya.



Cut Nilawati, 30, mengaku datang ke GOR juga untuk melihat pengungsi. Dia ingin memastikan kemungkinan mengadopi seorang anak Rohingya. “Kakak saya di Kota Lhokseumawe telepon. Dia tanya apakah mungkin kalau mengadopsi seorang anak pengungsi ini,” katanya.



Menjelang malam, seribuan warga Aceh Utara mendatangi GOR. Mereka membawa berbagai macam bantuan mulai dari pakaian bekas, beras, air mineral, telur ayam, ikan, dan kue-kue segala jenis. Ramainya warga yang datang membuat tim Tagana dan polisi kewalahan karena warga dan pengungsi berbaur.



Bantuan juga disalurkan para mahasiswa dan siswa SMU Unggul Lhoksukon. Di jalan dekat GOR, terlihat sejumlah mahasiwa menggalang bantuan dana bagi imigran itu. Setiap warga yang melintas memasukkan uang ke dalam kardus yang dibawa aktivis mahasiswa.



Meski ada seruan dari pengeras suara agar warga tidak masuk ke dalam gedung, tapi masyarakat tetap memasuki dan berbaur dengan manusia perahu, yang pada tangan mereka telah dipasang pita kuning. Banyak dari warga Aceh yang berbaur mengajak foto bersama dengan imigran. Hingga tengah malam, ratusan warga tetap bertahan di seputaran GOR.



Menurut rencana, pada Rabu sore ini, 13 Mei, para imigran Myanmar dan Bangladesh dipindah ke Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Kuala Cangkoi di Keamatan Lapang. Tim dari International Organization for Migration (IOM) dan United Nations High Commissioner for Refugees (UNCHR) telah menginspeksi lokasi ini pada Selasa kemarin.



Tetapi Ilyas, pasangan Ahmad dan Fatimah, dan Cut Nilawati tetap menggantung satu harapan besar untuk dapat mengadopsi anak Rohingya. Mereka terus berusaha bisa mendapatkan cara merawat anak-anak itu.



“Saya tetap berharap kalau bisa mereka semua dibiarkan tinggal di Aceh. Apalagi kita sesama Muslim harus saling membantu,” ujar Ilyas.



Rappler

Kamis, 07 Mei 2015

Tragedi Meurah Pupok: Iskandar Muda Menghukum Pancung Putra Mahkota






"...Matee Aneuk Meupat Jeurat, Gadoh Adat Hana Pat Tamita..."




Inilah asal muasal filosofis yang beranjak dari peristiwa penghukuman oleh Sultan Iskandar Muda terhadap Putra Mahkota Kesayangannya, Meurah Pupok yang harus mengakhiri hidupnya di ujung pedang ayahanda-nya sendiri.





Kisah





Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam - Penguasa Sumatera dan Semenanjung Malaka sedang berdiam diri dalam istana. Sultan merenung di Balairung yang juga tidak jauh dari Balai Cermin yang Agung. Sumatera dan Malaka sudah dalam genggamannya. Namun, ia pun melihat Portugis, Inggris dan beberapa Negara Eropa lain sedang mengincar penguasaan Selat Malaka.





Beliau telah memerintah Aceh dan daerah taklukannya hampir 30 tahun. Ia seorang pribadi yang kuat dalam arti yang sebenarnya secara fisik dan mental. Seorang bangsawan yang cerdas serta tegas. Negarawan yang adil sekaligus politisi dan diplomat yang ulung. Ia adalah Sultan terbesar Aceh yang mampu membawa Aceh Darussalam mencapai kejayaan dan menjadi kerajaan yang disegani.





Dalam kurun hampir 30 tahun masa pemerintahannya, Sultan Iskandar Muda telah berhasil menyempurnakan Qanunul Asyi Ahlussunah Wal Jamaah yang terdiri dari 500 ayat Al-Quranul Karim, 500 Hadist Rasulullah, Ijma' Sahabat rasulullah, Qiyas Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah. Kemudian dilengkapi pula dengan Qanun Putroe Phang suatu aturan yang mampu memberikan perlindungan kepada Kaum Wanita.





Ditengah perenungannya didalam Istana, Sultan mulai memikirkan kederisasi kepemimpinannya. Ia membutuhkan seorang penerus kerajaan yang kuat yang mampu merpertahankan kekuasaannya dan menjaga Kerajaaan Aceh dan daerah taklukannya agar tidak tunduk pada kekuasaan asing, terutama Portugis dan Inggris yang saat itu terus melakukan provokasi di Selat Malaka.





Terlintaslah pandangannya pada wajah Sang Putra Mahkota - Meurah Pupok - yang digelari Sultan Muda atau Poteu Cut. Anak kesayangannya ini berwajah gagah mewarisi ketampanan wajah sang ayah. Putra Mahkota atau Poteu Cut ini memang masih belia, minim pengalaman. Saat ini sedang menanjak dewasa. Sultan merencanakan untuk memberikan beberapa tanggung jawab kepada Putra Mahkota agar ia belajar dan berpengalaman. Termasuk diantaranya tugas tempur untuk memimpin Armada Laut terbesar Kerajaan yaitu Armada Cakra Donya. Diharapkan dengan berbagai pengalaman penugasan termasuk dengan menjadi Panglima Perang pada saatnya nanti ia mampu menggantikan dirinya untuk menjadi Sultan.





Menurut sebuah riwayat Sultan Iskandar Muda memiliki dua anak, yang pertama adalah Meurah Pupok yang berasal dari istrinya seorang Putri Gayo. Yang kedua adalah wanita yang bernama Safiatuddin yang berasaal dari istrinya Putri Pedir/Pidie. Meurah Pupok dikenal sebagai seorang Pangeran yang terampil menunggang kuda. Meurah Pupok menjadi harapan Sultan Iskandar Muda untuk menggantikannya.





Ditengah lamunannya Sultan terpengarah karena tiba-tiba seorang Perwira Muda Kerajaan yang sangat dikenalnya dan merupakan kepercayaannya tiba-tiba menorobos masuk dan langsung berlutut menyembah dirinya. Dengan terbata-terbata Sang Perwira menangis tersedu-sedu sambil menyebutkan bahwa Putra Mahkota Poteu Cut Meurah Pupok telah melakukan tindakan asusila dengan menodai istrinya. 





Perwira tersebut langsung membunuh istrinya setelah mengetahui peristiwa tersebut. Namun, untuk Putra Mahkota ia serahkan sepenuhnya pada kebijaksanaan Sultan. Ia menuntut keadilan kepada Sultan. Selepas ia mengadukan hal tersebut kepada Sultan, Perwira tersebut langsung mencabut rencongnya dan menikam ke hulu hatinya sendiri tanpa sempat dicegah oleh Sultan dan pengawalnya. Robohlah perwira tersebut dan langsung tewas saat itu juga.





Syahdan, Perwira Muda ini adalah Pelatih Angkatan Perang Aceh. Ia mengetahui peristiwa tersebut setelah melakukan pelatihan terhadap para prajurit di kawasan Blang Peurade Aceh. Ia sangat kecewa dengan peristiwa yang melibatkan istrinya tersebut. Kekecewaan tersebut ia tumpahkan dengan membunuh istrinya sendiri kemudian ia sendiri bunuh diri dihadapan Sultan.





Tercenunglah Sultan dengan wajah bergetar menahan amarah. Ia baru saja menaruh harapan terhadap Putra Mahkota, namun peristiwa yang baru terjadi bagaikan geledek yang menyambar dirinya. Seorang Perwira kerajaan kepercayaan dirinya menyampaikan pengaduan yang membuat dunia ini seolah-olah runtuh. Putra Mahkota kesayangannya telah melakukan tindakan yang tidak patut.





Segera Sultan berteriak garang disaksikan orang-orang penting Kerajaan dan para pengawalnya. "Aku adalah Sultan Penguasa Aceh, Sumatera dan Malaka. Aku telah memerintah Aceh dan taklukannya dengan menegakan hukum yang seadil-adilnya. Aku pun akan menegakan hukum terhadap keluargaku sendiri. Aku pun akan menerapkan hukum kepada Putra Mahkota yang seberat-beratnya. Dengan tanganku sendiri akan kupenggal leher putraku karena telah melanggar hukum dan adat negeri ini..." 





Semua pembesar kerajaan tercenung. Sultan segera memerintahkan penangkapan Putra Mahkota Meurah Pupok yang bergelar Poteu Cut atau Sultan Muda. Pengadilan segera dilakukan dan Sultan Iskandar Muda telah memutuskan bahwa ia sendirilah yang akan memancung putra kesayangannya itu. Mendung menggelayut diatas Kerajaan Aceh, prahara telah menghantam negeri perkasa ini.





Beberapa pembesar kerajaan yang peduli terhadap kelangsungan kerajaan bersepakat untuk menghadap Sultan Iskandar Muda agar membatalkan hukuman pancung tersebut. Mereka mengajukan berbagai usul seperti pengampunan atau cukup dengan mengasingkan Putra Mahkota ke negeri lain. Termasuk mencari kambing hitam, mencari seorang pemuda lain untuk menjadi pesakitan menggantikan Putra Mahkota. Semua usul tersebut ditolak oleh Sultan dan dengan berang Sultan berkata akulah yang menegakan hukum di negeri ini dan kepada siapapun yang bersalah tidak terkecuali terhadap keluargaku sendiri harus dihukum.





Kerajaan ini kuat karena hukum yang ditegakan dan adanya keadilan. Sultan kemudian menyebut dalam bahasa Aceh - "...Gadoh aneuk meupat jrat, Gadoh hukom ngon adat pat tamita...?" - yang artinya "hilang anak masih ada kuburan yang bisa kita lihat, tetapi jika hukum dan adat yang hilang hendak kemana kita dicari?"





Semua pembesar kerajaan terdiam tak kuasa membantah titah Raja Perkasa yang adil ini. Mereka mulai membayangkan bagaimana masa depan negeri ini. Bahkan Menteri Kehakiman pun yang bergelar Sri Raja Panglima Wazir berusaha membujuk tetapi Sultan tetap tidak bergeming. Sultan berketetapan hati tetap melaksanakan putusannya. Sultan sendiri dengan tegas mengatakan apabila tidak ada seorang pun yang mau melakukan hukuman ini maka ia sendiri yang akan melakukannya. Pada hari yang ditentukan dilaksanakanlah hukuman pancung tersebut yang langsung dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda terhadap Putra Mahkota kesayangannya.





Dibawah linangan air mata masyarakat yang mencintai Sultan dan Putra Mahkotanya disaksikan pembesar kerajaan yang berwajah sendu dan tertunduk tidak mampu menatap kejadian tersebut, Sultan Iskandar Muda dengan tegar melaksanakan hukuman pancung terhadap Putra Mahkota kesayangannya itu. Langit kerajaan Aceh menjadi mendung kelabu.





Rakyat kebanyakan maupun pembesar kerajaan banyak yang tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Putra Mahkota. Mereka semua menaruh harapan besar terhadap Putra Mahkota sebagai pewaris kerajaan dan turunan langsung Sultan Iskandar Muda. Tetapi hukum telah ditegakan dan Sultan langsung yang melaksanakan keputusan tersebut.












Atas keputusan Sultan Iskandar Muda pula jenajah Meurah Pupok tidak dibolehkan untuk dimakamkan dikompleks pemakaman kerajaan. Pemakaman kerajaan disebut dengan Kandang Mas yang berada dilingkungan Istana Darul Donya. Jenazah hanya dimakamkan disuatu kompleks di luar area Istana Darud Dunya yaitu didekat lapangan pacuan kuda Medan Khayali.



Sebuah Konspirasi




Waktu terus berjalan, Sultan mulai memikirkan siapa penggantinya. Kemudian berkembanglah sebuah informasi bahwa Putra Mahkota Meurah Pupok yang bergelar Sultan Muda Poteu Cut, memang sengaja disingkirkan oleh sebuah konspirasi. Oleh sekelompok orang tertentu yang tidak menginginkannya menjadi Raja atau Sultan, mencoba mencari berbagai cara untuk mencegahnya menjadi Sultan. 





Kelompok ini tidak berani berhadapan secara langsung dengan Sultan atau melakukan tindakan gegabah. Mereka berusaha menjebak Putra Mahkota dengan berbagai cara. Dicarilah akal bulus untuk menggoda Sultan Muda yang sedang menanjak dewasa ini. Sebagai pria muda ia dianggap akan mudah tergoda dengan wanita.





Akhirnya ditemukan seorang wanita jelita yang kebetulan pula istri seorang Perwira Kerajaan dan kepercayaan Sultan Iskandar Muda. Karena istri seorang perwira kepercayaan Sultan, wanita ini dengan mudah masuk kedalam lingkungan Istana. Sehingga ia dengan mudah bergaul di istana dan mendekati Pangeran Muda yang tampan yang juga adalah seorang Putera Mahkota. Akhirnya akibat godaan sedemikian rupa Sultan Muda terjebak kedalam skenario yang dibuat oleh konspirasi jahat yang bertujuan ingin menjebak dan menyingkirkannya. Akhirnya sebagaimana diketahui bersama konspirasi jahat itu berhasil menyingkirkan Putra Mahkota Sultan Muda yang bernama asli Meurah Pupok.





Informasi ini sampai ketelinga Sultan Iskandar Muda, namun semuanya telah terjadi. Ia mulai membayangkan Putra kesayangannya tersebut yang juga Putra Mahkota yang kelak diharapkan melanjutkan kepemimpinannya. Terbayang olehnya akan wajah seorang pemuda tampan namun minim pengalaman. Ditengah usianya yang menanjak dewasa sangat mungkin ia mudah tergoda. 





Sultan mulai menyesali kealpaannya dalam mengawasi Putra Mahkota kesayangannya itu. Ia dirundung kesedihan mendalam. Kesedihan yang terus menerus ini membuat Sultan jatuh sakit. Sakitnya berlangsung terus dan semakin parah. Dalam beberapa waktu kemudian Sultan Iskandar Muda yang perkasa ini akhirnya mangkat tepatnya pada tanggal 27 Desember 1636.





Pengganti Sultan adalah menantunya yaitu Sultan Iskandar Tsani. Setelah Sultan Iskandar Tsani mangkat ditunjuklah istrinya yang juga anak Sultan Iskandar Muda dan adik Meurah Pupok yaitu Ratu Tajul Alam Syafiatuddin menjadi Ratu Penguasa Kesultanan Aceh. Dalam masa kepemimpinan Ratu Tajul Alam Syafiatuddin ia mencoba memulihkan kembali nama baik abangnya Meurah Pupok, karena sesungguhnya abangnya tersebut tidak sepenuhnya salah. Abangnya dijebak oleh suatu konspirasi yang jahat. 





Ratu kemudian membangun makam untuk abangnya Meurah Pupok yaitu suatu bangunan yang indah yang menjadi kenang-kenangan bagi peristiwa masa lalu untuk dijadikan pelajaran agar para penguasa dan keluarganya harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak. Bangunan makam ini disebut dengan Kandang Poteu Cut. Kandang ini terletak pada lokasi strategis yaitu disisi barat Kandang Perak dan Taman Sari pada tepi jalan masuk ke Medan Khayali. Namun, makam Meurah Pupok yang disebut Peucut ini sempat dihancurkan Belanda. Peucut berasal dari Pocut yang berarti Putra Kesayangan.





Hukum dan Adat harus ditegakkan meski anak harus dikorbankan. Sebab menegakkan Adat Identik dengan menegakkan Hukum Islam masa itu. "Hukom ngen adat lage zat ngen sifheut". 





Tuduhan berbuat zina dialamatkan kepada Meurah Pupok, namun tidak umum diketahui bagaimana proses peradilan berdasarkan hukum Islam terhadapnya. Tidak jelas siapa nama empat orang saksi yang dihadapkan ke muka pengadilan. Siapa saja yang bertindak sebagai hakim yang mengadili kasus ini. Sebab walaupun raja adalah penentu tertinggi, tapi sebagai sebuah kerajaan Islam, tentulah ketentuan-ketentuan syari’at dijunjung tinggi.





Demi menegakan hukum Sultan Iskandar Muda rela menghukum mati anaknya sendiri yang nota bene merupakan putra kesayangannya sekaligus penerus kekuasaannya. Meskipun kemudian diketahui kesalahan anaknya tersebut akibat suatu konspirasi yang memang sengaja menjebaknya. 





Tragedi Meurah Pupok ini memang telah dirancang sedemikian rupa oleh kelompok politisi istana yang berkhianat. Mereka dengan licik memanfaatkan Meurah Pupok yang tengah terjerat cinta. Konon ini merupakan permainan kelas tinggi. Sejarah telah memberikan pelajaran yang luar biasa buat kita, hukum memang harus ditegakan, namun kekuasaan itu pun syarat dengan intrik dan penuh tipu daya. Kisah Meurah Pupok memberikan hikmah yang sangat mendalam.

Rabu, 06 Mei 2015

Cerita Teman Masa Kecil: Invasi AS ke Irak Mengubah Al-Baghdadi Selamanya






Untuk pertama kalinya, terungkap sebuah biografi tentang Abu Bakr Baghdadi.




Pemimpin Daulah Islam ISIS Abu Bakr Al Baghdadi adalah seorang sosok yang misterius. Dia diketahui berusia 43 tahun lahir di Samara, Irak dan memimpin ISIS pada 2010.





Dimata temannya, Al Baghdadi ternyata tidak dikenal sebagai sosok yang menonjol di mata tetangga dan teman-temannya dahulu. Hal itu terungkap dari sebuah wawancara dengan seorang teman pria bernama asli Ibrahim Awad Ibrahim Badri itu.





Seorang teman Al Baghdadi ketika mereka tinggal di sebuah lingkungan perkotaan di Baghdad pada 1990 bernama Abu Muhammad bercerita. Ia mengenang kehidupan Al Baghdadi saat menuntut ilmu syariah Islam dan sebelum dikenal sebagai pemimpin ISIS yang menguasai beberapa wilayah di Irak dan Suriah itu.





Abu Muhammad mengaku dia tidak menyangka orang setenang Sheikh Ibrahim–begitu Al Baghdadi dipanggil sewaktu di Topchi, Baghdad akan menjadi seorang pemimpin ISIS yang kejam.





Dia mengenang Sheikh Ibrahim sebagai seorang pegawai pemerintah Baghdad yang mengajari anak-anak ilmu syariah dan membaca Alquran.





“Dia adalah orang biasa, sama sekali bukan orang yang terlalu religius. Sekali waktu saya membawa anak saya pergi ke rumahnya karena banyak anak-anak di lingkungan kami pergi ke sana dan mendengarnya membaca Alquran. Dia mengatakan, pada saya ‘jika Alquran ini dapat membantu saya akan mengobati anak saya dengan bantuannya,’ katanya. Anaknya sangat energetik. Dia tidak dapat mengontrolnya,” kenang Abu Muhammad seperti yang dilansir ABNA, Rabu (6/5/2015).





Teman masa remajanya itu mengatakan, Pemimpin militan ISIS itu diketahui memiliki hobi bermain sepakbola di masa mudanya.





“Kami bermain sepakbola di lingkungan kami. Kami bermain dekat dengan masjid. Sheikh Ibrahim terluka parah di kaki. Karena itu saya sudah akrab dengan bantuan medis, saya membantunya menyembuhkan cedera,” kata Abu Muhammad.





Abu Muhammad, bukan nama sebenarnya, terkejut ketika mengetahui Baghdadi kini menjadi orang paling ditakuti di dunia.





“Kemudian, ketika saya melihat wajah barunya, saya sangat menyesal setelah apa yang saya lakukan terhadapnya. Saya selalu memberitahu keluarga saya bahwa, jika saya tahu bahwa dia akan menjadi orang paling ditakuti di dunia, saya tidak akan pernah mendekatinya dan akan mematahkan kakinya bukan memperbaikinya,” sambung Abu Muhammad.





“Tapi dia adalah seorang pemain sepakbola yang hebat. Itu sulit untuk menghentikannya,” lanjutnya.





Bagi Abu Muhammad, Al Baghdadi tidak tampak seperti seorang yang memiliki kemampuan memimpin, terlebih kelompok militan sebesar ISIS. Dia juga mengingat Al Baghdadi berpakaian layaknya orang biasa dengan celana panjang dan kaus, dan sesekali menggunakan kemeja ketika memiliki keperluan ke kantor pemerintah.



“Dia tidak memiliki kemampuan khusus untuk memimpin sebuah kelompok, begitu juga penampilannya sama sekali tidak menonjol. Dia mengenakan kaus dan celana sederhana. Terkadang kemeja saat dia pergi ke kantor pemerintah untuk mengurus sesuatu. Tapi dia mengenakan jubah Arab ketika dia sedang berkhotbah. Ketika sedang di masjid dia mengenakan pakaian khas Arab, dishdasha (pakaian panjang yang dikenakan pria Arab),” lanjut Abu Muhammad.



Al Baghdadi, menurut Abu Muhammad, berubah semenjak serangan Amerika Serikat (AS) ke Irak pada 2003. Serangan tersebut menewaskan teman-teman dan murid-murid Al Baghdadi. Abu Muhammad juga berpendapat hal itulah yang mengubah sosok Sheikh Ibrahim yang dikenalnya menjadi monster seperti Abu Bakr Al Baghdadi yang dikenal orang-orang saat ini.



“Sebagian besar teman-teman Sheikh Ibrahim terbunuh dalam perang melawan AS pada 2003. Sheikh Ibrahim menghilang dari Topchi pada 2004 dan tidak pernah terlihat lagi di sana,” kenangnya.



“Yang menarik adalah, Sheikh Ibrahim sangat berbeda sebelum dia mendirikan ISIS. Meskipun dia seorang yang taat beragama, tidak ada yang menyangka dia akan menjadi seorang militan. Namun, semua berubah secara drastis setelah invasi AS dan munculnya gerakan militan. Saya perah melihat dia di Fallujah dan bertanya kepadanya apa yang dia lakukan di sana? Dia menjawab ‘Saya berperang dengan AS sekarang’, beberapa waktu kemudian dia ditangkap oleh AS dan dipenjara lalu dia muncul di televisi memberi ceramah di Masjid Mosul,” tambahnya.



Sebuah dokumen yang muncul bulan lalu menimbulkan dugaan bahwa Al Baghdadi hanyalah sebuah sosok pemimpin yang menjadi kedok bagi ISIS. Pemimpin ISIS sesungguhnya adalah para pejabat intelijen dari pemerintahan mantan Presiden Irak Saddam Hussein, yang membentuk ISIS untuk tujuan menguasai wilayah Irak dan Suriah.



Abu Bakr Al Baghdadi saat ini dilaporkan sedang dalam keadaan terluka parah akibat serangan udara yang dilancarkan AS Maret lalu. Dia dikabarkan tidak lagi memimpin ISIS dan diduga posisi itu akan diisi oleh wakilnya Abu Alaa Al Afr.