Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Mei 2015

Putri Sulung Mahathir Sebut Islam di Malaysia Sebagai Penjajahan Arab





Putri sulung Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Muhammad, Marina Mahatir mengkritik negaranya yang saat ini menjalankan budaya Islam yang bernuansa kultur Arab.



Menurut Marina, seharunya Malaysia punya corak keislaman sendiri yang sesuai dengan konteks budaya asli masyarakat Malaysia.



“Ini hanya Arabisasi. Budaya kita itu kolonialisme, penjajahan Arab," kata Marina, dikutip dari themalaymailonline.com, Senin (25/5).



Perempuan yang saat ini sebagai aktivis perempuan ini mencontohkan, corak berpakaian warga Malaysia terutama yang muslimah yang sangat kental berpakaian ala budaya Arab.

Sebaiknya, menurut Marina, Muslimah Malaysia dapat berpakaian sehari-hari dengan tidak harus mengenakan pakaian seperti pakaian wanita Arab, asalkan pakaian yang dikenakan dapat menutup aurat perempuan.



Ia pun meminta agar semua umat Islam Malaysia mulai untuk lebih terbuka untuk belajar tentang bagaimana Islam sebenarnya.

Selama ini, kata dia, Islam di Malaysia tak banyak yang benar-benar tahu bagaimana Islam yang sesungguhnya sangat terbuka mengenai banyak hal. Tidak kaku seperti yang diterapkan di Malaysia.



"Islam memiliki sejarah intelektual yang sangat kuat, tetapi di sini (Malaysia) tidak ada yang intelek sama sekali. Kami di sini hanya diajarkan ritual, bukan bagaimana untuk menjadi pemikir besar,” ucap Marina.



Marina kemudian juga mengungkapkan kegeramannya karena banyaknya kritik yang dilontarkan melalui media Malaysia yang memojokkan kaum perempuan.

Seperti mempermasalahkan perempuan Muslim Malaysia yang berkerudung berfoto dengan artis pria asal Korea. Ia menilai, pihak pengkritik mempunyai pemikiran yang kaku tentang prinsip Islam yang ia anut.



Hal ini diangap Marina tidak sesuai dengan apa yang diimbau oleh pemerintah Malaysia yang menginginkan agar Muslim bersatu. Sebab negara mereka sendiri, kata Marina, masih belum paham arti Islam yang sebenarnya yang harus diterapkan untuk masyarakat Malaysia.



ROL

Rabu, 20 Mei 2015

Tak Peduli Dilarang, Warga Kampung Nelayan Aceh Bahu-membahu Selamatkan Rohingya






Warga Aceh tidak peduli jika pemerintah melarang mereka menampung para pengungsi Rohingya.



Pemerintah Indonesia melalui TNI mengupayakan agar perahu pengungsi tidak masuk ke wilayah negara ini. Namun sikap serupa tidak ditunjukkan oleh para nelayan sebuah desa kecil di Aceh.



Dini hari tadi, para nelayan di desa Simpang Lhee, Julok, Aceh Timur, menyelamatkan sekitra 380 pengungsi Rohingya dan Bangladesh di tengah lautan.



Saat itu, keadaan mereka sangat lemah karena kehabisan makanan dan minuman, sementara mesin kapal mereka rusak.



"Kami menjumpai mereka sekitar jam 1 di laut saat kami tengah mencari ikan.



Kondisi mereka sudah sangat lemah, kelaparan. Kami lantas membantu mereka," kata Misran, nelayan Simpang Lhee, lansir CNN Indonesia (20/5).



Sebanyak lima kapal nelayan mengangkut warga Rohingya dan Bangladesh yang paling kepayahan. Lokasi mereka saat itu, kata Misran, dekat zona ekonomi eksklusif, sekitar tiga jam dari bibir pantai.



Sesampainya di darat, para nelayan langsung kembali ke laut dengan lebih banyak lagi kapal untuk menjemput pengungsi sisanya. Sementara di daratan, warga desa tanpa pikir panjang mendirikan dapur umum untuk makan para pengungsi yang sudah tiga bulan tidak kenal lauk pauk.



"Mereka lemah semua tidak ada daya. Makanan mereka sudah habis semua, mesin kapal mati, hanya hanyut mengikuti arus laut," kata Misran.



Tidak lama, kabar pendaratan Rohingya tersebar di berbagai desa sekitar melalui pengeras suara di meunasah atau mushola. Tergerak rasa kemanusiaan, warga berdatangan membawa makanan dan pakaian bekas.



Menurut Hidayat, seorang anggota TNI Angkatan Laut yang mendata para pengungsi, kali ini total pengungsi berjumlah 389 orang, mayoritas merupakan warga Rohingya dan terdapat pula puluhan warga Bangladesh. Sebanyak 29 di antara mereka dilarikan ke rumah sakit.



Mirawati, warga Simpang Lhee, menangis saat melihat keadaan warga Rohingya yang tiba di pantai. Sedari malam hingga siang hari, Mirawati bersama warga sekitar 10 desa menyediakan seluruh keperluan hidup warga Rohingya.



"Saya menangis melihat keadaan mereka. Saking laparnya, mereka makan banyak sekali, ada yang hingga muntah. Ada juga yang tidak mau makan karena sakit," kata ibu berusia 45 tahun ini, sembari menyendok nasi ke piring untuk makan ratusan "tamunya" itu.



Nurjanah pun demikian. Wanita 30 tahun ini sampai tidak sempat memasak makanan untuk keluarganya karena sibuk membuat masakan di dapur umum. Hingga siang, mereka bekerja tanpa henti demi mengisi perut para pengungsi.



"Saya sendiri belum makan dari pagi. Di rumah tidak ada yang masak, tapi ini demi kemanusiaan," kata Nurjanah.



Terlihat warga Rohingya, wanita, pria dan anak-anak makan dengan lahap. Warga desa tidak membiarkan para pengungsi itu kehabisan makanan. Lauk ikan, sayuran, dan nasi terus berdatangan.



Warga Aceh Tak Peduli dengan Larangan



Beberapa warga Rohingya yang bertemu nasi tidak sanggup menahan tangisnya, diikuti oleh air mata haru warga.



"Tiga bulan saya tidak makan, kini saya makan," kata warga Rohingya, Hasan Ali, 33, menangis.



Camat Julok, Zainuddin, mengatakan bahwa tindakan masyarakat Aceh ini dimotivasi oleh rasa kemanusiaan dan nilai-nilai keagamaan yang kuat di tengah warga.



"Tidak hanya di Binjai, kecamatan lain juga turun tangan membantu," kata Zainuddin.



Sebelumnya Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan mereka akan membantu warga Rohingya yang ada di lautan, tapi tidak akan membiarkan mereka masuk ke wilayah Indonesia karena akan menimbulkan masalah sosial.







Sikap ini tidak dipedulikan oleh nelayan Aceh. Mereka mengatakan, tindakan yang mereka lakukan adalah sikap yang seharusnya ditunjukkan manusia terhadap manusia lainnya yang kesusahan.



"Aceh pernah merasakan ditolong orang saat tsunami lalu. Kini giliran kami yang memberi bantuan. Apalagi mereka orang Islam. Dalam Islam binatang saja dibantu, apalagi manusia," kata nelayan, Husein, 48, yang turut serta dalam operasi evakuasi.



Warga Aceh mengaku tidak peduli jika pemerintah melarang mereka menampung para pengungsi.



"Masalah aturan pemerintah, itu urusan pemerintah. Kami hanya tahu menolong orang itu wajib. Ini wilayah Serambi Mekah, dimana budaya dan agamanya masih kuat. Allah yang akan membalas kami," ujar warga, Muhammad, 42.



CNN

Muslim Rohingya Aceh minta Dibawakan Al-Quran





Kehidupan yang sulit yang dijalani oleh masyarakat Rohingya membuat mereka kian dekat dengan agama. Bahkan, di saat keadaan nestapa mereka tidak lupa beribadah di penampungan. Salah satu permintaan mereka pada para relawan pemberi bantuan adalah mushaf Al-Quran.



Hal ini disampaikan para Muslim Rohingya di Kuala Langsa pada koordinator tim peduli kemanusiaan Radio Rodja, Muhammad Nurhuda, saat mengunjungi tempat itu pekan ini.



"Mereka minta dibawakan mushaf Al-Quran, sarung, sajadah dan peci. Mereka mengatakan tidak biasa shalat tanpa penutup kepala. Sedangkan para wanitanya minta dibawakan mukena," ujar Nurhuda pada CNN Indonesia, Rabu (20/5).



Menurut Nurhuda, banyak pemuda Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar ini adalah santri pesantren. Ketika diberikan mushaf, mulut mereka langsung merapal ayat-ayat suci di dalamnya.



"Begitu dapat mushaf mereka langsung membacanya," ujar Nurhuda.



Namun Nurhuda mengakui ada kesulitan dalam memenuhi permintaan tersebut. Dia mengatakan bahwa jenis mushaf yang biasa dibaca oleh orang Rohingya adalah yang memiliki tanda baca lama.



"Sulit mencari mushafnya. Kami hanya mendapatkan sekitar 30 mushaf seperti itu di Aceh, sedangkan 300 mushaf lainnya didatangkan dari Jakarta," ujar dia.



Nurhuda mengatakan bahwa Radio Rodja berhasil mengumpulkan donasi dari para pendengarnya sekitar Rp1 miliar dalam waktu tiga hari. Bantuan juga berdatangan dari warga Aceh secara swadaya, berupa kebutuhan pokok.











Bantuan berikutnya yang diberikan tim Nurhuda adalah kasur untuk tidur para pengungsi. Selama ini, mereka tidur beralaskan tikar di atas lantai.



"Mereka akan tinggal di sini dalam waktu yang lama, kami belikan kasur Palembang sebanyak 230 buah," kata Nurhuda.



Ada sekitar 800 pengungsi Rohingya dan Bangladesh di penampungan Kuala Langsa. Mereka terkatung berbulan-bulan setelah ditipu oleh pemilik kapal asal Thailand yang berjanji membawa mereka ke Malaysia dan terdampar di beberapa kabupaten di Aceh, termasuk Kuala Langsa dan Aceh Utara.









Motivasi warga Bangladesh dan Rohingya berbeda. Pengungsi Bangladesh lari dari kemiskinan dan ingin pergi ke Malaysia untuk mencari kerja, sementara warga Rohingya yang Muslim lari dari konflik etnis dan agama di Myanmar dan pergi ke negara manapun yang aman dari ancaman penyiksaan dan pembunuhan.



Beberapa warga Rohingya mengalami luka-luka akibat penyiksaan oleh penjaga kapal dan konflik dengan warga Bangladesh di dalamnya.



"Ada yang hampir putus tangannya," kata Nurhuda.



Saat ini, Kementerian Luar Negeri Indonesia mencatat terdapat 1.346 imigran dari Rohingya dan Bangladesh di Aceh, namun jumlah itu belum termasuk mereka yang baru tiba hari ini, Rabu.



CNN

Selasa, 19 Mei 2015

Dilarang TNI Tolong Rohingya, Warga Aceh Berbondong Bawa Bantuan






Meski ada himbauan pihak aparat untuk tidak membantu pengungsi Rohingya, namun suara hati warga Aceh tak bisa ditahan untuk membantu saudaranya yang ditimpa kemalangan.




Sejak hari Jumat (15/05/2015), warga Langsa terus berbondong-bondong mendatangi dan melihat dari dekat para imigran Rohingya (Myanmar) yang terdampar di perairan Aceh yang kini ditampung Pemerintah Kota Langsa di Kompleks Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa.



Tak hanya melihat dari dekat, warga juga membawa sejumlah bantuan, seperti pakaian layak pakai, beras, biskuit, air mineral. Di sebuah ruangan dekat dapur umum, terlihat tumpukan pakaian bekas. Para pengungsi memilah-pilah mana pakaian yang cocok untuk dikenakan.



Pakaian layak pakai ini merupakan sumbangan dari warga Langsa, yang sejak Jumat lalu terus berdatangan ke lokasi penampungan para imigran Rohingya dan Bangladesh.



Dikutip Aceh Kita, saat ini, Pemerintah Kota Langsa mulai membatasi interaksi warga dengan para imigran. Petugas polisi dan Satuan Polisi Pamong Praja berjaga-jaga di pintu masuk pelabuhan. Petugas tidak mengizinkan masuk warga yang tidak berkepentingan.



“Kita membatasi karena untuk sterilisasi. Bukan menghalang-halangi warga yang ingin masuk ke kamp pengungsi,” ujar Muhammad Safrizal, koordinator media center posko pengungsian, Senin (18/5/2015) kemarin.



Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya penularan penyakit. Apalagi, para imigran diketahui menderita sejumlah penyakit seperti batuk dan diare.



“Kita berjaga-jaga untuk menghindari penyakit menular. Siapa tahu di antara pengungsi imigran ini ada penyakit menular. Jadi ini untuk kebaikan masyarakat sendiri,” lanjut Safrizal dikutip Aceh Kita.



Hayaturrahman, 35 tahun, warga Kota Langsa, bersama tiga temannya datang ke Kuala Langsa dengan membawa bantuan berupa pakaian layak pakai, jilbab, sarung, handuk, baju anak-anak, roti, dan susu kotak.



“Saya tergerak untuk membantu. Mereka adalah saudara saya,” kata Hayaturrahmah.



Ia prihatin dan terharu mendengar cerita perjuangan para imigran memperjuangkan hidup. “Melihat mereka memperjuangkan hidup dna mencari perlindungan, rasanya kita akan memberi apa saja yang kita bisa beri. Kita akan membantu apa yang bisa dibantu sebagai sesama manusia yang punya nurani,” ujar Hayaturrahmah.



Data sementara, penampungan Kuala Langsa menampung 678 para imigran. Petugas Imigrasi Langsa masih melakukan pendataan terhadap para imigran.



UNHCR memuji penanganan pengungsi Rohingya dan imigran Bangladesh yang terdampar di Aceh. “Alhamdulillah, pemerintah Langsa dan masyarakat baik hati sekali. Aliran bantuan mengalir untuk mereka. Kami terharu sekali,” ujar Public Information Officer UNHCR Indonesia Mitra Salima Suryono. “Kami memastikan kebutuhan dasar pada masa darurat ini terpenuhi.”



Seorang imigran Rohingya, Mohamad Tayoub Ali, 25 tahun, mengaku senang berada di lokasi penampungan Kuala Langsa.



“Masyarakat Aceh ramah-ramah dan baik sekali pada kami. Mereka memberi kami makanan, minuman, pakaian,” kata dia.



Sebelumnya, Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah mengumumkan kepada sejumlah nelayan asal Aceh dan melarang untuk menjemput imigran gelap asal Myanmar dan Bangladesh.



Kepada wartawan BBC, dua nelayan Aceh mengaku, dilarang menyelamatkan para pengungsi Rohingya dari laut, “bahkan jika kapal mereka tenggelam sekalipun.”



Fuad Basya membantahnya. Dikatakannya TNI tidak melarang upaya penyelamatan ke darat apabila “kapalnya tenggelam atau mereka terapung-apung di laut dan tidak ada kapalnya.”



Fuad Basya mengatakan, orang asing yang masuk wilayah daratan Indonesia harus menggunakan dokumen resmi.



“TNI mempunyai kewajiban menjaga kedaulatan wilayah Indonesia, termasuk di laut,” katanya.



TNI sejauh ini memperketat patroli di kawasan laut di Sumatera untuk mencegah kedatangan imigran gelap.



Orang ibu asal Bangladesh beserta anak-anaknya di lokasi pengungsian di Aceh Utara.



Terpanggil untuk membantu



Sebelumnya, sejumlah nelayan Aceh mengatakan, mereka merasa terpanggil untuk membantu para pengungsi yang sebagian adalah etnis Rohingya dari Myanmar.



“Kami mendengarkan teriakan Allahu Akbar dan sebagian laki-laki terjun ke laut, untuk mencapai kapal kami,” jelas Ar Rahman, salah seorang nelayan, kepada BBC Indonesia.*



Hidayatullah

Senin, 18 Mei 2015

Dilarang TNI Tolong Rohingya, Panglima Laut Aceh: “Kami Tak Sampai Hati...”





Pimpinan lembaga adat laut di Aceh -- Panglima Laot-- menanggapi larangan TNI yang melarang para nelayan Aceh menjemput dan membawa pengungsi Rohingya dan Bangladesh ke wilayah daratan Aceh.



Walaupun akan mematuhi larangan TNI nelayan Aceh mengaku 'tidak sampai hati' membiarkan mereka terlunta-lunta di lautan.



Panglima Laot mengatakan akan mematuhi aturan hukum himbauan yang melarang nelayan menjemput dan membawa imigran muslim Rohingya ke wilayah daratan Aceh. Namun pihaknya merasa 'tidak sampai hati' apabila tidak memberikan pertolongan terhadap orang-orang yang mereka jumpai di tengah laut dalam kondisi memprihatinkan.



"Rasanya kami tidak sampai hati untuk tidak menolong. Susah, karena ini masalah kemanusiaan," ungkap Panglima Laot Provinsi Aceh, Teuku Bustaman, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Senin (18/05) sore.



Dia menambahkan para nelayan Aceh terdorong untuk menolong pengungsi Rohingya atau Bangladesh karena 'pernah ditolong oleh kapal dari negara lain ketika mengalami kesulitan di tengah laut.'



Baca: “Warga Aceh tak Berhitung Untung-rugi Menolong Rohingya”



Bustaman menegaskan hal ini menanggapi pernyataan TNI yang melarang para nelayan Aceh menjemput dan membawa pengungsi Rohingya dan Bangladesh ke wilayah daratan Indonesia, karena mereka dianggap sebagai "imigran gelap".



"Kalau negara kita melarang, kami harus patuh, karena yang kami laksanakan di bawah lembaga kearifan lokal itu sesuatu yang tidak bertentangan dengan Undang-undang negara," kata Teuku Bustaman lagi.



Sebelumnya Juru bicara TNI Fuad Basya melarang nelayan Aceh menolong Muslim rohingya yang terlunta-lunta di lautan lepas.



"Jangan sampai ada nelayan kita menjemput mereka (kaum Rohingya) ke luar batas laut kita, kemudian keluar dari kapal dan masuk perahu nelayan, dan masuk wilayah kita. Itu yang kita larang," kata juru bicara TNI Fuad Basya kepada BBC.



Baca: TNI Larang Nelayan Aceh Selamatkan Rohingya



Saat ini, mereka dikhawatirkan banyak yang terkatung-katung di perairan di Asia Tenggara, setelah tidak ada negara di wilayah itu yang bersedia menampungnya.



Sikap yang ditunjukkan Malaysia, Thailand, dan Indonesia sempat menimbulkan kemarahan dunia internasional. PBB bahkan meminta tiga negara itu tidak mengusir pengungsi Rohingya dan Bangladesh.



Baca: Aktivis HAM Internasional Kutuk Langkah TNI Tolak Rohingya



BBC

Astagfirullah, TNI Perintahkan Nelayan Aceh Tak Selamatkan Rohingya di Laut





Nelayan Aceh di Langsa, Aceh Timur, mengatakan mereka diminta militer Indonesia untuk tidak menyelamatkan imigran Muslim Rohingya dan Bangladesh, kendati kapal manusia perahu itu sekarat atau nyaris tenggelam.



Kepada BBC, salah satu nelayan mengatakan imbauan itu disampaikan tentara kepada seluruh nelayan Aceh.



"Tapi, mereka menusia. Kami harus menyelamatkan mereka," ujar seorang nelayan yang menolak disebut namanya.



Para sesepuh nelayan Aceh -yang dijuluki Panglima Laut- Yahya Hanafiah, sebelumnya mengimbau para nelayan untuk menyelamatkan para pengungsi yang butuh pertolongan di laut.



“Kami meminta nelayan di Aceh untuk menyelamatkan mereka demi kamanusiaan,” jelas Yahya.



Sementera itu, Juru bicara militer Fuad Basya mengatakan sikap TNI masih tetap menolak kedatangan 'pendatang illegal'. Nelayan bisa memberi makanan, dan air bersih ke kapal pengungsi, tapi tidak membawa pengungsi itu mendarat di wilayah Indonesia.



Panglima TNI Moeldoko mengatakan Pemerintah Indonesia tak akan membiarkan wilayah lautnya dimasuki kapal-kapal pengungsi Rohingya. Angkatan laut tetap melarang mereka masuk apalagi menepi di daratan Indonesia.



Menurut Moeldoko, langkah ini diambil lantaran keberadaan para pengungsi ilegal ini sebab dalih menimbulkan persoalan sosial. "Urus masyarakat Indonesia sendiri saja tidak mudah, jangan lagi dibebani persoalan ini," ucap Moeldoko.



Ribuan masih di Laut



Ratusan imigran kemarin masih terdampar di perairan dekat Thailand dan Malaysia. Mereka membutuhkan pertolongan secepat mungkin, setelah ditinggalkan para pelaku perdagangan manusia.



Kelompok yang melindungi hak asasi etnis Rohingya dan mengawasi perjalanan imigran di Teluk Bengal, mengatakan bahwa pihaknya berbicara lewat telepon dengan para imigran Rohingya yang masih berada di atas kapal.



Kapal tersebut diperkirakan mengangkut 350 orang, termasuk para wanita dan anak-anak yang ditinggalkan di tengah laut oleh mafia penyelundup manusia asal Thailand.



Mereka mengaku mesinkapalrusak, kemudian para penyelundup melarikan diri.



”Mereka (para pengungsi) bercerita pada kami bahwa tidak makan dan minum selama tiga hari. Mereka meminta segera diselamatkan,” ungkap Chris Lewa, pendiri Proyek Arakan, dilansir AFP.



Dia menambahkan, para pengungsi tidak mengetahui pasti keberadaan mereka, namun diyakini di perairan Thailand dekat perbatasan selatan Malaysia. ”Mereka bilang dapat melihat garis pantai.



"Kami menduga mereka dekat dengan pantai,” sambung Lewa.



Pihaknya juga menduga masih ada sekitar 8.000 imigran lain yang masih terapung di lautan. Para imigran yang dihubungi via telepon dengan menggu-nakan nomor Thailand, mengatakan bahwa di dalam kapal yang mereka tumpangi ada sedikitnya 50 wanita dan 84 anak. PBB meyakini ada ribuan imigran yang terdampar di lautan tanpa persediaan makanan dan minuman.



Sebanyak 677 Muslim Rohingya dan migran Bangladesh diselamatkan nelayan Aceh Timur. Saat diselamatkan Nelayan Aceh dari kapal pengungsi itu nyaris tenggelam.



Jumlah pengungsi, saat meninggalkan Myanmar, sebenarnya lebih banyak. Namun, sekitar seratus orang tewas saat pengungsi berebut makanan.



Usman Abdullah, wali kota Langsa, mengatakan pemerintah tidak menyalurkan bantuan anggaran untuk memberi makan pengungsi.



"Kami butuh bantuan dari pemerintah pusat, LSM, dan lembaga lain," ujar Usman Abdullah.



Nasrudin, koodinator bantuan kemanusiaan Geutanyo Foundation, mengatakan memperkirakan persediaan makanan dan obat-obatan saat ini hanya cukup untuk satu bulan.



"Kami bertanya-tanya ke mana negara-negara ASEAN, mengapa mereka tidak menekan Myanmar untuk tidak membiarkan arus pengungsi," ujar Nasrudin kepada Sydney Morning Herald.

Sabtu, 16 Mei 2015

Kesaksian Pilu Muslim Rohingya: Diusir TNI-AL, Ditolong Nelayan Aceh






Sebab dalih kedaulatan, tentara TNI-AL memerintahkan para pengungsi Rohingya pergi menjauh dari daratan, hingga ditolong oleh sejumlah nelayan Aceh





KUALA LANGSA, Aceh — Ratusan pengungsi dari Myanmar dan Bangladesh resah ketika mereka diusir pergi oleh angkatan laut Indonesia dan Malaysia. Tak disangka, mereka justru selamat karena kebaikan hati para nelayan Aceh yang membawa mereka ke darat dan memberi mereka makan.





Marzuki Ramli, 45 tahun, nelayan asal Kuala Langsa, saat itu sedang bersama 30 nelayan lainnya menangkap ikan menggunakan pukat pada Kamis malam, 14 Mei 2015. Ia berada di perahu miliknya yang yang berukuran 26 x 6 meter, sekitar 35 mil dari pinggir pantai.





Sebuah kapal nelayan kecil tiba-tiba melintas, dan meminta bantuan. Diketahui mereka sudah tiga bulan tarkatung-katung di lautan lepas.





“Woi, cepat pergi ke sana, ada orang yang mengapung-apung di laut. Kalau kalian terlambat datang, bisa mati semua,” kata orang itu seperti dituturkan Marzuki pada dikutip Rappler, Jumat, 15 Mei.





Marzuki dan nelayan lainnya segera mengarah ke kerumunan orang-orang yang mengapung tersebut. Jaraknya sekitar 5 mil atau 1 jam perjalanan dari tempat mereka menangkap ikan.





Ketika sampai, para nelayan langsung menarik satu demi satu para pengungsi tersebut dari laut. Perahu Marzuki hanya sanggup menampung 250 orang.








Marzuki segera mengontak nelayan yang lain, dan datanglah 5 perahu nelayan yang membantu Marzuki mengevakuasi para pengungsi. Totalnya ada 672 orang, terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak.





“Begitu kapal nelayan merapat, para pengungsi langsung melompat ke perahu,” kata Marzuki.





Butuh dua jam bagi Marzuki dan 5 kapal lainnya untuk melakukan evakuasi tersebut, karena kondisi langit sangat gelap dan ombak yang tinggi.





Ada dua orang yang diduga preman ditinggal di tengah laut.





“Ini dari pengakuan para pengungsi bahwa ada dua orang yang disebut sering memukul, daripada berkelahi maka kami tinggal,” katanya.





Ada lagi, satu orang yang sudah meninggal dengan kondisi tangan putus di kapal juga ditinggalkan.





Nelayan memasak untuk pengungsi yang kelaparan





Saat mereka ditemukan, para pengungsi hanya memakai celana pendek dan kaos singlet. “Kebanyakan dari mereka tidak pakai baju, dan tubuhnya lemas,” kata Marzuki.





Setelah menarik para pengungsi, nelayan mengeluarkan stok air minum dan bahan makanan. Gula dan kue langsung disantap habis oleh para pengungsi yang kelaparan.








Karena tak cukup, para nelayan memutuskan untuk mengeluarkan stok beras dan memasak untuk para pengungsi.





“Butuh waktu sekitar 20-30 menit untuk memasak,” katanya. “Makannya pun di tangan, karena persediaan piring tak cukup.”



Ar Rahman Salah satu nelayan dari Langsa, mengatakan ia mendapatkan informasi dari radio komunikasi mengenai kapal yang hampir tenggelam di perairan Aceh Timur.



"Lalu saya dan kawan-kawan menuju lokasi untuk menolong mereka. Ketika sampai di sana kami melihat ratusan orang, laki-laki dan anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia. Ketika melihat kami laki-laki melompat ke laut dan berenang, sedih kami melihatnya," jelas Ar Rahman.



"Laki-laki melompat ke laut sambil histeris dan berteriak Allahu Akbar. Mereka meminta tolong dengan bahasa mereka," jelas Ar Rahman dilansir BBC Indonesia.

Proses evakuasi para pengungsi ke pelabuhan Kuala Langsa kala itu dilakukan oleh lebih dari enam kapal nelayan dari Langsa.



Mereka lalu dibawa ke Teluk Langsa dan ditangani kepolisian setempat serta pemerintah daerah.





Cerita mengenai kebaikan nelayan Aceh bagi pengungsi tak hanya sebatas menyelamatkan. Pada gelombang pengungsi sebelumnya, warga Aceh membantu dengan memberikan makanan ke tempat penampungan.





Bahkan ada beberapa warga Aceh yang ingin mengadopsi anak-anak pengungsi.





“Saya benar-benar tulus ingin merawat anak Rohingya. Apalagi mereka adalah warga Muslim. Sesama Muslim, kita harus saling membantu. Apalagi dulu saat konflik Aceh, kita juga pernah merasakan bagaimana penderitaan akibat perang,” kata Ilyas, warga Aceh.





Mereka dihalau AL karena dalih 'kedaulatan'





Para pengungsi yang ingin pergi ke Malaysia ini ditinggalkan kapten kapal terombang-ambing di tengah laut. Ketika mereka mendekati Indonesia, mereka mengatakan kapal TNI AL menghampiri, memberi makanan dan minuman, lalu disuruh pergi.








Dalam keadaan resah karena mesin kapal mati dan terapung-apung beberapa hari di lautan, kapal milik angkatan laut Malaysia mendekat. Lagi-lagi, mereka hanya diberi bantuan makanan dan minuman. Perahu mereka lalu ditarik ke tengah laut oleh angkatan laut Malaysia.





“Kami dilepas di tengah laut, dekat perairan Indonesia,” kata Sahidul, salah seorang pengungsi.





Panglima TNI Jenderal Moeldoko membenarkan penolakan tersebut.





“Untuk suku Rohingya, sepanjang dia melintas Selat Malaka, kalau dia ada kesulitan di laut, maka wajib kita bantu. Kalau ada sulit air atau makanan, kita bantu, karena itu terkait human. Tapi kalau mereka memasuki wilayah kita, maka tugas TNI untuk menjaga kedaulatan,” dalih Moeldoko.





Menurut Moeldoko, bila para pengungsi dibiarkan masuk ke wilayah Indonesia, mereka akan memunculkan persoalan sosial.





“Urus masyarakat Indonesia sendiri saja tidak mudah, jangan lagi dibebani persoalan ini,” katanya.




Saat ditanyakan bagaimana nasib para pengungsi Rohingya ini jika tak ada negara yang mau menampung, Moeldoko menolak berkomentar. Moeldoko mengatakan itu urusannya menteri Luar Negeri.




Rappler

Kisah Nelayan Aceh Penyelamat Pengungsi Rohingya




Ar Rahman atau biasa disapa Pak Do, ialah salah satu nelayan Aceh yang turut membantu proses evakuasi para pengungsi Bangladesh dan Myanmar.




Beberapa pengungsi melompat ke laut dan berteriak 'Allahu Akbar' 

begitu mereka melihat nelayan-nelayan Aceh yang 

berupaya menyelamatkan mereka.



Hampir 800 pengungsi Bangladesh dan Rohingya dari Myanmar diselamatkan oleh kapal nelayan di Aceh pada Jumat (15/05) lalu, setelah sempat dihalau oleh TNI AL dan Angkutan Laut Malaysia pada awal pekan ini.



Salah satu nelayan dari Kota Langsa, Ar Rahman, mengatakan mendapatkan informasi dari radio komunikasi mengenai kapal yang hampir tenggelam di perairan Aceh Timur.



"Lalu saya dan kawan-kawan menuju lokasi untuk menolong mereka. Ketika sampai di sana kami melihat ratusan orang, laki-laki dan anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia. Ketika melihat kami laki-laki melompat ke laut dan berenang, sedih kami melihatnya," jelas Ar Rahman yang biasa disapa Pak Do.



Ar Rahman mengatakan perempuan dan anak-anak bertahan di kapal yang oleng sebelum dievakuasi.



"Laki-laki melompat ke laut sambil histeris dan berteriak Allahu Akbar. Mereka meminta tolong dengan bahasa mereka," jelas Ar Rahman lansir BBC Indonesia.



Proses evakuasi para pengungsi ke pelabuhan Kuala Langsa kala itu dilakukan oleh lebih dari enam kapal nelayan dari Langsa.



Sebanyak 421 pengungsi merupakan warga Bangladesh yang semuanya laki-laki. Sementara pengungsi Rohingya berjumlah 256 orang terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak.



Mohamad Rofiq, pengungsi Rohingya dari Myanmar, mengatakan ketika ditolak masuk ke perairan Indonesia dan Malaysia, mereka diberi bekal makanan dan bahan bakar oleh angkatan laut kedua negara.



"Makanan hanya sedikit dan kami berikan untuk bayi terlebih dahulu. Kami sangat kelaparan dan lelah setelah terombang ambing di laut selama empat hari," ungkap pria berusia 21 tahun itu.






Mohamad Rofiq, pengungsi etnik Rohingya asal Myanmar, memulai perjalanan dari Bangladesh ke Malaysia dua bulan lalu. Namun, kini dia terdampar di Aceh.



Rofiq mengaku sempat mengungsi ke Bangladesh melalui jalan darat yang berbatasan dengan Myanmar.



Di sana, dia bertahan selama beberapa tahun sampai mendapatkan kartu pengungsi dari Badan PBB yang mengurusi masalah pengungsi (UNHCR).



Dua bulan lalu dia memulai perjalanan dari Bangladesh menuju Malaysia melalui laut.



"Kami berada di laut selama dua bulan ke Malaysia, lalu ke Thailand dan bertahan di perairan negara itu selama kurang dari dua bulan. Kemudian kami disatukan ke kapal yang lebih besar menuju Malaysia. Tetapi di perjalanan kapten kapal meninggalkan kami," jelas Rofiq.



Rofiq mengatakan keluarganya masih berada di pengungsian di Bangladesh.



Gelombang kedua



Ratusan pengungsi masih ditempatkan di gudang Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa. Di antara mereka, puluhan orang dilarikan ke rumah sakit karena kekurangan makanan dan menderita dehidrasi.







Gelombang pengungsi ini merupakan yang kedua tiba di Aceh dalam satu pekan ini. Sebelumnya hampir 600 pengungsi terdampar di Lhoksukon dan kini menempati lokasi pengungsian di Tempat Pelelangan Ikan Kuala Cangkoy, Kecamatan Lapang, Aceh Utara.



Diperkirakan gelombang pengungsi masih akan berdatangan karena ada ribuan pengungsi yang berada di laut.



Belum diketahui secara pasti berapa jumlah kapal yang mengangkut para pengungsi ini. Namun PBB meminta Indonesia dan Malaysia tidak menolak kedatangan mereka.



BBC

Kamis, 14 Mei 2015

Sebut Muslim Pemuja Setan, Pendeta Inggris Dipecat





Gara-gara berkali-kali menyerang Islam dan umat muslim secara verbal di kelasnya, seorang pendeta yang mengajar sebagai guru di National College for Teaching and Leadership (NCTL), Inggris, dipecat. 



Nama guru itu Robert West. Ia juga menyatakan, para murid jika muslim adalah penyembah setan.



Panel National College for Teaching and Leadership (NCTL) yang menerima komplain dari para murid tersebut menilai motif pendeta pendukung Partai Nasional (BNP) tersebut tak layak dikemukakan di depan kelas.



“Kami sepakat, perilaku Pendeta Robert West menyalahi standard profesi. Sikapnya tidak bisa diterima dan bisa merusak persepsi publik terhadap profesi guru,” demikian bunyi putusan yang dikeluarkan NCTL), Kamis (14/5), seperti diberitakan onislam.net.



Intinya, panel NCTL menilai cara pengajaran West tak sesuai standar serta tidak menunjukkan profesionalitas. Bahkan dalam kesimpulannya, panel menyatakan bahwa West sebagai pribadi yang anti terhadap pengikut ajaran Nabi Muhammad SAW.



NCTL mendapat keluhan dari murid-muridnya soal pernyataan yang tidak pantas diucapkan West selama pelajaran sejarah, di sekolah khusus perempuan di Grantham itu.



Bahkan, waktu seorang muridnya mengatakan alergi terhadap kuda, West mengatakan, “Saya alergi terhadap agama Muhammad”.



Lalu, ketika ditanya, apakah ada yang salah dengan menjadi seorang muslim, West berkata, “Ya, karena kita memerangi mereka.”







West yang tak punya koneksi dengan kesatuan gereja Inggris ini pun dilarang mengajar di semua sekolah umum maupun sekolah minggu hingga batas waktu 12 Mei 2018.



Mendengar keputusan itu, juru bicara BNP Simon Darby justru membela sang pendeta yang mempunyai gereja pribadi di Holbeach itu.



“Sanksi itu mengecewakan. Sama halnya jika kita mengkritik tentang pemikiran liberal multikulturalisme, lalu kemudian si pengkritik tiba-tiba kehilangan pekerjaannya. Itu memperlihatkan bahwa kita tak punya kebebasann berbicara lagi!” dalih Darby dikutip dari The Guardian, Kamis (14/5).



Namun, West mengungkapkan, apa yang ia nyatakan tersebut dalam konteks pelajaran tentang Perang Salib pada November tahun 2013.



Peristiwa ini terjadi pada 8 November 2014 lalu. Saat itu, West mengajar 12 orang siswi. Salah satunya bertanya tentang apakah menjadi seorang Muslim itu sebuah pilihan yang salah. West pun menjawab,” Ya, karena kita memerangi mereka.”



Di sesi lainnya pada 14 November 2014, West mengatakan, “Tuhan dari umat non-Kristen adalah iblis, dan Muslim memuja setan.”



Para murid yang merasa resah dengan jawaban West kemudian mengadukannya pada kepala sekolah. West pun menjawab aduan tersebut via email.



“Saya tidak ingin membuat murid-murid bertentangan dengan ajaran Muhammad,” ujarnya.



Ia menerangkan pada BBC, konteks setan yang dimaksudnya terkait sejarah Perang Salib. West mengaku ingin muridnya melihat dari sudut pandang berbeda, yakni sisi kemanusiaan. Komentarnya diakui tak mewakili pemikiran pribadinya.





Selain sebagai pendeta dan guru, West adalah politisi dari British National Party (BNP), partai politik yang terkenal dengan serangannya terhadap imigran dan muslim Inggris. Sama seperti English Defence League (EDL), sayap kanan BNP memainkan kartu untuk memunculkan sentimen terhadap komunitas muslim dan imigran.

Rabu, 13 Mei 2015

Warga Aceh Ingin Adopsi Balita Muslim Rohingya






'Sesama Muslim, kita harus saling membantu. Dulu saat konflik Aceh, kita pernah merasakan bagaimana penderitaan akibat perang'



Lelaki berbadan tegap dengan kumis tebal itu memilih duduk di sepeda motor yang diparkir di sebelah utara Gedung Olahraga (GOR) Lhoksukon, ibukota Kabupaten Aceh Utara.



Ilyas, 58 tahun, mengaku tak tega melihat ke dalam gedung, tempat ditampungnya ratusan imigran etnis Rohingya asal Myanmar dan Bangladesh. Selain kondisi mereka yang cukup memprihatinkan, bau menyengat dari dua toilet seolah menyurutkan langkahnya ke ruangan.



Awal pekan ini ribuan pencari suaka etnis Rohingya terdampar di pantai Seuneudon, Aceh Utara, Minggu, 10 Mei 2015. Mereka terusir dari negaranya akibat kekerasan pasukan pemerintah Myanmar dan tak diakui kewarganegaraan.



“Saya tahu ada manusia perahu yang terdampar ke Aceh Utara, kemarin sore. Segera saya datang ke sini setelah berbelanja berbagai jenis makanan Rp 1 juta untuk bantu mereka semampu saya,” kata Ilyas kepada Rappler, Selasa malam, 12 Mei.



Dia datang untuk kedua kalinya dengan sebuah harapan, ingin mengadopsi seorang anak Muslim Rohingya.



Ilyas sendiri sudah memiliki tiga orang anak. Yang bungsu tahun ini bakal tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dua lainnya sudah menikah.



“Saya sangat ingin sekali kalau diberikan kesempatan merawat dan menyekolahkan anak Muslim etnis Rohingya. Tapi bagaimana caranya? Apalagi anak-anak saya sudah besar,” ujar pria yang berprofesi sebagai sopir truk ini.



Dia telah berbicara tentang keinginannya dengan petugas Tagana Dinas Sosial Aceh Utara. Tetapi, jawaban yang didapat jauh dari harapan. Petugas Tagana mengaku tak punya kewenangan terhadap nasib para pengungsi yang hendak mengadu nasib ke Malaysia.



Relawan Tanaga hanya bertugas menyiapkan makanan dan keperluan lagi bagi para pencari suaka. Sebuah dapur umum telah didirikan di samping gedung sejak 582 imigran ditampung di GOR Lhoksukon yang berukuran 20 x 40 meter, yang biasa digunakan untuk bermain bulu tangkis.



Meski sulit untuk dapat mengadopsi seorang anak Rohingya, Ilyas tetap bertahan di luar gedung hingga menjelang tengah malam. Warga dari Kecamatan Matang Kuli itu mengaku sayang karena penderitaan berat yang dialami etnis minoritas Rohingya di negara asal mereka.



“Saya benar-benar tulus ingin merawat anak Rohingya. Apalagi mereka adalah warga Muslim. Sesama Muslim, kita harus saling membantu. Apalagi dulu saat konflik Aceh, kita juga pernah merasakan bagaimana penderitaan akibat perang,” katanya.



Dari 582 warga Rohingya yang terdampar, terdapat 81 perempuan dan 51 anak-anak. Di antara anak-anak berusia di bawah 12 tahun, terdapat sejumlah balita.



‘Belum dikaruniai anak



Keinginan untuk mengadopsi anak Rohingya juga diungkapkan pasangan Ahmad, 43, dan Fatimah, 35. Mereka sengaja datang ke GOR Lhoksukon dari desanya di pelosok Aceh Utara, Selasa sore. Pasangan itu mengaku tak punya anak.



“Kami sudah menikah tujuh tahun, tapi belum dikarunai anak. Kalau diizinkan kami bersedia mengambil seorang anak mereka untuk kami rawat dan kami sekolahkan,” kata Ahmad yang diiyakan istrinya.



Saat pasangan itu berada di luar GOR, sejumlah perempuan Rohingya dan sepuluh anak keluar dari GOR, hendak mandi di rumah warga. Fatimah segera merogoh dompetnya. Setiap anak dikasih uang Rp 2.000. Sedangkan, untuk perempuan Rohingya diberikan uang Rp 20.000. Terlihat senyum bahagia dari anak-anak dan perempuan Rohingya.



Cut Nilawati, 30, mengaku datang ke GOR juga untuk melihat pengungsi. Dia ingin memastikan kemungkinan mengadopi seorang anak Rohingya. “Kakak saya di Kota Lhokseumawe telepon. Dia tanya apakah mungkin kalau mengadopsi seorang anak pengungsi ini,” katanya.



Menjelang malam, seribuan warga Aceh Utara mendatangi GOR. Mereka membawa berbagai macam bantuan mulai dari pakaian bekas, beras, air mineral, telur ayam, ikan, dan kue-kue segala jenis. Ramainya warga yang datang membuat tim Tagana dan polisi kewalahan karena warga dan pengungsi berbaur.



Bantuan juga disalurkan para mahasiswa dan siswa SMU Unggul Lhoksukon. Di jalan dekat GOR, terlihat sejumlah mahasiwa menggalang bantuan dana bagi imigran itu. Setiap warga yang melintas memasukkan uang ke dalam kardus yang dibawa aktivis mahasiswa.



Meski ada seruan dari pengeras suara agar warga tidak masuk ke dalam gedung, tapi masyarakat tetap memasuki dan berbaur dengan manusia perahu, yang pada tangan mereka telah dipasang pita kuning. Banyak dari warga Aceh yang berbaur mengajak foto bersama dengan imigran. Hingga tengah malam, ratusan warga tetap bertahan di seputaran GOR.



Menurut rencana, pada Rabu sore ini, 13 Mei, para imigran Myanmar dan Bangladesh dipindah ke Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Kuala Cangkoi di Keamatan Lapang. Tim dari International Organization for Migration (IOM) dan United Nations High Commissioner for Refugees (UNCHR) telah menginspeksi lokasi ini pada Selasa kemarin.



Tetapi Ilyas, pasangan Ahmad dan Fatimah, dan Cut Nilawati tetap menggantung satu harapan besar untuk dapat mengadopsi anak Rohingya. Mereka terus berusaha bisa mendapatkan cara merawat anak-anak itu.



“Saya tetap berharap kalau bisa mereka semua dibiarkan tinggal di Aceh. Apalagi kita sesama Muslim harus saling membantu,” ujar Ilyas.



Rappler

Kamis, 07 Mei 2015

Cina 'PKI' Paksa Muslim Uighur Jual Minuman Alkohol





Pihak berwenang komunis Cina memerintahkan pemilik toko dan restoran, termasuk warga Muslim Uighur, di kota Xinjiang untuk menjual alkohol dan rokok serta menempatkannya di sudut yang menarik pandangan mata. Jika tidak, mereka dapat dituntut dan toko mereka terancam ditutup.


Langkah ini merupakan salah satu kebijakan pemerintah Tiongkok yang dinilai melecehkan warga Muslim di wilayah tersebut.


Menghadapi kritikan luas soal pemerintahan yang represif di provinsi mayoritas berpenduduk Muslim itu dalam dua tahun terakhir, Tiongkok meluncurkan serangkaian "serangan keras" terhadap warga Muslim di Xinjiang.


Pegawai pemerintah dan anak-anak Muslim dilarang datang ke masjid atau berpuasa di bulan Ramadan. Di banyak tempat, perempuan dilarang memakai cadar, serta pria Muslim dilarang memanjangkan jenggot.


Di desa Aktash, sebelah selatan Xinjiang, pejabat Partai Komunis, Adil Sulayman, menyatakan bahwa banyak pemilik toko lokal yang telah berhenti menjual alkohol dan rokok dari tahun 2012 "karena mereka enggan mendapatkan cemoohan publik".


Selain itu, banyak warga lokal yang telah memutuskan untuk menjauhkan diri dari minuman, karena diharamkan dalam Islam. Beberapa pemuka agama Islam juga melarang rokok sebab tidak bermanfaat.


"Pihak berwenang di Xinjiang melihat etnis Uighur yang tidak merokok sebagai bentuk ekstremisme agama. Mereka mengeluarkan perintah untuk melawan sentimen agama yang berkembang yang dianggap memengaruhi stabilitas," kata Sulayman, dikutip dari The Independent, Rabu (6/5).


"Mereka berkampanye untuk melemahkan agama, dan (kebijakan) ini merupakan bagian dari kampanye itu," katanya melanjutkan.


Kebijakan pemerintah Xinjiang tersebut memerintahkan semua restoran dan supermarket di Aktash menjual lima merek minuman beralkohol dan rokok serta menempatkannya di sudut yang mudah terlihat.


"Siapa saja yang mencoba mengabaikan pemberitahuan ini, toko mereka akan ditutup, bisnis mereka ditangguhkan, dan dikenai tindakan hukum," bunyi kebijakan tersebut.


Sulaiman menuturkan sekitar 60 toko dan restoran di daerah tersebut telah memenuhi perintah pemerintah, dan tidak ada laporan protes sejauh ini.


Namun berbagai media lokal dan foto di media sosial melaporkan terjadi insiden di provinsi Qinghai, pada Jumat (30/4), ketika warga Muslim marah dan menghancurkan jendela sebuah toko halal di kota Xining, karena terdapat laporan sosis babi dan ham babi ditemukan dalam mobil pengiriman makanan toko tersebut.


Sementara, Radio Free Asia, yang kerap memberitakan soal diskriminsi warga Muslim Uighur di Xinjiang melaporkan bahwa wilayah itu telah menjadi "sarang kekerasan, penikaman dan penembakan antara etnis Uighur dan pasukan keamanan Tiongkok".


Sementara, pemerintah Tiongkok mengklaim bahwa kelompok militan Uighur yang berbasis di luar negeri menggunakan internet untuk menginspirasi Muslim untuk "berjihad" lewat kekerasan terhadap negara.


Di lain pihak, pengamat menilai tindakan Tiongkok yang represif malah justru semakin mendekatkan warga terhadap Islam, namun mendorong minoritas untuk memandang Islam sebagai agama yang penuh kekerasan.


Upaya untuk mempromosikan alkohol atau melarang pemakaian jenggot dan cadar dapat menjadi bukti yang kontraproduktif.


James Leibold, seorang ahli kebijakan etnis Tiongkok di Universitas La Trobe di Melbourne menilai para pejabat Tiongkok "sering bertindak dalam gelap".


"Kurangnya pemahaman membawa mereka untuk fokus memberangus citra radikal yang kasat mata, namun tidak tepat, seperti jenggot panjang, cadar dan tak mengkonsumsi alkohol," kata Leibold.


"Ini jenis kebijakan mekanistik dan reaktif yang hanya mengobarkan ketegangan etno-nasional tanpa mengatasi akar penyebab ekstremisme agama, sambil terus mengasingkan komunitas Uighur, membuat mereka merasa semakin dimusuhi dalam masyarakat," katanya.


CNN

Minggu, 03 Mei 2015

Masjid dengan Menara Terindah di Eropa






Masjid di Bradford, yang memiliki populasi penduduk Muslim yang besar, diresmikan pada tahun 2008.




Empat menara yang terdapat di beberapa masjid telah memenangkan hadiah, termasuk menara masjid di Stockholm, Roma, Oslo dan Granada di Spanyol, kata penyelenggara acara yang diorganisir oleh COJEP internasional, lembaga amal pemuda yang dibentuk oleh para imigran Turki di Perancis, yang juga merupakan mitra OSCE dan Dewan Eropa.



Uniknya, para juri terdiri dari sebuah "multi konfesional, multi etnis, bahkan jurinya termasuk seorang rabbi Yahudi, seorang teolog Protestan Swiss dan seorang pendeta Anglikan, mereka mengamati ke 53 menara masjid di 13 negara sebelum melakukan pilihan menara masjid mana yang terbaik.



Hanya masjid yang berusia di bawah usia 50 tahun yang memenuhi syarat untuk mengikuti kontes karena "kami menolak semua bangunan menara bersejarah seperti yang ada di Andalusa, Bosnia atau Paris karena kami menginginkan kompetisi ini tetap terkait dengan imigrasi umat Islam baru-baru ini," kata juru bicara COJEP Veysel Filiz.









Juri membuat keputusan mereka atas dasar pertimbangan estetika tetapi juga bagaimana cara menara masjid itu berfungsi yang dibangun di dalam lingkungan perkotaan.



"Ide dari kompetisi ini adalah untuk menunjukkan bahwa menara masjid tidak boleh menjadi alasan untuk dicurigai dan ditakuti," kata Filiz.



Masjid harus terlihat dari jauh "karena Islam di Eropa harus berfungsi secara transparan dan masjid harus terbuka untuk masyarakat.



"Jika Islam hanya tersembunyi di gua-gua, kita tidak dapat mengetahui apa yang dikatakan di atas mimbar masjid," kata dia.



INILAH

Kuburan Massal Muslim Rohingya Ditemukan!





Seorang WN Malaysia secara kebetulan menemukan kuburan massal Muslim Rohingya korban perdagangan manusia di Distrik Sadao, Propinsi Songkhla, selatan Thailand.



Kantor berita Anadolu memberitakan kuburan massal berisi 32 mayat, dan terletak tidak jauh dari perbatasan Malaysia-Thailand. Kolonel Polisi Wirasan Tampian, dari Distrik Sadao, mengatakan polisi patroli perbatasan dan petugas penyelamat menggali kuburan dan memindahkan seluruh mayat untuk identifikasi.



"Ketika tim gabungan tiba, mereka menemukan satu Muslim Rohingya sekarat di lokasi itu," ujar Wirasan.



Polisi menyisir kawasan sekitar dengan harapan menemukan kuburan massal Muslim Rohingya lain. Sedangkan tim forensik masih terus bekerja untuk menemukan bukti penyebab kematian.



Bangkok Post, mengutip sejumlah sumber, memberitakan Muslim Rohingya itu tampaknya mati kelaparan atau terkena penyakit akibat sekian lama menunggu orang yang bersedia membelinya dan menyelundupkan ke Malaysia.



Jaringan perdagangan manusia Thailand diduga bertangung jawab atas semua ini. Selama menunggu nasib baik dari warga Malaysia, mereka diduga tidak diberi makan.



Muslim Rohingya adalah minoritas paling tertindas di dunia. Mereka lari dari Myanmar dengan kapal reot, dengan mambayar mahal. Banyak dari mereka tewas di laut, dan yang beruntung terdampar di negara-negara Asia Tenggara.



Jaringan perdagangan manusia menampung mereka di perbatasan Thailand-Malaysia, dengan harapan ada yang menyelundupkan ke negeri jiran.



Para gengster memaksa mereka bekerja di dalam hutan, sampai keluaga mereka kembali dengan uang tebusan.



Jenderal Polisi Aek Angsananont mengatakan penampungan sementara, dengan kantin dan kamar tidur, terletak hanya 300 meter di utara negara bagian Perlis, Malaysia.



"Lokasi ini membantu pedagang manusia mengangkut migran, dan sulit bagi petugas menangkap mereka," ujar Angsananont.







Philip Robertson, wakil direktur Human Rights Watch di Asia, mengatakan tidak terkejut dengan penemuan kuburan massal itu.



"Masalahnya adalah apa yang pemerintah Thailand lakukan selama ini," ujarnya. "Mereka menutup mata terhadap perdagangan manusia yang dilakukan warganya."



Ia berharap temuan ini menyadarkan semua pihak betapa keji tindakan pedagang manusia, dengan korbannya adalah minoritas paling teraniaya di muka bumi.



BANGKOK POST

Kamis, 30 April 2015

Siswi Muslim Perancis Dilarang Masuk Kelas karena Pakai Rok Panjang






Seorang gadis Muslim berusia 15 tahun dilarang masuk ke kelas sebanyak dua kali pada awal bulan ini karena mengenakan rok panjang berwarna hitam, memicu protes dari khalayak luas di Perancis.





Kepala sekolah yang melarang gadis itu mengganggap rok yang ia kenakan terlalu ‘vulgar’ menunjukkan afiliasi terhadap agama tertentu, yang dilarang keras oleh hukum sekuler Perancis.





"Gadis itu tidak dikecualikan, ia diminta untuk datang kembali dengan pakaian netral dan tampaknya ayahnya tidak ingin ia kembali ke sekolah," kata pejabat pendidikan setempat Patrice Dutot, pada Selasa (28/4), dikutip dari The Guardian.





Namun ia mengaku bahwa murid tersebut selalu melepaskan kerudungnya sebelum memasuki lingkungan sekolah di daerah Charleville-Mezieres, sesuai dengan hukum yang berlalu di Perancis.





Menurut hukum tahun 2004 yang berlaku di Perancis, kerudung, kippa Yahudi dan bahkan salib Kristen yang berukuran besar (dan mencolok) dilarang di lembaga pendidikan, namun simbol-simbol yang tak terlalu mencolok masih diperbolehkan.





Murid itu, yang diidentifikasi sebagai Sarah oleh koran lokal L'Ardennais, mengatakan “tidak ada yang istimewa, sangat sederhana, tidak ada yang mencolok. Tidak ada tanda agama apapun” dari roknya.





Kasus rok ini menjadi trenting topic di media sosial Twitter dengan hashtag #JePorteMaJupeCommeJeVeux yang berarti ‘saya memakai rok sesuka saya’.






"Jika (rok) itu dipakai oleh orang kulit ’putih', rok itu menjadi chic, jika dipakai seorang Muslim, maka jadi mencolok," kata seorang pengguna Twitter.







Namun dinas pendidikan regional Perancis tempat sekolah itu berada tampaknya berpihak pada sang kepala sekolah. Mereka mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa memakai rok bisa menjadi bagian dari provokasi yang direncanakan.





“Sehubungan dengan aksi protes oleh para murid, yang mengetahui insiden lain yang terkait misalnya soal mengenakan jilbab, kerangka sekuler untuk pendidikan harus tegas mengingatkan dan dijamin," bunyi pernyataan itu.





Menurut badan pengawas Islamofobia Perancis, CCIF, sekitar 130 siswa yang dilarang masuk kelas tahun lalu karena pakaian dianggap terlalu religius.





CNN

Rabu, 22 April 2015

Dimata-matai atas tuduhan Terorisme, Islamic Center Australia Ditutup






Sebuah pusat keislaman di Australia yang sering didatangi dua remaja yang didakwa dengan pasal terkait terorisme, telah ditutup.





Al-Furqan Islamic Centre di Melbourne mengatakan bahwa mereka yakin ini langkah terbaik, mengingat beratnya "tekanan" yang mereka derita.





Lima orang remaja ditangkap dalam pennyergapan anti teror pekan lalu.





Menurut polisi, mereka merencanakan serangan saat berlangsungnya perayaan seratus tahun perang dunia.





Al-Furqan Islamic Centre mengatakan, keputusan untuk menutup kegiatan mereka "diambil tidak dengan mudah."





Disebutkan dalam sebuah pernyataan, "Mengingat tekanan dan tuduhan palsu yang kami terima -khususnya dari media dan politikus- kami yakin ini langkah terbaik untuk melindungi masyarakat kami, para anggota lembaga ini, dan masyarakat Islam yang lebih luas yang sering kena getah dalam kampanye berbahaya itu."





Pusat kegiatan dan toko buku itu jadi bulan-bulanan sesudah terungkap bahwa sebagian dari mereka yang ditangkap dalam penggrebekan, sering datang ke tempat itu.





Harun Causevic and Sevdet Besim, keduanya berumur 18, didakwa dengan pasal berkomplot untuk melakukan, atau menyiapkan, atau merencanakan aksi terorisme.





Seorang remaja lain didakwa dengan pidana terkait pemilikan senajata. Sementara dua remaja lain telah dilepaskan.





Sekitar 200 petugas dikerahkan dalam operasi penyergapan Sabtu (18/04) pagi lalu.








Para pengurus Al-Furqan mengatakan, mereka tak ada sangkut pautnya dengan penyergapan itu.


Selasa lalu, pejabat kepolisian negara bagian Victoria, Stephen Fontana mengatakan bahwa al-Furqan termasuk satu di anatar pusat kegiatan Islam yang mereka pantau.





"Ini lebih tentang sejumlah orang yang berusaha mempengaruhi anak-anak muda. Mereka ini betul-betul harus diperhatikan," katanya seperti dikutip ABC News. 





Al-Furqan pernah menjadi sumber kontroversi sebelumnya. Tempat ini pula yang sering dikunjungi Abdul Numan Haidar, seorang yang menusuk dua petugas polisi sebelum kemudian ditembak mati.





Dua ratus petugas polisi terlibat dalam penyergapan hari Sabtu lalu antara lain ke rumah ini

Minggu, 19 April 2015

Gereja Australia Sebar Selebaran Anti-Muslim






Polisi negara bagian Queensland meningkatkan penyelidikan kampanye anti-Muslim lewat selebaran yang ditandatangani Gereja J ke rumah-rumah.





Surat kabar Sydney Morning Herald melaporkan penerima selebaran terdiri dari orang-orang berpengaruh; ekonom papan atas, politisi, aktivis sosial, dan orang biasa.





Surat tidak hanya berisi serangan terhadap ajaran Islam, tapi juga penolakan hak-hak Aborigin. Polisi Queensland telah menyelidiki surat-surat ini sejak awal 2015.





Anadolu Agency memberitakan masalah ini telah diteliti, dan tidak ada pelanggaran yang diidentifikasi. Jadi tidak ada penyelidikan lanjutan.





Namun, lebih 24 orang menghubungi Fairfax Media dan mengaku menerima surat kebencian dan propaganda rasis dari Gereja J.





Salah satu yang sangat menganggu adalah Gereja J memperingatkan kemungkinan genosida demografi sebagi akibat migrasi Muslim ke Australia.





Surat itu juga menyebutkan kawasan sebelah barat Sydney akan menjadi Kekhalifahan Sydney di masa depan. Gereja J juga membenarkan kerusuhan Cronulla.





Kerusuhan Cronulla terjadi tahun 2005, merupakan serangkaian bentrokan kekerasan massa di Australia. Saat itu orang-orang bertampang Arab diserang.





Cronulla terletak di pinggiran Sydney. Dari sini, kerusuhan menyebar ke pinggiran kota lainnya, sampai beberapa malam.





Nick Jelii, mantan kandidat Partai Hijau dalam pemilu lalu, menerima surat dari Gereja J akhir Februari 2015. Dia mengatakan; "Yang mengkhawatirkan adalah individu itu memiliki alamat rumah saya."





Jelii tidak bisa mengidentifikasi mengapa dirinya menjadi sasaran pengirim surat.





Fairfax Media melaporkan sejak Februari 2015 surat-surat anti-Islam dan rasis dikirim ke seluruh Queensland, New South Wales, Australia Selatan, Tasmania, dan Victoria. Semula ditargetkan ke Partai Hijau, belakangan ke banyak orang.





INILAH

Lihat Aksi Bocah 5 Tahun Palestina Lawan Polisi Israel (FOTO)





Bocah Palestina ini bisa dibilang baru saja lepas dari popoknya. Usianya baru lima tahun ini. Tapi sudah punya nyali besar. Ia tak gentar menghadapi enam tentara Israel yang bersenjata lengkap.


Sendirian. Ya... dengan mengenakan pakaian tentara ia maju dan berusaha melempari polisi Israel dengan batu dalam bentrokan sengit di Tepi Barat.


Para petugas yang dilengkapi dengan helm dan pelindung tubuh bingung dan dengan tenang menyaksikan bocah tersebut melancarkan serangannya, bak David and Goliath. Setelah melempar ia berbalik arah dan berlari.


Aksi anak tersebut terjadi ditengah bentrok berdarah saat demostrasi memperingati Hari Tahanan Palestina di Tepi Barat berakhir ricuh.


Para tentara menggunakan gas dan peluru karet untuk membubarkan massa, setelah ratusan pendemo berdemonstrasi di dekat tembok pemisah Israel di desa Bilin mulai melempari batu.


Setidaknya satu pengunjuk rasa dipastikan terluka karena terkena peluru gas air mata yang ditembakan di jalan-jalan.







Hari Tahanan tersebut diperingati setiap tahu sebagai solidarita kepada sektiar 6000 warga palestina yang ditahan di penjara Israel.


"Kami tidak akan meninggalkan tahanan di penjara sendirian," ujar koordinator pendemo, Abdullah Abu Rahma seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (18/4).


"Kami akan memperjuangkan hak mereka agar dilepaskan karena mayoritas mereka ditangkap secara ilegal oleh pasukan Israel," tambahnya.


Sejak 1967 tentara Israel telah menangkap sekitar 800.000 warga Palestina atau setara 40 persen dari populasi laki-laki di negara tersebut. Setiap keluarga di negara tersebut mengalaminya.





Selama perundingan perdamainan yang difasilitasi Amerika Serikat pada 2013-2014, Israel membebaskan puluhan tahanan yang telah lama mendekam di penjara mereka.


Tapi setelah negosiasi itu gagal, menyusul penculikan dan pembunuhan tiga remaja Israel di Tepi Barat, Israel kembali menangkap ratusan orang Palestina.


Saat ini jumlah tahanan Palestina di Israel adalah yang tertinggi setidaknya dalam lima tahun terakhir ini. Demikian menurut lembaga pembela hak asasi manusia.

Kamis, 16 April 2015

Video Rasis Wanita Muslim Dilecehkan dalam Kereta yang Hebohkan Australia




Stacey Eden (kiri) membela pasangan Muslim yang dihina seorang wanita tua




Sebuah video yang menangkap momen seorang perempuan Muslim menjadi obyek serangan verbal rasis di dalam kereta di Sydney, telah dilihat hampir 60.000 kali.





Video ini direkam dengan ponsel oleh Stacey Eden, 23 tahun. Dalam video itu, Stacey mengatakan kepada seorang perempuan yang lebih tua untuk menghentikan pelecehan yang dilakukannya terhadap perempuan muslim berjilbab yang tengah bersama suaminya pada saat itu.





Stacey, seorang pekerja patologi, mengatakan, kejadian itu berlangsung saat ia sedang naik kereta pulang ke wilayah Mascot di jalur bandara, sekitar pukul 1:40 siang pada hari Rabu (15/4).





Ia mengatakan, ia melihat sekelompok orang masuk ke kereta, khususnya seorang pria dan perempuan yang mengenakan jilbab dengan menggendong bayi.





Pada saat itu, Stacey menceritakan, seorang perempuan tua berjalan mendekat dan mulai berbicara kepada mereka.





"Saya hanya mendengarkan musik. Perempuan tua itu lalu membungkuk dan menyentuh jilbab si perempuan Muslim sementara ia berbicara,” ungkapnya.





Pelecehan verbal merujuk ke kelompok ISIS





Stacey mengatakan, ia melihat perempuan tua itu secara lisan menganiaya pasangan tersebut, yang sebenarnya tak mengatakan apa-apa.





"Perempuan di sebelah saya mengatakan hal-hal seperti 'semua orang yang sekarat karena umat Islam di dunia ini dan lihat apa yang terjadi di luar negeri’," tuturnya.





Stacey mengutarakan, perempuan tua itu melanjutkan kicauannya dengan mengatakan: ‘bacalah koran, untuk apa anda memeluk agama ini, mengapa anda memakai hal-hal seperti ini sehingga Anda bisa menikah dengan pria yang akan menikahi gadis 6 tahun?’.





"Saya langsung berkomentar 'ini tidak benar, mengapa anda mengatakan hal-hal seperti ini?'," sebutnya.






Rant: Video shows this woman launching into a fiery spray about Islam, bringing up beheadings and the marriage of children while berating a Muslim woman for wearing a black headscarf
Wanita Tua yang melecehkan pasangan Muslim






Dalam video tersebut, stacey mengatakan kepada si perempuan tua untuk meninggalkan perempuan Muslim itu.





"Ia memakai itu untuk dirinya sendiri, OK. Dia memakai itu karena ia ingin menjadi sederhana dengan tubuhnya, bukan karena orang-orang seperti Anda yang akan duduk di sana dan tidak menghormatinya," kata Stacey dalam video.





Si perempuan tua sempat terdengar menyebutkan pemenggalan, pengepungan Sydney, dan menyebut perempuan Muslim itu sebagai ‘pendukung ISIS’.








Stacey lantas mengatakan, dirinya marah dan mulai merekam kejadian tersebut.





"Ia memilih perempuan itu karena caranya berpakaian dan itulah yang benar-benar membuat saya marah," akunya.





Ia menyambung, "Perempuan yang sedang duduk di seberang saya ini memakai jilbab, ia mengurusi dirinya sendiri, ia tak mengatakan apa-apa yang kelewat batas, ia bahkan tak berbicara.”





Polisi mendorong korban pelecehan ras untuk melapor





Stacey mengatakan, ia melewatkan pemberhentiannya sendiri untuk memastikan pasangan itt merasa aman, dan ketika ia melihat mereka turun di halte Bandara Internasional, Stacey lantas turun di stasiun Wolli Creek.





"Saya benar-benar khawatir tentang apa yang bisa terjadi. Saya tinggal di kereta selama beberapa perhentian hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja,” ceritanya.





Suami korban, Hafeez Ahmed Bhatti, mengunggah ucapan terima kasihnya di Facebook dengan menulis: "Video ini tak saya buat sendiri. Inilah yang terjadi kepada kami di dalam sebuah kereta di Sydney, Tuhan memberkati Stacey Eden, ia mendukung kami".






 Police are urging anyone who witnessed the attack, which was caught on camera, to come forward
facebook






Stacey mengatakan, ia merasa terdorong untuk membela karena tak ada orang lain yang melakukan sesuatu.





"Saya hanya merasa, jika tak ada satupun yang mengatakan apa-apa, ini akan terus terjadi, jadi saya harus mengatakan itu. Orang-orang seperti itu sangatlah bodoh. Mereka tak akan mendengarkan apa yang Anda katakan,” akunya.





Juru bicara polisi New South Wales mengatakan, pihak mereka akan meninjau rekaman video itu.





"Polisi NSW menyadari adanya insiden yang terjadi dalam kereta yang bepergian menuju bandara, Inner West dan jalur Selatan yang melibatkan dugaan fitnah rasial, kemarin (15/4),"kemukanya.





Sang jubir menambahkan, "Pihak transportasi kami tengah meninjau sebuah video yang diunggah secara online dalam upaya untuk mengidentifikasi pelaku yang disangkakan."





Polisi mengatakan, mereka belum menerima laporan dari tuduhan penyerangan itu dan mendorong korban untuk melapor.



Berikut videonya:



Rabu, 15 April 2015

ISIS Ditarik, Front Nusra Kuasai Kamp Pengungsi Yarmouk






Sebagian besar anggota militan ISIS telah menarik diri dari kamp pengungsi Palestina di Yarmouk, pinggiran Damaskus, pada Rabu (15/4). Mundurnya ISIS dari Yarmouk menjadikan Front al-Nusra sebagai kelompok utama yang berada di dalam kamp tersebut.





Sumber dari warga setempat dan pejabat Palestina menyatakan ratusan anggota ISIS ditarik kembali ke markas mereka di distrik Hajar al-Aswad, tempat mereka meluncurkan serangan pada awal bulan ini.





"Sebagian besar dari mereka telah ditarik untuk bertempur dengan lawan mereka," kata seorang warga bernama Abu Ahmad Hawari.





Di samping berusaha untuk menguasai kamp Yarmouk, ISIS juga berusaha untuk mengalahkan saingan mereka, kelompok militan Aknaf al-Maqdis, yang memiliki ideologi yang bertentangan dengan ISIS, dan memiliki hubungan dengan Hamas.





Penyerbuan ISIS ke Yarmouk merupakan serangan yang paling dekat dengan pusat pemerintahan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, yang hanya terbentang jarak beberapa kilometer.





Warga menyatakan bahwa saat ini ISIS masih bertempur dengan Aknaf al-Maqdis di daerah sekitar pintu masuk utara kamp, di persimpangan jalan-jalan utama Palestina dan Yarmouk.





Utusan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Damaskus, Anwar Abdul Hadi menyatakan bahwa Front Nusra sekarang menjadi kelompok utama di kamp Yarmouk.





"Mereka (ISIS) dan Nusra bersatu. Mereka hanya mengubah posisi," kata Anwar Abdul Hadi Reuters.





Front Nusra disinyalir memfasilitasi masuknya militan ISIS ke kamp Yarmouk. Meskipun ISIS dan Front Nusra merupakan rival dalam sejumlah pertempuran di Suriah, kedua militan ini membenci Aknaf al-Maqdis karena dianggap moderat.





Namun, warga mengungkapkan bahwa tidak seperti ISIS, Front Nusra tidak siap melakukan konfrontasi militer dan tidak juga terlibat dalam pertempuran terakhir di Yarmouk.





Kamp Yarmouk merupakan rumah bagi sekitar 160 ribu warga Palestina sebelum konflik Suriah dimulai pada tahun 2011. Mereka yang berada di sana adalah pengungsi dari perang saat berdirinya negara Israel pada 1948.