Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Mei 2015

Nelayan Aceh: “Kalau Nasib Kami seperti Mereka, Bagaimana?”




Foto: Pak Mohamad Adenan bersama relawan ACT dari KAMMI, yang naik kapal nelayan milik bos Pak Adenan.



NELAYAN-nelayan itu sedang mengecat kapal kayunya di pinggir Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa, Aceh, saat kami menghampiri dan menyapa mereka. Sebagian badan kapal berkapasitas 50 ton itu nampak kilap. Kapal ikan sumber penghidupan mereka itu nampak baru kembali.



Seorang nelayan berusia paruh baya sambil terus sibuk bekerja menanyakan identitas kami. Setelah berbasa-basi, Mohamad Adnan meminta kami naik ke atas kapal. Dengan hanya balok kayu, kami meniti ke atas kapal.



Adnan yang dituakan oleh nelayan-nelayan lainnya itu berhenti bekerja dan menemui kami. Adnan juga menawarkan makan siangnya. Namun dengan sopan kami mengatakan kami sudah makan siang. Kami terkesan dengan keramahannya, yang menjadi salah satu karakter positif orang Aceh.



Sebagaimana diberitakan, pada Jumat pagi (15/5/2015), ada enam kapal nelayan Aceh yang menolong para manusia perahu asal Myanmar dan Bangladesh. Kapal Adnan adalah kapal yang mengangkut sisa pengungsi, berjumlah 45 orang.



“Kami baru melaut satu hari, saat menemukan orang-orang asing itu,” ungkap Adnan.



Biasanya kapal berada di laut 5 sampai 6 hari. Kapten kapal yang memimpin Muhammad Adnan dengan 40 ABK lainnya, memutuskan untuk mengevakuasi para manusia perahu asal Myanmar dan Bangladesh itu. Keputusan dilakukan usai saling kontak antarnelayan via radio, dan diminta saling merapat.



“Kami ikut mendekat ke lokasi dimana orang-orang itu berada,” tutur ayah dari enam anak ini.



Adnan mengatakan kapalnya adalah kapal terakhir yang mengangkut pengungsi. “ Lima kapal yang lain sudah di depan kami,” tambahnya.



Saat kapal nelayan dan pengungsi saling menekat, beberapa pengungsi langsung terjun ke laut untuk mendekat ke kapal Mohamad Adnan. Menurut penglihatan Adnan, ada juga perempuan yang nekat terjun berenang mendekati kapalnya. Jarak dua kapal sekira 30-40 meter. Para pengungsi itu berteriak-teriak, “ Allahu kbar, Allahu akbar!”



Didorong rasa iba, kapten kapal memerintahkan Mohamad Adnan dan kawan-kawannya segera lebih mendekat, untuk mencegah mereka terjun ke laut.



“Saat kami menolong mereka, tak ada di hati kecuali rasa iba. Saya membayangkan saat itu, seandainya mereka itu adalah kami, tentu kami saat itu akan sangat berharap pertolongan dari siapapun,” kata Adnan, yang selama 5-6 melaut bisa mendapat upah 150-200 dari bos pemilik kapal.



“Apa salah mereka? Dan mengapa mereka seolah-olah tak boleh kita tolong?” jawab Adnan ketika ditanya keputusan mereka untuk melakukan tindakan penyelamatan.



Usai kapal saling merapat, para pengungsi itu berpindah kapal. Mereka langsung duduk di dek kapal, dan sebagian, mungkin karena kelelahan, langsung berbaring. Sebagian laki-laki terlihat luka-luka yang masih setengah kering. Ada luka di lengan, punggung, kaki dan kepala.



Adnan mengatakan karena masalah bahasa, ABK kapal tak banyak bicara dengan pengungsi.



“Yang kami lakukan segera mengeluarkan makanan dan air bekal kami mencari ikan untuk sepekan, yang masih banyak, karena kami baru berada di atas laut sehari semalam,” urai Adnan.



Adnan mengaku makin trenyuh melihat para pengungsi itu makan dengan lahap. Mereka nampak sama sekali tak mampu menyembunyikan rasa lapar dan haus mereka.



“Bahkan saat kami baru mau selesai menaruh makanan ke piring, mereka langsung menyambarnya,” ungkap Adnan.



Bagaimana perasaan Adnan bisa membantu orang yang sedang sangat butuh pertolongan?



“Hati saya lega, bisa menolong orang kesusahan. Mereka berada di laut sama seperti kami. Mereka manusia sama seperti kami,” kata Adnan.



Adnan dan kawan-kawannya menyatakan tak menyesal, usai mendaratkan para pengungsi itu, kapalnya sempat tertunda untuk melaut kembali oleh aparat.



Kesempatan itu digunakan untuk mengecat kapal milik bosnya.



“Mungkin karena kami masih dibutuhkan katerangannya kali,” ujar Adnan. (Ajm-ACT)

Kamis, 21 Mei 2015

Inilah Remaja Rohingya Paling ‘Berjasa’ di Mata Dokter & Relawan





Bahasa yang berbeda menjadi kendala utama bagi para tim medis dalam menangani para pasien pengungsi Rohingya dan Bangladesh di Aceh. Hanya ada satu orang yang fasih berbahasa Inggris, yang akhirnya digunakan sebagai penerjemah para dokter serta relawan.



Adalah Muhammad Dul Hassan, warga Rohingya yang diselamatkan dari kapal di Kuala Langsa yang kini menjadi penghuni tetap salah satu bangsal di Rumah Sakit Kuala Langsa. Dia ditugaskan oleh para dokter untuk menjadi penerjemah pasien dari Rohingya atau Bangladesh.



Peran Hassan sangat penting, saking pentingnya dia kini mendapatkan tempat tidur khusus di rumah sakit tersebut.



"Setiap hari Hassan membantu di sini, hanya dia yang bisa berbahasa Inggris," ujar Yahrini, kepala perawat di RS Kuala Langsa lansir CNN Indonesia, Kamis (21/5).



Dalam setiap kunjungan dokter, remaja 17 tahun itu mendampingi dan menerjemahkan keluhan para pasien. Kebanyakan menderita penyakit pencernaan atau luka pada tubuh. Pekerjaan ini dilakoninya sejak mendarat di Aceh Jumat pekan lalu.



"Saya tidur di sini setiap malam dan membantu dokter menjelaskan keluhan," kata Hassan.



Juru bicara RS Kuala Langsa, Arwinsyah, mengatakan saat ini ada 57 yang tengah dirawat karena berbagai penyakit. Salah satunya adalah remaja wanita berusia 15 tahun yang tengah hamil tujuh bulan.



"Dia mengatakan suaminya dibunuh," kata Arwinsyah. Tidak diketahui apakah suaminya dibunuh di Myanmar atau di atas kapal.







Kemarin, balita Rohingya berusia tiga tahun bernama Shahera Habibi meninggal dunia akibat tetanus. Menurut Arwinsyah, saat baru tiba di RS pekan lalu kondisi Shahera sudah parah, kejang-kejang dan kaku.



"Dia dimakamkan di pemakaman rumah sakit," ujar dia.



Selain menjadi penerjemah di rumah sakit, Hassan juga kerap dipakai kemampuannya untuk mendampingi relawan atau wartawan. Pasalnya, tanpa Hassan petugas bantuan hanya menggunakan bahasa isyarat karena hampir sebagian besar pengungsi tidak bisa bahasa Inggris atau Melayu.



Karena jasanya, Hassan mendapatkan sejumlah uang dari dokter dan para relawan. Uang ini digunakannya untuk membeli handphone. Setiap hari, digunakannya ponsel itu untuk menelepon ibunya yang masih berada di kamp pengungsi Nayapara di Bangladesh.



"Saat pertama kali menelepon ibu, beliau mengira saya sudah tewas, karena tiga bulan tidak beri kabar," ujar anak kedua dari lima bersaudara ini.



Dia naik ke kapal pengungsi setelah diimingi akan bekerja di Malaysia. Selama tiga bulan di lautan, dia menyaksikan pembunuhan dan pertengkaran para pengungsi di kapal karena berebut makanan.



"Warga Bangladesh di kapal membunuhi kami karena kami dikira tidak memberi mereka air dan makanan. Karena kelaparan, mereka jadi gila," ujar Hassan.



Hassan mengatakan bahwa saat ini ayahnya bekerja di sebuah rumah sakit di Arab Saudi. Ditanya apakah ia berharap tinggal, siswa kelas 9 ini mengaku manut pada keputusan pemerintah Indonesia.



"Jika saya diminta tinggal maka saya akan tinggal, jika tidak saya akan patuh," kata dia.



CNN

Sabtu, 16 Mei 2015

Kisah Nelayan Aceh Penyelamat Pengungsi Rohingya




Ar Rahman atau biasa disapa Pak Do, ialah salah satu nelayan Aceh yang turut membantu proses evakuasi para pengungsi Bangladesh dan Myanmar.




Beberapa pengungsi melompat ke laut dan berteriak 'Allahu Akbar' 

begitu mereka melihat nelayan-nelayan Aceh yang 

berupaya menyelamatkan mereka.



Hampir 800 pengungsi Bangladesh dan Rohingya dari Myanmar diselamatkan oleh kapal nelayan di Aceh pada Jumat (15/05) lalu, setelah sempat dihalau oleh TNI AL dan Angkutan Laut Malaysia pada awal pekan ini.



Salah satu nelayan dari Kota Langsa, Ar Rahman, mengatakan mendapatkan informasi dari radio komunikasi mengenai kapal yang hampir tenggelam di perairan Aceh Timur.



"Lalu saya dan kawan-kawan menuju lokasi untuk menolong mereka. Ketika sampai di sana kami melihat ratusan orang, laki-laki dan anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia. Ketika melihat kami laki-laki melompat ke laut dan berenang, sedih kami melihatnya," jelas Ar Rahman yang biasa disapa Pak Do.



Ar Rahman mengatakan perempuan dan anak-anak bertahan di kapal yang oleng sebelum dievakuasi.



"Laki-laki melompat ke laut sambil histeris dan berteriak Allahu Akbar. Mereka meminta tolong dengan bahasa mereka," jelas Ar Rahman lansir BBC Indonesia.



Proses evakuasi para pengungsi ke pelabuhan Kuala Langsa kala itu dilakukan oleh lebih dari enam kapal nelayan dari Langsa.



Sebanyak 421 pengungsi merupakan warga Bangladesh yang semuanya laki-laki. Sementara pengungsi Rohingya berjumlah 256 orang terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak.



Mohamad Rofiq, pengungsi Rohingya dari Myanmar, mengatakan ketika ditolak masuk ke perairan Indonesia dan Malaysia, mereka diberi bekal makanan dan bahan bakar oleh angkatan laut kedua negara.



"Makanan hanya sedikit dan kami berikan untuk bayi terlebih dahulu. Kami sangat kelaparan dan lelah setelah terombang ambing di laut selama empat hari," ungkap pria berusia 21 tahun itu.






Mohamad Rofiq, pengungsi etnik Rohingya asal Myanmar, memulai perjalanan dari Bangladesh ke Malaysia dua bulan lalu. Namun, kini dia terdampar di Aceh.



Rofiq mengaku sempat mengungsi ke Bangladesh melalui jalan darat yang berbatasan dengan Myanmar.



Di sana, dia bertahan selama beberapa tahun sampai mendapatkan kartu pengungsi dari Badan PBB yang mengurusi masalah pengungsi (UNHCR).



Dua bulan lalu dia memulai perjalanan dari Bangladesh menuju Malaysia melalui laut.



"Kami berada di laut selama dua bulan ke Malaysia, lalu ke Thailand dan bertahan di perairan negara itu selama kurang dari dua bulan. Kemudian kami disatukan ke kapal yang lebih besar menuju Malaysia. Tetapi di perjalanan kapten kapal meninggalkan kami," jelas Rofiq.



Rofiq mengatakan keluarganya masih berada di pengungsian di Bangladesh.



Gelombang kedua



Ratusan pengungsi masih ditempatkan di gudang Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa. Di antara mereka, puluhan orang dilarikan ke rumah sakit karena kekurangan makanan dan menderita dehidrasi.







Gelombang pengungsi ini merupakan yang kedua tiba di Aceh dalam satu pekan ini. Sebelumnya hampir 600 pengungsi terdampar di Lhoksukon dan kini menempati lokasi pengungsian di Tempat Pelelangan Ikan Kuala Cangkoy, Kecamatan Lapang, Aceh Utara.



Diperkirakan gelombang pengungsi masih akan berdatangan karena ada ribuan pengungsi yang berada di laut.



Belum diketahui secara pasti berapa jumlah kapal yang mengangkut para pengungsi ini. Namun PBB meminta Indonesia dan Malaysia tidak menolak kedatangan mereka.



BBC

Jumat, 15 Mei 2015

Aktris Kontroversial Hollywood, Lindsay Lohan Dikabarkan Masuk Islam





AKTRIS Hollywood yang terkenal kontroversial, Rabu kemarin (13/5/2015) tertangkap kamera yang berhasil diabadikan papparazzi menghebohkan dunia hiburan Hollywood. Lindsay Lohan terlihat memegang kitab suci Al Quran setelah hari pertamanya dalam pelayanan masyarakat di Brooklyn, New York.



Walaupun telat hadir sampai dua jam, aktris keturunan Irlandia dan Italia yang dibesarkan sebagai penganut Katolik ini, akhirnya datang juga di panti asuhan yang merawat anak-anak terlantar.



Repeat visit: The troubled actress first visited the center in Brooklyn, seen here on a 2014 Oprah Winfrey docuseries, where she first met five-year-old Donovan. She met him again on Wednesday at the center



Tampaknya, Lohan, 28, tengah menjalani detox emosional. Dilaporkan, ia telah menyingkirkan ketergantungannya pada alkohol dan berhenti keluyuran malam mencari teman kencan.



Bukan pertama kalinya Lindsay Lohan menunjukkan minat terhadap agama-agama lain.



Selama puncak ketenarannya sebagai bintang remaja, ia mengenakan gelang benang merah yang jadi ciri sekte Yahudi, Kabbalah, yang dipercaya akan melindunginya dari kemalangan yang dibawa oleh 'mata iblis'.



Dia juga dikabarkan menghadiri kelas Kabbalah.



Religious text: Lindsay Lohan was spotted carrying a copy of the Quran in Brooklyn, New York, on Wednesday

Dailymail



Pada tahun 2012 Lindsay Lohan bergabung dengan kelompok nyanyian Budha yang juga diikuti oleh janda Kurt Cobain, Courtney Love.



"Aku orang yang sangat spiritual dan saya menjadi lebih spiritual seiring berjalannya waktu," katanya kepada Oprah Winfrey dalam serial dokumenternya tahun lalu.



"Aku benar-benar berhubungan (dengan Tuhan), apakah itu melalui doa atau meditasi ... ada begitu banyak kekuatan yang lebih besar dari saya di dunia ini. Saya telah diberkati dan cukup beruntung telah diberikan hadiah untuk berbagi dengan orang lain," tutup Lohan.



Beliefs: Earlier this year, Lindsay posted this Instagram image quoting the Quaran but later deleted it



Aktris Lindsay Lohan memang penuh kontroversi. ia menampilkan foto ayat-ayat Alquran di akun instagramnya.



Ia menampilkan penggalan ayat dari Surat Taha ayat 114 yang berbunyi, "Ya Allah, tambahkanlah pengetahuanku.'' Kemudian dilanjutkan dengan kalimat "Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada Engkau ilmu yang bermanfaat."



Sontak, unggahan yang ia lakukan Senin, 2 Maret lalu ini menggegerkan dunia maya. Hingga Selasa (3/3), tercatat ada 31 ribu yang menyukai dan berkomentar di akunnya.



Sebagian ada yang menanyakan apakah ia kini seorang muslim. Sementara, sebagian lagi menyebut kemungkinan Lindsay Lohan mendapat hidayah

Sabtu, 09 Mei 2015

Tentara Iskandar Muda Mengempur Portugis di Malaka






T.A Sakti




Hikayat Malem Dagang adalah syair kepahlawanan Aceh. Isinya mengisahkan penyerangan Sultan Aceh Iskandar Muda terhadap Portugis yang berkuasa di Malaka. Kerajaan Malaka ditaklukkan Portugis pada tahun 1511 M. Sultan Malaka dan keturunannya yang menyingkir; akhirnya mendirikan kerajaan Johor. Sekarang: Malaka dan Johor; keduanya merupakan dua negara bagian/provinsi di Malaysia.





Adanya penyerangan Aceh terhadap Portugis di Malaka adalah kenyataan sejarah, baik sebelum masa Sultan Iskandar Muda maupun disaat beliau berkuasa. Dalam disertasi sejarawan Perancis Denys Lombard; yang telah diterjemahkan,”Kerajaan Aceh -Jaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) juga dimuat daftar penyerangan Aceh ke Malaka, yaitu pada tahun : 1537, 1547, 1568, 1573, 1575, 1582, 1587, 1606-Portugis menyerang Aceh dan benteng-benteng mereka masih bersisa di Krueng Raya-,1613,1615 – Aceh menyerang Johor, karena membantu Portugis-,1617- Aceh menyerang Pahang,karena bersekutu dengan Portugis,1623,dan tahun 1629 Masehi.





Fakta sejarah ini amat sedikit disinggung dalam sumber-sumber tertulis Aceh sendiri. Diantara yang secuil itu, Hikayat Malem Dagang-lah satu-satunya, walaupun sebutan Portugis tidak satu kali pun dicantumkan di dalamnya. Sementara dalam Hikayat Prang Peringgi (artinya, Hikayat Perang Portugis); sama sekali tidak menyinggung data-data sejarahnya,kecuali semangat jihad saja.





Karena Hikayat Malem Dagang (selanjutnya disingkat dengan HMD) bukanlah kitab/buku sejarah, maka muncullah beragam hasil analisis tentang para pelaku dalam kisah itu. Begitu pula mengenai waktu dan lokasi dalam cerita tersebut. Masalah pendapat-pendapat para pengkaji hikayat itulah yang diperbincangkan dalam tulisan ini. Sejauh yang saya ketahui, bahwa Dr. Snouck Horgronje adalah pengkaji paling awal mengenai HMD.



Dalam bukunya yang sudah diterjemahkan “Aceh di Mata Kolonialis, jilid II; Snouck Hurgronje mengatakan HMD disusun tidak lama setelah peristiwa itu terjadi, yakni masih di abad ke 17 M. Agaknya, naskah yang dikaji Snouck Hurgronje merupakan salinan-ulang yang oleh penyalinnya telah disesuaikan isinya dengan kondisi Aceh saat itu. Kata Snouck: diseluruh hikayat disebutkan bahwa Raja Si Ujud yang dilawan Sultan Iskandar Muda adalah raja Belanda.





Pengkaji kedua juga bangsa Belanda,yakni DR.H.K.J.Cowan dengan bukunya “De Hikajat Malem Dagang” diterbitkan tahun 1933. Cowan juga menegaskan bahwa HMD dikarang pada abad ke 17. Nampaknya, naskah yang dikaji Cowan lebih tua, sehingga “Raja Si Ujud sebagai raja Belanda belum dijumpai di dalam naskah itu. Tahun 2006 naskah HMD yang dimuat dalam buku “De Hikajat Malem Dagang” telah saya salin ke huruf Latin ejaan EYD, yang sebelumnya dalam ejaan Belanda. Tetapi sampai hari ini hasil transliterasi saya itu belum diterbitkan. Penulisan oleh H.K.J.Cowan akan buku ini terkesan amat serius, sehingga semua isi hikayat yang dalam bahasa Aceh telah diterjemahkan ke bahasa Belanda, disamping pembahasan isinya yang panjang lebar pula. Kajian H.K.J.Cowan inilah yang saya pakai sebagai bahan utama tulisan ini.






-ist-






Lantaran saya tidak bisa bahasa Belanda, karena itu saya mintalah bantuan penterjemahannya kepada sahabat saya Drs. Agus Supriyono, MA; Dosen Fakultas Sastra,Undip-Semarang. Pengkaji ketiga HMD adalah Prof.A.Hasjmy. Beliaulah yang memperkenalkan kembali HMD secara lebih meluas.Dengan merujuk dua buku Sejarah Johor dan Sejarah Pahang karya HajI Buyung Adil yang diterbitkan di Malaysia; A.Hasjmy berkali-kali menulis tentang HMD.





Diantara karya A.Hasjmy mengenaI HMD yang telah dimuat dalam berbagai buku/makalah ialah yang dimuat dalam buku “Seulawah Antologi Sastra Aceh-Sekilas Pintas” halaman 524-541; terbitan Yayasan Nusantara tahun 1995.Berbeda dengan dua pengkaji bangsa Belanda sebelumnya. A.Hasjmy berpendapat HMD dikarang Teungku Ismail bin Ya’kub alias Teungku Chik Pante Geulima pada tahun 1309 H. Pada pentup HMD dalam buku “De Hikajat Malem Dagang” yang ditulis/disalin H.K.J.Cowan memang tercantum tahun 1309 H, tetapi saya lebih yakin tahun itu adalah tahun penyalinan ulang. Sebab, menyimak gaya penulisannya, maka saat penyusunan pertama HMD lebih tua dari tahun itu.





Prof.A.Hasjmy juga mangikuti pendapat Hoesein Djajadiningrat; walaupun masih dengan nada ragu, bahwa yang disebut Raja Si Ujud dalam HMD adalah Sultan Alauddin Riayat Syah III, sultan Johor; sedangkan Raja Raden ,yaitu Raja Abdullah alias Raja Seberang atau Raja Bungsu. Dalam buku antologi tersebut di atas A.Hasjmy menulis begini :“Mungkin sekali yang dimaksud dengan Raja Si Ujud dan Raja Raden dalam Hikayat Malem Dagang adalah Sultan Alauddin Riayat Syah III dan Raja Abdullah” Mengenai asal nama Raja Si Ujud, A.Hasjmy pada antologi yang sama juga menulis:”





Dalam sejarah Aceh, beliaulah yang dimaksud dengan “Raja Si Ujud“, mungkin sekali berasal dari “Raja Selayut“… karena pernah tinggal di Selayut. Menurut saya, nama Raja Si Ujud , Raja Raden dan Putroe Beureuhut-isteri Si Ujud adalam nama-nama khayalan sipengarang HMD. Dalam bahasa Arab, “Wujud” artinya ada. Karena “raja” Portugis di Malaka tidak dikenal lagi, maka disebut saja “Raja itu memang ada alias Raja Si Ujud”.



Begitu pula dengan Raja Raden. Akibat nama abang Raja Si Ujud tidak diketahui yang sebenarnya, maka digantikan saja dengan Raja Raden, suatu gelar kehromatan karena Raja Raden memihak Aceh, yakni gelar seorang bangsawan. Sementara nama Putroe Beurehut, malah diberi nama yang menjelekkan. Beureuhut adalah lobang neraka di dunia. Mon Beureuhut(sumur beruhut) , menurut kitab Tambeh/nadham Aceh terdapat di wilayah Syam/. Irak.





Isi ringkas Hikayat Malem Dagang adalah sebagai berikut :





Seorang raja yang bernama Raja Raden alias Raja Meulaka alias Raja Seberang alias Raja Bungsu bersama dengan isterinya Puteri Pahang datang ke Aceh untuk memeluk agama Islam. Selanjutnya, diceritakan Raja Raden memberikan isterinya Puteri Pahang kepada Sultan Iskandar Muda sebagai hadiah. Sebaliknya, Sultan Iskandar Muda memberikan adiknya buat isteri Raja Raden. Tidak berapa lama kemudian, datang pula Raja Si Ujud alias Raja Johor alias Raja Banang alias Raja Guha alias Raja Meulaka ke Aceh. Ia adalah adik kandung Raja Raden. Sultan Iskandar Muda membuat pesta besar-besaran menyambut tamu agungnya itu.





Sebuah istana khusus dibuatkan di Ladong-Krueng Raya bagi Raja Si Ujud. Tetapi tamu itu ternyata curang. Raja Si Ujud méngajak abangnya pulang ke Meulaka serta mengambil kembali Puteri Pahang dan menceraikan isterinya, yang adik Sultan Iskandar Muda itu. Karena rencana jahatnya tidak direstui abangnya Raja Raden, maka ia melakukan keonaran di Aceh. Bersama para pengikutnya, Raja Siujud melakukan perampokan beberapa kampung di pantai, membakar Ladong dan Krueng Raya serta menawan puluhan nelayan. Setelah melampiaskan berbagai penyiksaan – seperti mengail orang di kelopak mata dan kerongkongan -; akhirnya berlayarlah Raja Si Ujud pulang ke negerinya.







Tetapi Raja Raden tetap percaya/setia kepada Sultan Iskandar Muda dan ekspedisi untuk menghadapi Si Ujud dipersiapkan. Armadanya menyusuri sepanjang pantai utara dan timur Aceh, dimana-mana disiapkan bala bantuan, untuk akhirnya menyeberang ke Semenanjung Malaka. Sementara itu, dalam perjalanan terjadi pemilihan seorang yang bernama Malem Dagang menjadi Panglima Perang. Sesudah merebut Asahan dan mengunjungi Pahang, Sultan dengan sebagian orang (prajurit) Aceh berangkat ke Johor Lama, dan sementara itu dari sana si Ujud telah berangkat ke Johor Bali.








Di Johor Lama tanpa menemui adanya perlawanan sedikitpun, dilakukan konsolidasi kekuatan dalam rangka menunggu kedatangan musuh, akan tetapi ternyata musuh tidak muncul. Malem Dagang dan armadanya tetap berada di laut sampai ia bertemu dengan armada musuh yang besar di Laut Banang, dimana ia melakukan perlawanan (pertempuran). Saat itu Sultan Iskandar Muda di Johor, 7 hari perjalanan kapal, dipanggil untuk ambil bagian dalam pertempuran. Dalam pertempuran gugurlah panglima musuh,yaitu , ayah dari isteri Si Ujud, sehingga musuh melarikan diri. Si Ujud sendiri pada waktu itu masih di Guha. Ia memutuskan mundur dari pertempuran, tetapi isterinya mengobarkan semangat untuk membalas dendam atas kematian ayahnya.. 





Namun ia tidak memperoleh kemenangan, bahkan ia ditangkap dan ditawan. Dalam perjalanan pulang ke Aceh telah dilakukan berbagai percobaan untuk membunuh Raja Si Ujud yang menolak untuk memeluk agama Islam. Pertama-tama, percobaan pembunuhan itu dilakukan di laut kemudian di Aceh, tetapi gagal; karena ia memiliki kekuatan magisnya yang hebat (sakti). Akhirnya, atas petunjuknya sendiri ia dituangi kedalam mulutnya timah hitam cair (bara timah hitam yang meleleh), maka Raja Si Ujud pun mati. Diantara para pelaku kisah yang penting di pihak Aceh adalah Sultan Iskanda Muda,Puteri Pahang(Putroe Phang), Raja Raden, Malem Dagang, Ya Madinah/Ja Pakeh dan Panglima Pidie. Sementara di pihak musuh, yakni Raja Si Ujud, Putroe Beureuhut, dan Mudalikah-Putroe Halawiyah yang juga mertua Si Ujud.





Menurut data-data sejarah, bahwa Raja Sebrang kawin dengan saudara perempuan Sultan Iskandar Muda. Sejak itu, ia diharapkan menjadi teman dalam membantu Aceh melawan Portugis. Akan tetapi ketika Sultan ini pulang kembali ke Johor pada tahun 1614, ia telah dengan giat melakukan perundingan lagi dengan Portugis. Tindakan yang kedua kalinya itu tidak memuaskan orang-orang Aceh, sebab itulah pada ekspedisi Aceh yang kedua ia ditangkap kembali, lalu dibawa ke Aceh dan di bunuh di sana. .





Adalah penting untuk menyelidiki ekspedisi kedua ini secara lebih cermat. Armada Aceh mendapati Johor telah ditinggalkan penduduknya. Dalam perjalanan pulang bertemu dengan armada Portugis di bawah pimpinan Miranda dan Mendoca, yang datang dari Malaka untuk membantu Johor tetapi dipukul mundur. Pertempuran ini diidentifikasi oleh Hoesein Djajadiningrat sebagai pertempuran yang disebutkan dalam Boetanus-Salatin, yaitu pertempuran di Baning . Pada kesempatan itu Sultan ditangkap kembali dan dibawa ke Aceh.





Jika data-data ini dibandingkan dengan cerita dari Hikayat Malem Dagang, ternyata ditemukan kesamaan. Dalam syair hikayat disebutkan kedatangan dua raja bersaudara ke Aceh, yang antara lain bergelar sebagai raja-raja Johor. Menurut data-data historis demikian juga halnya. Bahwa kedatangan mereka ke Aceh tidak sepenuhnya secara sukarela. Dalam kedua versi itu juga disebutkan bahwa salah satu dari mereka kawin dengan adik perempuan Sultan Iskandar Muda.dan satunya lagi pulang kembali ke Johor ,yang selanjutnya setelah banyak melakukan tindakan yang kurang berkenaan bagi orang-orang Aceh, ia ditangkap oleh ekspedisi dan dibunuh.





Hal-hal yang khusus dari ekspedisi ini juga menunjukkan adanya kesamaan: dalam kedua peristiwa itu armada menemukan Sultan melarikan diri, dan oleh karena itu kota Johor diduduki. Dalam pertempuran berikutnya di Baning melawan Portugis dalam perjalanan pulang, ditemukan kembali dalam syair sebagai perang laut di “Laot Banang”. Bahkan namanya juga sama, pada mana harus dinyatakan bahwa “Baning” dan “Banang” sama-sama jenis hurufnya bila ditulis dalam karakter bahasa Arab.





Alasan kedatangan dua bersaudara di Aceh tidak disebutkan dalam HMD. Penulis syair hikayat hanya mengatakan bahwa Raja Raden pada suatu hari datang dan diikuti oleh saudara laki-lakinya yaitu Si Ujud. Hanya beberapa bait yang memberikan episode ini, yang menceritakan bahwa Raja Raden datang untuk memeluk agama Islam. Tidak ada penjelasan lebih jauh bahwa ia berangkat ke Aceh dengan keperluan khusus. Bisa diperkirakan maksud kedatangannya yang sesungguhnya dirahasiakan ,sehubungan dengan perkawinannya dengan keluarga Sultan Aceh. Kedua raja itu dalam kenyataan sesungguhnya bukan kafir, tetapi hanya melakukan persekutuan antara Johor dengan Portugis.








Demikian juga penggambaran orang Aceh tidak benar, antara syair dengan kenyataan adalah berbeda. Pada satu sisi perundingan-perundingan berlangsung di Aceh sebelum kembali ke Johor,sedangkan pada sisi yang lain perundingan-perundingan terjadi di Johor sesudah kepulangan ke Johor itu. Akan tetapi tidak boleh diabaikan bahwa dalam syair kepahlawanan yang setengah lagendaris itu; kenyataan-kenyataan historis telah kehilangan bentuk yang seharusnya. Kesesuaian secara keseluruhan atau bahkan pada bagian yang khusus/ penting saja tidak diperjelaskan..





Namun demikian, nampaknya sangat bisa diterima bahwa inti dari HMD adalah pengiriman ekspedisi pada tahun 1615 ke Johor, dan itu adalah yang kedua. Sebab Sultan yang di kembalikan ke Johor telah bersekongkol dengan Portugis.





Bagian awal syair adalah hasil dari ekspedisi pertama, yang berlangsung pada tahun 1613, yaitu kedatangan kedua raja yang di tawan itu di Aceh, tetapi dengan perbedaan, bahwa kedatangan ini dalam syair digambarkan sebagai kedatangan sukarela, dan diperkirakan bahwa tokoh Raja Raden dan Si Ujud menggantikan nama kedua raja tersebut.





Akan tetapi masih ada persoalan mengenai kedua raja itu, yaitu siapakah sesungguhnya yang Raja Raden dan yang Si Ujud itu. Jika mengikuti pendapat Hoesein Djajadiningrat; maka Sultan AlaidinRiayat Syah III sendirilah sebagai Raja Si Ujud,,yang tidak lama sesudah penangkapannya diperbolehkan kembali ke negerinya, sementara Raja Abdullah (Raja Sebrang) yang kawin dengan adik perempuan Sultan Iskandar Muda dan tetap tinggal di Aceh adalah Raja Raden.





Raja Sebrang dan Si Ujud = Alaidin. Akan tetapi hal itu bertentangan dengan pendapat Roeffaer, bahwa Raja Sebrang dikirim kembali /dipulangkan ke Johor sebagai pengganti saudara laki-lakinya, yang berarti itu adalah Raja Raden.





Alaidin dan Si Ujud = Raja Sebrang. Namun harus di sadari, meskipun suatu Epos itu berdasarkan pada peristiwa sejarah, harus diakui adanya karakter yang bersifat sangat lagendaris. Data-data darinya memang bisa diambil untuk mengisi kekosongan-kekosongan data dalam pengetahuan sejarah- yang untuk itu orang harus sangat berhati-hati. Demikian juga hal itu ditemukan argumentasi yang mengkritisi HMD, yaitu pendapat Hoesein dan Rouffaer yang sebelumnya.





Pertama adalah adanya saling hubungan famili: Alaidin adalah kakak laki-laki Raja Sebrang . Kemudian. salah satu nama dari Raja Sebrang berbunyi : “Raja Bungsu” yang berarti “termuda”. Demikian juga persaudaraan itu hanya bersifat pengakuan saja, sama yang seperti tersebut dalam Sejarah Melayu. Diperkirakan juga bahwa penangkapan hubungan persaudaraan adik dan kakak ini karena yang terakhir itu adalah yang sesungguhnya sebagai raja yang memerintah. Hal ini banyak sekali disebutkan dalam Sejarah Melayu. Dalam HMD Si Ujud memanggil Raja Raden dengan sebutan “dalem” yaitu berarti abang atau “saudara tua” dan sebaliknya Raja Raden memanggil Si Ujud dengan sebutan “adoe” yang berarti adik atau “saudara muda”.





Akhirnya terdapat karakter ( tabiat ) khas dari kedua raja itu; sejauh yang diperoleh dari berita-berita. Secara umum berita-berita itu menjelaskan, bahwa Alaidin adalah pengantuk dan raja yang tidak punya watak, yang mengabaikan pemerintahannya dan menyerahkannya kepada saudara laki-lakinya Raja Sebrang, yang mempunyai sifat sebaliknya yaitu orang yang tegas dan terpercaya. 





Adalah aneh bahwa Alaidin yang pengantuk ini, yang di kembalikan oleh Sultan Aceh dan dibawah pengawasan orang Aceh, tiba-tiba melakukan gerakan melawan Aceh, sementara ia juga harus kehilangan dukungan dari saudaranya. Karakter yang demikian itu lebih cocok bagi Raja Raden/ Raja Sebrang. Tetapi bertentangan dengan yang tersebut di atas masih terdapat beberapa kesulitan untuk dipahami.





Demikianlah, menurut HMD bahwa Raja Raden (dalam hal ini adalah Alaidin) Tetapi menurut data-data historis adalah Raja Sebrang (dalam hal ini adalah Raja Si Ujud) menikah dengan saudara perempuan Iskandar Muda. Dalam hal ini masih bisa dipertanyakan. Berdasarkan berita-berita Eropa hanya membicarakan mengenai penangkapan Raja Sebrang pada tahun 1613, dan tidak ada keterangan dari berita-berita itu mengenai adanya perkawinan. Oleh karena itu harus diterima, bahwa kedua saudara itu memang ditawan dan dibawa ke Aceh. Tetapi lebih mungkin, bahwa bukan Raja Sebrang yang dinikahkan, melainkan Alaidin. Namun demikian argumen ini juga belum bisa dikatakan kuat.


.


Setelah menyimak beragam pendapat tentang persoalan di atas, maka H.K.J. Cowan berpendapat sebagai berikut :





“Berdasarkan keraguan-keraguan yang telah disebutkan di atas, maka apakah saya (H.K.J. Cowan) akan mengikuti salah satu pendapat tersebut di atas, yaitu sehubungan dengan persoalan identifikasi bahwa Raja Raden adalah Alaidin dan Si Ujud adalah Raja Sebrang atau sebaliknya. Ternyata keraguan itu menjadi lebih besar; setelah saya mengetahui isi hikayat (tulisan tangan) yang ada pada saya.




Menurut hikayat ini Si Ujud tidak dibunuh di Aceh, tetapi ia berhasil meloloskan diri dari penjara dan via Banang ia berhasil tiba di Guha, dan di sana ia diterima dengan suka cita oleh isteri-isterinya. Tidak lama setelah itu ia meninggal dunia. Setelah dimakamkan, isterinya-isterinya mengirim orang ke Aceh untuk memohon kepada Raja Raden untuk menjadi penggantinya. Sultan Iskandar Muda menyetujui permintaan itu dan menyuruh saudara perempuannya (Putroe ijo) ikut pergi dengan Raja Raden ke Johor. Tetapi ia ditinggalkan di Johor lama, sedangkan Raja Raden melanjutkan perjalanan melalui Johor Bali ke Guha. Kelima isteri Si Ujud memeluk Islam.








Sampai disini ada kekosongan (hilang) sebanyak 2.5 halaman dalam hikayat sehingga kelanjutan cerita menjadi sangat tidak jelas. Ada dibicarakan mengenai seorang “Teungku” yang dalam petualangannya sampai di Johor lama, dan disitu ia menjadi sangat terkenal. Pada suatu hari ia di panggil oleh “Malem/Ulama setempat” untuk menjalankan ibadah shalat jum’at di mesjid, tetapi nampaknya ia tidak mau, sebab menurutnya bukan hari Jum’at (disini ada kekosongan halaman lagi). Selanjutnya cerita dimulai lagi dengan percakapan antara “Teungku” dengan Putroe Hijo, yang ternyata keduanya berjanji untuk pergi secara diam-diam.





Pada suatu malam ia disuruh menenggelamkan kapal di sungai satu persatu dengan menggunakan bor, sementara ia sendiri berlayar ke pulau Weh. Sampai disana “Teungku” memberi tahu bahwa ia ingin menjual barang berharga (mahal), yang oleh karena itu Sultan Iskandar Muda berangkat ke kapal Teungku itu. Ketika ia melihat saudara perempuannya, keduanya jatuh pingsan. Selanjutnya keduanya dibawa masuk sebagai satu-satunya hadiah “Teungku”, yang ingin menerima pembebasan anak-anaknya, dan sampai disini tulisan tangan (Hikayat) tiba-tiba berakhir.





Apa yang harus kita lihat dalam episode ini? Mengenai adanya penambahan fantastis oleh penyalin hikayat, memang hal semacam itu sering terjadi. Atau apakah kita dalam hal ini bisa mengetahui gema (informasi) yang mengakibatkan dilaksanakannya ekspedisi Aceh ke tiga terhadap Sultan Johor pada tahun 1623, dimana raja yang tersebut terakhir itu dikejar sampai Lingga dan Tambela, pada tahun itu juga akhirnya ia meniggal? Sesungguhnya mengenai hal itu kita bisa menemukan dalam berita-berita sejarah mengenai pemulangan kembali ke Aceh saudara perempuan Iskandar Muda yang telah menjadi isteri Raja Johor oleh Raja Johor sendiri.





Selanjutnya episode ini bisa sesuai dengan data historis, bahwa saudara laki-laki yang lain telah menggantikannya, dan pergantian itu terjadi sesudah berhasilnya ekspedisi tahun 1615, yaitu sesudah meninggalnya saudara laki-lakinya yang lain. Jika kesesuaian ini bukan merupakan kebetulan, mengingat menurut data historis Abdullah adalah yang menggantikannya, maka Raja Raden dalam hikayat yang kami punya adalah sama dengan Radja Abdullah dan yang berarti juga bukan Raja Si Ujud. Dengan demikian juga benarlah pendapat Hoesein Djajaningrat, bahwa Alaidin sendiri adalah yang di pulangkan ke Johor, sementara pendapat Roeffaer tidak benar“.





Mengenai para pelaku cerita dipihak Aceh, beberapa sumber memberitahukan saya (T.A..Sakti), bahwa makam Ya Madinah terdapat di Meureudu, Pidie, makam Panglima Pidie ada di Keulibeuet, Pidie. Sementara Makam Raja Raden terdapat dekat Gunongan di Banda Aceh.



Dimana makam Malem Dagang dan Raja Si Ujud? Kalau kedua tokoh penting HMD tidak diketahui jajaknya, timbullah pertanyaan apakah keduanya tokoh nyata atau hanya tohoh khayalan pengarang HMD?

Berumur 20 tahun, Inilah Politisi Inggris Termuda dan Pernah Dianggap Gila





Mhairi Black merupakan anggota parlemen Inggris termuda berusia 20 tahun. Politikus asal Partai Nasional Skotlandia (SNP) ini mampu mengalahkan politikus senior Partai Buruh Douglas Alexanderpada pemiluparlemen Inggris, Kamis (7/5) lalu.



Black mampu mengakhiri pengaruh Partai Buruh selama 70 tahun di Devon, Skotlandia, Inggris. Black mampu meraih 23.548 suara sehingga mengalahkan Alexander dengan 17.864 suara. Padahal, Alexander menjadi anggota parlemen di wilayah tersebut sejak 1997.



Banyak kata yang digunakan untuk menggambarkannya: wajah baru, impresif, dan batu api. Black sebagai figur favorit karena dia adalah politikus baru yang belum tersentuh banyak kepentingan menjadikan. Mahasiswi berusia 20 tahun itu memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang Christopher Monck yang terpilih menjadi anggota parlemen saat berusia 13 tahun pada 1667.



Black juga mengalahkan rekor politikus termuda asal Partai Liberal Demokrat Charles Kennedy yang terpilih di Westminster pada usia 23 tahun pada 1983. ”Saya mungkin anggota parlemen termuda, tapi saya akan berjuang untuk semua orang. Saya akan memperjuangkan berbagai isu yang berdampak bagi anak muda,” kata Black kepada BBC.



”Apa pun pandangan Anda tentang masa depan Skotlandia, saya akan mewakili Anda dengan kemampuan terbaik yang saya miliki,” kata Black pada pidato kemenangannya. Saat mendaftar untuk maju sebagai kandidat anggota parlemen, Black ditertawakan temanteman kuliahnya.



”Teman saya menganggap apa yang saya lakukan sedikit gila. Namun, ada juga kawan yang memuji dengan aksi saya sebagai sesuatu yang hebat,” ujarnya. Setelah menang, menurut dia, banyak teman yang terkejut dengan proses perubahan yang diusungnya. Selama berkampanye, Black mengenakan celana jeans dan kaus.



Dia juga sering bergerak sendiri. Namun demikian, dia juga memiliki kantor tim pemenangan di Paisley. Kantornya sederhana dan keren. Alan Black, ayahnya, menjadi manajer kampanye. ”Maju sebagai anggota parlemen merupakan wawancara pekerjaan paling lama,” ungkapnya. Strategi yang digunakan Black untuk menggaet suara rakyat yaitu dengan memanfaatkan media sosial. Media sosial menjadi alat komunikasi politik antara Black dan para pendukungnya.



Banyak warga yang menyampaikan aspirasi untuk diperjuangkan. Mahasiswi semester akhir Universitas Glasgow itu tidak hanya berbicara tentang program politik, tetapi juga berbicara mengenai aktivitas sehariharinya. Dia juga mengunggah minuman favoritnya dan berbicara tentang menu makan siangnya.



”Menyadarkan publik dengan hal-hal yang ringan. Itulah tip sukses menjadi anggota parlemen,” ungkapnya kepada CNN. Anak muda yang maju menjadi anggota parlemen pada usia 20 tahun merupakan suatu hal yang jarang terjadi. Masyarakat sering memilih kandidat parlemen berdasarkan haluan politik, estetika, umur, dan gender. ”Masyarakat melihat saya sebagai politikus yang membawa udara segar,” tutur Black.



Naiknya Black sebagai anggota parlemen merupakan efek dari badai politik di Skotlandia. Berdirinya Partai SNP beberapa waktu lalu memberikan semangat nasionalisme. Ditambah dengan adanya referendum Skotlandia beberapa waktu lalu yang juga mengubah pola pikir warga. ”Pemilu ini tentang membuat suara untuk konstitusi dan seluruh Skotlandia bisa lebih terdengar di Westminster dibandingkan sebelum- sebelumnya,” kata Black.

Rabu, 06 Mei 2015

Cerita Teman Masa Kecil: Invasi AS ke Irak Mengubah Al-Baghdadi Selamanya






Untuk pertama kalinya, terungkap sebuah biografi tentang Abu Bakr Baghdadi.




Pemimpin Daulah Islam ISIS Abu Bakr Al Baghdadi adalah seorang sosok yang misterius. Dia diketahui berusia 43 tahun lahir di Samara, Irak dan memimpin ISIS pada 2010.





Dimata temannya, Al Baghdadi ternyata tidak dikenal sebagai sosok yang menonjol di mata tetangga dan teman-temannya dahulu. Hal itu terungkap dari sebuah wawancara dengan seorang teman pria bernama asli Ibrahim Awad Ibrahim Badri itu.





Seorang teman Al Baghdadi ketika mereka tinggal di sebuah lingkungan perkotaan di Baghdad pada 1990 bernama Abu Muhammad bercerita. Ia mengenang kehidupan Al Baghdadi saat menuntut ilmu syariah Islam dan sebelum dikenal sebagai pemimpin ISIS yang menguasai beberapa wilayah di Irak dan Suriah itu.





Abu Muhammad mengaku dia tidak menyangka orang setenang Sheikh Ibrahim–begitu Al Baghdadi dipanggil sewaktu di Topchi, Baghdad akan menjadi seorang pemimpin ISIS yang kejam.





Dia mengenang Sheikh Ibrahim sebagai seorang pegawai pemerintah Baghdad yang mengajari anak-anak ilmu syariah dan membaca Alquran.





“Dia adalah orang biasa, sama sekali bukan orang yang terlalu religius. Sekali waktu saya membawa anak saya pergi ke rumahnya karena banyak anak-anak di lingkungan kami pergi ke sana dan mendengarnya membaca Alquran. Dia mengatakan, pada saya ‘jika Alquran ini dapat membantu saya akan mengobati anak saya dengan bantuannya,’ katanya. Anaknya sangat energetik. Dia tidak dapat mengontrolnya,” kenang Abu Muhammad seperti yang dilansir ABNA, Rabu (6/5/2015).





Teman masa remajanya itu mengatakan, Pemimpin militan ISIS itu diketahui memiliki hobi bermain sepakbola di masa mudanya.





“Kami bermain sepakbola di lingkungan kami. Kami bermain dekat dengan masjid. Sheikh Ibrahim terluka parah di kaki. Karena itu saya sudah akrab dengan bantuan medis, saya membantunya menyembuhkan cedera,” kata Abu Muhammad.





Abu Muhammad, bukan nama sebenarnya, terkejut ketika mengetahui Baghdadi kini menjadi orang paling ditakuti di dunia.





“Kemudian, ketika saya melihat wajah barunya, saya sangat menyesal setelah apa yang saya lakukan terhadapnya. Saya selalu memberitahu keluarga saya bahwa, jika saya tahu bahwa dia akan menjadi orang paling ditakuti di dunia, saya tidak akan pernah mendekatinya dan akan mematahkan kakinya bukan memperbaikinya,” sambung Abu Muhammad.





“Tapi dia adalah seorang pemain sepakbola yang hebat. Itu sulit untuk menghentikannya,” lanjutnya.





Bagi Abu Muhammad, Al Baghdadi tidak tampak seperti seorang yang memiliki kemampuan memimpin, terlebih kelompok militan sebesar ISIS. Dia juga mengingat Al Baghdadi berpakaian layaknya orang biasa dengan celana panjang dan kaus, dan sesekali menggunakan kemeja ketika memiliki keperluan ke kantor pemerintah.



“Dia tidak memiliki kemampuan khusus untuk memimpin sebuah kelompok, begitu juga penampilannya sama sekali tidak menonjol. Dia mengenakan kaus dan celana sederhana. Terkadang kemeja saat dia pergi ke kantor pemerintah untuk mengurus sesuatu. Tapi dia mengenakan jubah Arab ketika dia sedang berkhotbah. Ketika sedang di masjid dia mengenakan pakaian khas Arab, dishdasha (pakaian panjang yang dikenakan pria Arab),” lanjut Abu Muhammad.



Al Baghdadi, menurut Abu Muhammad, berubah semenjak serangan Amerika Serikat (AS) ke Irak pada 2003. Serangan tersebut menewaskan teman-teman dan murid-murid Al Baghdadi. Abu Muhammad juga berpendapat hal itulah yang mengubah sosok Sheikh Ibrahim yang dikenalnya menjadi monster seperti Abu Bakr Al Baghdadi yang dikenal orang-orang saat ini.



“Sebagian besar teman-teman Sheikh Ibrahim terbunuh dalam perang melawan AS pada 2003. Sheikh Ibrahim menghilang dari Topchi pada 2004 dan tidak pernah terlihat lagi di sana,” kenangnya.



“Yang menarik adalah, Sheikh Ibrahim sangat berbeda sebelum dia mendirikan ISIS. Meskipun dia seorang yang taat beragama, tidak ada yang menyangka dia akan menjadi seorang militan. Namun, semua berubah secara drastis setelah invasi AS dan munculnya gerakan militan. Saya perah melihat dia di Fallujah dan bertanya kepadanya apa yang dia lakukan di sana? Dia menjawab ‘Saya berperang dengan AS sekarang’, beberapa waktu kemudian dia ditangkap oleh AS dan dipenjara lalu dia muncul di televisi memberi ceramah di Masjid Mosul,” tambahnya.



Sebuah dokumen yang muncul bulan lalu menimbulkan dugaan bahwa Al Baghdadi hanyalah sebuah sosok pemimpin yang menjadi kedok bagi ISIS. Pemimpin ISIS sesungguhnya adalah para pejabat intelijen dari pemerintahan mantan Presiden Irak Saddam Hussein, yang membentuk ISIS untuk tujuan menguasai wilayah Irak dan Suriah.



Abu Bakr Al Baghdadi saat ini dilaporkan sedang dalam keadaan terluka parah akibat serangan udara yang dilancarkan AS Maret lalu. Dia dikabarkan tidak lagi memimpin ISIS dan diduga posisi itu akan diisi oleh wakilnya Abu Alaa Al Afr.

Selasa, 05 Mei 2015

Kunci Sukses Jualan Online CEO Bukalapak.com






Membangun bisnis online memang tidak mudah. Kuncinya adalah pantang menyerah, teruslah mencoba. Anda juga harus tekun dan fokus menjalankan bisnis tersebut. Inilah yang dilakukan Bukalapak.com.





Founder sekaligus CEO Bukalapak.com, Achmad Zaky, mengaku bahwa pada awalnya banyak yang tidak percaya dan banyak yang tidak mau diajak bekerja sama menjalankan Bukalapak.com. Namun pada akhirnya ia dan teman-temannya bisa meraih kesuksesan.





"Kuncinya menurut saya harus mencoba terus sampai berhasil. Belum tentu saat mencoba terus gagal, itu ending-nya. Bisa jadi setelah mencoba yang kedua kalinya bisa berhasil," kata Zaky.





Menanggapi banyaknya situs e-commerce di Indonesia yang mendapat investasi dari pihak asing, Zaky menyambut baik hal ini. Menurutnya ini menunjukkan pasar Indonesia sangat menarik. Namun Zaky menyatakan perlu ada startup yang punya success story yang luar biasa agar investor puas dan balik lagi menanamkan dananya.





"Jangan sampai hit and run, mereka invest lalu exit dan tidak invest lagi karena gak menarik lagi," tutur Zaky.





Zaky mengaku pihaknya tidak pernah menawarkan Bukalapak.com kepada investor. Sebaliknya, mereka kebanyakan didekati oleh para investor.





"Menurut saya kuncinya adalah fokus di perusahaannya. Kalau perusahaannya sudah jalan, saya kira diam saja banyak investor yang tertarik. Balik lagi ke success story, walaupun dalam tahap kecil. Misalnya saat Bukalapak.com mencapai 10.000 pengguna, itu gak gampang," tandasnya.





Bukalapak.com tahun ini menargetkan proses transaksi mencapai Rp 2 triliun. Salah satu barang dagangan yang laris manis dijajakan di Bukalapak.com adalah batu mulia, nilainya bisa mencapai Rp 5 miliar lebih untuk batu mulia saja.





Zaky menilai, ini menunjukkan masih banyak potensi lokal yang belum tergali. "Batu mulia dulu kesannya kelas bawah, tapi sekarang menjadi tren dan banyak seleb dan pejabat yang pakai, ternyata produk lokal juga bisa naik kelas," imbuhnya.





liputan6.com

Senin, 04 Mei 2015

Gary Webb, Wartawan AS yang 'Dibunuh' karena Ungkap Kebusukan CIA





*Nobar film "Kill the Messenger"







Kill the Messenger

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Kediri memperingati Hari Kebebasan Pers Se-dunia, 3 Mei 2015, dengan menggelar nonton bareng (nobar) film "Kill the Messenger".





Film besutan sutradara Michael Cuesta ini diangkat dari kisah nyata pemenang pulitzer prize-winning journalist, Gary Webb.





Film bercerita tentang pekerja media yang mengungkap borok agen (Central Intelligence Agency) CIA Amerika Serikat, terkait konspirasi penyelundupan obat bius dan benang merah perdagangan senjata pemberontak di Nikaragua.





"Film ini diproduksi tahun 2014. Ada sejumlah adegan yang mempraktikkan metode investigasi jurnalistik. Kemudian juga munculnya tekanan yang mengancam karier dan keluarganya, seiring pemberitaan, " ujar Sekretaris AJI Kediri Fadli Rahmawan, Minggu (3/52015).





Tidak hanya sekedar menikmati suguhan visual, para jurnalis AJI Kediri, insan film Tulungagung, seniman dan mahasiswa juga membedah pesan yang disampaikan film itu.





Film "Kill the Messenger", dinilai sebagai karya sinema yang mampu menginspirasi para jurnalis di Indonesia, khususnya wartawan eks Karsidenan Kediri. Gary Webb telah memberikan keteladanan. Webb mengajarkan bagaimana kebenaran yang tersembunyi bisa diungkap dengan investigasi.





Sekilas Sejarah Gary Webb




Suatu hari di bulan Desember 2004, Gary Webb ditemukan tewas di rumahnya dengan dua luka tembak di kepalanya. Petugas menyatakan Webb bunuh diri.





Dalam sepucuk surat kepada istrinya yang ditemukan tak lama kemudian, Webb antara lain menulis: “Katakan kepada mereka, saya tidak pernah menyesali apapun yang telah saya tulis.”








Apa yang Webb tulis adalah laporan bersambung dengan judul Dark Alliance. Laporan investigatif yang diterbitkan di koran San Jose Mercury News pada 1996 ini berisi tentang apa yang disebut sebagai ‘koneksi antara pedagang kokain dan CIA’ untuk menghimpun dana dukungan bagi organisasi Contra yang menentang pemerintahan Sandinista di Nikaragua. Dalam upaya membendung menguatnya aliran kiri di Amerika Latin, pemerintahan Ronald Reagan mendukung perlawanan Contra.





Tiga tulisan dalam laporan bersambung itu memicu kontroversi di AS pada masanya. Karena serangan dari media utama di AS terhadap laporan itu, Webb mengalami tekanan dari editor atasannya. Mereka menyangsikan kebenaran laporan Webb. CIA, menurut para pengritik Webb, tidak dapat disalahkan atas maraknya peredaran kokain pada tahun 1980an—yang menjadi subyek investigasi Webb.





Tekanan situasi yang semakin kuat memaksa Webb mundur dari pekerjaannya. Setelah sempat berpindah-pindah tempat kerja, menulis serabutan, hingga akhirnya Webb tidak punya pekerjaan sama sekali untuk menopang kehidupan keluarganya—sebuah alasan yang kuat untuk menyebut bahwa Webb bunuh diri.





Nick Schou, jurnalis LA Weekly, mengisahkan kematian tragis Gary Webb dalam bukunya yang terbit perdana tahun 2006: Kill the Messenger: How the CIA’s Crack-Cocaine Controversy Destroyed Journalist Gary Webb. Menurut Webb, CIA mengetahui adanya transaksi kokain dan pengapalan narkoba dalam jumlah ke dalam wilayah AS oleh personel Contra.





Setelah kematian Webb, banyak peneliti mengkaji apa yang dilaporkan Webb dan mengakui kebenaran isi laporan yang tertuang dalam Dark Alliance. Nick Schou mengatakan, Los Angeles Times dan Chicago Tribune kini berbalik pikiran dan mendukung laporan Dark Alliance. Schou sebelumnya menulis banyak artikel mengenai kontroversi laporan Dark Alliance dan mungkin satu-satunya jurnalis yang mendukung Webb.





Tak lama lagi, sebuah film berdasarkan buku Nick Schou akan beredar dengan judul yang sama: Kill the Messenger. Aktor Jeremy Renner berusaha menampilkan permainan terbaiknya sebagai Gary Webb di bawah arahan sutradara Michael Cuesta. Seperti halnya serangan terhadap laporan Dark Alliance, film inipun sudah menuai serangan sebagai “film yang sepenuhnya fiksi”.





Kematian tragis Webb mengingatkan tentang betapa besar risiko yang dihadapi oleh jurnalis yang menginvestigasi kasus-kasus yang melibatkan kekuasaan. Di Rusia, jurnalis Anna Politkovskaya ditembak di lift dekat flat tempat tinggalnya pada 2006 dan hingga kini belum diketahui siapa orang dibalik peristiwa ini. Peristiwa serupa dialami Fuad Muhammad Syafruddin, dan hingga 18 tahun sesudah kematiannya, dalang pembunuhan Udin belum terungkap.





Buku Kill the Messenger mengangkat kisah yang memperingatkan siapapun yang menjadikan jurnalisme investigasi sebagai kariernya. Pesannya jelas: terlampau berbahaya untuk berbicara ihwal kebenaran kepada kekuasaan.

Minggu, 26 April 2015

Posisi Al-Baghdadi Diganti, ISIS Punya Khalifah Baru





Ibrahim al-Samarrai, khalifah ISIS yang mengganti nama menjadi Abu Bakr al-Baghdadi, dikabarkan 'lengser sementara' dan posisinya digantikan seorang mantan guru fisika.


Hisham al-Hashimi, penasehat keamanan pemerintah Irak, mengatakan Abu Alaa Afri -- wakil Abu Bakr al-Baghdadi dan mantan guru fisika -- resmi ditunjuk untuk menjalankan tugas-tugas kekhalifahan.


"Setelah Al-Baghdadi terluka, Afri sebenarnya langsung mengambil tugas kepemimpinan ISIS," ujar Al-Hashimi dalam wawancara dengan Newsweek.


Pernyataan Al-Hashimi muncul setelah Guardian memberitakan Al-Baghdadi terluka serius dan nyaris tewas dalam pemboman jet-jet tempur AS dan sekutu, pertengahan Maret lalu.


Al-Baghdadi masih menjalani perawatan intensif, dengan kemungkinan buruk tidak bisa tertolong. Afri, dibantu pejabat dalam portofolio organisasi ISIS, mengambil alih tanggung jawab.


"Jika Al-Baghdadi tewas, Afri serta merta akan menjadi khalifah," ujar Al-Hashimi.


Menurut Al-Hashimi, Afri kini lebih penting dari Al-Baghdadi. Afri tinggal di satu tempat di Al-Hadar di Mosul.







Mengutip sumber-sumber di Mosul, Afri terlihat menonjol dibanding pemimpin lain di bawah Al-Baghdadi sejak ISIS mengalami beberapa kekalahan di medan tempur. Ia mengambil keputusan penting, ketika Al-Baghdadi tidak mampu melakukannya.


Tidak ada penjelasan rinci mengenai Afri, selain sebagai mantan guru fisika. Yang pasti, dia bukan sekadar jihadis tapi juga teknokrat.


Membantah


ISIS sempat membantah kabar Khalifah Abu Bakr al-Baghdadi terluka akibat serangan bom, sekarat, dan posisinya digantikan seorang mantan guru fisika.


"Desas-desus Khalifah Abu Bakr al-Baghdadi terluka akibat serangan udara tidak berdasar," ujar Abu Assad Ansari, juru bicara ISIS, dalam khotbah Jumat di Mosul, seperti dikutip Rudaw.net.


"Dia berada di Anbar dan memimpin perang melawan Safawi," lanjutnya.


Safawi adalah sebutan untuk milisi Syiah, kemungkinan berasal dari Safavid -- dinasti yang pernah memimpin Iran.


Adalah koran Inggris The Guardian yang mengklaim Al-Baghdadi cedera serius dan sekarat akibat serangan jet tempur AS dan koalisi.


Terakhir, Newsweek -- yang mewawancarai pejabat Irak -- memberitakan Al-Baghdadi lengser dan tugas-tugasnya diambil alih Abu Alaa Afri -- wakilnya.

Sabtu, 25 April 2015

Gempa Nepal, Eksekutif Google Tewas Tertimbun Longsor Salju Everest





Dan Fredinburg, seorang eksekutif Google Inc yang berbasis di California, termasuk korban tewas akibat longsor di Gunung Everest menyusul gempa dahsyat di Nepal, kata perusahaan itu seperti dikutip Reuters.



Fredinburg tengah mendaki puncak tertinggi di dunia itu bersama tiga karyawan Google ketika longsor itu terjadi. Tak seorang pun dari tiga koleganya itu yang terluka, kata Lawrence You, dari Google, dalam pernyataan tertulisnya.



Fredinburg, seorang veteran Google, adalah kepala privasi Google X, yang adalah divisi riset perusahaan yang berkantor pusat di Mountain View, California, itu.



Fredinburg mengalami cedera hebat pada kepalanya akibat longsor itu, kata adik perempuannya Megan melalui media sosial.



"Hati dan semangatnya akan senantiasa hidup dalam diri kita semua," kata dia dalam posting Instagram.



Fredinburg, pendaki berpengalaman, kerap mendaki Everest bersama Jagged Globe, perusahaan yang mengorganisasi pendakian gunung. Memastikan kematian Fredinburg, perusahaan ini mengatakan bahwa dua anggota tim lainnya mengalami cedera dalam longsor yang menggerus base camp mereka.



Cuaca Buruk Hambat Penyelamatan Pendaki Everest



Satu tim divisi gunung pasukan India menemukan 18 mayat di Everest, sedangkan Kementerian Pariwisata Nepal hanya bisa memastikan 10 orang meninggal dunia, namun juru bicaranya mengatakan jumlah yang mati kemungkinan terus bertambah.



Gempa dahsyat yang terjadi Sabtu dan berpusat di dua kota terbesar Nepal --Kathmandu dan Pokhara-- itu adalah gempa terkuat yang menimpa negara miskin berpenduduk 28 tahun itu dalam 81 tahun terakhir. Gempa ini menewaskan sekitar 1.400 orang.

Rabu, 22 April 2015

Nenek Kandung Obama Umrah ke Makkah






SARA Omar, nenek Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, melakukan ibadah umrah. Ia tiba di Mekkad dengan anaknya Saeed Obama, paman dari Obama dan cucunya, Mousa, Kamis (23/4/2015). Demikian dilansir oleh Arab News.





Dalam kesempatan itu Sara mengatakan bahwa peran Rasulullah Muhammad SAW sangat penting dalam mencerminkan ajaran Islam moderat. Sara juga menyerukan toleransi dan menolak kekerasan. Sara meminta kepada pemerintah Saudi untuk memperluas dua masjid suci.





Sara menekankan umat Muslim dunia untuk meniru perilaku Nabi Muhammad dalam menjalankan ajaran Islam yang moderat, toleransi dan menolak kekerasan.





Sara datang ke Makkah dengan putranya, Saeed Obama (paman dari Presiden Obama) dan cucunya, Mousa Obama, untuk menjalankan ibadah umrah.










Sara memuji upaya Pemerintah Saudi untuk memperluas dua masjid suci. Sara dan anggota keluarganya mengunjungi pameran terkait Nabi, yang terletak di Distrik Naseem, yang ditempuh dua jam dari Makkah.





“Saya sangat senang untuk mengunjungi pameran ini, yang merupakan contoh yang baik untuk penyebaran Islam dengan cara modern, yangdidukung oleh dokumen ilmiah dan otentik,” kata Sara, seperti dilansir Arab News, Kamis (23/4/2015).





Mendiang ayah Presiden Obama, yang juga bernama Hussein Obama, berasal dari sebuah desa kecil di dekat tepian Danau Victoria, Kenya. Dia bertemu ibu kandung Obama, Ann Dunham, seorang wanita kulit putih warga Amerika, di Hawaii di mana keduanya memiliki seorang putra sebelum akhirnya bercerai.

Rabu, 15 April 2015

Perempuan Tangguh Pahlawan Tiga Zaman, Malahayati





Perempuan itu berteriak lantang dari atas kapal. Suaranya beradu nyaring dengan gelegar meriam. Tegas. Memberi komando kepada pasukan perempuan di palagan perang.


Pada masa kejayaan Aceh, akhir abad 15 masehi, Aceh melahirkan seorang tokoh wanita tangguh, bernama Keumalahayati, ia lebih terkenal dengan sebutan Malahayati. Adapun nama Keumala dalam bahasa Aceh itu sama dengan Keumala yang berarti sebuah batu yang indah dan bercahaya.


Berdasarkan sebuah manuskrip yang tersimpan di University Kebangsaan Malaysia din berangka tahun 1254 H atau sekitar tahun 1875 M, Keumalahayati berasal dari kalangan bangsawan Aceh, dari kalangan sultan-sultan Aceh terdahulu.


Dia adalah muslimah pertama dunia yang menjadi laksamana di zaman pelayaran modern. Saat sebagian besar rakyat negeri ini belum memikirkan emansipasi, dia sudah mendobrak batas-batas gender yang baru dibincangkan kemudian.


Nama Malahayati mudah ditemukan di literatur Barat maupun China. Di Indonesia, dia memang tidak sepopuler Cut Nyak Dien, namun oleh peneliti barat, Malahayati disejajarkan dengan Semiramis, Permaisuri Raja Babilonia dan Katherina II, Kaisar Rusia.


Ia hidup di masa Kerajaan Atjeh Darussalam dipimpin oleh Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV yang memerintah antara tahun 1589-1604 M.


Ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530-1539 M. Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. (Rusdi Sufi, 1994 : 30-33).


Jika dilihat dari silsilah Keumalahayati dapat dipastikan bahwa dirinya berasal dari darah biru, yang merupakan keluarga bangsawan Istana. Ayah dan kakeknya Malahayati pernah menjadi Laksamana Angkatan Laut, sehingga jiwa bahari yang dimiliki oleh ayah dan kakeknya sangat berpengaruh pada perkembangan pribadinya, seperti kata pepatah, "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya".


Oleh karena sang ayah dan kakeknya seorang Panglima angkatan Laut, maka jiwa bahari tersebut dapat diwarisi oleh Malahayati. Kendatipun dirinya hanya seorang wanita, ia juga ingin menjadi seorang pelaut yang gagah berani seperti ayah dan kakeknya.


Malahayati pada awalnya adalah dipercaya sebagai kepala pengawal dan protokol di dalam dan luar istana. Karir militernya menanjak setelah kesuksesannya “menghajar” kapal perang Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Cornelis de Houtman yang terkenal kejam. Bahkan Cornelis de Houtman tewas ditangan Malahayati pada pertempuran satu lawan satu di geladak kapal pada 11 September 1599.


Masa Gadis


Pada masa Malahayati masih gadis remaja, Kerajaan Aceh telah memiliki Akademi Militer yang bernama Mahad Baitul Maqdis, yang terdiri dari jurusan Angkatan Darat dan Laut, dengan para instrukturnya sebagian berasal dari Turki.



Sebagai anak seorang Panglima Angkatan Laut, Keumalahayati mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan yang ia inginkan. Setelah melalui pendidikan agama di meunasah, dan dayah.


Malahayati berniat mengikuti karir ayahnya yang pada waktu itu telah menjadi Laksamana. Sebagai seorang anak yang mewarisi darah bahari, Keumalahayati bercita-cita ingin menjadi pelaut yang tangguh. Untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pelaut, ia kemudian ikut mendaftarkan diri dalam penerimaan calon taruna di Akademi Militer Mahad Baitul Maqdis.


Cucu dari Laksamana Muhammad Said Syah ini terbilang istimewa. Keleluasaannya memilih jenjang pendidikan itu dilandasi atas kecerdasan yang dimiliki.


Berkat kecerdasan dan ketangkasannya, ia diterima sebagai siswa taruna akademi militer tersebut. Pendidikan militer pada tahun pertama dan kedua ia lalui dengan sangat baik, karena ternyata ia adalah seorang taruna wanita yang berprestasi sangat memuaskan.


Sebagai taruna yang cakap dan mempunyai prestasi yang sangat menonjol telah membuat la sangat dikenal di kalangan para taruna lainnya, termasuk juga para taruna yang setingkat lebih tinggi dari dirinya. Maka tidak mengherankan kalau banyak mahasiswa di Akademi Militer tersebut yang sayang padanya. 


Bahkan banyak pula yang telah tertambat hatinya pada wanita tersebut. Namun di antara sekian banyak taruna laki-laki yang jatuh cinta padanya, tidak ada yang berkenan di hatinya. la lebih mementingkan pendidikannya dari pada memikirkan hal-hal yang menurutnya belum saatnya untuk dilakukan.


Sebagai siswa yang berprestasi di Akademi Militer Mahad Baitul Maqdis, Keumala berhak memilih jurusan yang ia inginkan. Sebagai seorang anak yang mewarisi darah bahari, ia memilih jurusan Angkatan Laut. 


Maklum karena sejak kecil jiwa pelaut telah ditanam oleh ayah dan kakeknya. Dalam masa-masa pendidikan militernya, ia berhasil dengan mudah melahap semua ilmu-ilmu yang diberikan oleh para instrukturnya.


Prestasi Malahayati tersebar di lingkungan istana. Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil pada masa pemerintahan 1589 M--1604 M mengangkat Malahayati sebagai komandan protokol Istana Darud-Dunia di Kesultanan Aceh Darussalam.


Jabatan ini menuntutnya piawai menguasai wawasan etika dan keprotokolan.


Pada suatu saat di Kampus Akademi Militer Mahad Baihil makdis tersebut, Keumala berkenalan dengan seorang calon perwira laut yang lebih senior dari dirinya. Perkenalan berlanjut hingga membuahkan benih-benih kasih sayang.


Keduanya akhirnya sepakat menjalin cinta. Setelah tamat pendidikan di Akademi Militer Mahad Baitul Maqdis, keduanya akhirya menikah sebagai suami-istri. Sayang, identitas suaminya tidak terlalu terungkap di berbagai manuskrip.


Suaminya disebutkan gugur di palagan Selat Malaka ketika melawan Portugis.


Pasukan Inong Balee (wanita janda)





Laksamana Keumalahayati
Setelah suaminya gugur, Malahayati memohon kepada Sultan al-Mukammil, raja Aceh yang berkuasa dari 1596-1604, untuk membentuk armada perang. Prajuritnya adalah para janda pejuang Aceh yang gugur dalam pertempuran di Selat Malaka itu.


Gayung bersambut. Saat itu Kerajaan Aceh memang tengah meningkatkan keamanan karena gangguan Portugis. Usul membentuk armada dikabulkan, Malahayati diangkat jadi Panglima Armada Inong Balee atau Armada Perempuan Janda. 


Ia didaulat sebagai laksamana. Sejak itulah gelar laksamana angkatan laut perempuan pertama ia sandang.


Pasukan itu bermarkas di Teluk Lamreh Krueng Raya. Benteng Kuto Inong Balee dengan tinggi sekitar tiga meter dibangun. Lengkap dengan meriam. Sisa-sisa benteng itu kini masih bisa dilihat di Aceh.


Sebagai seorang laksamana angkatan laut, peran Malahayati sangat krusial. Debut pertempuran perdananya ialah melawan Portugis di perairan Selat Malaka.


Tak hanya menyusun pertahanan di darat. Pasukan Inong Balee dilengkapi seratus lebih kapal perang. Pasukan yang semula hanya 1000 orang, lama-lama bertambah hingga mencapai 2000 pasukan. Armada asing yang melintas di Selat Malaka pun menjadi gentar.


Tak jauh dari pangkalan militer tersebut, Malahayati juga membangun Benteng Inong Balee. Kekuatan armada pimpinan Malahayati terbilang luar biasa. Ini terbukti dengan sepak terjangnya selama mengawasi Pelabuhan Syahbandar.


Mata uang dan koin emas


John Davis, seorang berkebangsaan Inggris, nahkoda di sebuah kapal Belanda yang mengunjungi Kerajaan Aceh pada masa Malahayati menjadi Laksamana. melaporkan, Kerajaan Aceh pada masa itu mempunyai perlengkapan armada laut terdiri dari 100 buah kapal perang, diantaranya ada yang berkapasitas 400 - 500 penumpang. 


Pada saat Malahayati menjadi laksamana, komoditas ekonomi yang dihasilkan bumi dan laut Aceh dan daerah-daerah Semenanjung Melayu sangat melimpah ruah sehingga banyak digemari bangsa Barat seperti Belanda, Portugis, dan Inggris. Di antara komoditas andalan Aceh adalah lada dan rempah-rempah. 


Aceh begitu terbuka untuk bekerja sama dengan mereka, tetapi sayang bangsa-bangsa Barat yang rakus dan ingin menguasai komoditas yang bukan hak mereka dengan berbagai cara mulai dan trik halus seperti membuat perjanjian dagang sampai yang paling kasar menyerang Aceh. 


Pada saat itu, Aceh telah menggunakan uang resmi yang digunakan sebagai alat tukar dalam perdagangan antar bangsa. Mata uang yang berbedar saat itu adalah ringgit dan dirham Aceh, rial cap meriam Portugis, ringgit cap matahari Jepang dan ringgit cap tongkat lnggeris. Uang yang diterbitkan Aceh terbuat dari tembaga, perak dan emas. 


Masa itu Kerajaan Aceh memiliki angkatan perang yang kuat. Selain memiliki armada laut, di darat ada pasukan gajah. Kapal-kapal tersebut bahkan juga ditempatkan di daerah-daerah kekuasaan Aceh diberbagai tempat. Untuk menerbitkan uang ini, Aceh secara khusus mengundang ahli emas dan India dan ditempatkan di Kampung Pandee.


Membunuh Cornelis de Houtman





Cornelis De Houtman
Peran Malahayati berlangsung hingga masa perlawanan Belanda. Kekuatan Malahayati mendapat ujian pertamakalinya ketika terjadi kontak senjata antara Aceh dengan pihak Belanda. 


Pada tanggal 21 Juni 1599 saudagar Belanda datang di Aceh, mereka menggunakan kapal De Leeuw dan De Leeuwin. Dua kapal itu di bawah kendali dua orang bersaudara yakni Cornelis De Houtman dan Frederick De Houtman. 


Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama yang tiba di Indonesia. Pasukan ekspedisi dari Belanda itu yang baru saja selesai berperang dengan Kesultanan Banten.


Setibanya di Aceh, keduanya disambut dengan baik oleh Sultan di istana. Kedatangan dua orang bersaudara ini berhasil memikat Sultan sehingga Belanda diizinkan untuk melakukan perdagangan dengan Aceh sekaligus diizinkan untuk membuka kantor dagang di Aceh. 


Kerjasama ini dimanfaatkan Aceh untuk menyewa kapal-kapal Belanda yang akan digunakan untuk mengangkut pasukan ke Johor. Perjanjian sewa kapal itu ditandatangani tanggal 30 Juli 1599 dan direncanakan berangkat pada tanggal 11 September 1599. 


Namun sayang, menjelang keberangkatan pasukan Aceh ke Johor, pihak Belanda mengingkari perjanjian tersebut dan kapten kapal yang bernama J. Van. Hamskerek pun melarang pasukan Aceh naik ke atas kapal. Aceh tidak terima dengan perlakuan itu. 


Sebagian pasukan Aceh yang telah berada di atas kapal langsung marah dan mengamuk ketika Belanda menembaki beberapa pembesar Aceh yang masih berada di atas sampan termasuk kerabat sultan dan korban dan kedua belah pihak pun tidak bisa dihindari. 


Pertempuran antara pasukan Aceh dan Belanda di laut dilaporkan ke Sultan dan didengar Keumalahayati yang saat itu menjadi Panglima Pengawal lstana. Saat itu juga, Keumalahayati memberi komando pasukannya untuk berkumpul dan mengepung kantor perwakilan dagang Belanda. 


Di darat pun terjadi tembak-menembak antara pasukan Belanda dan anak buah Keumalahayati. Dalam waktu singkat pasukan Keumalahayati berhasil membuat pasukan Belanda menyerah setelah sebagian besar tewas di tangan anak buah Malahayati.


Dalam penyerangan itu, Cornelis de Houtman sendiri tewas ditangan Malahayati dan beberapa anak buahnya juga terbunuh. Sedangkan Federick de Houtman ditawan selama dua tahun dan dijebloskan ketahanan kerajaan Aceh.


Namun ketika mereka hendak membakar kantor dan gudang Belanda, Sultan melarang dan atas komandan Malahayati rencana untuk membakar gedung itu batal dilakukan demi mentaati perintah Sultan.


Negosiator Ulung





Jacob Cornelisz. van Neck
Tak kapok, Pada 21 November 1600, Belanda mengirim pasukan ke Malaka. Kali ini di bawah komando Paulus van Caerden. Mereka menjarah dan menenggelamkan kapal-kapal yang penuh rempah-rempah di pantai Aceh. 


Juni tahun berikutnya, Malahayati berhasil menangkap Laksamana Belanda, Jacob van Neck, yang tengah berlayar di pantai Aceh. Setelah berbagai insiden, Belanda mengirim surat diplomatik dan memohon maaf kepada Kesultanan Aceh melalui utusan Maurits van Oranjesent.


Peristiwa terbunuhnya de Houtman penawanan  Jacob Cornelisz van Neck, sesuatu yang menggegerkan bangsa Eropa dan terutama Belanda sekaligus menunjukkan kewibawaan Keumala ketika Mahkamah Amsterdam menjatuhkan hukuman denda kepada Van Caerden sebesar 50.000 gulden yang harus dibayarkan kepada Aceh.


Tak hanya sebagai laksamana, Malahayati ternyata juga merupakan sosok negosiator ulung.





Maurits van Oranje sent
Pada Agustus 1601, Malahayati memimpin Aceh untuk berunding dengan dua utusan Maurits van Oranje sent, Laksamana Laurens Bicker dan Gerard de Roy.



Mereka sepakat melakukan gencatan senjata. Belanda juga harus membayar 50 ribu gulden tersebut sebagai kompensasi penyerbuan yang dilakukan van Caerden.



Denda tersebut adalah buntut tindakan Paulus van Caerden ketika datang ke Aceh menggunakan dua kapal, menenggelamkan kapal dagang Aceh serta merampas muatannya berupa lada, lalu pergi meninggalkan Aceh. 


Malahayati memerintahkan pasukannya bergerak ke laut mengejar Belanda. Dengan armada sampan dan perahu kecil mereka mengejar kapal Belanda yang ukurannya lebih besar. 


Untuk mempercepat laju kapalnya, Belanda membuang sauh agar kapal cepat melaju di laut dan bebas bergerak menghindari kejaran pasukan Keumalahayati menuju pulau Ceylon. Namun keduanya dapat dikejar dan akhirnya ditahan di Aceh. 


Sampai ke telinga Elizabeth I




Sepak terjang Malahayati sampai juga ke telinga Ratu Elizabeth, penguasa Inggris. Tak seperti Portugis dan Belanda, Negeri raksasa itu memilih cara damai dengan Aceh saat hendak melintas Selat Malaka. Pada Juni 1602, Ratu Elizabeth I memilih mengutus Sir James Lancaster ke Aceh.


Sultan memerintahkan Laksamana Keumalahayati untuk menyambut kedatangan orang-orang Inggris. Sumber wikipedia menyebutkan Sir James Lancaster bersama rombongan pertama kali mendarat di Aceh pada 5 Juni 1602.



Surat baik-baik dari Ratu Elizabeth I yang dibawa oleh Lancaster untuk Sultan Aceh, membuka jalan bagi Inggris untuk menuju Jawa dan membuka pos dagang di Banten.



Ketika menyambut utusan Inggris. Laksamana Keumalahayati melaksanakan semua instruksi sultan dalam rangka penyambutan utusan Inggris yang pada saat itu sedang bermusuhan dengan Portugis. 





Sir James Lancaster
Ini dilakukan karena Laksamana Keumalahayati berpendapat bahwa bersahabat dengan Inggris Aceh akan mempunyai kekuatan dan bergaining yang lebih tinggi sehingga bisa dimanfaatkan untuk menghadapi Portugis. 


Sir James Lancaster dan para pengiringnya disambut dengan jamuan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah pada malam hari.  Selama di Aceh, Malahayati memberikan perlindungan penuh bagi utusan Inggris. 


Ini dibuktikan dengan kedatangan Keumalahayati di tempat penginapan Sir Lancaster pada sore hari pada pertama kedatangannya setelah pagi harinya didatangi seorang utusan yang menyampaikan surat khusus dari sultan.


Kedatangan Malahayati ke penginapan Sir Lancaster untuk memberi tanda mata berupa zamrud. Di samping itu, Malahayati juga membawa kabar penting tentang kedatangan 20 armada Portugis di Malaka dan akan ke perairan Aceh. 


Perempuan pemberani ini memberi saran kepada utusan Ratu Elizabeth agar segera meninggalkan Aceh untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Lancaster ingin tetap bertahan di Aceh namun Laksamana meyakinkan bahwa Portugis akan menimbulkan bencana jika Lancaster tetap di Aceh karena Portugis juga mengincar perdagangan dengan Aceh terutama lada namun belum mendapatkan izin dan Sultan Sayid Mukammil. 


Malahayati menjanjikan, jika Lancaster mau meninggalkan Aceh saat itu, ia berjanji akan menahan Portugis di perairan Aceh selama 10 hari agar tidak bisa mengejar utusan Ratu Elizabeth itu. Setelah mendapat jaminan keamanan akhirnya Lancaster bersama rombongan meninggalkan Aceh pada malam itu juga untuk segera kembali ke Inggris. 


Keberhasilan menempuh jalan damai ini membuat James Lancaster dianugerahi gelar bangsawan sepulangnya ia ke Inggris.


Peristiwa penting lainnya selama Malahayati menjadi Laksama adalah ketika ia mengirim tiga utusan ke Belanda, yaitu Abdoelhamid, Sri Muhammad dan Mir Hasan ke Belanda. Ketiganya merupakan duta-duta pertama dari negara/kerajaan di Asia yang mengunjungi negeri Eropa.



Rombongan duta Aceh itu tiba pada Agustus 1602, tapi pada 9 Agustus Abdul Hamid sendiri meninggal dunia di negeri Eropa dan dimakamkan diperkarangan gereja St Pieter di Middelburg, Zeeland.






Tahun 1602, Abdul Hamid beserta rombongan tiba di Belanda.


Malahayati disebut masih memimpin pasukan Aceh menghadapi armada Portugis di bawah Alfonso de Castro yang menyerbu Kreung Raya Aceh pada Juni 1606. Sejumloah sumber sejarah menyebut Malahayati gugur dalam pertempuran melawan Portugis itu. 


Dia kemudian dimakamkan di lereng Bukit Lamkuta, sebuah desa nelayan yang berjarak 34 kilometer dari Banda Aceh.


Malahayati sungguh melegenda. Banyak cacatan orang asing tentang Malahayati. Kehebatannya memimpin sebuah angkatan perang ketiga itu diakui oleh negara Eropa, Arab, Cina dan India. Namanya saat ini dipakai untuk jalan, rumah sakit, universitas di Pulau Sumatera, hingga kapal perang TNI Angakatan Laut. 


Di bawah Sultan Iskandar Muda (1607 M--1636 M), Aceh mencapai puncak kejayaannya bersama Laksamana Keumalahayati, sang pahlawan wanita tiga zaman.




DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.