Tampilkan postingan dengan label Fokus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fokus. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Mei 2015

Biksu Radikal Burma Trauma dengan Indonesia, Kok bisa?





Akar masalah dari Rohingya adalah rezim militer yang tengah berlangsung di negara Myanmar. Rezim tersebut yang membuat etnis Rohingya tak memiliki kewarganegaraan. Kekejaman yang dilakukan mereka menjadi sorotan publik mancanegara.



Bukan hanya itu nasib umat Rohingya pun terkatung-katung dengan mengungsi keberbagai penjuru dunia seperti Indonesia dan juga Arab Saudi.



Konflik Rohingya tidak dapat dipisahkan dari latar belakang sejarah, corak keagamaan, dan psikologi budaya kedua kelompok yang berseteru. Saat ini gelombang pengungsi Rohingya telah mencapai lebih dari 12 ribu jiwa di Indonesia.



Hadirnya biksu Ashin Wirathu dikenal sebagai sosok radikal yang menyeruakan kebencian terhadap keberadaan Muslim di Myanmar, tak pelak majalah Time maupun New York Times pun melabeli Ashin Wirathu sebagai Osama Bin Laden versi Burma.



Penyebab sang biksu kejam lantaran dipicu dari trauma dengan negara Indonesia yang dahulunya terkenal sebagai penganut agama Buddha terbanyak yang lambat laun tergerus akan hadirnya umat Islam di bumi Nusantara.



"Biksu ini (Ashin Wirathu) mempunyai trauma yang tinggi terhadap Indonesia. Dirinya memiliki dendam kepada umat Islam, dan takut penganut agama Buddha menjadi terkikis di negara Myanmar seperti yang terjadi dulu di Indonesia," ujar Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas , Jumat (22/5).



Sementara itu, Ilyas menambahkan agar umat Muslim Indonesia menahan diri agar tidak tersulut dengan adanya permasalahan yang terjadi di Myanmar.



"Sentimen Buddha jangan di balas di sini, umat Islam tak mengajarkan balas dendam dan juga menghukum yang lemah tanpa belas kasih," ujarnya.



ROL

Putri Sulung Mahathir Sebut Islam di Malaysia Sebagai Penjajahan Arab





Putri sulung Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Muhammad, Marina Mahatir mengkritik negaranya yang saat ini menjalankan budaya Islam yang bernuansa kultur Arab.



Menurut Marina, seharunya Malaysia punya corak keislaman sendiri yang sesuai dengan konteks budaya asli masyarakat Malaysia.



“Ini hanya Arabisasi. Budaya kita itu kolonialisme, penjajahan Arab," kata Marina, dikutip dari themalaymailonline.com, Senin (25/5).



Perempuan yang saat ini sebagai aktivis perempuan ini mencontohkan, corak berpakaian warga Malaysia terutama yang muslimah yang sangat kental berpakaian ala budaya Arab.

Sebaiknya, menurut Marina, Muslimah Malaysia dapat berpakaian sehari-hari dengan tidak harus mengenakan pakaian seperti pakaian wanita Arab, asalkan pakaian yang dikenakan dapat menutup aurat perempuan.



Ia pun meminta agar semua umat Islam Malaysia mulai untuk lebih terbuka untuk belajar tentang bagaimana Islam sebenarnya.

Selama ini, kata dia, Islam di Malaysia tak banyak yang benar-benar tahu bagaimana Islam yang sesungguhnya sangat terbuka mengenai banyak hal. Tidak kaku seperti yang diterapkan di Malaysia.



"Islam memiliki sejarah intelektual yang sangat kuat, tetapi di sini (Malaysia) tidak ada yang intelek sama sekali. Kami di sini hanya diajarkan ritual, bukan bagaimana untuk menjadi pemikir besar,” ucap Marina.



Marina kemudian juga mengungkapkan kegeramannya karena banyaknya kritik yang dilontarkan melalui media Malaysia yang memojokkan kaum perempuan.

Seperti mempermasalahkan perempuan Muslim Malaysia yang berkerudung berfoto dengan artis pria asal Korea. Ia menilai, pihak pengkritik mempunyai pemikiran yang kaku tentang prinsip Islam yang ia anut.



Hal ini diangap Marina tidak sesuai dengan apa yang diimbau oleh pemerintah Malaysia yang menginginkan agar Muslim bersatu. Sebab negara mereka sendiri, kata Marina, masih belum paham arti Islam yang sebenarnya yang harus diterapkan untuk masyarakat Malaysia.



ROL

Biksu Radikal Wirathu dijuluki “Buddha Bin Laden”






Atas tindakannya yang menggenosida etnis Rohingya, Nama biksu radikal Ashin Wirathu mendadak populer lagi.



Biksu radikal tersebut selama ini disebut menjadi otak pengusiran dan pembersihan etnis Rohingya dari Myanmar. Tidak salah, majalah Time sampai menjulukinya sebagai Buddha Bin Laden.



Sikapn radikalnya terlihat dari berbagai pernyataannya yang terus menyerang kaum Muslim Rohingya yang menjadi minoritas di Myanmar.



"Banyak Muslim menghancurkan negara kami, rakyat kami, dan agama Buddha," cetus Wirathu.



Dalam wawancara dengan Los Angeles Times pada Ahad (24/5), Wirathu merasa julukan Osama Bin Laden dari Burma kurang tepat. Dia malah mengidentifikasi dirinya yang memiliki kesamaan dengan tokoh mata-mata fiksi paling terkenal di dunia, yaitu James Bond.



"James Bond adalah seorang nasionalis," katanya sambil berkedip dan tersenyum seraya mengingat film agen 007 tersebut. "Ia melakukannya untuk negaranya."



Biksu berusia 46 tahun tersebut seolah menggambarkan dirinya yang bersikap keras terhadap etnis Rohingya sebagai upaya untuk melindungi negara. Dia dengan tegas membela Myanmar dari musuh utamanya yang diidentifikasi sebagai kaum Muslim.



Gara-gara sikap itu, kaum Rohingya harus eksodus dari negaranya dengan menggunakan perahu nelayan yang penuh sesak menuju Thailand dan Malaysia, serta terdampar hingga di Indonesia.



Dalam pidato dan tulisan yang diunggah di Facebook miliknya, Ashin telah memperingatkan kelompoknya akan sebuah 'jihad' guna melawan mayoritas Buddha. Dia juga menyebarkan desas-desus secara sistematis bahwa orang Muslim telah memperkosa perempuan Buddha.



Tidak hanya itu, ia menyerukan boikot bisnis milik pengusaha Muslim. Penganut ajaran Buddha yang baik, menurut dia, tidak harus berinteraksi sosial dengan umat Islam, yang dilabelinya sebagai 'ular' dan 'anjing gila'.



Upaya Ashin memerangi etnis Rohingya tidak hanya sampai di situ. Dia merupakan ujung tombak dalam diskriminasi agama di Myanmar, yang mendorong sekitar 1 juta etnis minoritas Muslim tersebut semakin dalam tekanan.



Kelompok hak asasi manusia internasional mengatakan, Ashin dan gerakan radikal yang dipimpinnya, 969, sukses memicu kerusuhan sektarian yang menewaskan puluhan orang sejak 2012.



Sekitar 100 ribu orang Rohingya telah dipaksa menghuni kamp yang kondisinya memprihatinkan dengan kekurangan gizi di negara bagian barat Rakhine. Keadaan semakin memburuk setelah bantuan dari luar berhenti karena pemerintah mengusir kelompok bantuan asing pada tahun 2014.



"Wirathu memainkan peran sentral dengan pidato kebenciannya dan Islamofobia yang diciptakan, mengingat bahwa Rohingya dikelilingi oleh komunitas bermusuhan yang dapat melecut menjadi kekerasan dengan sangat cepat," kata Direktur Inisiatif Kejahatan Internasional Negara di Queen Mary University, London yang juga penulis laporan tentang Myanmar.


Nelayan Aceh: “Kalau Nasib Kami seperti Mereka, Bagaimana?”




Foto: Pak Mohamad Adenan bersama relawan ACT dari KAMMI, yang naik kapal nelayan milik bos Pak Adenan.



NELAYAN-nelayan itu sedang mengecat kapal kayunya di pinggir Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa, Aceh, saat kami menghampiri dan menyapa mereka. Sebagian badan kapal berkapasitas 50 ton itu nampak kilap. Kapal ikan sumber penghidupan mereka itu nampak baru kembali.



Seorang nelayan berusia paruh baya sambil terus sibuk bekerja menanyakan identitas kami. Setelah berbasa-basi, Mohamad Adnan meminta kami naik ke atas kapal. Dengan hanya balok kayu, kami meniti ke atas kapal.



Adnan yang dituakan oleh nelayan-nelayan lainnya itu berhenti bekerja dan menemui kami. Adnan juga menawarkan makan siangnya. Namun dengan sopan kami mengatakan kami sudah makan siang. Kami terkesan dengan keramahannya, yang menjadi salah satu karakter positif orang Aceh.



Sebagaimana diberitakan, pada Jumat pagi (15/5/2015), ada enam kapal nelayan Aceh yang menolong para manusia perahu asal Myanmar dan Bangladesh. Kapal Adnan adalah kapal yang mengangkut sisa pengungsi, berjumlah 45 orang.



“Kami baru melaut satu hari, saat menemukan orang-orang asing itu,” ungkap Adnan.



Biasanya kapal berada di laut 5 sampai 6 hari. Kapten kapal yang memimpin Muhammad Adnan dengan 40 ABK lainnya, memutuskan untuk mengevakuasi para manusia perahu asal Myanmar dan Bangladesh itu. Keputusan dilakukan usai saling kontak antarnelayan via radio, dan diminta saling merapat.



“Kami ikut mendekat ke lokasi dimana orang-orang itu berada,” tutur ayah dari enam anak ini.



Adnan mengatakan kapalnya adalah kapal terakhir yang mengangkut pengungsi. “ Lima kapal yang lain sudah di depan kami,” tambahnya.



Saat kapal nelayan dan pengungsi saling menekat, beberapa pengungsi langsung terjun ke laut untuk mendekat ke kapal Mohamad Adnan. Menurut penglihatan Adnan, ada juga perempuan yang nekat terjun berenang mendekati kapalnya. Jarak dua kapal sekira 30-40 meter. Para pengungsi itu berteriak-teriak, “ Allahu kbar, Allahu akbar!”



Didorong rasa iba, kapten kapal memerintahkan Mohamad Adnan dan kawan-kawannya segera lebih mendekat, untuk mencegah mereka terjun ke laut.



“Saat kami menolong mereka, tak ada di hati kecuali rasa iba. Saya membayangkan saat itu, seandainya mereka itu adalah kami, tentu kami saat itu akan sangat berharap pertolongan dari siapapun,” kata Adnan, yang selama 5-6 melaut bisa mendapat upah 150-200 dari bos pemilik kapal.



“Apa salah mereka? Dan mengapa mereka seolah-olah tak boleh kita tolong?” jawab Adnan ketika ditanya keputusan mereka untuk melakukan tindakan penyelamatan.



Usai kapal saling merapat, para pengungsi itu berpindah kapal. Mereka langsung duduk di dek kapal, dan sebagian, mungkin karena kelelahan, langsung berbaring. Sebagian laki-laki terlihat luka-luka yang masih setengah kering. Ada luka di lengan, punggung, kaki dan kepala.



Adnan mengatakan karena masalah bahasa, ABK kapal tak banyak bicara dengan pengungsi.



“Yang kami lakukan segera mengeluarkan makanan dan air bekal kami mencari ikan untuk sepekan, yang masih banyak, karena kami baru berada di atas laut sehari semalam,” urai Adnan.



Adnan mengaku makin trenyuh melihat para pengungsi itu makan dengan lahap. Mereka nampak sama sekali tak mampu menyembunyikan rasa lapar dan haus mereka.



“Bahkan saat kami baru mau selesai menaruh makanan ke piring, mereka langsung menyambarnya,” ungkap Adnan.



Bagaimana perasaan Adnan bisa membantu orang yang sedang sangat butuh pertolongan?



“Hati saya lega, bisa menolong orang kesusahan. Mereka berada di laut sama seperti kami. Mereka manusia sama seperti kami,” kata Adnan.



Adnan dan kawan-kawannya menyatakan tak menyesal, usai mendaratkan para pengungsi itu, kapalnya sempat tertunda untuk melaut kembali oleh aparat.



Kesempatan itu digunakan untuk mengecat kapal milik bosnya.



“Mungkin karena kami masih dibutuhkan katerangannya kali,” ujar Adnan. (Ajm-ACT)

Senin, 25 Mei 2015

Pilu Saat Mendengar Pekikan Takbir di Tengah Laut






Tak lagi punya harapan di tanah kelahiran membuat pengungsi Rohingya ingin bertahan hidup di negara lain. Ditambah lagi sikap baik warga Aceh yang telah menyentuh hati mereka.



AR RAHMAN atau biasa disapa Pak Do trenyuh melihat pemandangan itu. Hatinya tergerak. Rasa kemanusiaannya mencuat keluar. Meski kondisi gelap, dilihatnya secara samar perempuan dan anak-anak yang kumal dan lemas tersebut melambai dengan air mata berderai.



Tangan mereka terulur meminta bantuan. Pak Do tercekat. Dengan bergegas dia dan perahunya mendekat. Meski hatinya kala itu waswas. Puluhan laki-laki melonjak dan mengucap takbir, membuat rasa haru dan takut bercampur jadi satu.



"Saat mereka ucapkan takbir itu, hati saya pilu. Mata serasa mau menangis. Bukanlah manusia jika kami membiarkan mereka mati di laut sana," katanya.



Itulah peristiwa malam Jumat, 14 Mei 2015, di tengah laut, 35 mil dari Pelabuhan Kuala Langsa, Aceh. Peristiwa yang menguras emosi dan rasa kemanusiaan Pak Do serta teman-temannya yang malam itu melaut. Padahal, yang mereka tolong itu bukan sanak bukan saudara.



"Ketika tahu bahwa mereka seiman, kami langsung bergegas memberikan pertolongan," ucap Pak Do.



"Ada sesuatu yang dibela. Sesuatu yang lebih berharga daripada hanya hidup dan mati. Ini soal keimanan dan kemanusiaan. Masihkah kami memiliki iman? Masihkah kami jadi manusia seutuhnya?" tuturnya bijak.



Aceh memegang erat budaya Peumulia Jamee alias memuliakan tamu. Banyak tarian dan syair lahir dari penjamuan tamu. Itu pula yang ditunjukkan keluarga Nur Rahmah.



Perempuan warga kampung Kuala Langsa tersebut sengaja mengajak anaknya datang ke penampungan pengungsi yang hanya berjarak 100 meter dari rumahnya. Dia tersenyum melihat tiga perempuan Rohingya yang mendekat kepadanya.



"Jujur saja, di rumah tak ada apa-apa lagi untuk dimakan. Beras sudah diberikan ke sini (pengungsi, Red) pas hari pertama mereka datang. Namun, saya senang membantu. Allah Maha Pemberi. Dia bisa memberikan rezeki kepada siapa pun yang Dia mau," ujarnya.



Akrab dengan keluh kesah dan tawa mereka, akrab dengan mimpi dan kegetiran mereka. Itulah interaksi antara masyarakat Aceh dan pengungsi Rohingya serta Bangladesh saat ini.






BUTUH PERTOLONGAN: Warga Aceh memeluk pengungsi Rohingya di kamp Birem Bayeun, Aceh Timur.

(Aqwam F. Hanifan/Jawa Pos)



Wartawan Jawa Pos masih mengingat betul saat terhentinya rombongan para pengungsi di tapal batas Kabupaten Aceh Timur dan Kota Langsa akibat belum jelasnya kesepakatan lokasi penampungan beberapa waktu lalu.



Lamat-lamat terdengar suara para tokoh agama lewat pengeras masjid-masjid serta kutipan ayat Alquran dan hadis yang memerintahkan membantu para pengungsi. Warga pun menyambutnya dengan berduyun-duyun untuk menyumbang.



Seorang nenek bersama cucunya yang mengendarai motor bebek terlihat ngebut sambil membawa satu kardus dan satu kresek pakaian bekas. Napasnya tersengal-sengal saat berhenti di depan rombongan pengungsi.



"Untong golom teulat (untung belum terlambat, Red)," katanya. Kepada wartawan, si nenek mengatakan berasal dari Keude Bayeun, 10 kilometer dari lokasi.



Di Puskesmas Julok juga ada kejadian lucu. Saat itu Azhari, warga lokal, ingin merawat seorang pemuda Rohingya. Kepada satpol PP yang mengawal, Azhari mengaku bahwa pemuda Rohingya tersebut adalah orang Aceh.



Namun, saat ditanya dalam bahasa Indonesia, si pemuda hanya geleng-geleng kebingungan. Petugas pun tahu bahwa orang tersebut adalah pengungsi dan langsung dinaikkan bus.



"Saya sempat bawa dia ke rumah tadi untuk kasih makan. Saya ingin angkat dia jadi adik. Sialnya, malah ketahuan sama petugas yang itu," ucapnya sambil menunjuk seorang petugas satpol PP.



Bantuan dan dukungan masyarakat Aceh kini terus mengalir. Namun, sampai kapan? Ada suatu masa akan terhenti. Lantas, ke manakah nasib para pengungsi itu akan tertuju?



Bagi pengungsi Rohingya, pulang kembali ke Myanmar adalah tabu.



"Kami hidup di sana susah. Kami tak diakui sebagai manusia. Sekolah susah. Ibadah susah. Bekerja pun susah. Kami pun dibunuhi di sana. Saya tak ingin kembali. Lebih baik mati di sini daripada kembali," kata Ruqiyah Hatun, 20 tahun.



Mungkinkah berencana menikah dengan orang Indonesia? "Oh tidak. Saya sudah punya suami dan anak," katanya.







Keinginan serupa disampaikan Mohammad Ayas. Bocah 10 tahun itu mengaku senang tinggal di Indonesia. "Saya tak ingin pulang ke Myanmar. Di sini saya bahagia. Di sana tak bisa sekolah. Saya ingin sekolah," katanya merengek.



Kemiskinan dan penindasan militer membuatnya terpaksa berhenti menempuh pendidikan saat duduk di bangku kelas tiga.



Keinginan untuk bertahan di Indonesia terbuka. Kemarin (24/5), saat berkunjung ke Kuala Langsa, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menjanjikan mereka bisa tinggal di Indonesia sebagai pencari suaka.



Meski begitu, para pengungsi Rohingya punya harga diri yang tinggi. Sama tingginya dengan rasa hormat yang mereka punya terhadap negeri ini. Tak selamanya tangan harus menjulur meminta. Mereka sadar akan amat menyusahkan. Tayyub Ali mengatakan hal tersebut. Karena itu, dia berharap segera mendapat pekerjaan.



"Saya ingin bekerja. Tak ingin menyusahkan orang Indonesia. Mereka terlalu baik kepada kami. Saya ingin bekerja di restoran," kata pria yang menjadi penerjemah lansir Jawa Pos.



"Indonesia memang bukan Australia atau Amerika Serikat. Namun, harapan untuk mencapai masa depan itu di sini masih tetap ada," sambungnya.



"Saya cinta negeri ini dan orang-orang di sini. Namun, suatu saat saya harus meninggalkannya," ujaranya pelan.



Tayyub menatap langit yang dipenuhi bintang, dan tahu bahwa langit itu, tanah itu, bukanlah tanah airnya. Dia menghela napas dan berusaha mengatasi perasaannya.



JawaPos

Jokowi: Mau tampung, Asal biaya hidup PBB tanggung





Presiden Indonesia Joko Widodo meminta agar Perserikatan Bangsa-Bangsa terutama secara finansial, untuk membiayai para pengungsi Muslim Rohingya selama berada di Indonesia.



"Kita ingin mendapatkan kepastian bahwa beban-beban biaya yang ada, setelah kita tampung," ujar Jokowi ini usai meresmikan pembangunan gedung di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (23/5/2015).



Bantuan yang diharapkan Joko Widodo yaitu dalam bentuk finansial, untuk membiayai seluruh kegiatan pemeliharaan pengungsi.



"Ini kan tadi saya sampaikan biaya akan ditanggung oleh UN dan beberapa negara yang masih dalam pembicaraan. Kalau itu sudah final, baru kita persiapkan," tandas Jokowi.



Jokowi mengatakan permintaan tersebut merupakan buah dari pertemuan antara pemerintah Indonesia yang diwakili Menlu Retno LP Marsudi dengan pemerintah Malaysia dan Thailand beberapa hari lalu.



Ia mengatakan bahwa pemerintah Indonesia akan mengalokasikan anggaran khusus untuk membantu Rohingya. Namun ia bersikeras meminta dukungan dari masyarakat internasional – khususnya Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR).



“Kami masih menghitung seberapa besar anggaran yang dibutuhkan,” demikian Jokowi.



Saat ini Aceh telah menampung sebanyak 1.722 pengungsi, terdiri atas 1.239 laki-laki, 244 perempuan dan 238 anak-anak. Para pengungsi masih membutuhkan kelengkapan mandi dan makanan bagi bayi dan balita.



Para pengungsi ini tersebar di empat titik pengungsian, yaitu sebanyak 560 jiwa di Kabupaten Aceh Utara, 47 jiwa di Kabupaten Aceh Tamiang (yang merupakan sebaran dari Kabupaten Langkat, Sumatera Utara), 682 di Kota Langsa dan 433 jiwa di Kabupaten Aceh Timur.

Minggu, 24 Mei 2015

Nistakan Islam, Dosen UI Akhirnya Dipolisikan





Ade Armando menyatakan tidak akan menarik pernyataannya


Dosen komunikasi FISIP UI Ade Armando akhirnya dipolisikan karena telah meakukan penistaan agama. Sang pelapor, Johan Kahn (32) melaporkan Ade Armando ke kepolisian karena status Facebook Ade telah menistakan agama Islam.





Allah kan bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayatNya dibaca dg gaya Minang, Ambon, Cina, Hiphop, Blues ......

Posted by Ade Armando on Tuesday, May 19, 2015


Beberapa hari setelah status tersebut diunggah, Johan, yang dalam profil LinkedIn-nya menyebut diri sebagai legal head dari TV berbayar Transvision yang dimiliki TransCorp, melaporkan Ade ke Polda Metro Jaya, pada Sabtu, 23 Mei 2015.







Alih-alih menarik pernyataan, Ade, yang adalah mantan anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), kembali menegaskan opininya melalui Twitter.







Bermula dari langgam Al-Quran



Kasus ini bermula dari ide Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang mengusulkan pembacaan Al-Quran, Surah An-Najm 1-15, dengan langgam Jawa pada peringatan Isra Miraj di Istana Negara.





Pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa ini menuai kontroversi di masyarakat. Sebagian menyalahkan Presiden Joko "Jokowi" Widodo, karena berpikir itu ide presiden.



Salah satu kritik datang dari Ahmad Annuri, pakar pengajian Al-Quran dari Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia. Dia menyatakan pemerintah berusaha melakukan liberalisasi Islam. Menurutnya, kejadian tersebut tidak boleh terjadi lagi karena membaca Al-Quran berlanggam Jawa adalah tidak lazim, dan ada kesalahan niat.



"Yaitu merasa perlu menonjolkan citra rasa lagu ke-Nusantara-an atau keindonesiaan dalam membaca Al-Quran," kata Ahmad seperti dikutip media.



Tokoh nasional Syafii Maarif berpendapat berbeda. Menurut dia, membaca Al-Quran dengan langgam Jawa adalah hal yang tidak perlu dipermasalahkan



Ade masuk dalam polemik ini dengan menyatakan bahwa pembacaan Al-Quran bisa dilakukan menggunakan langgam dari berbagai daerah.



Bantah tuduhan penistaan agama



Ade membantah tuduhan penistaan agama tersebut.



"Dalam status itu, saya kan membela ide Menteri Agama dan lebih jauh lagi, pemerintahan Jokowi. Juga gagasan mereka yang mendukung perhargaan terhadap keberagaman. Bisa jadi hal tersebut yang diserang," Ade menjelaskan.



Ade juga sudah memberikan klarifikasi secara langsung kepada Johan Kahn tentang maksud status Facebook yang menjadi persoalan.





Namun demikian Johan sepertinya tidak akan mencabut laporannya. Ia malah mempersilahkan Ade untuk memberikan klarifikasi secara langsung ke pihak penyidik.





Rappler

Nelayan Aceh Pantas dapat Penghargaan “Pahlawan Kemanusiaan”






"Atas nama kemanusiaan kami berharap Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat memberikan penghargaan (kepada nelayan) sebagai pahlawan kemanusiaan,"



Dalam sebulan terakhir, nelayan Aceh menyelamatkan lebih 1.500 lebih imigran Rohingya dan Bangladesh dari tengah laut. Mereka sempat terombang-ambing dengan kondisi boat mati mesin. Para nelayan yang melihat pemandangan pilu itu kemudian menyelamatkan 'manusia perahu tersebut'.



Para nelayan Aceh telah menunjukkan rasa empatinya dengan menyelamatkan lebih seribu pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang terdampar di tengah perairan provinsi itu. Pemerintah diminta memberi penghargaan kepada para nelayan tersebut.



Permintaan itu disampaikan Koordinator Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya (AMPAR), Basri Effendi.



"Pemerintah RI dan Pemerintah Aceh perlu memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para nelayan yang di tengah keterbatasannya, mereka turun tangan untuk membantu 'manusia perahu' yang sedang sangat menderita," katanya, Minggu (24/5/2015).



Seperti diketahui, sekitar 28 nelayan dari Desa Simpang Lhee, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur, melakukan aksi heroik dengan menarik kapal imigran itu ke tepi muara pantai Aceh Timur.



Saat itu, Para nelayan di Kuala Langsa, Aceh, harus menanggalkan pukat mereka dan berhenti mencari ikan demi menyelamatkan ratusan pengungsi Rohingya dan Bangladesh di lautan.



Nelayan Aceh juga berkorban materi. Bahan makanan untuk di laut berhari-hari habis dibagikan kepada para pengungsi. Begitupun solar untuk menyelamatkan nyawa imigran di tengah laut.



Mereka ditemukan nelayan tradisional terapung di tengah lautan dalam keadaan kelaparan, setelah meninggalkan negaranya yang sedang bergejolak dan diusir negara-negara lain yang disinggahinya.



Dengan pertimbangan kemanusian para nelayan asal Aceh berjibaku menyelamatkan para manusia perahu yang sebagiannya melompat ke laut untuk meminta bantuan. Nelayan menarik mereka satu-satu ke dalam boat, untuk dibawa ke daratan.



Di daratan para nelayan bersama warga desa kemudian bahu membahu memberi bantuan darurat seperti makanan, minuman bahkan kain, sebelum bala bantuan lain datang. Para imigran itu sekarang ditampung di Aceh Utara, Aceh Timur, dan Langsa, dan kondisi mereka jauh lebih baik dari saat pertama ditemukan.



"Hari ini seluruh dunia melihat Rohingya selaku etnis terzalimi, mereka tidak diakui oleh negaranya dan diusir oleh negara-negara tujuan yang disinggahi. Dalam kesedihan itu masyarakat Aceh khususnya nelayan Aceh menunjukkan rasa empati di tengah gersangnya rasa kemanusiaan dunia," ujar Basri.







Dia merasa ironi kalau nelayan dilarang membantu para pengungsi Rohingya, karena itu sangat paradoks dengan niat tulus yang ditunjukkan para nelayan. AMAPR pun menginisiasi pemberian penghargaan kepada nelayan setelah melihat peran mereka yang cukup heroik dalam menyelamatkan manusia-manusia perahu. Aksi itu diharapkan bisa diikuti pemerintah.



Dedikasi kemanusian ditunjukkan para nelayan Aceh untuk menyelamatkan manusia Rohingya yang diambang maut, tanpa mengenal batas teritorial dinilai pantas diapresiasi.



"Atas nama kemanusiaan kami berharap Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat memberikan penghargaan (kepada nelayan) sebagai pahlawan kemanusiaan," sebutnya.

Sabtu, 23 Mei 2015

Skuad 969, Mesin Pembunuh Berjubah Biksu






Sekelompok biksu Buddha paling berbahaya Myanmar, dipimpin Ashin Wirathu, Skuad 969 menjelma menjadi mesin pembunuh nomor satu muslim di negara itu.





Ibu Kota Yangon, Myanmar, saat pagi hari dan menjelang sore menjadi tempat menyenangkan. Warganya menjalani aktivitas seperti layaknya kota besar. Pusat perbelanjaan ramai, pasar padat oleh pembeli dan pedagang, banyak yang menikmati teh di kedai pinggir jalan, dan banyak lagi. 





Namun keadaan ini berubah menjelang malam. Penduduk bersiap pada serangan seporadis dari sekelompok biksu Buddha paling berbahaya, Skuad 969.



Skuad 969 menjelma menjadi mesin pembunuh nomor satu muslim di negara itu. Kegelisahan melanda orang Islam Rohingya. Anti-Muslim telah menelan banyak korban di Burma bagian tengah dan perlahan-lahan menjalar ke tempat lain.



Pengusung gerakan 969 ini takut Myanmar akan seperti Indonesia setelah Islam masuk ke nusantara pada abad ke-13. Pada akhir abad ke-16, Islam dapat menggantikan Hindu dan Buddha sebagai agama yang dominan.



Skuad 969 mengacu pada sembilan atribut Buddha, enam ajaran dasar, dan sembilan perintah monastik berkaitan dengan spiritual untuk tingkatan mencapai nirwana. Salah satu tugas mereka menghancurkan kekuatan asing yang ingin membinasakan Buddhisme dan kekuatan asing itu Islam.





Pesantren-pesantren menjadi korban keganasan skuad 969 membakar tempat itu tanpa ampun. Masjid pun jadi sasaran. Mereka bergerak tanpa ampunan pada muslim dan kelompok ini terang-terangan mendapat dukungan banyak pihak termasuk pemerintah junta militer Myanmar.






Penyerangan dan penganiayaan terus terjadi menimpa warga minoritas Muslim di Myanmaar. Sedikitnya 200 Muslim tewas dan ratusan lainnya kehilangan tempat tinggal karena rumah mereka dibakar oleh warga Buddha yang merupakan mayoritas.





Banyak kalangan menilai kekerasan ini sebagai kesalahan seorang biksu yang kontroversial dan kelompk nasionalis yang ia dukung. Dialah yang bersama kelompoknya kerap menyulut warga untuk bertindak menyerangan kelompok Muslim, seperti yang menimpa warga Rohingnya, di Rakhine.





Sebagaimana diberitakan BBC, Biksu yang dimaksud adalah Ashin Wirathu atau sering juga disebut Shin Wirathu. Dialah yang dituding banyak kalangan sebagai biang kerok kerusuhan itu. Bahkan majalah terkemuka, Time, menjuluki sang biksu sebagai “wajah teror kaum Buddha” (the face of Buddhist terror).





Wirathu menyatakan kepada kaum Buddha bahwa negara Myanmar sedang diserang kaum penyusup Muslim. “Muslim hanya berbuat baik jika sedang lemah. Kalau mereka kuat, mereka akan seperti srigala; yang dalam kelompok banyak mereka memburu binatang lain,” kata Wirathu.





Ia juga membuat kalkulasi bagaimana Muslim akan menguasai Myanmar dalam jangka panjang. Saat ini, diperkirakan Myanmar berpenduduk 60 juta orang dan 90% di antaranya adalah penganut Buddha dan sebanyak 5% merupakan warga Muslim.





“Dalam 50 tahun, kita akan berbelanja di toko milik Muslim dan mereka akan semakin kaya dan makmur dibandingkan kita sehingga bisa membeli dan menikahi perempuan-perempuan kami. Dengan cara itu, Muslim tidak hanya menghancurkan dan mempenetrasi negara kita, tetapi juga agama kita,” tutur Wirathu.





Untuk mencegahnya Wirathu mendirikan organisasi berhaluan nasionalis dengan nama 969. Kelompok ini menyerukan untuk berbelanja, menjual properti dan menikah hanya dengan kaumnya, yakni kaum Buddha. Kelompok ini menempelkan stiker kecil di toko-toko yang menandakan toko itu milik warga Buddha.




Kelompok 969 dikenal sebagai kelompok yang defensif, dibentuk dengan dalih melindungi budaya dan identitas Buddha. Kelompok ini secara khusus menyerang Muslim.





“Di masa lalu, tidak ada diskriminasi berdasarkan agama dan ras. Kita tinggal berdampingan dengan rasa persaudaraan. Namun, ketika master plan mereka (Muslim) dibuka, kita tidak lagi bisa tinggal diam,” kata Wirathu.





Dari ajaran sesat itulah banyak warga Buddha yang tersulut dan menyerang kaum Muslim. Pada Juni 2013, ketika gerakan kelompok itu semakin tak tertahankan, wajah Wirathu menghiasi halaman muka majalah Time dengan label, “The face of Buddhist terror”.








Majalah tersebut kemudian dilarang beredar di Myanmar. Presiden juga mengeluarkan pernyataan yang membela Wirathu bahwa ia adalah “anak dari Buddha agung”.





Banyak kalangan di Myanmar, bahkan kalangan biksu yang sependapat dengan majalah Time. Mereka juga menentang gerakan dan kelompok Wirathu. Salah satunya adalah Kaylar Sa, biksu yang pernah dipenjara karena terlibat dalam revolusi Saffron pada 2007. Ia mengatakan gerakan 969 adalah gerakan yang tidak ada gunanya.



Islam menyebar dengan cepat di Myanmar. Pertumbuhannya hingga kini sekitar 35 persen, angka drastis jika berbanding awal tahun lalu yang hanya empat persen. Ini dilihat sebagai ancaman bahkan beberapa tokoh Buddha di pelbagai negara bagian menyerukan gerakan anti-Muslim.



Pemerintah tidak bergeming mendengarnya, apalagi mengharapkan bantuan dari tonggak hak asasi Burma Aung San Suu Kyi. Semua bungkam mendengar dan menyaksikan ajakan bunuh orang Islam bergaung besar-besaran persis di depan mata. Skuad 969 berkembang menjadi mesin pembunuh mematikan yang mengeksekusi pemeluk agama Nabi Muhammad itu.




Aparat seharusnya menegakkan hukum justru bertindak jika muslim membalas perlakuan dari skuad 969. Para Biksu berkhotbah dengan gaya apartheid seperti gerakan 969 pada 2001. Ketika itu sentimen anti-Muslim disulut pada Maret 2001.





Sebenarnya banyak biksu dan tokoh Revolusi Saffron, perlawanan besar-besaran para biarawan pada junta militer, mengecam Skuad 969. Politisi juga ramai mengecam segala hal mereka lakukan.



Namun upaya mereka baru sebatas seruan untuk menghentikan kekerasan pada muslim, sementara korban tewas umat Islam semakin banyak dan kelompok ekstremis pendeta Buddha ini makin sadis membasmi muslim Rohingya.

Sekitar 50% Pengungsi di Aceh adalah warga Bangladesh






Dari hampir 1.800 migran yang baru-baru ini mendarat di Aceh, 50% adalah migran ekonomi dari Bangladesh dan sisanya adalah pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari penindasan di Myanmar.





Hal itu disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir, mengutip hasil verifikasi awal yang dilakukan oleh Badan Pengungsi PBB (UNHCR).





"Memang datanya menunjukkan hampir 50% itu merupakan warga dari Bangladesh, jadi memang mereka merupakan migran ekonomi," katanya kepada wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir, Sabtu (23/05).





Adapun sisanya adalah orang-orang Rohingya yang mengungsi dari Myanmar menyusul gelombang kekerasan dan penindasan terhadap etnik Rohingya di sana.





Migran-migran, yang oleh Kementerian Luar Negeri disebut sebagai migran ireguler, menumpang kapal-kapal selama sekitar dua bulan dengan tujuan utama antara lain Malaysia untuk mencari kerja. Namun mereka ditinggalkan oleh awak kapal di tengah laut setelah Thailand melancarkan operasi mengatasi penyelundupan manusia.





Komposisi asal negara, menurut Organisasi Migrasi Internasional (IOM), tidak perlu dipersoalkan meskipun ada beberapa di antara mereka mengubah pengakuan tentang asal usul mereka.





Dikatakan beberapa di antara mereka semula mengaku orang Rohingya, tetapi kemudian mengubah pengakuan menjadi orang Bangladesh atau sebaliknya.





"Itu bukan menjadi kekhawatiran kami dikarenakan biar bagaimanapun selama mereka berada di sini dukungan yang kami berikan atau kami bantukan akan terus berjalan," kata Akmal Haris dari IOM.





"Ini artinya untuk ke depan, apakah mereka akan pulang ke negara asal."



Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan engungsi asal Bangladesh, pemerintah akan memulangkan ke negara asalnya. Musababnya, mereka mengungsi karena faktor ekonomi saja, berbeda dengan pengungsi Rohingya.



"Rohingya oke kita tampung, tapi nanti kita usahakan di mana mereka mendapatkan tempat selanjutnya, dicarikan negara yang cocok."



BBC

Sebab Saudara, Muslim Aceh Bantu Pengungsi Rohingya





Suasana haru dan akrab mewarnai kedatangan ratusan pengungsi Rohingya dan Bangladesh di Desa Simpang Tiga Kecamatan Julok Kabupaten Aceh Timur. Sejumlah warga berkerumun dengan urun menolong para pengungsi yang baru didaratkan oleh nelayan, Jumat 22 Mei 2014



Ada yang mempersiapkan becak barang, dan menyodorkan sepeda motor dengan sukarela untuk mengangkut pengungsi Rohingnya yang sakit. Sejumlah warga yang sudah berkerumun di bawah Meunasah (Surau) juga membawa sejumlah baju layak pakai, ada untuk orang dewasa dan anak-anak.



Sementara ibu-ibu terlihat menenteng bungkusan kain yang didalamnya berisikan nasi putih. Sampai diatas Meunasah, nasi tersebut dibagikan kedalam piring, tanpa aba –aba nasi itu dilahap penuh selera oleh para pengungsi.



Bukan cuma itu saja, sejumlah anak –anak Rohingnya berusia 3 sampai 6 tahun terlihat kebingungan, seakan mereka mau bertanya sudah sampai dimana mereka, sambil melihat kiri dan kanan.



Kondisi itu membuat membuat warga Simpang Tiga terenyuh, Dua lelaki dewasa yang juga berfrofesi sebagai nelayan, tanpa sungkam mengambil piring nasi dan menyulang nasi putih ke mulut anak-anak Rohingya yang masih terlihat lelah, dengan kondisi tubuh kurus kering itu.



Anak-anak Rohingya pun bak menemukan sebuah kasih sayang yang telah lama hilang, mereka melahap penuh selera nasi yang disulang kaum bapak di Meunasah Simpang Tiga.



Mereka sangat akrap, seakan yang menyuap nasi di pagi itu adalah orang tua mereka sendiri. Ditengah pemandangan miris tersebut, lelucon muncul diantara warga setempat.



“Ka cocok nyan, sama hi dan sama itam (udah cocok tu, mirip dan sama hitam *kulitnya),” celoteh seorang warga dalam keramaian, Rabu pagi itu.







Setelah ditampung sementara oleh warga Simpang Tiga Kecamatan Julok Aceh Timur, sebanyak 433 pengungsi Rohingya dan Bangladesh itu diangkut ke tempat penampungan sementara Eks perusahaan kertas PT Papyrus Desa Bayeun Kecamatan Birem Bayeun, Kabupaten Aceh Timur. Berbagai bantuan terus berdatangan baik dari masyarakat maupun siswa sekolah.



Selvi Carmelia (16) tahun, siswi SMA 12 Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Aceh Timur ia menggalang bantuan dari teman-teman di sekolah dan masyarakat sekitar sekolah untuk disumbangkan ke pengungsi. Uang yang terkumpulkan, mereka belikan sembako dan kebutuhan untuk mandi.



Ia mengaku sebelum sampai dikamp pengungsian cuma mendengar cerita warga bahwa ada orang Rohingya yang diselamatkan nelayan, mereka muslim, dan banyak anak-anak yang kondisinya kurus dan ibunya sakit.



“Ngak tau bilang bang, pokoknya sayang kali kita lihat,” ujar Selvi sambil berpaling wajah, seperti ia ingin menangis.



TEMPO

Jumat, 22 Mei 2015

JK bilang: “Indonesia Biadab jika Biarkan Pengungsi Mati di Laut”






"Air Asia saja yang korban meninggal semua kita bantu, masak orang yang masih hidup ini tidak kita bantu?"



Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), kamis akhirnya memerintahkan untuk menampung semua pengungsi Rohingya yang mengapung di tengah laut.



Apabila di atas 10.000 orang akan disiapkan satu pulau sebagai tempat pengungsian sementara selama satu tahun. Pulau tersebut akan dipilih antara kepulauan Riau atau sebuah pulau yang ada di Aceh.



"Saya perintahkan Menlu dan Polkam agar menampung semua pengungsi Rohingya tersebut," papar JK kepada para wartawan Indonesia di Tokyo (21/5/2015).



JK menganggap kalau Pemerintah Indonesia membiarkan orang yang sudah sekarat susah itu dibiarkan mati, "Kita biadab kalau membiarkan mereka meninggal (di laut). Di mana naluri kemanusiaan kita?" tambahnya.



JK meminta semua pihak untuk menerima pengungsi tersebut, "Air Asia saja yang korban meninggal semua kita bantu, masak orang yang masih hidup ini tidak kita bantu sih?" tambahnya.



Apabila para pengungsi jumlahnya 10.000 atau lebih maka JK akan menyiapkan satu pulau tertentu di Indonesia untuk menampung mereka sementara. Biaya makan mereka disepakati dibayar bersama antara Indonesia dan Malaysia.



"Tadinya mau di pulau galang tetapi infrastrukturnya rusak sehingga tidak jadi. Lalu sekarang kita pusatkan ke sebuah pulau di Aceh, atau satu lagi di kepulauan di Riau, masih diteliti lebih lanjut kemungkinanya belum diumumkan," ungkap JK lagi.



Lalu ada yang bertanya kepada JK mengenai anak-anak para pengungsi, "Saya bilang anak-anak itu ya coba saja dimasukkan ke panti asuhan sementara atau masukkan ke pesantren untuk belajar sementara."



Sebelumnya Menolak



Sebelumnya PBB dan Organisasi HAM internasional mengecam langkah TNI-AL Indonesia menolak kapal berpenumpang migran Rohingya asal Myanmar dan Bangladesh menepi di Indonesia.



Panglima laut, Aceh Timur, yang menyelamatkan pengungsi rohingya mengatakan pihaknya merasa 'tidak sampai hati' apabila tidak memberikan pertolongan terhadap orang-orang yang mereka jumpai di tengah laut dalam kondisi memprihatinkan.



"Rasanya kami tidak sampai hati untuk tidak menolong. Susah, karena ini masalah kemanusiaan," ungkap Panglima Laot Provinsi Aceh, Teuku Bustaman.



Bahkan nelayan Aceh, Julok, Aceh Timur, diancam POLAIR (Polisi Air) akan memenjarakan para nelayan jika melakukan penyelamatan lagi.



"Dia (polisi) bilang, kami akan dipenjara jika membantu orang (rohingya) ini lagi. Tapi kami tidak peduli, karena ada anak-anak di dalamnya. Tadinya jika mereka tidak juga boleh ke darat para nelayan akan demonstrasi," ungkap Sunan, 38.



TRIBUN/ACW

Kebaikan Warga Aceh yang Mengharukan






Mungkin ini adalah cerminan dari anjuran memuliakan tamu (peumulia jamee) yang disampaikan junjungan umat Islam, Nabi Muhammad shallalahu alaihi wassalam.



Denny Armandhanu, Wartawan CNN



Rohingya menjadi sorotan bulan ini di seluruh dunia. Aceh pun demikian. Ribuan kelompok etnis minoritas tertindas di Myanmar ini terdampar, atau terpaksa berlabuh di Aceh. Dalam keadaan mengenaskan, kurus kering kelaparan, hitam legam terbakar matahari, nyaris meregang nyawa.



Tidak sanggup rasanya menahan haru menyaksikan keikhlasan tanpa pamrih yang ditunjukkan masyarakat Aceh, terutama di perdesaan nelayan, saat menangani "tamu" yang tiba-tiba datang di pantai mereka.



Di saat banyak negara, termasuk Indonesia, menafikan keberadaan Rohingya atas nama kedaulatan negara, wilayah, ketahanan sosial dan tetek bengek lainnya, warga Aceh tidak pikir dua kali menarik Rohingya ke daratan, melayaninya dengan istimewa.



Mungkin ini adalah cerminan dari anjuran memuliakan tamu (peumulia jamee) yang disampaikan junjungan umat Islam, Nabi Muhammad shallalahu alaihi wassalam.



Ambil contoh di desa Simpang Lhee, Julok, Aceh Timur. Belum juga ratusan pengungsi Rohingya sampai di pantai, dapur umum sudah berdiri. Dengan kasih sayang seorang ibu, Mirawati, memasak makanan dalam jumlah besar untuk para pengungsi yang lunglai.



Hingga siang, Mirawati dan ibu-ibu lainnya menyendok nasi ke piring, membaginya sama rata, lauk pauk tersedia, sayur tidak lupa. Beberapa orang Rohingya bahkan diberikan dua piring nasi, dijilatinya jari-jari setelah makanan tandas dilahap. Betapa tidak, tiga bulan terakhir mereka cuma makan nasi dan garam, itu pun hanya sehari sekali.







Seluruh warga desa tumpah ruah memasak, melayani, merawat dan menghibur warga Rohingya. Hari ini mereka tidak masak untuk keluarga di rumah. Bahkan dirinya sendiri lupa makan.



Beberapa wanita desa terlihat mematutkan baju bekas untuk dipakaikan pada para pengungsi. Seorang Rohingya terlihat telah mengenakan gamis cantik dengan manik-manik di jilbabnya, ini bukan seperti pakaian bekas, tapi pakaian baru yang dikenakan saat lebaran. Senyum mereka merekah lebar.



Anak-anak Rohingya akhirnya bisa mandi, ditambah keramas. Berbulan-bulan kulit mereka kering, tidak kenal air tawar dan sabun. Mereka tertawa saat kepala diguyur air. Pemandangan yang akan menyenangkan siapapun juga.







Para bapak terlihat sibuk membagikan makanan yang seperti tidak akan ada habisnya. Kabarnya, sudah berkarung-karung beras ditanak hari ini. Kebetulan, sekarang adalah musim panen.



Sementara para pemuda, menghibur remaja Rohingya yang masih murung. Sesekali mereka menghalau wartawan yang gatal ingin mewawancarai—termasuk saya—agar pria itu bisa makan dengan tenang.



Para pemuda ini merangkul, menepuk punggung, dan mengipasi remaja Rohingya yang lahap makan dua piring nasi itu. Suhu di luar saat ini sekitar 36 derajat celcius memang.



Kabar kedatangan tamu dari Rohingya ini disebarkan melalui pengeras suara di meunasah (musholla) hingga ke berbagai desa. Berdatanganlah para pemberi bantuan yang lain.



Tidak kurang warga dari sepuluh desa memberikan bantuan.







Ditindas di negaranya, dibunuh, disiksa, dihancurkan rumahnya, diusir dari banyak negara, warga Rohingya menemukan kemanusiaan di Aceh. Kementerian Luar Negeri Indonesia mencatat, setidaknya 1.300 warga Rohingya sudah terdampar di ujung Indonesia ini. Jumlah ini belum termasuk dengan skitar 380 lain yang baru tiba di Julok pada Rabu kemarin.



Ditanya motivasi melakukan kebaikan, beberapa warga Aceh mengernyitkan dahi. Seakan mengatakan "mengapa tidak?"



Seolah ini sekadar pertanyaan retoris yang tidak layak untuk ditanyakan karena jawabannya seterang siang.



Bagi masyarakat di perkotaan besar, tindakan masyarakat Aceh ini langka, mengherankan. Tapi bagi masyarakat Aceh, ini adalah yang seharusnya dilakukan, setidaknya sebagai seorang manusia beragama.







Apalagi, seperti dituturkan beberapa warga, mereka pernah merasakan hidup kesusahan saat konflik bersenjata ataupun bencana tsunami yang menewaskan ratusan ribu orang.



Kedatangan Rohingya merupakan berkah tersendiri bagi masyarakat Aceh, kesempatan bagi mereka untuk memberikan bantuan, mencari pahala. Warga Aceh yakin, kebaikan mereka akan dibalas oleh Allah.



"Ada rahasia Allah mengapa warga Rohingya bisa sampai di Aceh. Bisa jadi, kebaikan kami akan dibalas dengan kemakmuran yang luar biasa," ujar Mulyadi, 40, sopir mobil rental, kepada CNN Indonesia.



Di bagasi mobilnya, bertumpuk pakaian bekas untuk disumbangkan.

Rabu, 20 Mei 2015

Bantuan Rohingya dari Warga Aceh Menggunung





Antusiasme masyarakat Aceh untuk membantu para pengungsi Rohingya luar biasa besar. Hal ini terlihat dari menggunungnya bantuan yang diberikan di salah satu pos penampungan Rohingya di daerah Kuala Cangkoy, Aceh Utara.



Di tempat pelelangan ikan ini lebih dari 300 pengungsi Rohingya dari kapal yang ditemukan pekan lalu ditampung. Di sini, berbagai lembaga bantuan telah berdatangan, menyalurkan keperluan para pengungsi.



Selain dari lembaga resmi, warga sekitar juga berduyun-duyun memberikan bantuan dalam berbagai macam bentuk. Di dalam salah satu tenda, tumpukan bantuan yang terdiri dari makanan, pakaian dan selimut, menumpuk.



Bantuan juga berdatangan dari para pelajar dan mahasiswa yang sukarela mengumpulkan sumbangan.



"Banyak warga yang datang sendiri-sendiri untuk memberikan bantuannya," kata seorang relawan lansir CNN, Selasa (19/5).







Petugas imigrasi Aceh yang bertugas di penampungan Blangmangat, Lhokseumawe, Abu Hussain, mengatakan bahwa bantuan dari masyarakat cukup untuk memenuhi kebutuhan pengungsi selama beberapa bulan.



"Bantuan masyarakat untuk satu bulan juga tidak akan habis. Ada makanan, baju, apalagi sekarang sedang musim panen," ujar Hussain.



Salah satunya adalah sopir CNN Indonesia selama di Aceh, Mulyadi, yang juga membawa tumpukan pakaian bekas untuk diberikan pada para pengungsi Rohingya di Langsa.



"Istri saya menyuruh saya mengumpulkan pakaian bekas untuk disumbangkan. Mereka adalah saudara kita sesama Muslim, sehingga wajib dibantu," kata Mulyadi.



Bantuan juga datang pertama kali dari warga di desa Meunasah Sagoh saat kapal pengungsi terdampar di pantai mereka. Saat itu warga suka rela mengumpulkan makanan dan minuman untuk warga Rohingya dan Bangladesh yang sudah empat bulan terkatung di lautan.



Menurut Kepala Seksi Penanganan dan Penindakan di Imigrasi Aceh Utara, Albert Jalius, antusiasme masyarakat yang tinggi dalam membantu Rohingya karena sebelumnya rakyat Aceh juga sempat mengalami penderitaan.



"Antusiasme warga sangat besar karena rakyat Aceh dulu merasakan banyak menerima bantuan saat terjadi konflik dan tsunami," ujar Albert.



CNN

Tak Peduli Dilarang, Warga Kampung Nelayan Aceh Bahu-membahu Selamatkan Rohingya






Warga Aceh tidak peduli jika pemerintah melarang mereka menampung para pengungsi Rohingya.



Pemerintah Indonesia melalui TNI mengupayakan agar perahu pengungsi tidak masuk ke wilayah negara ini. Namun sikap serupa tidak ditunjukkan oleh para nelayan sebuah desa kecil di Aceh.



Dini hari tadi, para nelayan di desa Simpang Lhee, Julok, Aceh Timur, menyelamatkan sekitra 380 pengungsi Rohingya dan Bangladesh di tengah lautan.



Saat itu, keadaan mereka sangat lemah karena kehabisan makanan dan minuman, sementara mesin kapal mereka rusak.



"Kami menjumpai mereka sekitar jam 1 di laut saat kami tengah mencari ikan.



Kondisi mereka sudah sangat lemah, kelaparan. Kami lantas membantu mereka," kata Misran, nelayan Simpang Lhee, lansir CNN Indonesia (20/5).



Sebanyak lima kapal nelayan mengangkut warga Rohingya dan Bangladesh yang paling kepayahan. Lokasi mereka saat itu, kata Misran, dekat zona ekonomi eksklusif, sekitar tiga jam dari bibir pantai.



Sesampainya di darat, para nelayan langsung kembali ke laut dengan lebih banyak lagi kapal untuk menjemput pengungsi sisanya. Sementara di daratan, warga desa tanpa pikir panjang mendirikan dapur umum untuk makan para pengungsi yang sudah tiga bulan tidak kenal lauk pauk.



"Mereka lemah semua tidak ada daya. Makanan mereka sudah habis semua, mesin kapal mati, hanya hanyut mengikuti arus laut," kata Misran.



Tidak lama, kabar pendaratan Rohingya tersebar di berbagai desa sekitar melalui pengeras suara di meunasah atau mushola. Tergerak rasa kemanusiaan, warga berdatangan membawa makanan dan pakaian bekas.



Menurut Hidayat, seorang anggota TNI Angkatan Laut yang mendata para pengungsi, kali ini total pengungsi berjumlah 389 orang, mayoritas merupakan warga Rohingya dan terdapat pula puluhan warga Bangladesh. Sebanyak 29 di antara mereka dilarikan ke rumah sakit.



Mirawati, warga Simpang Lhee, menangis saat melihat keadaan warga Rohingya yang tiba di pantai. Sedari malam hingga siang hari, Mirawati bersama warga sekitar 10 desa menyediakan seluruh keperluan hidup warga Rohingya.



"Saya menangis melihat keadaan mereka. Saking laparnya, mereka makan banyak sekali, ada yang hingga muntah. Ada juga yang tidak mau makan karena sakit," kata ibu berusia 45 tahun ini, sembari menyendok nasi ke piring untuk makan ratusan "tamunya" itu.



Nurjanah pun demikian. Wanita 30 tahun ini sampai tidak sempat memasak makanan untuk keluarganya karena sibuk membuat masakan di dapur umum. Hingga siang, mereka bekerja tanpa henti demi mengisi perut para pengungsi.



"Saya sendiri belum makan dari pagi. Di rumah tidak ada yang masak, tapi ini demi kemanusiaan," kata Nurjanah.



Terlihat warga Rohingya, wanita, pria dan anak-anak makan dengan lahap. Warga desa tidak membiarkan para pengungsi itu kehabisan makanan. Lauk ikan, sayuran, dan nasi terus berdatangan.



Warga Aceh Tak Peduli dengan Larangan



Beberapa warga Rohingya yang bertemu nasi tidak sanggup menahan tangisnya, diikuti oleh air mata haru warga.



"Tiga bulan saya tidak makan, kini saya makan," kata warga Rohingya, Hasan Ali, 33, menangis.



Camat Julok, Zainuddin, mengatakan bahwa tindakan masyarakat Aceh ini dimotivasi oleh rasa kemanusiaan dan nilai-nilai keagamaan yang kuat di tengah warga.



"Tidak hanya di Binjai, kecamatan lain juga turun tangan membantu," kata Zainuddin.



Sebelumnya Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan mereka akan membantu warga Rohingya yang ada di lautan, tapi tidak akan membiarkan mereka masuk ke wilayah Indonesia karena akan menimbulkan masalah sosial.







Sikap ini tidak dipedulikan oleh nelayan Aceh. Mereka mengatakan, tindakan yang mereka lakukan adalah sikap yang seharusnya ditunjukkan manusia terhadap manusia lainnya yang kesusahan.



"Aceh pernah merasakan ditolong orang saat tsunami lalu. Kini giliran kami yang memberi bantuan. Apalagi mereka orang Islam. Dalam Islam binatang saja dibantu, apalagi manusia," kata nelayan, Husein, 48, yang turut serta dalam operasi evakuasi.



Warga Aceh mengaku tidak peduli jika pemerintah melarang mereka menampung para pengungsi.



"Masalah aturan pemerintah, itu urusan pemerintah. Kami hanya tahu menolong orang itu wajib. Ini wilayah Serambi Mekah, dimana budaya dan agamanya masih kuat. Allah yang akan membalas kami," ujar warga, Muhammad, 42.



CNN

Dosen UI Makin Sinting: “Allah Senang Al-Qur'an Dibaca Gaya Hip-Hop”





Di saat banyak publik Indonesia memprotes qiraah langgam (gaya) Jawa yang dibaca di istana negara baru-baru ini, seorang dosen pendukung Jokowi menyatakan bahwa Allah suka ayat-ayat Al-Quran dibaca dengan gaya Minang, Ambon, China, Hiphop, dan Blues.



“Allah kan bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayatNya dibaca dengan gaya Minang, Ambon, Cina, Hiphop, Blues …” tulis Ade Armando di akun Twitter dan Facebooknya.






Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia itu juga men-tweet hal-hal nyeleneh lainnya:






Sontak, pernyataan dosen Universitas Paramadina itu mendapat tanggapan dari puluhan netizen. Sebagian mengecam Ade karena berani menyamakan Allah dengan makhluk.



“Astagfirullah terkutuk lah dikau bapak Ade, yang telah menyamakan Allah dengan makhluk. Apa dasarnya dikau berkata begitu?,” kata Hendri Nova mengomentari status Facebook Ade.



“Allah kan bukan orang Arab? emang Allah orang gitu?” timpal Fikri Habibi.



“Walam yakun lahu kufuwan ahad, Allah tidak sama dengan makhlukNya. Istighfar yang mengatakan Allah itu orang..,” tambah Yasir Abu Mumtaz.



Sebagian lagi mempertanyakan dari mana Ade tahu bahwa Allah senang Al Qur’an dibaca dengan gaya hiphop dan blues.



“Ade Armando…Yaa belum tentu Allah senang. Coba.. kalau Allah.. ternyata tidak senang,” tulis Muhammad Taufik, kalem.



Tidak sedikit pula netizan yang memarahi Ade dengan komentar-komentar pedas di Facebook.



Sementara di Twitter, kicauan Ade juga menuai kontroversi. Sejumlah pengguna Twitter mengecam kicauan tersebut.



Seperti diberitakan sebelumnya, dalam acara peringatan Isra’ Mir’aj di istana negara Jakarta pada pekan lalu, pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an tampil beda. Muhammad Yaser Arafat sebagai qari’ membaca surat Al Isra’ ayat 1 dan surat An Najm ayat 1-5 dengan langgam Jawa. [Ibnu K/bersamadakwah]

Potret warga Aceh Gotong-royong Bantu Rohingya





Bantuan bagi ribuan pengungsi asal Bangladesh dan etnis Rohingya di Aceh terus berdatangan seiring dibukanya 10 posko bantuan oleh para relawan.



Berita tentang pengungsi di Aceh sempat memicu perdebatan apakah pantas Indonesia membantu ketika masih banyak warga miskin?



"Hentikan dulu tangis anak negeri baru menghentikan tangis negeri orang," kata Harly dari Facebook BBC Indonesia.



Namun bagi Fadhil Rahmi -dan mungkin juga warga Aceh lain- memalingkan muka bukanlah pilihan.



Sejak 2012, Fadhil bersama Ikatan Alumni Timur Tengah di Banda Aceh telah membuka posko bantuan untuk pengungsi Rohingya di Aceh, posko yang beberapa hari belakangan semakin sibuk menerima pakaian dan sumbangan dana untuk membantu gelombang pengungsi yang baru datang.



Mengapa ingin membantu?



"Kita pernah merasakan konflik seperti apa," katanya kepada BBC Indonesia.



"Juga karena mungkin kearifan lokal, bahwa ada patron memuliakan tamu adalah pekerjaan yang mulia."



"Kami tahu, juga membaca, bahwa konflik mereka rumit, ada yang bilang tidak separah itu dan ada juga yang menyebut bahwa ada koordinatornya."



"Tapi fakta di depan mata, ada saudara seiman yang butuh bantuan, sesama saudara. Ini kewajiban untuk menolong dan inilah yang dirasakan oleh mayoritas masyarakat Aceh."







Basri Effendi, koordinator Solidaritas Aceh untuk Rohingya, mengatakan bahwa ini adalah masalah darurat. Warga Aceh pernah merasakan kegentingan itu ketika tsunami melanda sepuluh tahun silam.



"Kami pernah merasakan dan pernah mendapat bantuan internasional. Saya pikir tidak ada salahnya dan sudah menjadi kewajiban kita. Ini budaya masyarakat Aceh dari dulu yang memiliki rasa iba yang tinggi satu sama lain."



"Kita membantu Rohingya bukan berarti kita tidak membantu yang lain."



Solidaritas Aceh untuk Rohingya merupakan aliansi yang terdiri dari puluhan organisasi masyarakat yang menyalurkan bantuan dari warga Aceh.



Mereka saat ini tengah membuka 10 posko bantuan, antara lain di Aceh Utara, Banda Aceh, Pidie, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Tengah, Aceh Timur, dan Langsa.



Grup Facebook mereka, dengan nama Solidaritas Aceh Untuk Rohingya telah tumbuh dengan lebih dari 3.000 anggota.



Selain bantuan warga, lembaga-lembaga donor seperti UNCHR dan IOM juga sudah memberikan bantuan bagi pengungsi yang jumlahnya mencapai ribuan di pantai timur Aceh.



BBC Indonesia

Bahas Rohingya, Gubernur Aceh temui JK





Gubernur Aceh Zaini Abdullah menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla sore ini di kantor Wapres, Jakarta, Rabu (20/5). Dalam pertemuan ini, Gubernur Aceh memberikan laporan terkait data para pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh.



Zaini menjelaskan jumlah para pengungsi Rohingya yang terdampar di Aceh semakin bertambah. Berdasarkan data yang dimilikinya, jumlah gelombang pertama pengungsi Rohingya yang tiba di Pantai Lapang, Aceh Utara mencapai 576 orang.



Mereka terdiri dari pengungsi asal Bangladesh yang sebanyak 247 orang dan pengungsi Rohingya sebanyak 329 orang. Sedangkan, jumlah pengungsi gelombang kedua tercatat sebanyak 1.390 orang.



"Tadi bisa dilihat jumlahnya sejak tanggal 10 Mei sampai dengan sekarang, bertambah banyak lagi. Ada beberapa daerah di sana, terutama kabupaten Aceh Utara dan kabupaten Aceh Timur," jelas Zaini usai bertemu dengan Wapres JK di kantor Wapres, Jakarta, Rabu (20/5).



Menurut dia, kondisi kesehatan para pengungsi pun memprihatinkan. Sebagian besar dari para pengungsi juga dilaporkan tiba dengan keadaan tak sehat. Dalam pertemuan ini, ia juga menyerahkan proses penanganan para pengungsi ini kepada pemerintah Indonesia yang bekerjasama dengan UNHCR dan IOM.



Zaini menjelaskan, Wapres memberikan instruksi kepada pemerintah daerah Aceh agar menangani para pengungsi. Lebih lanjut, Zaini juga tak menutup kemungkinan akan melakukan pemindahan lokasi penampungan para pengungsi. Saat ini, Zaini menambahkan, para pengungsi ditempatkan ke tempat yang aman dan layak.



Bantuan kemanusiaan yang diberikan pun berasal dari dana swadaya masyarakat yang hampir mencapai Rp 1 miliar. Selain itu, menurut dia, Wapres juga menyarankan untuk mengirimkan bantuan BNPB ke lokasi penampungan pengungsi.

Selasa, 19 Mei 2015

Total 1.346 Jiwa Pengungsi Rohingya Ada di Aceh







Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan bahwa pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang berada di Indonesia mencapai ribuan orang.



"Minggu lalu kita sudah menerima lebih dari 1.300, angka pastinya adalah 1.346 orang," ujar Menlu Retno di kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (19/5/2015).



Para pengungsi itu, sambungnya, datang dalam empat gelombang. Gelombang pertama sebanyak 558 orang, gelombang kedua 664 orang, gelombang ketiga 47 orang dan terakhir 96 orang.



"Kita sudah bekerja sama dengan UNHCR dan IOM, kita sudah take care mereka, baik dalam bentuk penyediaan shelter, papan, pangan, dan obat-obatan yang diperlukan apabila kondisi kesehatan mereka tidak baik," terangnya.



Dijelaskannya, sebelum kedatangan pengungsi Rohingya dan Bangladesh, setidaknya sudah ada 11.941 pengungsi per Maret 2015 yang berada di Indonesia.



"Oleh karena itu, saya ingin menekankan sekali lagi, bahwa masalah regular migrant adalah bukan masalah satu atau dua negara, ini adalah masalah regional, dan di tempat lain juga terjadi, sehingga ini juga menjadi masalah internasional," pungkasnya.



DPR menyatakan prihatin dengan imigran Rohingya yang melarikan diri karena konflik di negara asalnya, Myanmar, yang kini terdampar di Aceh.



Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menyatakan prihatin dan meminta agar pemerintah segera turun tangan. Sebab, para imigran Rohingnya tersebut sangat membutuhkan pertolongan dari pemerintah.



"Untuk jangka pendek, Pemerintah Indonesia harus membantu menyelamatkan ribuan nyawa yang membutuhkan bantuan kemanusiaan," ujar Fadli.



Sebelumnya diberitakan, sebanyak 96 imigran gelap dari Bangladesh dan Myanmar terdampar di Perairan Sumatera Utara. Mereka ditemukan nelayan setempat dan dibawa ke wilayah Kabupaten Langkat.



Sebagian besar kondisi imigran mengalami kelaparan dan kehausan karena terlalu lama terkatung-katung di tengah laut pada Jumat 15 April 2015.