Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2015

Pak Jokowi, Mana Dana Desa 1 Miliarnya, Mana?





Ribuan perangkat desa yang berunjuk rasa depan Istana Merdeka mempertanyakan janji pemerintah pusat yang akan memberikan dana Rp 1 miliar untuk desa seluruh Indonesia. 



Para kepala desa ini menganggap Presiden Joko Widodo hanya memberikan janji belaka terkait dana tersebut.



"Pak Jokowi, mana dana desa Rp 1 miliar. Ini sudah bulan apa Pak? Kok enggak ada dananya," seru orator aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (27/5).



Menurut Kepala Desa Tegal Sumur, Jawa Tengah Masyudi, seharusnya dana desa diberikan dalam tiga tahap.



Tahap pertama pada bulan April, tahap ke dua Agustus dan tahap ke tiga, September. Namun, sejauh ini belum semua desa mendapatkan dana tersebut.



"Kami minta percepatan janji presiden itu. Jangan kebanyakan alasan. Katanya masih di Kemendagri dan Kementerian Desa. Lalu kapan?" kata Masyudi.



Masyudi mengaku perangkat desa sudah mempertanyakan hal itu pada dua kementerian tersebut. Namun, hanya jawaban normatif yang didapat.



Sehingga mereka memilih menyampaikan melalui unjuk rasa agar didengarkan oleh presiden.



JPNN


Bulan Juni, Migran Bangladesh Dipulangkan





Sebanyak 720 pendatang asal Bangladesh, yang mendarat di Aceh bersama lebih dari 1.000 pengungsi Rohingya, akan dipulangkan ke negara mereka pada Juni 2015 mendatang.



Pemulangan warga Bangladesh akan dilakukan atas komitmen pemerintah negara itu untuk membawa mereka pulang, meskipun semula mereka ingin bekerja di Malaysia.



Selama berbulan-bulan mereka menumpang kapal-kapal bersama pengungsi etnik Rohingya dari Myanmar.



"Pendataan dilakukan dan diharapkan minggu ini dan minggu depan sebagian diharapkan dipindahkan ke Medan untuk transit sementara dan selanjutnya dibawa ke Bangladesh," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo, Selasa (26/05).



"Diharapkan dalam waktu satu bulan 720 pengungsi asal Bangladesh telah dikembalikan ke Bangladesh."



Menurut Sutopo, Medan ditentukan sebagai tempat transit karena mempunyai bandar udara luas untuk melayani pesawat-pesawat besar ketimbang bandar udara di Aceh. Jaraknya pun relatif dekat dengan lokasi-lokasi penampungan saat ini.



Dipisah sebab Berkelahi



Pengungsi Rohingya dan migran Bangladesh sekarang tersebar di lima kabupaten/kota, Aceh Timur, Aceh Utara, Kota Langsa, Aceh Tamiang, dan Medan.



"Para pengungsi Bangladesh dan Rohingya kita pisah karena dalam beberapa kejadian mereka berkelahi atau salah paham sehingga timbul permasalahan," tambah Sutopo yang lembaganya ditunjuk sebagai salah satu yang menangani pengungsi Rohingya dan migran Bangladesh.



"Umumnya pengungsi Rohingya lebih mudah diatur, mereka tertib karena mereka berpindah dalam rangka untuk mencari keamanan atau mencari penghidupan lebih baik. Sementara pengungsi Bangladesh lebih susah diatur. Mereka ingin keluar dari kamp yang ada."



Sementara itu Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Lhokseumawe Mohammad Akmal menuturkan proses pendataan telah rampung.



"Pihak imigrasi mempunyai pertanyaan-pertanyaan sendiri mulai dari pengambilan foto, umur, nama. Begitu pula IOM (Badan Migrasi Internasional) mendata semua dan juga UNHCR (Badan Pengungsi PBB). Nanti kita satukan semua itu," jelasnya kepada BBC.



Dunia internasional member apresiasi kepada Pemerintah Langsa, Aceh Timur, Aceh Tamiang dan Aceh Utara karena langkah-langkah yang responsif untuk membantu mengurus pengungsi imigran secara baik.

Selasa, 26 Mei 2015

Anak Yatim-Piatu Rohingya Akan Dipesantrenkan





Dari sekitar 230 anak pengungsi Rohingya, banyak yang berstatus yatim piatu oleh sebab itu Kemensos telah berkoordinasi dengan Wakil Presiden dan Menteri Luar Negeri untuk menawarkan opsi pengasuhan anak-anak itu di sejumlah pesantren di Aceh.



Khofifah Indar Parawansa menerangkan, beberapa pesantren Aceh sudah menyatakan bersedia menampung anak yatim piatu pengungsi Rohingya. Sebelumnya mereka akan diidentifikasi. Anak-anak itu juga akan ditempatkan di pesantren lain di luar Aceh.



"Setelah identifikasi, verifikasi dan validasi data, mereka bisa ke pesantren. Karena beberapa pesantren sudah menyampaikan langsung pada saya. (di luar Aceh) Ada Cicurug Sukabumi, Malang, Pasuruan, Bojonegoro. Mereka siap menampung anak-anak yatim yang siap jadi santri, mereka semua yang dari Rohingya beragama Islam," kata Menteri Sosial Khofifah.



Saat ini, para pengungsi Rohingya ditampung di beberapa tempat di Aceh. Banyak yang mengatakan, mereka ingin tinggal di Aceh.



Di tempat penampungan sementara, anak-anak pengungsi diajarkan Bahasa Indonesia dan pelajaran lainnya oleh para relawan. Malaysia dan Indonesia pekan lalu sepakat menampung 7000 para pangungsi Rohingya dan Bangladesh untuk sementara.



Sebelumnya Thailand, Malaysia dan Indonesia sempat menolak para pengungsi yang terkatung-katung di tengah laut mendarat di teritorialnya. Sikap itu mengundang protes dari PBB dan berbagai lembaga bantuan pengungsi.



Masih belum jelas bagaimana nasib para pengungsi asal Bangladesh selanjutnya. Malaysia dan Indonesia berulangkali menegaskan, mereka adalah pengungsi ekonomi, dan bukan pelarian karena tekanan politik di negaranya.



Kebanyakan pengungsi Rohingya berasal dari Myanmar. Mereka mengalami intimidasi dan represi di negaranya dan tidak mendapat pengakuan sebagai warganegara. Myanmar menganggap Rohingya sebagai imigran gelap dari Bangladesh. Sejauh ini, Myanmar belum bereaksi atas desakan negara-negara ASEAN agar menghentikan intimidasi terhadap warga Rohingya.

Kekaguman Jurnalis Asing di Pengungsian Rohingya





Jurnalis independen Amerika, Bilal Abdul Kareem, menyatakan kagum dengan bantuan dari warga Aceh untuk para pengungsi Rohingya.



Dalam laman FB-nya, Bilal menyatakan, “Maa shaa Allaah, Indonesia itu hebat. Mereka merawat para tamu dari Rohingya sebagaimana seharusnya Muslim melakukannya. Para pejabat dan para personel militer di Aceh juga bersikap baik kepada mereka (Rohingya), dan tidak merendahkan mereka,” ujar Kareem di laman facebook-nya.



“Perjalanan ini adalah perjalanan yang luar biasa. Memang seharusnya tidak ada batas sekat yang buruk antara pemerintah dan rakyatnya, yang membuat (rakyat seperti) budak dan pelayan. Subhana Allaah.”



Bilal Abdul Kareem mengunjungi Aceh pada 24 Mei 2015 untuk meliput penderitaan Muslimin Rohingya. Tak lupa ia pun membelikan sejumlah bantuan untuk para pengungsi Rohingya, berupa susu anak, botol-botol susu, pakaian gamis untuk muslimah Rohingya.



Ia pun menandaskan, “Sebagian kalangan menyatakan umat (Islam) ini lemah. Saya tidak setuju. Saya yakin umat ini harus diinformasikan akan penderitaan saudaranya. Itulah tujuan saya hadir di sini (di Aceh.)”



Dengan track record yang panjang Bilal Abdul Kareem telah malang melintang meliput berbagai perjuangan umat Islam termasuk di Suriah tahun 2012. Dia telah berpengalaman dan pernah bekerja untuk Huda TV di Amerika, serta meliput jihad Suriah untuk Channel 4 Perancis. (*antilib)

Sejak Kedatangan, Sudah 3 Pengungsi Meninggal di Aceh





Langsa – Setidaknya sudah tiga pengungsi meninggal usai terdampar di Aceh pada 13 Mei 2015 lalu.



Pada Rabu, (20/05), Syahera Bibi, balita Rohingya berusia 3 tahun meninggal di RSUD Langsa. Syahera menghembuskan nafas terkahirnya usai dirawat selama lima hari karena penyakit tetanus yang dideritanya.



“(Pengungsi, red) yang datang 682, meninggal satu orang di rumah sakit karena tetanus,” kata Yasir, seorang relawan Aceh saat dijumpai Kiblat.net di Posko Kuala Langsa, Kabupaten Langsa, Nangroe Aceh Darussalam pada Selasa, (26/05).



Seorang imigran asal Bangladesh di Aceh Utara juga meninggal pada Rabu, (20/05)



Sebelumnya, di RSUD Cut Meutia, Lhokseumawe, seorang imigran Muslim asal Bangladesh bernama Muhammad Rasyid (35 tahun) juga meninggal dunia.



Di Posko Kuala Langsa, terdapat 682 pengungsi. Sebanyak 456 orang berasal dari Bangladesh, sementara 226 lainnya merupakan pengungsi Rohingya yang terusir dari Myanmar.



Yasir menceritakan, para pengungsi ini datang dengan menggunakan 6 perahu nelayan Aceh. Mereka terkatung-katung di tengah samudera selama 60 hari.



Setelah diping-pong oleh militer perairan Thailand dan Malaysia, nelayan Aceh membawa para pengungsi dan meninggalkan perahu mereka di tengah lautan.



“Saat pertama datang badan mereka lemah. Kurus-kurus, item, dan bau. Badan mereka segini mas,” ujar Yasir sambil menunjukkan jari kelingkingnya.



Mayoritas pengungsi terkena penyakit yang cukup beragam. Mulai dari penyakit kulit, diare, hingga Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).



Saat Kiblat.net mengunjungi lokasi posko penampungan pengungsi Rohingya, kondisinya sudah cukup membaik. Para pengungsi nampak terlihat sehat.



Apalagi, Dinas Kesehatan Kabupaten Langsa juga sudah menyiapkan klinik darurat beserta dokter jaga untuk memantau kondisi kesehatan pengungsi Rohingya dan Bangladesh.



“Beberapa hari kemarin kita ada pemotongan rambut jadi mereka makin terlihat bersih,” pungkas Yasir.



kiblat

Biksu Radikal Wirathu Benci dengan Qur'an





Biksu radikal Myanmar Ashin Wirathu terus menunjukkan sikap anti-Muslim. Hal itu sepertinya untuk menegaskan sikapnya yang memusuhi hingga mengusir etnis Rohingya dari Myanmar.



Bahkan, ia mengaku tidak senang dengan kitab suci etnis Rohingya yang beragama Islam.



Dalam wawancara dengan Los Angeles Times, yang diterbitkan Ahad (24/5), Ashin Wirathu mengatakan, ia telah membaca isi Alquran. "Terus terang, saya tidak menemukan sesuatu yang saya suka," ujarnya.



Bahkan, Ashin Wirathu berkeyakinan bahwa kaum Muslims punya sebuah master plan untuk mengubah Myanmar, negeri mayoritas pemeluk Buddha menjadi penganut Islam, sebagaimana laporan Carbonated TV.



Biarawan 46 tahun mengklaim Muslim Myanmar sedang merencanakan sebuah 'jihad' melawan mayoritas Buddha dan memperingatkan sebagian besar pengikutnya untuk tidak bercampur dengan mereka.



Atas tindakannya yang mencoba membersihkan etnis Rohingya, ia menyamakan dirinya dengan tokoh mata-mata fiksi James Bond.



Biksu berusia 46 tahun tersebut membandingkan sikap politiknya, yang nasionalis dan keras anti-Muslim, dengan tingkah agen rahasia Inggris.



Ashin Wirathu seolah ingin menunjukkan bahwa sikapnya yang anti-Muslim itu sebagai upaya untuk membela negaranya.



"James Bond seorang nasionalis," katanya, menginterpretasi adegan agen 007 tersebut yang tidur dengan seorang wanita demi mendapatkan informasi.



"Sementara ia tidak mengambil banyak kesenangan dalam bertindak," kata Wirathu, "Ia melakukannya untuk negaranya."



Kelompok hak asasi manusia telah memperingatkan bahwa ia dan gerakan 969 yang dipimpinnya telah memicu kerusuhan agama yang menyebabkan atas sejumlah kematian sejak 2012.



Diskriminasi anti-Muslim di Myanmar juga telah memicu eksodus massa kaum minoritas Rohingya menjadi penghuni perahu nelayan yang penuh sesak menuju Thailand dan negara regional lainnya.



ROL

Aceh Utara berikan pendidikan untuk Anak Rohingya





Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh akan mencarikan solusi, untuk memberikan layanan pendidikan dan tempat bermain bagi anak-anak pengungsi Rohingya.



Kepala Bagian Humas Kabupaten Aceh Utara, Amir Hamzah mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan segera memindahkan para pengungsi Rohingya yang berada TPI Kuala Cangkoi, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara ke tempat yang lebih bagus.



"Nantinya kalau sudah dipindahkan ke tempat yang lebih bagus, kita akan berikan layanan pendidikan kepada anak-anak pengungsi Rohingya tersebut," ujar Amir Hamzah, Selasa (26/5).



Amir mengatakan format pendidikan masih akan dibahas bersama-sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Utara dan dengan pihak-pihak terkait lainnya. Menurut dia, pendidikan memang sangat penting karena itu merupakan sebagai hak dasar.



Selain itu, pemkab juga akan melakukan kerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk memberikan ahli bahasa, sehingga dalam mengikuti proses pendidikan para anak-anak Rohingya dapat memahaminya.



Ia menambahkan, dalam memberikan materi pendidikan nantinya akan disesuaikan dengan usia masing-masing. Misalnya akan diberikan pendidikan PAUD bagi mereka yang masih kecil-kecil dan juga akan diberikan pula materi pendidikan agama.



"Selama mereka masih berada di Aceh Utara, kita akan memberikan pelayanan dengan baik, terutama fasilitas kesehatan dan sarana prasarana penting lainnya. Karena proses penampungan ini masih membutuhkan waktu yang lama," ujar dia.



ANT

Biaya Pengungsi Rohingya yang sudah Dihabiskan, Gubernur Aceh: “Banyak Sekali, Saya Sudah Tak Ingat”






Sampai saat ini Pemerintah Pusat belum menyalurkan anggaran biaya bantuan untuk pengungsi Rohingya.



Pemerintah Aceh yang mengurus ribuan pengungsi Rohingya sudah menggelontorkan banyak uang untuk kebutuhan pengungsi Rohingya dan Bangladesh. Gubernur Aceh Zaini Abdullah meminta pemerintah pusat segera membantu biaya operasional pengungsi.



Namun, Zaini tak menyebutkan secara pasti dana yang sudah dihabiskan masyarakat dan pemprov untuk mengurusi warga Rohingya.



"Saya sudah tidak ingat berapa, karena banyak sekali," ujar pria yang akrab dipanggil Doto Zaini ini, Selasa (26/5/2015).



Ia menambahkan, Jusuf Kalla (JK) sudah mengutus Kementerian Sosial dan BNPB untuk membantu Pemda Aceh. Dia yakin ada pos anggaran di Kementerian Sosial untuk kemanusiaan.



"Saya rasa, itu (anggaran) harus sesegera mungkin. Kalau enggak mana mungkin daerah sendiri. Ini besar dananya dan ini kami selalu jalin komunikasi," ujarnya.



"Saya kira, Mensos sudah ada dana ini," tambahnya.



Pengungsi Rohingya di tampung di tiga kabupaten di Aceh. Total ada 11 ribuan pengungsi. Kendati dana menipis, Zaini memastikan pengungsi tetap ditangani dengan baik.



Ia juga tidak mengetahui detail program pemerintah pusat terkait sekolah bagi anak pengungsi Rohingya tersebut.



"Saya enggak tahu, ini kan program pemerintah. Menurut Pak Wapres sudah ada perjanjian tiga negara antara Malaysia, Thailand dan Indonesia. Ya dimufakatkan apa-apa saja yang diurus," ucapnya.

Senin, 25 Mei 2015

Kepincut Aceh, Rohingya Tak Jadi lagi ke Malaysia





Penampungan para pengungsi Rohingya dan Bangladesh di Aceh menjadi pusat keramaian. Banyak warga datang berduyun-duyun, untuk memberikan bantuan atau sekadar melihat dan bersenda gurau dengan para pengungsi.



Kebahagiaan masyarakat Rohingya ini seakan menghapuskan penderitaan mereka setelah berada di ujung tanduk kematian saat empat bulan terkatung-katung di lautan.



Mohammad Shorif, seorang pengungsi Rohingya mengaku lega karena ia dan 331 lainnya sudah berada di Kuala Cangkoi, Aceh. Meski ia harus tinggal di kamp yang sederhana dengan persediaan air terbatas.



“Saya tidak mau ke Malaysia, saya mau tinggal di sini,” katanya pada Rappler pekan lalu.



Pemuda berumur 18 tahun ini mengatakan, Aceh memberikan apa yang ia butuhkan. Ia bahkan punya rencana panjang untuk tinggal di Aceh, bersekolah, dan mengejar cita-citanya sebagai dokter.



Shorif bukan satu-satunya yang menolak. Ada beberapa pengungsi lainnya yang mengatakan berharap terus tinggal di Aceh.



Tapi Shorif dan teman-temannya harus bersabar. Meski pemerintah baru saja mengumumkan bahwa para pengungsi bisa tinggal sementara di Aceh selama setahun, mereka tak bisa tinggal leluasa di tanah rencong.



Menurut juru bicara Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Mitra Salima Suryono selama setahun tersebut, mereka tidak dapat melakukan kegiatan ekonomi atau mencari pekerjaan. Anak-anak mereka pun tak bisa sekolah.



“Bisa sekolah, tapi biasanya tak bisa dapat ijazah,” katanya.



Sejak awal tiba di pantai Aceh pekan lalu, warga Aceh berbondong-bondong memberi bantuan, yang kini menggunung di Kuala Cangkoy.



"Saya tidak ingin kembali ke kampung, saya ingin menjadi warga Aceh," kata Muhammad Hasyim, salah satu pengungsi Bangladesh, dengan bahasa Melayu seadanya.



Di tempat pelelangan ikan Kuala Cangkoy, pemandangan yang sama juga bisa disaksikan.



Ibu-ibu dan wanita remaja Aceh bersenda gurau dengan wanita Rohingya. Bertanya nama, berbincang dan tertawa lepas, kendati tidak mengerti bahasa satu sama lain.



Anak-anak Rohingya, sebagian bertelanjang dada, terlihat riang memainkan mainan yang diberi para relawan.



Para pengungsi mengaku senang disambut baik di Aceh, Rohingya kepincut dengan warga Aceh karena kebaikan hati mereka.



Warga Rohingya, Muhammad Kamal Hussain, berharap bisa terus tinggal di provinsi ini.



Namun warga Bangladesh yang kini dipisahkan dari Rohingya kemungkinan besar akan dideportasi ke negara mereka. Sementara Hussain belum jelas nasibnya.



"Saya ingin tinggal di sini. Lebih baik saya mati dari pada tidak bisa tinggal di sini," ujar pria 22 tahun ini.



Warga Aceh sendiri mengaku tidak keberatan menerima para pengungsi Rohingya, apalagi mereka adalah saudara sesama Muslim yang harus dibantu.



"Kami menerima mereka di sini, bahkan jika boleh menjadi warga Aceh," kata Sofiah Farhan, 17, pelajar di Kuala Cangkoy.

Warga Aceh di Qatar Kirim Bantuan untuk Rohingya






Bantuan untuk Rohingya dari warga Aceh terus berdatangan. Stok diperkirakan bisa bertahan sampai sebulan.



BNPB membantu pemenuhan kebutuhan yang diperlukan, yang bersifat filling the gap dalam penanganan pengungsi," kata juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Sabtu, 23 Mei.



Tak hanya mereka, warga setempat juga terus memberikan bantuan dalam berbagai bentuk.



"Bantuan masyarakat untuk satu bulan juga tidak akan habis. Ada makanan, baju, apalagi sekarang sedang musim panen," kata Abu Hussain, petugas imigrasi Aceh yang bertugas di penampungan Blangmangat, Lhokseumawe, sebagaimana dikutip media.



Selain bahan sandang dan pangan, juga layanan kesehatan, pendidikan, dan penyembuhan trauma. Selain melalui organisasi, banyak juga warga yang datang sendiri untuk memberikan bantuan.



Bantuan dari Qatar



Warga Aceh di Qatar, Jumat (22/5) menyalurkan bantuan kemanusian berupa sembako untuk pengungsi Rohingya. Bantuan senilai Rp 100 juta itu diserahkan di empat titik posko pengungsi yaitu di kawasan Aceh Utara, Langsa, dan Aceh Timur.



Ketua Warga Aceh Qatar, T Anwar kepada Serambi, Sabtu (23/5) mengatakan, jumlah bantuan kepedulian warga Aceh di Qatar tersebut disalurkan melalui perwakilan pelaksana di Aceh yang dikoordinir oleh Muklis Yusuf dan Isnaini Zulfri.



Bantuan tersebut, menurut T Anwar merupakan wujud empati dan solidaritas masyarakat Aceh di Qatar. Bantuan itu dihimpun dari warga Aceh serta warga Indonesia lainnya yang berkerja di Qatar.



Hingga saat ini, ada 1.722 pengungsi Rohingya dari Myanmar dan Bangladesh di Aceh. Ini adalah angka jumlah imigran yang datang dalam gelombang pengungsi yang terakhir. Mereka ditempatkan di 4 daerah penampungan di Aceh Utara, Aceh Tamiang, Kota Langsa, dan Aceh Timur.

PM Bangladesh Sebut Imigrannya 'Sakit Jiwa'





Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina mengecam tindakan warga negaranya yang menjadi imigran ilegal dengan mempertaruhkan nyawa melaut ke negara lain. Menurut Hasina, para imigran ini adalah orang-orang yang "sakit jiwa."



Menurut kantor berita Bangladesh Sangbad Sangstha, Hasina pada pidatonya Minggu, (24/5), mengatakan bahwa para warga negaranya yang terdampar di negara lain telah mencoreng citra Bangladesh. Menurut Hashina, Bangladesh masih punya cukup lapangan pekerjaan sehingga mereka tidak perlu pergi ke negara lain.



"Bersama dengan para perantaranya, hukuman akan dijatuhkan terhadap mereka yang pindah ke negara lain dengan cara ilegal. Mereka merusak citra negara sekaligus membahayakan nyawa," ujar Hasina.



Berangan-angan mendapatkan penghidupan yang lebih baik di negara lain, Hasina menyebut para imigran ini "sakit jiwa", terutama karena tidak memedulikan nyawa hanya demi mencari uang.



"Kehidupan mereka bisa lebih baik jika uang yang diberikan ke perantara untuk keluar negeri digunakan dengan baik," lanjut dia.



Lebih dari 1.700 imigran Bangladesh dan pengungsi Rohingya mendarat di Aceh setelah berada dalam kondisi mengenaskan selama berbulan-bulan di tengah laut. Sebelumnya, Indonesia, Malaysia dan Thailand mendorong balik perahu para pengungsi dan mencegah masuk ke wilayah laut mereka.



Motivasi kedua etnis mengarungi lautan berbeda. Rohingya lari dari penindasan dan pembunuhan di Myanmar, sementara warga Bangladesh ingin mencari kerja di Malaysia.



Diperkirakan ada sekitar 25 ribu warga Rohingya dan Bangladesh yang kabur dari negaranya dalam tiga bulan pertama tahun ini. Aliran deras imigran ini adalah pergerakan manusia yang terbesar di Asia sejak jatuhnya Vietnam selatan 40 tahun lalu.



Malaysia kemarin mengaku telah menemukan beberapa kuburan massal di wilayah perbatasan dengan Thailand, diduga berisikan jasad warga Rohingya dan Bangladesh.



Sejak menjabat 2009, Hasina bersikap tegas dengan tidak membiarkan warga Rohingya kabur ke Bangladesh. Pada 2012, dia menolak warga Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan kelompok biksu Buddha radikal di Arakan, Myanmar.



CNN

Kalau Ibu-ibu Aceh Ketemu Ibu-ibu Rohingya, Siapa Belajar Ngaji?





Sabtu siang Posko relawan ACT di Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa kedatangan rombongan ibu-ibu anggota Persaudaraan Muslimah (Salima).



Anggota Salima itu ACT pertemukan dengan ibu-ibu pengungsi Rohingya. Sebagian dari kaum perempuan Rohingya itu remaja berkisar 15-20 tahun.



“ Sebagian sudah bisa baca al-Quran dengan baik. Tapi ada juga yang belum bisa. Bahkan ada yang belum bisa baca tulis huruf latin sama sekali,” ujar Asnita, Ketua Salima, Sabtu sore (23/5/2015).



Pertemuan saling sapa, yang lebih karena faktor keinginan untuk berbagi, membuat suasana akrab terjadi. Ibu-ibu dari Salima pun mulai mengajak perempuan dari Rohingya belajar baca al-Quran dan huruf latin.



Nampak sekali para pengungsi yang paling rentan terhadap ancaman kekerasan tersebut bergembira bisa berakrab-akrab dengan sesama kaum Hawa.



" Kita akan datang ke Posko ACT ini secara rutin. Kita akan buka kelompok belajar mengajar untuk para perempuan Rohingya yang ternyata pendidikan dasarnya saja masih sangat kurang. Kami minta ACT membantu kami," kata Asnita.



Rasa Terimakasih



Sementara itu, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyampaikan rasa terima kasih atas upaya masyarakat Aceh yang ikut membantu penanganan pengungsi Rohingya. Mensos mengatakan semoga semua ikhtiar yang dilakukan masyarakat bersama pemerintah, khususnya seluruh jajaran pemda dan masyarakat Aceh dicatat sebagai kebaikan.



"Atas nama pemerintah kami sampaikan terima kasih atas seluruh upaya pemda dan masyarakat Aceh," kata Mensos di Langsa, Minggu (24/5/2015), seperti dikutip Antara.



Mensos mengatakan, sejak awal para pengungsi itu terdampar di perairan Aceh Utara, Pemerintah Aceh sudah melakukan upaya layanan dan sudah disampaikan ke pemerintah pusat.



"Kalau masyarakat Aceh pasti dasarnya sangat kuat dalam upaya ini, maka mudah-mudahan seluruh ikhtiar ini dicatat malaikat, dan malaikat tidak akan salah mencatat," katanya.



Berdasarkan data, jumlah pengungsi Rohingya dan Bangladesh sebanyak 1.759 jiwa di empat titik. Rinciannya, sebanyak 564 jiwa di Punteut Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe.



Sebanyak 672 jiwa ditampung di Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa; 476 jiwa di Bireun Bayeun, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur; dan sebanyak 47 jiwa di gedung milik pemda Kabupaten Aceh Tamiang.

OPM Nyatakan Perang Terbuka dengan Indonesia






OPM pimpinan Puron Wenda dan Enden Wanimbo nyatakan perang melawan masyarakat Indonesia non-Papua, bukan hanya TNI dan Polri saja.




JAYAPURA, — Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Puron Wenda dan Enden Wanimbo, yang bermarkas di Lany Jaya, Papua, menebar ancaman akan melancarkan perang terbuka terhadap Indonesia.



"Mulai sekarang kami nyatakan perang revolusi total dari Sorong hingga Merauke, yakni perang secara terbuka terhadap semua orang Indonesia yang ada di tanah Papua,"ujar Enden melalui telepon selulernya, Jumat, 22 Mei.



Ancaman ini ditujukan bukan hanya untuk Tentara Nasional Indonesia (TNI) atau Kepolisian RI (Polri), tapi juga masyarakat non-Papua.



Dalam perang terbuka, atau yang dinamai revolusi total dari Sabang sampai Merauke, OPM akan berupaya mengusir Indonesia dari Papua. "Pengusaha, buruh bangunan, pegawai negeri orang Indonesia akan dibunuh, diusir, bukan hanya tentara atau polisi saja, yang penting mereka rambut lurus," kata Puron.



Perang terbuka ini, kata Enden, untuk menyatakan ketegasan bahwa perjuangan Papua merdeka tetap menjadi harga mati, dan menolak segala bentuk dialog.



Hal senada juga dikatakan Puron, bahwa pernyataan Presiden Joko “Jokowi” Widodo, Papua sudah aman tidak benar.



“Presiden katakan Papua aman itu tidak benar, Komando OPM siap perang, kami tak mau dialog yang di atur-atur Indonesia yang suka tipu-tipu," kata Puron.



Menurutnya, guna mendukung aksi perang terbuka, kelompoknya saat ini sudah mengumpulkan berbagai senjata dan amunisi. "Persenjataan sudah kami persiapkan untuk melancarkan perang terbuka," ujarnya.



(BACA: Akankah jurnalis asing bisa leluasa meliput di Papua?)



Puron juga meminta sebaiknya Indonesia segera keluar dari seluruh tanah Papua. "Indonesia keluar saja dari Papua, karena kami akan terus berperang untuk Papua Merdeka," kata Puron.



Enden juga mengajak wartawan asing untuk masuk ke Papua, guna menyaksikan secara langsung aksi yang akan mereka lancarkan. “Wartawan internasional, nasional harus ada kebebasan untuk ambil berita di Papua," kata Enden.



Rappler

Minggu, 24 Mei 2015

Nistakan Islam, Dosen UI Akhirnya Dipolisikan





Ade Armando menyatakan tidak akan menarik pernyataannya


Dosen komunikasi FISIP UI Ade Armando akhirnya dipolisikan karena telah meakukan penistaan agama. Sang pelapor, Johan Kahn (32) melaporkan Ade Armando ke kepolisian karena status Facebook Ade telah menistakan agama Islam.





Allah kan bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayatNya dibaca dg gaya Minang, Ambon, Cina, Hiphop, Blues ......

Posted by Ade Armando on Tuesday, May 19, 2015


Beberapa hari setelah status tersebut diunggah, Johan, yang dalam profil LinkedIn-nya menyebut diri sebagai legal head dari TV berbayar Transvision yang dimiliki TransCorp, melaporkan Ade ke Polda Metro Jaya, pada Sabtu, 23 Mei 2015.







Alih-alih menarik pernyataan, Ade, yang adalah mantan anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), kembali menegaskan opininya melalui Twitter.







Bermula dari langgam Al-Quran



Kasus ini bermula dari ide Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang mengusulkan pembacaan Al-Quran, Surah An-Najm 1-15, dengan langgam Jawa pada peringatan Isra Miraj di Istana Negara.





Pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa ini menuai kontroversi di masyarakat. Sebagian menyalahkan Presiden Joko "Jokowi" Widodo, karena berpikir itu ide presiden.



Salah satu kritik datang dari Ahmad Annuri, pakar pengajian Al-Quran dari Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia. Dia menyatakan pemerintah berusaha melakukan liberalisasi Islam. Menurutnya, kejadian tersebut tidak boleh terjadi lagi karena membaca Al-Quran berlanggam Jawa adalah tidak lazim, dan ada kesalahan niat.



"Yaitu merasa perlu menonjolkan citra rasa lagu ke-Nusantara-an atau keindonesiaan dalam membaca Al-Quran," kata Ahmad seperti dikutip media.



Tokoh nasional Syafii Maarif berpendapat berbeda. Menurut dia, membaca Al-Quran dengan langgam Jawa adalah hal yang tidak perlu dipermasalahkan



Ade masuk dalam polemik ini dengan menyatakan bahwa pembacaan Al-Quran bisa dilakukan menggunakan langgam dari berbagai daerah.



Bantah tuduhan penistaan agama



Ade membantah tuduhan penistaan agama tersebut.



"Dalam status itu, saya kan membela ide Menteri Agama dan lebih jauh lagi, pemerintahan Jokowi. Juga gagasan mereka yang mendukung perhargaan terhadap keberagaman. Bisa jadi hal tersebut yang diserang," Ade menjelaskan.



Ade juga sudah memberikan klarifikasi secara langsung kepada Johan Kahn tentang maksud status Facebook yang menjadi persoalan.





Namun demikian Johan sepertinya tidak akan mencabut laporannya. Ia malah mempersilahkan Ade untuk memberikan klarifikasi secara langsung ke pihak penyidik.





Rappler

Bohongi Mahasiswa, #JokowiBohong Jadi Trending Topic





Sikap Presiden Joko Widodo yang membatalkan secara sepihak pertemuan lanjutan dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia menjadi perbincangan hangat di twitter.



tagar #JokowiBohong tiba-tiba jadi trending topic Indonesia pada Mingu (24/5/2015). Bermunculan juga foto-foto Presiden Jokowi layaknya Pinokio berhidung panjang ketika berbohong.



Kicauan itu tak hanya berasal dari akun-akun mahasiswa maupun akun BEM universitas, tetapi juga warga yang turut nimbrung menyikapi sikap Jokowi itu.



Tagar itu itu sepertinya bentuk protes netizen, utamanya mahasiswa, atas sikap Presiden Joko Widodo yang tidak memenuhi janjinya untuk menemui mahasiswa di jalan pada 21 Mei lalu.



Saat itu mahasiswa mendapatkan janji Jokowi bakal menemui mahasiswa yang beraksi. Namun, janji itu tak terpenuhi. Jokowi justru malah berada di Malang.



”Padahal, janji tersebut sudah disaksikan mahasiswa-masyarakat ketika Pak Luhut (Kepala Staf Kepresidenan) berdiri di atas mimbar aksi,” tulis @alviinptr.



Pada aksi 21 Mei lalu, mahasiswa menyuarakan dua tuntunan. Pertama, menuntut Presiden Jokowi untuk mencabut kebijakan harga BBM dari mekanisme pasar bebas. Kedua, mengammbil alih 100% kekayaan dan aset blok mahakam dan freeport ketika kontrak berakhir.



cerita itu lantas dicuitkan sejumlah kelompok pergerakan mahasiswa dalam media sosial. Mereka juga menyertakan tagar #JokowiBohong hingga akhirnya menjadi trending topic.

Sabtu, 23 Mei 2015

Pindah Rohingya ke Satu Pulau Masih Wacana





Memindahkan ribuan pengungsi etnis Rohingya yang saat ini berada di Aceh ke sebuah pulau khusus masih sebatas wacana. Kementerian Luar Negeri saat ini fokus menangani gelombang kedatangan ribuan pengungsi asal Myanmar yang telah mencapai Selat Malaka.



Direktur Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata Kemenlu Andi Rachmianto mengatakan, dibutuhkan kesepakatan di antara negara-negara yang berkepentingan dalam kasus pengungsian besar-besaran etnis Rohingya untuk mengimplementasikan wacana tersebut.



Lebih dari itu Andi berkata, pemindahan orang-orang Rohingya yang mencari suaka ke sebuah pulau khusus membutuhkan waktu yang cukup lama. Pemerintah harus terlebih dulu membangun berbagai sarana dan prasanara, seperti sekolah, perumahan, hingga tempat beribadah bagi mereka.



Berkaca pada pengalaman pemerintah menampung pengungsi asal Vietnam pada masa perang Vietnam, Andi pun menuturkan, pemerintah akan memiliki tanggungan yang cukup berat.



"Proses menyelesaikan pengungsi Vietnam butuh waktu 17 tahun, sampai akhirnya Pulau Galang ditutup Indonesia," kata Andi di Jakarta, Jumat (22/5).



Pada periode 1976 hingga 1996, pemerintah membuka penampungan bagi warga Vietnam di Pulau Galang. Bersama UNHCR, pemerintah membangun infrastruktur di pulau yang kini masuk dalam wilayah administratif Provinsi Kepulauan Riau itu.



Sebelumnya, pengamat menilai bahwa salah satu solusi untuk mengatasi arus imigran Rohingya yang melarikan diri dari kampung halaman mereka di Myanmar akibat diskriminasi, adalah dengan memindahkan mereka di satu pulau.



Pengamat hubungan internasional Hikmahanto Juwana mengatakan bahwa pulau itu memastikan agar pengungsi tidak berbaur dengan warga lokal.



Hal tersebut, menurut dia, untuk mencegah mereka kabur dari tempat tahanan. "Di Indonesia kan mudah mendapatkan KTP. Belum lagi mereka bisa menikah dengan WNI. Ujung-ujungnya secara ilegal mereka akan mendapat kewarganegaraan Indonesia," kata Hikmahanto kepada CNN Indonesia, Rabu lalu.



Jika sudah begitu, maka mereka akan memberitahu sanak saudara di kampung halaman bahwa Indonesia ternyata bukan tujuan yang buruk. "Datanglah 'tsunami' berikut," ujar dia.

Buddhis sebut dapat Ancaman Teror jelang Waisak





Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Buddhayana Indonesia, Henry Gunawan menyebut "ancaman teror terhadap umat Buddha di Indonesia muncul menjelang peringatan Hari Raya Waisak di Indonesia", yang akan jatuh pada Selasa (2/6) pekan depan.



Ia mengatakan, ancaman tersebut mencuat di media sosial seperti Facebook dan Twitter.



Dalam selebaran yang diterima dari salah satu media sosial, Henry mengatakan ancaman ditujukan kepada para biksu yang menentang pendukung pengungsi Rohingya Myanmar. Para biksu tersebut disebutkan sebagai para penyembah berhala yang akan merayakan peringatan Waisak 2559 di candi terbesar di Indonesia, Candi Borobudur.



Dicantumkan dalam selebaran tersebut yang berbunyi desakan untuk tidak tinggal diam membiarkan para biksu merayakan Waisak di Candi Borobudur pada awal Juni nanti.



Atas munculnya selebaran tersebut, Henry mengatakan muncul kekhawatiran dari umat Buddha di Indonesia terlebih dua minggu lagi mereka akan memperingati hari raya Waisak. "Isu sekarang makin memanas, ada kekhawatiran, apalagi ada selebaran ini yang mengancam akan mengusik perayaan di Borobudur," kata Henry.



Henry mengatakan ancaman teror juga pernah muncul ketika isu Rohingya memanas di Indonesia. Salah satunya yang terjadi pada Vihara Ekayana di Jakarta Barat pada 2013 lalu. Saat itu, kata Henry, isu Rohingya dijadikan alasan untuk melakukan teror bom di salah satu vihara terbesar di Jakarta tersebut.



Selain di vihara Ekayana, saat itu, kata Henry, juga muncul aksi demonstrasi dan tindakan destruktif seperti pelemparan batu dan telor di beberapa vihara di Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang juga mengatasnamakan solidaritas Rohingya.



"Apalagi waktu itu teror bom juga muncul pas isu Rohingya ini memanas. Kami harap pemerintah bisa meningkatkan keamanan menjelang perayaan Waisak pada 2 Juni nanti," kata Henry menegaskan.



Ia meminta pemerintah dan aparat kepolisian untuk meningkatkan pengamanan.



"Dalam sejarahnya, hubungan umat beragama antara kaum Buddha dengan kelompok agama lain seperti Islam atau Kristen di Indonesia selalu harmonis. Konflik seringkali muncul akibat disintegrasi umat agama di luar negeri, yang berimbas ke Indonesia," kata Henry.

Untuk Rohingya, DPD RI Sarankan Pulau Aceh





Semestinya sebagai negara muslim, Pemerintah Indonesia bisa memberikan respons dan bantuan dengan cepat 


Anggota DPD RI Rafli Kande menyayangkan lambannya upaya Pemerintah Indonesia menangani para pengungsi muslim Rohingya yang kini berada di Provinsi Aceh.



"Sampai hari ini kami melihat upaya yang diberikan pemerintah terhadap penanganan pengungsi muslim Rohingya di Aceh masih belum ada bahkan cenderung lamban," kata Rafli Kande seusai rapat dengar pendapat dengan Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi dan jajaran bersama anggota DPD RI di Mataram, Rabu (20/5).



Menurut dia, semestinya sebagai negara muslim, Pemerintah Indonesia bisa memberikan respons dan bantuan dengan cepat terhadap penanganan para pengungsi muslim Rohingya ini.



Karena selama berada di pengungsian, kata dia, kehidupan warga muslim Rohingya sehari-hari dibantu masyarakat setempat, bersama pemerintah daerah di Aceh secara swadaya.



"Sebagai negara muslim, semestinya kita harus memberikan bantuan. Apalagi, yang kita ketahui Provinsi Aceh tidak memiliki anggaran yang cukup menangani itu sendiri tanpa ada bantuan dari pemerintah pusat," jelasnya.







Lebih lanjut, anggota DPD RI asal Aceh ini mengusulkan agar para pengungsi muslim Rohingya tersebut bisa ditempatkan di sebuah pulau yang tidak jauh dari Banda Aceh, sebagai tempat bermukim sementara, sampai menunggu adanya jalan keluar dan kepastian bagi penanganan para pengungsi muslim Rohingya ini.



"Ini baru rencana, kita berikan saja dulu tempat tinggal, sembari menunggu penanganan lebih lanjut, apalagi ini sesama muslim," katanya.



Hanter