Tampilkan postingan dengan label Rohingya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rohingya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2015

Bulan Juni, Migran Bangladesh Dipulangkan





Sebanyak 720 pendatang asal Bangladesh, yang mendarat di Aceh bersama lebih dari 1.000 pengungsi Rohingya, akan dipulangkan ke negara mereka pada Juni 2015 mendatang.



Pemulangan warga Bangladesh akan dilakukan atas komitmen pemerintah negara itu untuk membawa mereka pulang, meskipun semula mereka ingin bekerja di Malaysia.



Selama berbulan-bulan mereka menumpang kapal-kapal bersama pengungsi etnik Rohingya dari Myanmar.



"Pendataan dilakukan dan diharapkan minggu ini dan minggu depan sebagian diharapkan dipindahkan ke Medan untuk transit sementara dan selanjutnya dibawa ke Bangladesh," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo, Selasa (26/05).



"Diharapkan dalam waktu satu bulan 720 pengungsi asal Bangladesh telah dikembalikan ke Bangladesh."



Menurut Sutopo, Medan ditentukan sebagai tempat transit karena mempunyai bandar udara luas untuk melayani pesawat-pesawat besar ketimbang bandar udara di Aceh. Jaraknya pun relatif dekat dengan lokasi-lokasi penampungan saat ini.



Dipisah sebab Berkelahi



Pengungsi Rohingya dan migran Bangladesh sekarang tersebar di lima kabupaten/kota, Aceh Timur, Aceh Utara, Kota Langsa, Aceh Tamiang, dan Medan.



"Para pengungsi Bangladesh dan Rohingya kita pisah karena dalam beberapa kejadian mereka berkelahi atau salah paham sehingga timbul permasalahan," tambah Sutopo yang lembaganya ditunjuk sebagai salah satu yang menangani pengungsi Rohingya dan migran Bangladesh.



"Umumnya pengungsi Rohingya lebih mudah diatur, mereka tertib karena mereka berpindah dalam rangka untuk mencari keamanan atau mencari penghidupan lebih baik. Sementara pengungsi Bangladesh lebih susah diatur. Mereka ingin keluar dari kamp yang ada."



Sementara itu Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Lhokseumawe Mohammad Akmal menuturkan proses pendataan telah rampung.



"Pihak imigrasi mempunyai pertanyaan-pertanyaan sendiri mulai dari pengambilan foto, umur, nama. Begitu pula IOM (Badan Migrasi Internasional) mendata semua dan juga UNHCR (Badan Pengungsi PBB). Nanti kita satukan semua itu," jelasnya kepada BBC.



Dunia internasional member apresiasi kepada Pemerintah Langsa, Aceh Timur, Aceh Tamiang dan Aceh Utara karena langkah-langkah yang responsif untuk membantu mengurus pengungsi imigran secara baik.

Selasa, 26 Mei 2015

Alhamdulillah! Rohingya Tak Dipulangkan, Aceh Siapkan Lahan




Bupati Aceh Utara, Muhammad Thayib




Pengungsi Rohingya adalah rahmat bagi masyarakat Aceh, jadi muliakan tamu Allah ini dengan perlakuan yang baik



Kesungguhan menolong pencari suaka Rohingya yang terlunta, tak bisa sekadar memberi mereka layanan medis, pangan, atau pakaian belaka. Ada hak-hak dasar: hidup, bermasyarakat dan beraktivitas bebas selayaknya manusia.



Sadar kebutuhan ini, masyarakat sipil dan birokrasi pemerintahan di Aceh Utara menunjukkan wujud nyata demi kemanusiaan, pada pertemuan, Selasa, 26 Mei di Lhokseumawe.



Kesimpulan ini lahir dari hasil pertemuan Lembaga Kemanusiaan ACT Foundation, Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya (KNSR) dan Pemerintah Kabupaten Utara.



“ACT Foundation hadir di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kuala Cangkoy, pada hari pertama ketika para pencari suaka dari Myanmar dan Bangladesh itu direlokasi dari penampungan di Gelanggang Olahraga Lhoksukon. Kami tahu, Bupati Aceh Utara menegaskan, pencari suaka ini adalah rahmat, dan pemerintah Aceh Utara welcome dengan mereka,” kata M. Insan Nurrohman, Vice President ACT.



“Kemanusiaan, mengalahkan alasan apapun. Kami salut, rakyat Aceh Utara dan Bupatinya kompak, meskipun saat itu beredar pernyataan beberapa pejabat Pusat yang belum sepenuhnya menunjukkan sikap yang bulat,” tambahnya.



Insan mengungkapkan itu selepas pertemuan. Menurutnya, sikap pemerintah dan rakyat Aceh Utara, wujud nyata masyarakat humanis. Sekat-sekat kebangsaan bisa gugur demi kemanusiaan.



“Fakta menyolok mata, ada orang-orang sekarat ratusan orang, meminta pertolongan kita dan Aceh Utara memberikan pertolongannya spontan. Ini layak mendapat apresiasi. Sangat humanis,” ungkap Insan.



ACT yang telah menerjunkan tim tanggap darurat di Kota Langsa (Aceh Utara) maupun Birem Bayeun (Aceh Timur), merespon cepat pernyataan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla yang menyatakan kesiapan Indonesia menampung bahkan hingga sepuluh ribu pencari suaka.



“Kami merepresentasikan elemen masyarakat sipil Indonesia, menemui Pemerintah Aceh Utara, untuk bahu-membahu memberi pengayoman lebih layak bagi Muslim Rohingya. Setelah berbulan-bulan di laut, stress, lalu di tenda atau gedung-gedung alakadarnya, sudah sepantasnya kita siapkan hunian lebih layak,” tegas Insan.



Maka, ACT, bersama KNSR – sebuah wadah yang diinisiasi ACT menghimpun berbagai elemen sosial yang satu visi menolong Muslim Rohingya – menemui Pemerintah Aceh Utara. “Kami perlu akses lahan dan dukungan otoritas formal di Aceh Utara,” tutur Insan.



Apa respons Bupati Aceh Utara? 



Bupati Aceh Utara, Muhammad Thayib mengatakan, ”Pengungsi Rohingya adalah rahmat bagi masyarakat Aceh, jadi muliakan tamu Allah ini dengan perlakuan yang baik. Sebagai bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh, kami mendorong dan menyiapkan lahan untuk tempat tinggal lebih permanen bagi pengungsi Rohingya.”



Pernyataan ini, menunjukkan konsistensi. Muhammad Thayib tidak mengubah dukungan. Malah mempertegas dengan langkah konkret. Sebagai wujud dukungan awal, Pemerintah Aceh Utara menyediakan satu area kluster di Kecamatan Nibung seluas 2500 meter persegi.



“Saat ini kepemilikan masih di Exxon Mobile. Di depan bapak-bapak semua, sudah kami tanda tangani surat tersebut dengan harapan pihak Exxon bisa memberikan lahan yang sudah lama kosong untuk calon tempat tinggal mereka,” kata Muhammad Thayib.



Pertemuan yang berlangsung hangat ini juga dihadiri Penasihat Bupati, Tgk Sulaiman Daud dari Partai Aceh, Ketua Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya Wilayah Aceh Utara: Diki Saputra, Kepala Bagian Pemerintahan Aceh Utara: Murtala, Asisten I Bupati Aceh Utara: Anwar, Kepala Bagian Pembangunan Aceh Utara: Syaifullah serta Kepala Bagian Humas Aceh Utara: Amir.



Ketua KNSR Wilayah Aceh Utara, Diki Saputra menegaskan,”Sebagai sebuah komite, KNSR menyambut positif sikap konkret Bupati Aceh Utara dan menjadikan ini modal perjuangan kemanusiaan untuk Rohingya. Sesuai mandat pembentukannya, KNSR berjuang di ranah advokasi dan diplomasi,” ungkapnya.



“Dengan adanya lahan untuk mendirikan shelter terpadu di atasnya, dunia memiliki sebuah pilot project kemanusiaan di mana pembelaan untuk Rohingya lainnya akan memperoleh energi positifnya. Kami optimistis, semua pencari suaka Rohingya yang masuk ke wilayah Republik Indonesia, akan memperoleh perlakuan manusiawi dan sama-sama kita muliakan sebagai manusia. Dengan begitu, bangsa ini memang layak menyandang bangsa humanis,” ungkapnya.


Anak Yatim-Piatu Rohingya Akan Dipesantrenkan





Dari sekitar 230 anak pengungsi Rohingya, banyak yang berstatus yatim piatu oleh sebab itu Kemensos telah berkoordinasi dengan Wakil Presiden dan Menteri Luar Negeri untuk menawarkan opsi pengasuhan anak-anak itu di sejumlah pesantren di Aceh.



Khofifah Indar Parawansa menerangkan, beberapa pesantren Aceh sudah menyatakan bersedia menampung anak yatim piatu pengungsi Rohingya. Sebelumnya mereka akan diidentifikasi. Anak-anak itu juga akan ditempatkan di pesantren lain di luar Aceh.



"Setelah identifikasi, verifikasi dan validasi data, mereka bisa ke pesantren. Karena beberapa pesantren sudah menyampaikan langsung pada saya. (di luar Aceh) Ada Cicurug Sukabumi, Malang, Pasuruan, Bojonegoro. Mereka siap menampung anak-anak yatim yang siap jadi santri, mereka semua yang dari Rohingya beragama Islam," kata Menteri Sosial Khofifah.



Saat ini, para pengungsi Rohingya ditampung di beberapa tempat di Aceh. Banyak yang mengatakan, mereka ingin tinggal di Aceh.



Di tempat penampungan sementara, anak-anak pengungsi diajarkan Bahasa Indonesia dan pelajaran lainnya oleh para relawan. Malaysia dan Indonesia pekan lalu sepakat menampung 7000 para pangungsi Rohingya dan Bangladesh untuk sementara.



Sebelumnya Thailand, Malaysia dan Indonesia sempat menolak para pengungsi yang terkatung-katung di tengah laut mendarat di teritorialnya. Sikap itu mengundang protes dari PBB dan berbagai lembaga bantuan pengungsi.



Masih belum jelas bagaimana nasib para pengungsi asal Bangladesh selanjutnya. Malaysia dan Indonesia berulangkali menegaskan, mereka adalah pengungsi ekonomi, dan bukan pelarian karena tekanan politik di negaranya.



Kebanyakan pengungsi Rohingya berasal dari Myanmar. Mereka mengalami intimidasi dan represi di negaranya dan tidak mendapat pengakuan sebagai warganegara. Myanmar menganggap Rohingya sebagai imigran gelap dari Bangladesh. Sejauh ini, Myanmar belum bereaksi atas desakan negara-negara ASEAN agar menghentikan intimidasi terhadap warga Rohingya.

Kekaguman Jurnalis Asing di Pengungsian Rohingya





Jurnalis independen Amerika, Bilal Abdul Kareem, menyatakan kagum dengan bantuan dari warga Aceh untuk para pengungsi Rohingya.



Dalam laman FB-nya, Bilal menyatakan, “Maa shaa Allaah, Indonesia itu hebat. Mereka merawat para tamu dari Rohingya sebagaimana seharusnya Muslim melakukannya. Para pejabat dan para personel militer di Aceh juga bersikap baik kepada mereka (Rohingya), dan tidak merendahkan mereka,” ujar Kareem di laman facebook-nya.



“Perjalanan ini adalah perjalanan yang luar biasa. Memang seharusnya tidak ada batas sekat yang buruk antara pemerintah dan rakyatnya, yang membuat (rakyat seperti) budak dan pelayan. Subhana Allaah.”



Bilal Abdul Kareem mengunjungi Aceh pada 24 Mei 2015 untuk meliput penderitaan Muslimin Rohingya. Tak lupa ia pun membelikan sejumlah bantuan untuk para pengungsi Rohingya, berupa susu anak, botol-botol susu, pakaian gamis untuk muslimah Rohingya.



Ia pun menandaskan, “Sebagian kalangan menyatakan umat (Islam) ini lemah. Saya tidak setuju. Saya yakin umat ini harus diinformasikan akan penderitaan saudaranya. Itulah tujuan saya hadir di sini (di Aceh.)”



Dengan track record yang panjang Bilal Abdul Kareem telah malang melintang meliput berbagai perjuangan umat Islam termasuk di Suriah tahun 2012. Dia telah berpengalaman dan pernah bekerja untuk Huda TV di Amerika, serta meliput jihad Suriah untuk Channel 4 Perancis. (*antilib)

Sejak Kedatangan, Sudah 3 Pengungsi Meninggal di Aceh





Langsa – Setidaknya sudah tiga pengungsi meninggal usai terdampar di Aceh pada 13 Mei 2015 lalu.



Pada Rabu, (20/05), Syahera Bibi, balita Rohingya berusia 3 tahun meninggal di RSUD Langsa. Syahera menghembuskan nafas terkahirnya usai dirawat selama lima hari karena penyakit tetanus yang dideritanya.



“(Pengungsi, red) yang datang 682, meninggal satu orang di rumah sakit karena tetanus,” kata Yasir, seorang relawan Aceh saat dijumpai Kiblat.net di Posko Kuala Langsa, Kabupaten Langsa, Nangroe Aceh Darussalam pada Selasa, (26/05).



Seorang imigran asal Bangladesh di Aceh Utara juga meninggal pada Rabu, (20/05)



Sebelumnya, di RSUD Cut Meutia, Lhokseumawe, seorang imigran Muslim asal Bangladesh bernama Muhammad Rasyid (35 tahun) juga meninggal dunia.



Di Posko Kuala Langsa, terdapat 682 pengungsi. Sebanyak 456 orang berasal dari Bangladesh, sementara 226 lainnya merupakan pengungsi Rohingya yang terusir dari Myanmar.



Yasir menceritakan, para pengungsi ini datang dengan menggunakan 6 perahu nelayan Aceh. Mereka terkatung-katung di tengah samudera selama 60 hari.



Setelah diping-pong oleh militer perairan Thailand dan Malaysia, nelayan Aceh membawa para pengungsi dan meninggalkan perahu mereka di tengah lautan.



“Saat pertama datang badan mereka lemah. Kurus-kurus, item, dan bau. Badan mereka segini mas,” ujar Yasir sambil menunjukkan jari kelingkingnya.



Mayoritas pengungsi terkena penyakit yang cukup beragam. Mulai dari penyakit kulit, diare, hingga Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).



Saat Kiblat.net mengunjungi lokasi posko penampungan pengungsi Rohingya, kondisinya sudah cukup membaik. Para pengungsi nampak terlihat sehat.



Apalagi, Dinas Kesehatan Kabupaten Langsa juga sudah menyiapkan klinik darurat beserta dokter jaga untuk memantau kondisi kesehatan pengungsi Rohingya dan Bangladesh.



“Beberapa hari kemarin kita ada pemotongan rambut jadi mereka makin terlihat bersih,” pungkas Yasir.



kiblat

Biksu Radikal Burma Trauma dengan Indonesia, Kok bisa?





Akar masalah dari Rohingya adalah rezim militer yang tengah berlangsung di negara Myanmar. Rezim tersebut yang membuat etnis Rohingya tak memiliki kewarganegaraan. Kekejaman yang dilakukan mereka menjadi sorotan publik mancanegara.



Bukan hanya itu nasib umat Rohingya pun terkatung-katung dengan mengungsi keberbagai penjuru dunia seperti Indonesia dan juga Arab Saudi.



Konflik Rohingya tidak dapat dipisahkan dari latar belakang sejarah, corak keagamaan, dan psikologi budaya kedua kelompok yang berseteru. Saat ini gelombang pengungsi Rohingya telah mencapai lebih dari 12 ribu jiwa di Indonesia.



Hadirnya biksu Ashin Wirathu dikenal sebagai sosok radikal yang menyeruakan kebencian terhadap keberadaan Muslim di Myanmar, tak pelak majalah Time maupun New York Times pun melabeli Ashin Wirathu sebagai Osama Bin Laden versi Burma.



Penyebab sang biksu kejam lantaran dipicu dari trauma dengan negara Indonesia yang dahulunya terkenal sebagai penganut agama Buddha terbanyak yang lambat laun tergerus akan hadirnya umat Islam di bumi Nusantara.



"Biksu ini (Ashin Wirathu) mempunyai trauma yang tinggi terhadap Indonesia. Dirinya memiliki dendam kepada umat Islam, dan takut penganut agama Buddha menjadi terkikis di negara Myanmar seperti yang terjadi dulu di Indonesia," ujar Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas , Jumat (22/5).



Sementara itu, Ilyas menambahkan agar umat Muslim Indonesia menahan diri agar tidak tersulut dengan adanya permasalahan yang terjadi di Myanmar.



"Sentimen Buddha jangan di balas di sini, umat Islam tak mengajarkan balas dendam dan juga menghukum yang lemah tanpa belas kasih," ujarnya.



ROL

Biksu Radikal Wirathu dijuluki “Buddha Bin Laden”






Atas tindakannya yang menggenosida etnis Rohingya, Nama biksu radikal Ashin Wirathu mendadak populer lagi.



Biksu radikal tersebut selama ini disebut menjadi otak pengusiran dan pembersihan etnis Rohingya dari Myanmar. Tidak salah, majalah Time sampai menjulukinya sebagai Buddha Bin Laden.



Sikapn radikalnya terlihat dari berbagai pernyataannya yang terus menyerang kaum Muslim Rohingya yang menjadi minoritas di Myanmar.



"Banyak Muslim menghancurkan negara kami, rakyat kami, dan agama Buddha," cetus Wirathu.



Dalam wawancara dengan Los Angeles Times pada Ahad (24/5), Wirathu merasa julukan Osama Bin Laden dari Burma kurang tepat. Dia malah mengidentifikasi dirinya yang memiliki kesamaan dengan tokoh mata-mata fiksi paling terkenal di dunia, yaitu James Bond.



"James Bond adalah seorang nasionalis," katanya sambil berkedip dan tersenyum seraya mengingat film agen 007 tersebut. "Ia melakukannya untuk negaranya."



Biksu berusia 46 tahun tersebut seolah menggambarkan dirinya yang bersikap keras terhadap etnis Rohingya sebagai upaya untuk melindungi negara. Dia dengan tegas membela Myanmar dari musuh utamanya yang diidentifikasi sebagai kaum Muslim.



Gara-gara sikap itu, kaum Rohingya harus eksodus dari negaranya dengan menggunakan perahu nelayan yang penuh sesak menuju Thailand dan Malaysia, serta terdampar hingga di Indonesia.



Dalam pidato dan tulisan yang diunggah di Facebook miliknya, Ashin telah memperingatkan kelompoknya akan sebuah 'jihad' guna melawan mayoritas Buddha. Dia juga menyebarkan desas-desus secara sistematis bahwa orang Muslim telah memperkosa perempuan Buddha.



Tidak hanya itu, ia menyerukan boikot bisnis milik pengusaha Muslim. Penganut ajaran Buddha yang baik, menurut dia, tidak harus berinteraksi sosial dengan umat Islam, yang dilabelinya sebagai 'ular' dan 'anjing gila'.



Upaya Ashin memerangi etnis Rohingya tidak hanya sampai di situ. Dia merupakan ujung tombak dalam diskriminasi agama di Myanmar, yang mendorong sekitar 1 juta etnis minoritas Muslim tersebut semakin dalam tekanan.



Kelompok hak asasi manusia internasional mengatakan, Ashin dan gerakan radikal yang dipimpinnya, 969, sukses memicu kerusuhan sektarian yang menewaskan puluhan orang sejak 2012.



Sekitar 100 ribu orang Rohingya telah dipaksa menghuni kamp yang kondisinya memprihatinkan dengan kekurangan gizi di negara bagian barat Rakhine. Keadaan semakin memburuk setelah bantuan dari luar berhenti karena pemerintah mengusir kelompok bantuan asing pada tahun 2014.



"Wirathu memainkan peran sentral dengan pidato kebenciannya dan Islamofobia yang diciptakan, mengingat bahwa Rohingya dikelilingi oleh komunitas bermusuhan yang dapat melecut menjadi kekerasan dengan sangat cepat," kata Direktur Inisiatif Kejahatan Internasional Negara di Queen Mary University, London yang juga penulis laporan tentang Myanmar.


Aceh Utara berikan pendidikan untuk Anak Rohingya





Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh akan mencarikan solusi, untuk memberikan layanan pendidikan dan tempat bermain bagi anak-anak pengungsi Rohingya.



Kepala Bagian Humas Kabupaten Aceh Utara, Amir Hamzah mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan segera memindahkan para pengungsi Rohingya yang berada TPI Kuala Cangkoi, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara ke tempat yang lebih bagus.



"Nantinya kalau sudah dipindahkan ke tempat yang lebih bagus, kita akan berikan layanan pendidikan kepada anak-anak pengungsi Rohingya tersebut," ujar Amir Hamzah, Selasa (26/5).



Amir mengatakan format pendidikan masih akan dibahas bersama-sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Utara dan dengan pihak-pihak terkait lainnya. Menurut dia, pendidikan memang sangat penting karena itu merupakan sebagai hak dasar.



Selain itu, pemkab juga akan melakukan kerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk memberikan ahli bahasa, sehingga dalam mengikuti proses pendidikan para anak-anak Rohingya dapat memahaminya.



Ia menambahkan, dalam memberikan materi pendidikan nantinya akan disesuaikan dengan usia masing-masing. Misalnya akan diberikan pendidikan PAUD bagi mereka yang masih kecil-kecil dan juga akan diberikan pula materi pendidikan agama.



"Selama mereka masih berada di Aceh Utara, kita akan memberikan pelayanan dengan baik, terutama fasilitas kesehatan dan sarana prasarana penting lainnya. Karena proses penampungan ini masih membutuhkan waktu yang lama," ujar dia.



ANT

Komentar Nyinyir Abbott Soal Migran Rohingya





Perdana Menteri Australia Tony Abbott, mengesampingkan rencana membantu menerima pengungsi yang lari ke Asia Tenggara, dengan alasan akan memperburuk masalah dan mendorong lebih banyak orang naik perahu.



Abbott, yang pemerintahan konservatifnya menerapkan kebijakan menghentikan perahu, mengatakan bahwa Australia "tidak akan mendukung orang berpikir bahwa mereka bisa naik perahu, bekerja sama dengan penyelundup manusia untuk memulai kehidupan baru".



"Tidak, tidak, tidak," kata pemimpin Australia itu menambahkan jawabannya atas pertanyaan wartawan apakah ia akan menawarkan permukiman untuk pengungsi asal suku Rohingya, yang ditekan pemerintah Myanmar, dan Bangladesh.



"Kalau kami memberi sedikit saja harapan kepada orang naik perahu, persoalan itu hanya akan menjadi semakin parah, bukan lebih baik," kata dia.



Sekitar 3.000 pengungsi telah diselamatkan oleh Malaysia, Indonesia, dan Thailand dalam kurun 10 hari terakhir setelah pemerintah Thailand menggerebek jaringan perdagangan manusia. Kebijakan Thailand ini membuat sindikat perdagangan manusia menjadi kacau dan menelantarkan para migran terlunta-lunta di lautan.



Abbott menegaskan peran Australia adalah menghentikan perdagangan manusia dengan strategi menghentikan perahu-perahu pengungsi itu masuk ke wilayah Australia.



"Cara terbaik untuk melakukan itu adalah dengan tegas bahwa seketika Anda menaiki perahu yang bocor, Anda tidak akan pernah mendapatkan apa yang Anda inginkan, yaitu sebuah kehidupan baru di negara Barat," kata dia.



Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanata Nasir menimpali pernyataan PM Abbott itu dengan mengingatkan bahwa Australia adalah negara yang menandatangani Konvensi Pengungsi, yang harus memikul tanggung jawab yang melekat sebagai penandatangan konvensi tersebut.



"Negara penandatangan konvensi tentang pengungsi harus bertanggujawab. Ini adalah tergantung mereka untuk memastikan bahwa mereka bertindak sesuai dengan apa yang mereka telah tandatangani," kata Nasir kepada wartawan di Jakarta.



"Jika Anda meyakininya ketika Anda menandatanganinya, maka Anda harus bertindak sesuai dengan konvensi itu dan menerima tanggung jawab tersebut," katanya.



Indonesia, bersama dengan Malaysia dan Thailand, awalnya menolak untuk menerima manusia-manusia perahu yang kelaparan dan nyaris meninggal dunia tersebut.



Namun Malaysia dan Indonesia, Rabu, setelah pembahasan di Kuala Lumpur, mengumumkan akan menerima manusia perahu untuk satu tahun ke depan hingga mereka mendapatkan pemukiman permanen di negara ketiga dengan bantuan badan internasional.



Indonesia, Malaysia, dan Thailand bukanlah penandatangan Konvensi Pengungsi.



Pemerintah Australia telah menerapkan pendekatan operasi militer untuk menolak perahu-perahu pengungsi pencari suaka yang mencoba memasuki perairan Australia sejak Abbott menjadi Perdana Menteri Australia pada September 2013, demikian AFP melaporkan.



ANT

Nelayan Aceh: “Kalau Nasib Kami seperti Mereka, Bagaimana?”




Foto: Pak Mohamad Adenan bersama relawan ACT dari KAMMI, yang naik kapal nelayan milik bos Pak Adenan.



NELAYAN-nelayan itu sedang mengecat kapal kayunya di pinggir Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa, Aceh, saat kami menghampiri dan menyapa mereka. Sebagian badan kapal berkapasitas 50 ton itu nampak kilap. Kapal ikan sumber penghidupan mereka itu nampak baru kembali.



Seorang nelayan berusia paruh baya sambil terus sibuk bekerja menanyakan identitas kami. Setelah berbasa-basi, Mohamad Adnan meminta kami naik ke atas kapal. Dengan hanya balok kayu, kami meniti ke atas kapal.



Adnan yang dituakan oleh nelayan-nelayan lainnya itu berhenti bekerja dan menemui kami. Adnan juga menawarkan makan siangnya. Namun dengan sopan kami mengatakan kami sudah makan siang. Kami terkesan dengan keramahannya, yang menjadi salah satu karakter positif orang Aceh.



Sebagaimana diberitakan, pada Jumat pagi (15/5/2015), ada enam kapal nelayan Aceh yang menolong para manusia perahu asal Myanmar dan Bangladesh. Kapal Adnan adalah kapal yang mengangkut sisa pengungsi, berjumlah 45 orang.



“Kami baru melaut satu hari, saat menemukan orang-orang asing itu,” ungkap Adnan.



Biasanya kapal berada di laut 5 sampai 6 hari. Kapten kapal yang memimpin Muhammad Adnan dengan 40 ABK lainnya, memutuskan untuk mengevakuasi para manusia perahu asal Myanmar dan Bangladesh itu. Keputusan dilakukan usai saling kontak antarnelayan via radio, dan diminta saling merapat.



“Kami ikut mendekat ke lokasi dimana orang-orang itu berada,” tutur ayah dari enam anak ini.



Adnan mengatakan kapalnya adalah kapal terakhir yang mengangkut pengungsi. “ Lima kapal yang lain sudah di depan kami,” tambahnya.



Saat kapal nelayan dan pengungsi saling menekat, beberapa pengungsi langsung terjun ke laut untuk mendekat ke kapal Mohamad Adnan. Menurut penglihatan Adnan, ada juga perempuan yang nekat terjun berenang mendekati kapalnya. Jarak dua kapal sekira 30-40 meter. Para pengungsi itu berteriak-teriak, “ Allahu kbar, Allahu akbar!”



Didorong rasa iba, kapten kapal memerintahkan Mohamad Adnan dan kawan-kawannya segera lebih mendekat, untuk mencegah mereka terjun ke laut.



“Saat kami menolong mereka, tak ada di hati kecuali rasa iba. Saya membayangkan saat itu, seandainya mereka itu adalah kami, tentu kami saat itu akan sangat berharap pertolongan dari siapapun,” kata Adnan, yang selama 5-6 melaut bisa mendapat upah 150-200 dari bos pemilik kapal.



“Apa salah mereka? Dan mengapa mereka seolah-olah tak boleh kita tolong?” jawab Adnan ketika ditanya keputusan mereka untuk melakukan tindakan penyelamatan.



Usai kapal saling merapat, para pengungsi itu berpindah kapal. Mereka langsung duduk di dek kapal, dan sebagian, mungkin karena kelelahan, langsung berbaring. Sebagian laki-laki terlihat luka-luka yang masih setengah kering. Ada luka di lengan, punggung, kaki dan kepala.



Adnan mengatakan karena masalah bahasa, ABK kapal tak banyak bicara dengan pengungsi.



“Yang kami lakukan segera mengeluarkan makanan dan air bekal kami mencari ikan untuk sepekan, yang masih banyak, karena kami baru berada di atas laut sehari semalam,” urai Adnan.



Adnan mengaku makin trenyuh melihat para pengungsi itu makan dengan lahap. Mereka nampak sama sekali tak mampu menyembunyikan rasa lapar dan haus mereka.



“Bahkan saat kami baru mau selesai menaruh makanan ke piring, mereka langsung menyambarnya,” ungkap Adnan.



Bagaimana perasaan Adnan bisa membantu orang yang sedang sangat butuh pertolongan?



“Hati saya lega, bisa menolong orang kesusahan. Mereka berada di laut sama seperti kami. Mereka manusia sama seperti kami,” kata Adnan.



Adnan dan kawan-kawannya menyatakan tak menyesal, usai mendaratkan para pengungsi itu, kapalnya sempat tertunda untuk melaut kembali oleh aparat.



Kesempatan itu digunakan untuk mengecat kapal milik bosnya.



“Mungkin karena kami masih dibutuhkan katerangannya kali,” ujar Adnan. (Ajm-ACT)

Biaya Pengungsi Rohingya yang sudah Dihabiskan, Gubernur Aceh: “Banyak Sekali, Saya Sudah Tak Ingat”






Sampai saat ini Pemerintah Pusat belum menyalurkan anggaran biaya bantuan untuk pengungsi Rohingya.



Pemerintah Aceh yang mengurus ribuan pengungsi Rohingya sudah menggelontorkan banyak uang untuk kebutuhan pengungsi Rohingya dan Bangladesh. Gubernur Aceh Zaini Abdullah meminta pemerintah pusat segera membantu biaya operasional pengungsi.



Namun, Zaini tak menyebutkan secara pasti dana yang sudah dihabiskan masyarakat dan pemprov untuk mengurusi warga Rohingya.



"Saya sudah tidak ingat berapa, karena banyak sekali," ujar pria yang akrab dipanggil Doto Zaini ini, Selasa (26/5/2015).



Ia menambahkan, Jusuf Kalla (JK) sudah mengutus Kementerian Sosial dan BNPB untuk membantu Pemda Aceh. Dia yakin ada pos anggaran di Kementerian Sosial untuk kemanusiaan.



"Saya rasa, itu (anggaran) harus sesegera mungkin. Kalau enggak mana mungkin daerah sendiri. Ini besar dananya dan ini kami selalu jalin komunikasi," ujarnya.



"Saya kira, Mensos sudah ada dana ini," tambahnya.



Pengungsi Rohingya di tampung di tiga kabupaten di Aceh. Total ada 11 ribuan pengungsi. Kendati dana menipis, Zaini memastikan pengungsi tetap ditangani dengan baik.



Ia juga tidak mengetahui detail program pemerintah pusat terkait sekolah bagi anak pengungsi Rohingya tersebut.



"Saya enggak tahu, ini kan program pemerintah. Menurut Pak Wapres sudah ada perjanjian tiga negara antara Malaysia, Thailand dan Indonesia. Ya dimufakatkan apa-apa saja yang diurus," ucapnya.

Senin, 25 Mei 2015

Rakyat Aceh akan Terus Bantu Pengungsi Rohingya





Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Sosial diminta mengizinkan sementara waktu para pengungsi Rohingya dan Bangladesh tetap berada di Aceh. Pemerintah diharapkan memperhatikan nasib mereka dengan memberikan kebutuhan dan fasilitas.



Permintaan tersebut disampaikan anggota parlemen Aceh, Iskandar Usman Al-Farlaky, saat menerima kunjungan kerja Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa meninjau keadaan pengungsi di kawasan Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa, Minggu, 24 Mei 2015.



“Untuk sementara waktu, biarkan mereka ditampung di sini. Saya meminta pemerintah membantu memfasilitasi kebutuhan dan tempat yang layak,” kata Iskandar dalam keterangannya kepada Tempo, Senin, 25 Mei 2015.



Permintaan agar para pengungsi tinggal sementara di Aceh sangat beralasan. Menurut Iskandar, warga Aceh mempunyai solidaritas yang tinggi dalam membantu mereka. Warga Aceh menyelamatkan mereka di laut kemudian berbondong-bondong membantu kebutuhan sehari-hari mereka setelahnya.



“Walaupun tanpa dikoordinasi, warga Aceh langsung tergerak memberikan bantuan.”



Semangat tersebut patut menjadi pemicu pemangku kekuasaan di Indonesia untuk mengambil langkah strategis dalam menyelamatkan masa depan para pengungsi.



“Apa pun langkahnya, jaminan kehidupan para pengungsi harus jadi prioritas,” ujarnya.



Pemerintah diminta terus mengambil langkah politik terkait dengan dugaan kekerasan yang diterima para imigran tersebut di daerah asal masing-masing. Termasuk mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa memfasilitasi serta menekan Myanmar dan Bangladesh bertanggung jawab penuh atas situasi yang terjadi.



Sementara itu, Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Aceh Darlis Azis menuturkan pihaknya bersama Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya (AMAPR) terus mengumpulkan bantuan untuk disalurkan kepada pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang ditampung di beberapa tempat di Aceh.



“Saya rasa, biarkan untuk sementara mereka di sini. Tidak ada masyarakat yang keberatan,” katanya.



Darlis, yang baru saja mengunjungi lokasi penampungan untuk memetakan kebutuhan pengungsi, menyatakan dukungan pemerintah yang sangat diperlukan adalah penempatan mereka di tempat layak.



“Seperti menyediakan shelter (barak) yang layak secepatnya. Sekarang sebagian mereka di tenda-tenda,” ucapnya.



Dia mendukung upaya pemerintah memberikan perlindungan dan bantuan untuk sementara waktu kepada para pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang terdampar di Aceh.



(ADI WARSIDI/TEMPO)

Kepincut Aceh, Rohingya Tak Jadi lagi ke Malaysia





Penampungan para pengungsi Rohingya dan Bangladesh di Aceh menjadi pusat keramaian. Banyak warga datang berduyun-duyun, untuk memberikan bantuan atau sekadar melihat dan bersenda gurau dengan para pengungsi.



Kebahagiaan masyarakat Rohingya ini seakan menghapuskan penderitaan mereka setelah berada di ujung tanduk kematian saat empat bulan terkatung-katung di lautan.



Mohammad Shorif, seorang pengungsi Rohingya mengaku lega karena ia dan 331 lainnya sudah berada di Kuala Cangkoi, Aceh. Meski ia harus tinggal di kamp yang sederhana dengan persediaan air terbatas.



“Saya tidak mau ke Malaysia, saya mau tinggal di sini,” katanya pada Rappler pekan lalu.



Pemuda berumur 18 tahun ini mengatakan, Aceh memberikan apa yang ia butuhkan. Ia bahkan punya rencana panjang untuk tinggal di Aceh, bersekolah, dan mengejar cita-citanya sebagai dokter.



Shorif bukan satu-satunya yang menolak. Ada beberapa pengungsi lainnya yang mengatakan berharap terus tinggal di Aceh.



Tapi Shorif dan teman-temannya harus bersabar. Meski pemerintah baru saja mengumumkan bahwa para pengungsi bisa tinggal sementara di Aceh selama setahun, mereka tak bisa tinggal leluasa di tanah rencong.



Menurut juru bicara Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Mitra Salima Suryono selama setahun tersebut, mereka tidak dapat melakukan kegiatan ekonomi atau mencari pekerjaan. Anak-anak mereka pun tak bisa sekolah.



“Bisa sekolah, tapi biasanya tak bisa dapat ijazah,” katanya.



Sejak awal tiba di pantai Aceh pekan lalu, warga Aceh berbondong-bondong memberi bantuan, yang kini menggunung di Kuala Cangkoy.



"Saya tidak ingin kembali ke kampung, saya ingin menjadi warga Aceh," kata Muhammad Hasyim, salah satu pengungsi Bangladesh, dengan bahasa Melayu seadanya.



Di tempat pelelangan ikan Kuala Cangkoy, pemandangan yang sama juga bisa disaksikan.



Ibu-ibu dan wanita remaja Aceh bersenda gurau dengan wanita Rohingya. Bertanya nama, berbincang dan tertawa lepas, kendati tidak mengerti bahasa satu sama lain.



Anak-anak Rohingya, sebagian bertelanjang dada, terlihat riang memainkan mainan yang diberi para relawan.



Para pengungsi mengaku senang disambut baik di Aceh, Rohingya kepincut dengan warga Aceh karena kebaikan hati mereka.



Warga Rohingya, Muhammad Kamal Hussain, berharap bisa terus tinggal di provinsi ini.



Namun warga Bangladesh yang kini dipisahkan dari Rohingya kemungkinan besar akan dideportasi ke negara mereka. Sementara Hussain belum jelas nasibnya.



"Saya ingin tinggal di sini. Lebih baik saya mati dari pada tidak bisa tinggal di sini," ujar pria 22 tahun ini.



Warga Aceh sendiri mengaku tidak keberatan menerima para pengungsi Rohingya, apalagi mereka adalah saudara sesama Muslim yang harus dibantu.



"Kami menerima mereka di sini, bahkan jika boleh menjadi warga Aceh," kata Sofiah Farhan, 17, pelajar di Kuala Cangkoy.

Aceh dan Rohingya, Simbol Revolusi Ukhuwah Abad Ini





Oleh : Raidah Athirah, Penulis Muslimah, tinggal di Polandia



ORANG-orang di dunia dikejutkan dengan sebuah tindakan heroik yang akan selalu dicatat oleh sejarah. Diingat oleh zaman dan dikenang oleh anak cucu peradaban.



Kebangkitan ukhuwah Islamiyah telah hadir. Memecah nasionalisme ketika hati batu hanya menghalau yang teraniaya. Menunjukkan kepada dunia bahwa ukhuwah ini tak ada sekat. Mereka yang berani bertindak atas ukhuwah yang tak perlu didengungkan tapi dibuktikan bahwa deritamu adalah kepiluanku saudaraku Rohingya.



Siapa orang-orang pemberani itu? Yang meruntuhkan simbol kesombongan teritorial? Siapa manusia-manusia berhati langit itu yang tak patuh pada kezaliman? Siapa pejuang-pejuang kebenaran itu yang bergerak menunjukkan ukhuwah melawan arus perintah yang zalim? Siapa sumbu ukhuwah yang membangkitkan ribuan hati relawan kemanusiaan?



Selamat kepadamu wahai pemilik rencong ‘BA’, SIN, MIM, LAM,HA ‘!

Selamat kepadamu wahai putra-putri pemberani Iskandar Muda!

Selamat kepadamu wahai tanah rahim Cut Nyak Dien!

Selamat kepadamu wahai putra-putri pejuang Tuanku Tengku Umar!

Selamat kepadamu wahai putra -putri tanah ulama!



Tak ada yang menggerakkan mereka selain seruan takbir dan doa orang-orang lemah, sekarat dan terombang ambing di laut tanpa harapan.



Inilah mereka saudara dari tanah para pejuang, yang melakukan revolusi ukhuwah tanpa ketakutan. Keberkahan dan kemuliaanlah untuk mereka di tanah Serambi Mekah, Aceh. Kau adalah simbol revolusi ukhuwah yang bangkit melawan kekeringan moral zaman.



Tak ada yang menggerakkanmu selain seruan takbir dan doa orang -orang lemah, sekarat dan terombang ambing di laut tanpa harapan.



Allah Tuhan Pemilik Langit dan Bumi menunjukkan kuasaNya dalam jejak-jejak pemberani nelayan Aceh. Keberkahan bagimu wahai saudara di tanah Serambi Mekkah.



Inilah saudara kita Rohingya yang terbuang. Yang ditekan. Yang terkatung-katung dalam derita tiada akhir tanpa tanah lahir, perlindungan dan masa depan. Yang jasadnya di laut menjadi saksi kemanusiaan yang pudar. Semoga Allah mengampuni atas kelemahan ukhuwah kita yang sekarat.



Inilah saudara kita Rohingya yang tangis dan teriakannya keluar dari mulut yang kehausan, kelaparan, dan kesakitan.



Mereka yang diberi gelar manusia perahu, pengungsi Myanmar, imigran gelap adalah saudara kita yang lemah dan tertindas, Rohingya.



Anak-anak kurus, wanita tangguh dalam ujian kelaparan dan ibu penuh air mata mengiklaskan kematian di depan mata, para lelaki yang sekarat, simbol muhajirin abad ini. Mereka adalah kehormatan kita, ukhuwah yang perlu pembuktian.



Dan saudaraku di tanah Serambi Mekah, kau adalah simbol Anshar abad ini. Segala puji bagi Allah untuk inspirasi ini. Semoga anak turunanku diberi kesempatan bertaut rahim di tanah Aceh.



Mari bertakbir menyongsong lahirnya simbol revolusi ukhuwah Islamiyah abad ini, Aceh dan Rohingya .



Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!




Jablonna, Polandia

Kalau Ibu-ibu Aceh Ketemu Ibu-ibu Rohingya, Siapa Belajar Ngaji?





Sabtu siang Posko relawan ACT di Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa kedatangan rombongan ibu-ibu anggota Persaudaraan Muslimah (Salima).



Anggota Salima itu ACT pertemukan dengan ibu-ibu pengungsi Rohingya. Sebagian dari kaum perempuan Rohingya itu remaja berkisar 15-20 tahun.



“ Sebagian sudah bisa baca al-Quran dengan baik. Tapi ada juga yang belum bisa. Bahkan ada yang belum bisa baca tulis huruf latin sama sekali,” ujar Asnita, Ketua Salima, Sabtu sore (23/5/2015).



Pertemuan saling sapa, yang lebih karena faktor keinginan untuk berbagi, membuat suasana akrab terjadi. Ibu-ibu dari Salima pun mulai mengajak perempuan dari Rohingya belajar baca al-Quran dan huruf latin.



Nampak sekali para pengungsi yang paling rentan terhadap ancaman kekerasan tersebut bergembira bisa berakrab-akrab dengan sesama kaum Hawa.



" Kita akan datang ke Posko ACT ini secara rutin. Kita akan buka kelompok belajar mengajar untuk para perempuan Rohingya yang ternyata pendidikan dasarnya saja masih sangat kurang. Kami minta ACT membantu kami," kata Asnita.



Rasa Terimakasih



Sementara itu, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyampaikan rasa terima kasih atas upaya masyarakat Aceh yang ikut membantu penanganan pengungsi Rohingya. Mensos mengatakan semoga semua ikhtiar yang dilakukan masyarakat bersama pemerintah, khususnya seluruh jajaran pemda dan masyarakat Aceh dicatat sebagai kebaikan.



"Atas nama pemerintah kami sampaikan terima kasih atas seluruh upaya pemda dan masyarakat Aceh," kata Mensos di Langsa, Minggu (24/5/2015), seperti dikutip Antara.



Mensos mengatakan, sejak awal para pengungsi itu terdampar di perairan Aceh Utara, Pemerintah Aceh sudah melakukan upaya layanan dan sudah disampaikan ke pemerintah pusat.



"Kalau masyarakat Aceh pasti dasarnya sangat kuat dalam upaya ini, maka mudah-mudahan seluruh ikhtiar ini dicatat malaikat, dan malaikat tidak akan salah mencatat," katanya.



Berdasarkan data, jumlah pengungsi Rohingya dan Bangladesh sebanyak 1.759 jiwa di empat titik. Rinciannya, sebanyak 564 jiwa di Punteut Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe.



Sebanyak 672 jiwa ditampung di Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa; 476 jiwa di Bireun Bayeun, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur; dan sebanyak 47 jiwa di gedung milik pemda Kabupaten Aceh Tamiang.

Mahasiswa Aceh di Turki, Peduli Rohingya‎ dengan Lagu






Datanglah, datanglah ke Bumi Aceh/Kami akan memelukmu duhai saudaraku/



Sebagai putra bangsa, kita tak perlu sungkan untuk merasa iri. Ini iri yang 'nyunah'‎: iri pada intelektual saat beramal saleh dengan ilmunya; pun, iri dengan orang berada manakala ia banyak bersedekah. Dalam konteks ini, Aceh membuat saya iri. Nelayannya di Aceh Utara, Aceh Timur, tanpa ragu menolong Muslim Rohing, langsung menjemputnya di laut.



Tiba di pantai, masyarakat bersahaja, di sana pun berduyun-duyun menolong. Mereka jelas bukan intelektual pun bukan pula orang berada. Tapi dengan begitu mereka menjadi intelek sekaligus berada. Mereka intelek karena bekal keislamannya, belajar dari meunasah-meunasah.



Aura spiritualitas adalah keseharian masyarakat Aceh sedari dulu; hal yang melayakkannya menjadi provinsi bersyari'ah. Mereka berada, karena sanggup ikhlas berbagi. Bagai kaum Anshar berbagi sesuatu yang mungkin mereka sendiri masih memerlukannya, untuk kaum Muhajirin yang datang hanya membawa dirinya tanpa harta apapun.



Aceh, bagian Indonesia, telah berbagi spirit kedermawanan. Ia menginspirasi seantero negeri‎ dan dunia. Mengejutkan begitu luas, beribu hati. Lalu semalam,‎ seorang sahabat yang sedang studi di Ankara, Turki, berkirim kabar. Seorang ‎mahasiswa Aceh di Turki‎ merilis sebuah lagu untuk Rohingya. "Lagu ini sebagai solidaritas untuk Muslim Rohingya yang terdampar di Aceh," kata Teuku Bustanul Arifin, di tepi laut hitam, Trabzon, pelantun lagu ini.



Lagu itu judulnya 'Nasibmu Rohingya" terinspirasi dari puisi Azwir Nazar. Teuku Bustanul Arifin pun, mencoba menyanyikannya. "Tidak semuanya punya uang untuk membantu, demi komitmen atas kemanusiaan, kita harus mengambil peran semampu kita," ujar mahasiswa Ilahiyat tersebut. Nah, hasilnya? ‎



Lagu tini bisa didengar via, https://m.soundcloud.com/dhilf/nasibmu-rohingya. ‎Seperti ini liriknya:







/Mengingati /Nasibmu/Pecah tercabik sekujur tubuh/Mengapa aku lemah/Tak mampu untuk menolongmu/Kau disembelih aku tertawa/Kau dikejar aku diam/Kau terlunta aku alpa/Kau dibuat bak binatang/Apa yang harus ku kata/Pada sang Nabi cinta/Bila seluruh hidupmu/Adalah air mata/Terkatung beratap langit/Pakaianmu gelombang badai/Lapar dahaga harimu/Rohingya.../



/Ku tahu kaulah ujian tali imanku/Cinta ini membara dalam dada/Sayang ini membuncah mengguncang 'arasy/Tapi bagaimana nanti kujawab/Datanglah, datanglah wahai saudaraku/Kami akan memelukmu sepenuh cinta/Datanglah, datanglah ke Bumi Aceh/Kami akan memelukmu duhai saudaraku/



Kabar bagusnya, Azwir Nazar, mahasiswa Hubungan Internasional asal Aceh yang studi di Ankara, Turki ini, menyilakan kami - ACT Foundation, memanfaatkan lagunya untuk segenap tools kampanye kepedulian Rohingya. Dengan begitu, lagu ini menjadi amal jariyah bagi pembuatnya. Rohingya, Aceh, Indonesia: bersaudara. Di sini aku merasa iri, iri atas kuatnya jiwa filantropi orang-orang Aceh.



(Andika Rahman, Global Philanthropy Network-ACT)

Gadis Rohinya: Rakyat Aceh Perlakukan Kami seperti Orangtua pada Anaknya





Para pengungsi Rohingya berterima kasih atas kebaikan warga Aceh yang telah membantu mereka.


Setelah berbulan-bulan terkatung-katung di laut dalam kondisi tak menentu, mereka kini dapat menjalani hidup lebih baik. Tidak ada lagi ancaman maut yang mengintai mereka setiap saat.



Pengungsi Rohingya, Ramida (17), bersyukur tiba dengan selamat di Aceh. Ia berterima kasih kepada semua orang yang telah membantunya, terutama warga Aceh yang dengan murah hati memberikan banyak dukungan.



"Mereka memperlakukan kami seperti orangtua memperlakukan anak-anaknya. Kami bersyukur," kata Ramida, Kamis, di Langsa, Aceh.



Pengungsi Rohingya lain, Mohammad Hasan (12), menyatakan, selama berbulan-bulan di kapal, mereka mendapat makanan yang sangat tidak memadai. "Kami hanya diberi bubur satu kali dalam satu hari," ujarnya.



Kondisi kesehatan para migran di tiga tempat penampungan di Aceh membaik. Bantuan terus mengalir dari dalam dan luar provinsi, dan pemerintah setempat juga sedang mempersiapkan upaya mengatasi reaksi negatif terhadap kedatangan migran.



Atas kesediaan Indonesia menyediakan tempat penampungan sementara bagi pengungsi, Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) menyampaikan apresiasi. UNHCR pun mengapresiasi sikap Malaysia dan Thailand yang juga bersedia menampung sementara pengungsi.



Menyelamatkan Rohingya: Mengingat (Lagi) Kebaikan Orang Aceh








Mengapa Aceh yang sering dituding langgar HAM, sementara mereka menjadi yang terdepan dalam upaya penyelamatan pengungsi etnis Rohingya?



Oleh ARMAN DHANI, tinggal di Jakarta



Bagaimana kita mengingat Aceh? Ah tidak, bagaimana seharusnya bangsa ini mengingat Aceh. Tanah Serambi Mekah itu tempat di mana adat dan syariat ditegakkan, kemanusiaan masih, dan akan selalu ada. Kemerdekaan Indonesia, kekayaan negara ini, dan segala macam kemapanan yang kita punya, sedikit banyak berhutang pada masyarakat Aceh.



Pesawat Dakota RI-001 Seulawah adalah satu dari sekian banyak bukti kebaikan masyarakat Aceh. Seulawah atau gunung emas ini — merujuk pada nama gunung api di Aceh Besar — merupakan cikal pesawat yang digunakan republik untuk kepentingan negara.



Pesawat ini dibeli dari hasil sumbangan rakyat Aceh atas permintaan Sukarno yang datang khusus ke Aceh, medio Juni 1948. Dalam pertemuannya dengan Gubernur Militer Abu Daud Beureueh di Hotel Aceh, samping Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Presiden RI pertama itu menangis, mengiba agar rakyat Aceh membantu dana pembelian pesawat.



Menurut Pemerhati Sejarah Aceh, Abdurrahman Kaoy, saat itu Abu Mansor datang ke Pasar Atjeh memungut sumbangan dari warga yang berada di pasar tradisional samping Masjid Baiturrahman itu.



“Mereka dengan ikhlas memberikan perhiasan, emas, dan segala barang berharganya untuk disumbangkan,” ujar Kaoy. Sebelum kembali ke Pulau Jawa membawa sumbangan rakyat Aceh, dalam pertemuan akbar dengan rakyat Aceh di Lapangan Blang Padang, Sukarno berorasi mengajak rakyat Aceh membantu perjuangannya.



Tidak hanya emas, kita tahu bagaimana besar hati bangsa Aceh dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.



Daud Beureueh, bapak bangsa dari Aceh itu berkata;




“Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden. Asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah. Sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid.”



Tapi kita tahu, Aceh bukan kali ini saja berbuat baik. Megawati Sukarnoputri menangis terisak-isak pada tanggal 29 Juli 1999 di Aceh. Hal serupa pernah dilakukan ayahnya di tanah yang sama. Ia berjanji bahwa ketika ia memimpin negeri ini, “Untuk rakyat Aceh, percayalah, Cut Nyak tak akan membiarkan setetes pun darah tumpah di Tanah Rencong,” tapi kita tahu dan kita paham.



Dari Istana Negara, Megawati justru mengirimkan 40.000 pasukan ke Aceh dalam rangka Darurat Militer.



Menuding Aceh Kolot



Apakah yang terjadi boleh jadi hanya sejarah, tapi kita tahu betapa besar kualitas karakter manusia-manusia Aceh ini. Mereka adalah manusia-manusia yang ingin tegaknya syariat. Lebih dari apapun, mereka tak peduli meski harus dinilai kolot.



Namun syariat yang mereka pegang dengan erat, bukan sekedar tempelan, bukan sekedar label. Tapi ia adalah sebuah ikhtiar untuk menjadi umat yang terbaik.



Saya, yang bukan warga Aceh, barangkali bisa menyebut syariat dan qanun (peraturan daerah) adalah sebuah diskriminasi. Kita yang bukan orang Aceh mudah saja menyebut bahwa pemberlakuan syariat adalah pelanggaran hak asasi.



Tapi adilkah kita menilai sesuatu yang belum kita pahami? Agama Islam barangkali adalah sebuah urat nadi, sebuah identitas yang membuat manusia-manusia Aceh tidak segan membantu dan menolong. Kita barangkali hanya berhenti pada satu sisi yang dianggap buruk, namun tidak melihat sisi lain yang punya wujud lebih baik.



Di tengah lambat, lelet, dan abainya pemerintah Indonesia terhadap para pengungsi Rohingya, nelayan Aceh dengan nalar yang masih bekerja menyelamatkan para pengungsi itu. Marzuki Ramli, 45 tahun, adalah salah satunya. Nelayan asal Kuala Langsa itu, bersama kawan-kawannya, menyelamatkan ratusan pengungsi korban kejahatan keamanusiaan itu.



Kebaikan nelayan Aceh bagi pengungsi tak hanya sebatas menyelamatkan. Pada gelombang pengungsi sebelumnya, warga Aceh membantu dengan memberikan makanan ke tempat penampungan. Bahkan ada beberapa warga Aceh yang ingin mengadopsi anak-anak pengungsi.



Mereka tidak mengenal apa itu kedaulatan atau eksodus. Sesuatu yang ditakutkan Jendral TNI Moeldoko, bagi Marzuki, nelayan sederhana itu, “Ada orang yang mengapung-apung di laut. Kalau kalian terlambat datang, bisa mati semua.”







Indonesia baru saja menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi; Konferensi Asia Afrika dan segala hal yang mereka sebut sebagai upaya menegakan kedaulatan. Di tengah acara itu Bandung mendeklarasikan diri sebagai kota HAM.




”Agak ironis sebenarnya, ketika kita kerap kali mengkritik syariat islam di Aceh yang dianggap melanggar HAM, justru merekalah yang paling gegas menolong sesama manusia.”



Dalam kasus ini, Rohingya lebih relevan ketimbang sekedar deklarasi kosong.



Ini bukan pertama kali Indonesia mendapat kedatangan tamu pengungsi. Pada 1979-1996 pernah pula muncul fenomena manusia sampan. Mereka adalah orang-orang Vietnam yang mengungsi akibat perang saudara. Ada 250.000 pengungsi Vietnam yang lantas tinggak di pulau Galang, di bagian selatan pulau Batam. Selama kurun waktu 7 tahun mereka tinggal di pulau itu, untuk kemudian pulang setelah perang saudara berakhir.



Mengingat sejarah itu, ini bukan pertama kalinya pemerintah Indonesia menerima pengungsi. Maka adalah sebuah sikap yang congkak dan abai, mengusir para pengungsi hanya berlandaskan masalah teritorial dan kedaulatan bangsa.



Indonesia seharusnya Malu



Maka ketika masyarakat Aceh menolong pengungsi Rohingya, pemerintah seharusnya malu. Peran negara diambil alih oleh masyarakat, sementara aparatus yang ada hanya mampu berlindung di balik aturan kolot.



Syariat Islam bukan sekedar label, ia adalah pedoman hidup masyarakat Aceh. Mereka membuktikannya tidak dengan sekedar memberlakukan qanun, tapi menolong orang orang Rohingya yang malang.



Ketika negara sibuk berkutat pada hukum-hukum positif tentang kedaulatan negara, tentang agenda politik dan hal-hal genit lainnya. Orang Aceh hanya paham satu hal, sesama Muslim mereka wajib saling menolong, dan itu saya kira lebih mulia dari sekedar Nawa Cita.



Tapi, yah, bagaimana lagi? Apa yang bisa diharapkan dari sebuah pemerintahan yang diam saja pada pembunuhan anak-anak di Paniai Papua?



Barangkali kelak, jika semuanya sudah terlambat, Pemimpin Besar Nawa Cita kita akan blusukan ke Aceh.







Arman Dhani 

adalah seorang penulis lepas.

Tulisannya bergaya satire penuh sindiran.

Ia saat ini aktif menulis di

blognya www.kandhani.net.

Follow Twitter-nya, @Arman_Dhani.

Minggu, 24 Mei 2015

3 Syarat Jokowi Mau Tampung Rohingya






Meski pemerintah pusat merasa telah mendapatkan solusi untuk pengungsi Rohingya, Pemerintah Aceh dan Sumut masih menanti kejelasan sikap dari pemerintah pusat




JAKARTA — Pemerintah pusat telah bersedia menampung para migran dari Bangladesh dan Myanmar untuk jangka waktu setahun. Tapi kesediaan ini bukan tanpa syarat.



Setidaknya ada 3 syarat yang tersirat dalam pernyataan Presiden Joko "Jokowi" Widodo yang disampaikan pada Sabtu, 23 Mei 2015.



1. Malaysia dan Thailand juga harus terima pengungsi



"Dan alhamdulilah, semuanya sudah sepakat dan kita juga sepakat, tapi dengan catatan-catatan. Kita menerima, Malaysia juga sama, Thailand juga sama," kata Presiden Joko "Jokowi" Widodo.



"Dan kemarin alhamdulilah, Myanmar juga ingin menghambat agar tidak lagi banyak yang mengungsi keluar. Ini saya kira sebuah jalan keluar yang baik, karena semua negara mau menerima. Karena itu sisi kemanusiaan yang kita ambil."



2. Dukungan finansial dari PBB dan negara lainnya



Jokowi mengatakan bahwa catatan lainnya adalah Indonesia menginginkan bantuan dari PBB, terutama terkait finansial.



"Ini tadi kan sudah saya sampaikan, biaya-biaya akan ditanggung oleh UN dan beberapa negara yang belum, masih dalam pembicaraan, belum bisa saya sebut. Kalau itu sudah kira-kira final, baru kita mempersiapkan," kata Jokowi.



3. Resettlement dalam waktu setahun



Meski Jokowi mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia akan menyiapkan penampungan, itu tidak bisa dilihat sebagai hal yang permanen.



"Resettlement juga dipastikan tidak lebih dari satu tahun," kata Jokowi.



Sebelumnya pemerintah menyatakan akan mengevaluasi status dari pengungsi ini. Bila mereka memang pengungsi, maka akan ada proses resettlement, menempatkan mereka di negara yang mau menerima.



Namun bila ternyata mereka pergi karena pertimbangan keuangan, yang disebut sebagai economic migrant, maka pemerintah akan melakukan repatriasi, atau memulangkan mereka ke negara asal. *rappler