Tampilkan postingan dengan label Sejarah Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Aceh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Mei 2015

Tentara Iskandar Muda Mengempur Portugis di Malaka






T.A Sakti




Hikayat Malem Dagang adalah syair kepahlawanan Aceh. Isinya mengisahkan penyerangan Sultan Aceh Iskandar Muda terhadap Portugis yang berkuasa di Malaka. Kerajaan Malaka ditaklukkan Portugis pada tahun 1511 M. Sultan Malaka dan keturunannya yang menyingkir; akhirnya mendirikan kerajaan Johor. Sekarang: Malaka dan Johor; keduanya merupakan dua negara bagian/provinsi di Malaysia.





Adanya penyerangan Aceh terhadap Portugis di Malaka adalah kenyataan sejarah, baik sebelum masa Sultan Iskandar Muda maupun disaat beliau berkuasa. Dalam disertasi sejarawan Perancis Denys Lombard; yang telah diterjemahkan,”Kerajaan Aceh -Jaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) juga dimuat daftar penyerangan Aceh ke Malaka, yaitu pada tahun : 1537, 1547, 1568, 1573, 1575, 1582, 1587, 1606-Portugis menyerang Aceh dan benteng-benteng mereka masih bersisa di Krueng Raya-,1613,1615 – Aceh menyerang Johor, karena membantu Portugis-,1617- Aceh menyerang Pahang,karena bersekutu dengan Portugis,1623,dan tahun 1629 Masehi.





Fakta sejarah ini amat sedikit disinggung dalam sumber-sumber tertulis Aceh sendiri. Diantara yang secuil itu, Hikayat Malem Dagang-lah satu-satunya, walaupun sebutan Portugis tidak satu kali pun dicantumkan di dalamnya. Sementara dalam Hikayat Prang Peringgi (artinya, Hikayat Perang Portugis); sama sekali tidak menyinggung data-data sejarahnya,kecuali semangat jihad saja.





Karena Hikayat Malem Dagang (selanjutnya disingkat dengan HMD) bukanlah kitab/buku sejarah, maka muncullah beragam hasil analisis tentang para pelaku dalam kisah itu. Begitu pula mengenai waktu dan lokasi dalam cerita tersebut. Masalah pendapat-pendapat para pengkaji hikayat itulah yang diperbincangkan dalam tulisan ini. Sejauh yang saya ketahui, bahwa Dr. Snouck Horgronje adalah pengkaji paling awal mengenai HMD.



Dalam bukunya yang sudah diterjemahkan “Aceh di Mata Kolonialis, jilid II; Snouck Hurgronje mengatakan HMD disusun tidak lama setelah peristiwa itu terjadi, yakni masih di abad ke 17 M. Agaknya, naskah yang dikaji Snouck Hurgronje merupakan salinan-ulang yang oleh penyalinnya telah disesuaikan isinya dengan kondisi Aceh saat itu. Kata Snouck: diseluruh hikayat disebutkan bahwa Raja Si Ujud yang dilawan Sultan Iskandar Muda adalah raja Belanda.





Pengkaji kedua juga bangsa Belanda,yakni DR.H.K.J.Cowan dengan bukunya “De Hikajat Malem Dagang” diterbitkan tahun 1933. Cowan juga menegaskan bahwa HMD dikarang pada abad ke 17. Nampaknya, naskah yang dikaji Cowan lebih tua, sehingga “Raja Si Ujud sebagai raja Belanda belum dijumpai di dalam naskah itu. Tahun 2006 naskah HMD yang dimuat dalam buku “De Hikajat Malem Dagang” telah saya salin ke huruf Latin ejaan EYD, yang sebelumnya dalam ejaan Belanda. Tetapi sampai hari ini hasil transliterasi saya itu belum diterbitkan. Penulisan oleh H.K.J.Cowan akan buku ini terkesan amat serius, sehingga semua isi hikayat yang dalam bahasa Aceh telah diterjemahkan ke bahasa Belanda, disamping pembahasan isinya yang panjang lebar pula. Kajian H.K.J.Cowan inilah yang saya pakai sebagai bahan utama tulisan ini.






-ist-






Lantaran saya tidak bisa bahasa Belanda, karena itu saya mintalah bantuan penterjemahannya kepada sahabat saya Drs. Agus Supriyono, MA; Dosen Fakultas Sastra,Undip-Semarang. Pengkaji ketiga HMD adalah Prof.A.Hasjmy. Beliaulah yang memperkenalkan kembali HMD secara lebih meluas.Dengan merujuk dua buku Sejarah Johor dan Sejarah Pahang karya HajI Buyung Adil yang diterbitkan di Malaysia; A.Hasjmy berkali-kali menulis tentang HMD.





Diantara karya A.Hasjmy mengenaI HMD yang telah dimuat dalam berbagai buku/makalah ialah yang dimuat dalam buku “Seulawah Antologi Sastra Aceh-Sekilas Pintas” halaman 524-541; terbitan Yayasan Nusantara tahun 1995.Berbeda dengan dua pengkaji bangsa Belanda sebelumnya. A.Hasjmy berpendapat HMD dikarang Teungku Ismail bin Ya’kub alias Teungku Chik Pante Geulima pada tahun 1309 H. Pada pentup HMD dalam buku “De Hikajat Malem Dagang” yang ditulis/disalin H.K.J.Cowan memang tercantum tahun 1309 H, tetapi saya lebih yakin tahun itu adalah tahun penyalinan ulang. Sebab, menyimak gaya penulisannya, maka saat penyusunan pertama HMD lebih tua dari tahun itu.





Prof.A.Hasjmy juga mangikuti pendapat Hoesein Djajadiningrat; walaupun masih dengan nada ragu, bahwa yang disebut Raja Si Ujud dalam HMD adalah Sultan Alauddin Riayat Syah III, sultan Johor; sedangkan Raja Raden ,yaitu Raja Abdullah alias Raja Seberang atau Raja Bungsu. Dalam buku antologi tersebut di atas A.Hasjmy menulis begini :“Mungkin sekali yang dimaksud dengan Raja Si Ujud dan Raja Raden dalam Hikayat Malem Dagang adalah Sultan Alauddin Riayat Syah III dan Raja Abdullah” Mengenai asal nama Raja Si Ujud, A.Hasjmy pada antologi yang sama juga menulis:”





Dalam sejarah Aceh, beliaulah yang dimaksud dengan “Raja Si Ujud“, mungkin sekali berasal dari “Raja Selayut“… karena pernah tinggal di Selayut. Menurut saya, nama Raja Si Ujud , Raja Raden dan Putroe Beureuhut-isteri Si Ujud adalam nama-nama khayalan sipengarang HMD. Dalam bahasa Arab, “Wujud” artinya ada. Karena “raja” Portugis di Malaka tidak dikenal lagi, maka disebut saja “Raja itu memang ada alias Raja Si Ujud”.



Begitu pula dengan Raja Raden. Akibat nama abang Raja Si Ujud tidak diketahui yang sebenarnya, maka digantikan saja dengan Raja Raden, suatu gelar kehromatan karena Raja Raden memihak Aceh, yakni gelar seorang bangsawan. Sementara nama Putroe Beurehut, malah diberi nama yang menjelekkan. Beureuhut adalah lobang neraka di dunia. Mon Beureuhut(sumur beruhut) , menurut kitab Tambeh/nadham Aceh terdapat di wilayah Syam/. Irak.





Isi ringkas Hikayat Malem Dagang adalah sebagai berikut :





Seorang raja yang bernama Raja Raden alias Raja Meulaka alias Raja Seberang alias Raja Bungsu bersama dengan isterinya Puteri Pahang datang ke Aceh untuk memeluk agama Islam. Selanjutnya, diceritakan Raja Raden memberikan isterinya Puteri Pahang kepada Sultan Iskandar Muda sebagai hadiah. Sebaliknya, Sultan Iskandar Muda memberikan adiknya buat isteri Raja Raden. Tidak berapa lama kemudian, datang pula Raja Si Ujud alias Raja Johor alias Raja Banang alias Raja Guha alias Raja Meulaka ke Aceh. Ia adalah adik kandung Raja Raden. Sultan Iskandar Muda membuat pesta besar-besaran menyambut tamu agungnya itu.





Sebuah istana khusus dibuatkan di Ladong-Krueng Raya bagi Raja Si Ujud. Tetapi tamu itu ternyata curang. Raja Si Ujud méngajak abangnya pulang ke Meulaka serta mengambil kembali Puteri Pahang dan menceraikan isterinya, yang adik Sultan Iskandar Muda itu. Karena rencana jahatnya tidak direstui abangnya Raja Raden, maka ia melakukan keonaran di Aceh. Bersama para pengikutnya, Raja Siujud melakukan perampokan beberapa kampung di pantai, membakar Ladong dan Krueng Raya serta menawan puluhan nelayan. Setelah melampiaskan berbagai penyiksaan – seperti mengail orang di kelopak mata dan kerongkongan -; akhirnya berlayarlah Raja Si Ujud pulang ke negerinya.







Tetapi Raja Raden tetap percaya/setia kepada Sultan Iskandar Muda dan ekspedisi untuk menghadapi Si Ujud dipersiapkan. Armadanya menyusuri sepanjang pantai utara dan timur Aceh, dimana-mana disiapkan bala bantuan, untuk akhirnya menyeberang ke Semenanjung Malaka. Sementara itu, dalam perjalanan terjadi pemilihan seorang yang bernama Malem Dagang menjadi Panglima Perang. Sesudah merebut Asahan dan mengunjungi Pahang, Sultan dengan sebagian orang (prajurit) Aceh berangkat ke Johor Lama, dan sementara itu dari sana si Ujud telah berangkat ke Johor Bali.








Di Johor Lama tanpa menemui adanya perlawanan sedikitpun, dilakukan konsolidasi kekuatan dalam rangka menunggu kedatangan musuh, akan tetapi ternyata musuh tidak muncul. Malem Dagang dan armadanya tetap berada di laut sampai ia bertemu dengan armada musuh yang besar di Laut Banang, dimana ia melakukan perlawanan (pertempuran). Saat itu Sultan Iskandar Muda di Johor, 7 hari perjalanan kapal, dipanggil untuk ambil bagian dalam pertempuran. Dalam pertempuran gugurlah panglima musuh,yaitu , ayah dari isteri Si Ujud, sehingga musuh melarikan diri. Si Ujud sendiri pada waktu itu masih di Guha. Ia memutuskan mundur dari pertempuran, tetapi isterinya mengobarkan semangat untuk membalas dendam atas kematian ayahnya.. 





Namun ia tidak memperoleh kemenangan, bahkan ia ditangkap dan ditawan. Dalam perjalanan pulang ke Aceh telah dilakukan berbagai percobaan untuk membunuh Raja Si Ujud yang menolak untuk memeluk agama Islam. Pertama-tama, percobaan pembunuhan itu dilakukan di laut kemudian di Aceh, tetapi gagal; karena ia memiliki kekuatan magisnya yang hebat (sakti). Akhirnya, atas petunjuknya sendiri ia dituangi kedalam mulutnya timah hitam cair (bara timah hitam yang meleleh), maka Raja Si Ujud pun mati. Diantara para pelaku kisah yang penting di pihak Aceh adalah Sultan Iskanda Muda,Puteri Pahang(Putroe Phang), Raja Raden, Malem Dagang, Ya Madinah/Ja Pakeh dan Panglima Pidie. Sementara di pihak musuh, yakni Raja Si Ujud, Putroe Beureuhut, dan Mudalikah-Putroe Halawiyah yang juga mertua Si Ujud.





Menurut data-data sejarah, bahwa Raja Sebrang kawin dengan saudara perempuan Sultan Iskandar Muda. Sejak itu, ia diharapkan menjadi teman dalam membantu Aceh melawan Portugis. Akan tetapi ketika Sultan ini pulang kembali ke Johor pada tahun 1614, ia telah dengan giat melakukan perundingan lagi dengan Portugis. Tindakan yang kedua kalinya itu tidak memuaskan orang-orang Aceh, sebab itulah pada ekspedisi Aceh yang kedua ia ditangkap kembali, lalu dibawa ke Aceh dan di bunuh di sana. .





Adalah penting untuk menyelidiki ekspedisi kedua ini secara lebih cermat. Armada Aceh mendapati Johor telah ditinggalkan penduduknya. Dalam perjalanan pulang bertemu dengan armada Portugis di bawah pimpinan Miranda dan Mendoca, yang datang dari Malaka untuk membantu Johor tetapi dipukul mundur. Pertempuran ini diidentifikasi oleh Hoesein Djajadiningrat sebagai pertempuran yang disebutkan dalam Boetanus-Salatin, yaitu pertempuran di Baning . Pada kesempatan itu Sultan ditangkap kembali dan dibawa ke Aceh.





Jika data-data ini dibandingkan dengan cerita dari Hikayat Malem Dagang, ternyata ditemukan kesamaan. Dalam syair hikayat disebutkan kedatangan dua raja bersaudara ke Aceh, yang antara lain bergelar sebagai raja-raja Johor. Menurut data-data historis demikian juga halnya. Bahwa kedatangan mereka ke Aceh tidak sepenuhnya secara sukarela. Dalam kedua versi itu juga disebutkan bahwa salah satu dari mereka kawin dengan adik perempuan Sultan Iskandar Muda.dan satunya lagi pulang kembali ke Johor ,yang selanjutnya setelah banyak melakukan tindakan yang kurang berkenaan bagi orang-orang Aceh, ia ditangkap oleh ekspedisi dan dibunuh.





Hal-hal yang khusus dari ekspedisi ini juga menunjukkan adanya kesamaan: dalam kedua peristiwa itu armada menemukan Sultan melarikan diri, dan oleh karena itu kota Johor diduduki. Dalam pertempuran berikutnya di Baning melawan Portugis dalam perjalanan pulang, ditemukan kembali dalam syair sebagai perang laut di “Laot Banang”. Bahkan namanya juga sama, pada mana harus dinyatakan bahwa “Baning” dan “Banang” sama-sama jenis hurufnya bila ditulis dalam karakter bahasa Arab.





Alasan kedatangan dua bersaudara di Aceh tidak disebutkan dalam HMD. Penulis syair hikayat hanya mengatakan bahwa Raja Raden pada suatu hari datang dan diikuti oleh saudara laki-lakinya yaitu Si Ujud. Hanya beberapa bait yang memberikan episode ini, yang menceritakan bahwa Raja Raden datang untuk memeluk agama Islam. Tidak ada penjelasan lebih jauh bahwa ia berangkat ke Aceh dengan keperluan khusus. Bisa diperkirakan maksud kedatangannya yang sesungguhnya dirahasiakan ,sehubungan dengan perkawinannya dengan keluarga Sultan Aceh. Kedua raja itu dalam kenyataan sesungguhnya bukan kafir, tetapi hanya melakukan persekutuan antara Johor dengan Portugis.








Demikian juga penggambaran orang Aceh tidak benar, antara syair dengan kenyataan adalah berbeda. Pada satu sisi perundingan-perundingan berlangsung di Aceh sebelum kembali ke Johor,sedangkan pada sisi yang lain perundingan-perundingan terjadi di Johor sesudah kepulangan ke Johor itu. Akan tetapi tidak boleh diabaikan bahwa dalam syair kepahlawanan yang setengah lagendaris itu; kenyataan-kenyataan historis telah kehilangan bentuk yang seharusnya. Kesesuaian secara keseluruhan atau bahkan pada bagian yang khusus/ penting saja tidak diperjelaskan..





Namun demikian, nampaknya sangat bisa diterima bahwa inti dari HMD adalah pengiriman ekspedisi pada tahun 1615 ke Johor, dan itu adalah yang kedua. Sebab Sultan yang di kembalikan ke Johor telah bersekongkol dengan Portugis.





Bagian awal syair adalah hasil dari ekspedisi pertama, yang berlangsung pada tahun 1613, yaitu kedatangan kedua raja yang di tawan itu di Aceh, tetapi dengan perbedaan, bahwa kedatangan ini dalam syair digambarkan sebagai kedatangan sukarela, dan diperkirakan bahwa tokoh Raja Raden dan Si Ujud menggantikan nama kedua raja tersebut.





Akan tetapi masih ada persoalan mengenai kedua raja itu, yaitu siapakah sesungguhnya yang Raja Raden dan yang Si Ujud itu. Jika mengikuti pendapat Hoesein Djajadiningrat; maka Sultan AlaidinRiayat Syah III sendirilah sebagai Raja Si Ujud,,yang tidak lama sesudah penangkapannya diperbolehkan kembali ke negerinya, sementara Raja Abdullah (Raja Sebrang) yang kawin dengan adik perempuan Sultan Iskandar Muda dan tetap tinggal di Aceh adalah Raja Raden.





Raja Sebrang dan Si Ujud = Alaidin. Akan tetapi hal itu bertentangan dengan pendapat Roeffaer, bahwa Raja Sebrang dikirim kembali /dipulangkan ke Johor sebagai pengganti saudara laki-lakinya, yang berarti itu adalah Raja Raden.





Alaidin dan Si Ujud = Raja Sebrang. Namun harus di sadari, meskipun suatu Epos itu berdasarkan pada peristiwa sejarah, harus diakui adanya karakter yang bersifat sangat lagendaris. Data-data darinya memang bisa diambil untuk mengisi kekosongan-kekosongan data dalam pengetahuan sejarah- yang untuk itu orang harus sangat berhati-hati. Demikian juga hal itu ditemukan argumentasi yang mengkritisi HMD, yaitu pendapat Hoesein dan Rouffaer yang sebelumnya.





Pertama adalah adanya saling hubungan famili: Alaidin adalah kakak laki-laki Raja Sebrang . Kemudian. salah satu nama dari Raja Sebrang berbunyi : “Raja Bungsu” yang berarti “termuda”. Demikian juga persaudaraan itu hanya bersifat pengakuan saja, sama yang seperti tersebut dalam Sejarah Melayu. Diperkirakan juga bahwa penangkapan hubungan persaudaraan adik dan kakak ini karena yang terakhir itu adalah yang sesungguhnya sebagai raja yang memerintah. Hal ini banyak sekali disebutkan dalam Sejarah Melayu. Dalam HMD Si Ujud memanggil Raja Raden dengan sebutan “dalem” yaitu berarti abang atau “saudara tua” dan sebaliknya Raja Raden memanggil Si Ujud dengan sebutan “adoe” yang berarti adik atau “saudara muda”.





Akhirnya terdapat karakter ( tabiat ) khas dari kedua raja itu; sejauh yang diperoleh dari berita-berita. Secara umum berita-berita itu menjelaskan, bahwa Alaidin adalah pengantuk dan raja yang tidak punya watak, yang mengabaikan pemerintahannya dan menyerahkannya kepada saudara laki-lakinya Raja Sebrang, yang mempunyai sifat sebaliknya yaitu orang yang tegas dan terpercaya. 





Adalah aneh bahwa Alaidin yang pengantuk ini, yang di kembalikan oleh Sultan Aceh dan dibawah pengawasan orang Aceh, tiba-tiba melakukan gerakan melawan Aceh, sementara ia juga harus kehilangan dukungan dari saudaranya. Karakter yang demikian itu lebih cocok bagi Raja Raden/ Raja Sebrang. Tetapi bertentangan dengan yang tersebut di atas masih terdapat beberapa kesulitan untuk dipahami.





Demikianlah, menurut HMD bahwa Raja Raden (dalam hal ini adalah Alaidin) Tetapi menurut data-data historis adalah Raja Sebrang (dalam hal ini adalah Raja Si Ujud) menikah dengan saudara perempuan Iskandar Muda. Dalam hal ini masih bisa dipertanyakan. Berdasarkan berita-berita Eropa hanya membicarakan mengenai penangkapan Raja Sebrang pada tahun 1613, dan tidak ada keterangan dari berita-berita itu mengenai adanya perkawinan. Oleh karena itu harus diterima, bahwa kedua saudara itu memang ditawan dan dibawa ke Aceh. Tetapi lebih mungkin, bahwa bukan Raja Sebrang yang dinikahkan, melainkan Alaidin. Namun demikian argumen ini juga belum bisa dikatakan kuat.


.


Setelah menyimak beragam pendapat tentang persoalan di atas, maka H.K.J. Cowan berpendapat sebagai berikut :





“Berdasarkan keraguan-keraguan yang telah disebutkan di atas, maka apakah saya (H.K.J. Cowan) akan mengikuti salah satu pendapat tersebut di atas, yaitu sehubungan dengan persoalan identifikasi bahwa Raja Raden adalah Alaidin dan Si Ujud adalah Raja Sebrang atau sebaliknya. Ternyata keraguan itu menjadi lebih besar; setelah saya mengetahui isi hikayat (tulisan tangan) yang ada pada saya.




Menurut hikayat ini Si Ujud tidak dibunuh di Aceh, tetapi ia berhasil meloloskan diri dari penjara dan via Banang ia berhasil tiba di Guha, dan di sana ia diterima dengan suka cita oleh isteri-isterinya. Tidak lama setelah itu ia meninggal dunia. Setelah dimakamkan, isterinya-isterinya mengirim orang ke Aceh untuk memohon kepada Raja Raden untuk menjadi penggantinya. Sultan Iskandar Muda menyetujui permintaan itu dan menyuruh saudara perempuannya (Putroe ijo) ikut pergi dengan Raja Raden ke Johor. Tetapi ia ditinggalkan di Johor lama, sedangkan Raja Raden melanjutkan perjalanan melalui Johor Bali ke Guha. Kelima isteri Si Ujud memeluk Islam.








Sampai disini ada kekosongan (hilang) sebanyak 2.5 halaman dalam hikayat sehingga kelanjutan cerita menjadi sangat tidak jelas. Ada dibicarakan mengenai seorang “Teungku” yang dalam petualangannya sampai di Johor lama, dan disitu ia menjadi sangat terkenal. Pada suatu hari ia di panggil oleh “Malem/Ulama setempat” untuk menjalankan ibadah shalat jum’at di mesjid, tetapi nampaknya ia tidak mau, sebab menurutnya bukan hari Jum’at (disini ada kekosongan halaman lagi). Selanjutnya cerita dimulai lagi dengan percakapan antara “Teungku” dengan Putroe Hijo, yang ternyata keduanya berjanji untuk pergi secara diam-diam.





Pada suatu malam ia disuruh menenggelamkan kapal di sungai satu persatu dengan menggunakan bor, sementara ia sendiri berlayar ke pulau Weh. Sampai disana “Teungku” memberi tahu bahwa ia ingin menjual barang berharga (mahal), yang oleh karena itu Sultan Iskandar Muda berangkat ke kapal Teungku itu. Ketika ia melihat saudara perempuannya, keduanya jatuh pingsan. Selanjutnya keduanya dibawa masuk sebagai satu-satunya hadiah “Teungku”, yang ingin menerima pembebasan anak-anaknya, dan sampai disini tulisan tangan (Hikayat) tiba-tiba berakhir.





Apa yang harus kita lihat dalam episode ini? Mengenai adanya penambahan fantastis oleh penyalin hikayat, memang hal semacam itu sering terjadi. Atau apakah kita dalam hal ini bisa mengetahui gema (informasi) yang mengakibatkan dilaksanakannya ekspedisi Aceh ke tiga terhadap Sultan Johor pada tahun 1623, dimana raja yang tersebut terakhir itu dikejar sampai Lingga dan Tambela, pada tahun itu juga akhirnya ia meniggal? Sesungguhnya mengenai hal itu kita bisa menemukan dalam berita-berita sejarah mengenai pemulangan kembali ke Aceh saudara perempuan Iskandar Muda yang telah menjadi isteri Raja Johor oleh Raja Johor sendiri.





Selanjutnya episode ini bisa sesuai dengan data historis, bahwa saudara laki-laki yang lain telah menggantikannya, dan pergantian itu terjadi sesudah berhasilnya ekspedisi tahun 1615, yaitu sesudah meninggalnya saudara laki-lakinya yang lain. Jika kesesuaian ini bukan merupakan kebetulan, mengingat menurut data historis Abdullah adalah yang menggantikannya, maka Raja Raden dalam hikayat yang kami punya adalah sama dengan Radja Abdullah dan yang berarti juga bukan Raja Si Ujud. Dengan demikian juga benarlah pendapat Hoesein Djajaningrat, bahwa Alaidin sendiri adalah yang di pulangkan ke Johor, sementara pendapat Roeffaer tidak benar“.





Mengenai para pelaku cerita dipihak Aceh, beberapa sumber memberitahukan saya (T.A..Sakti), bahwa makam Ya Madinah terdapat di Meureudu, Pidie, makam Panglima Pidie ada di Keulibeuet, Pidie. Sementara Makam Raja Raden terdapat dekat Gunongan di Banda Aceh.



Dimana makam Malem Dagang dan Raja Si Ujud? Kalau kedua tokoh penting HMD tidak diketahui jajaknya, timbullah pertanyaan apakah keduanya tokoh nyata atau hanya tohoh khayalan pengarang HMD?

Kamis, 07 Mei 2015

Tragedi Meurah Pupok: Iskandar Muda Menghukum Pancung Putra Mahkota






"...Matee Aneuk Meupat Jeurat, Gadoh Adat Hana Pat Tamita..."




Inilah asal muasal filosofis yang beranjak dari peristiwa penghukuman oleh Sultan Iskandar Muda terhadap Putra Mahkota Kesayangannya, Meurah Pupok yang harus mengakhiri hidupnya di ujung pedang ayahanda-nya sendiri.





Kisah





Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam - Penguasa Sumatera dan Semenanjung Malaka sedang berdiam diri dalam istana. Sultan merenung di Balairung yang juga tidak jauh dari Balai Cermin yang Agung. Sumatera dan Malaka sudah dalam genggamannya. Namun, ia pun melihat Portugis, Inggris dan beberapa Negara Eropa lain sedang mengincar penguasaan Selat Malaka.





Beliau telah memerintah Aceh dan daerah taklukannya hampir 30 tahun. Ia seorang pribadi yang kuat dalam arti yang sebenarnya secara fisik dan mental. Seorang bangsawan yang cerdas serta tegas. Negarawan yang adil sekaligus politisi dan diplomat yang ulung. Ia adalah Sultan terbesar Aceh yang mampu membawa Aceh Darussalam mencapai kejayaan dan menjadi kerajaan yang disegani.





Dalam kurun hampir 30 tahun masa pemerintahannya, Sultan Iskandar Muda telah berhasil menyempurnakan Qanunul Asyi Ahlussunah Wal Jamaah yang terdiri dari 500 ayat Al-Quranul Karim, 500 Hadist Rasulullah, Ijma' Sahabat rasulullah, Qiyas Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah. Kemudian dilengkapi pula dengan Qanun Putroe Phang suatu aturan yang mampu memberikan perlindungan kepada Kaum Wanita.





Ditengah perenungannya didalam Istana, Sultan mulai memikirkan kederisasi kepemimpinannya. Ia membutuhkan seorang penerus kerajaan yang kuat yang mampu merpertahankan kekuasaannya dan menjaga Kerajaaan Aceh dan daerah taklukannya agar tidak tunduk pada kekuasaan asing, terutama Portugis dan Inggris yang saat itu terus melakukan provokasi di Selat Malaka.





Terlintaslah pandangannya pada wajah Sang Putra Mahkota - Meurah Pupok - yang digelari Sultan Muda atau Poteu Cut. Anak kesayangannya ini berwajah gagah mewarisi ketampanan wajah sang ayah. Putra Mahkota atau Poteu Cut ini memang masih belia, minim pengalaman. Saat ini sedang menanjak dewasa. Sultan merencanakan untuk memberikan beberapa tanggung jawab kepada Putra Mahkota agar ia belajar dan berpengalaman. Termasuk diantaranya tugas tempur untuk memimpin Armada Laut terbesar Kerajaan yaitu Armada Cakra Donya. Diharapkan dengan berbagai pengalaman penugasan termasuk dengan menjadi Panglima Perang pada saatnya nanti ia mampu menggantikan dirinya untuk menjadi Sultan.





Menurut sebuah riwayat Sultan Iskandar Muda memiliki dua anak, yang pertama adalah Meurah Pupok yang berasal dari istrinya seorang Putri Gayo. Yang kedua adalah wanita yang bernama Safiatuddin yang berasaal dari istrinya Putri Pedir/Pidie. Meurah Pupok dikenal sebagai seorang Pangeran yang terampil menunggang kuda. Meurah Pupok menjadi harapan Sultan Iskandar Muda untuk menggantikannya.





Ditengah lamunannya Sultan terpengarah karena tiba-tiba seorang Perwira Muda Kerajaan yang sangat dikenalnya dan merupakan kepercayaannya tiba-tiba menorobos masuk dan langsung berlutut menyembah dirinya. Dengan terbata-terbata Sang Perwira menangis tersedu-sedu sambil menyebutkan bahwa Putra Mahkota Poteu Cut Meurah Pupok telah melakukan tindakan asusila dengan menodai istrinya. 





Perwira tersebut langsung membunuh istrinya setelah mengetahui peristiwa tersebut. Namun, untuk Putra Mahkota ia serahkan sepenuhnya pada kebijaksanaan Sultan. Ia menuntut keadilan kepada Sultan. Selepas ia mengadukan hal tersebut kepada Sultan, Perwira tersebut langsung mencabut rencongnya dan menikam ke hulu hatinya sendiri tanpa sempat dicegah oleh Sultan dan pengawalnya. Robohlah perwira tersebut dan langsung tewas saat itu juga.





Syahdan, Perwira Muda ini adalah Pelatih Angkatan Perang Aceh. Ia mengetahui peristiwa tersebut setelah melakukan pelatihan terhadap para prajurit di kawasan Blang Peurade Aceh. Ia sangat kecewa dengan peristiwa yang melibatkan istrinya tersebut. Kekecewaan tersebut ia tumpahkan dengan membunuh istrinya sendiri kemudian ia sendiri bunuh diri dihadapan Sultan.





Tercenunglah Sultan dengan wajah bergetar menahan amarah. Ia baru saja menaruh harapan terhadap Putra Mahkota, namun peristiwa yang baru terjadi bagaikan geledek yang menyambar dirinya. Seorang Perwira kerajaan kepercayaan dirinya menyampaikan pengaduan yang membuat dunia ini seolah-olah runtuh. Putra Mahkota kesayangannya telah melakukan tindakan yang tidak patut.





Segera Sultan berteriak garang disaksikan orang-orang penting Kerajaan dan para pengawalnya. "Aku adalah Sultan Penguasa Aceh, Sumatera dan Malaka. Aku telah memerintah Aceh dan taklukannya dengan menegakan hukum yang seadil-adilnya. Aku pun akan menegakan hukum terhadap keluargaku sendiri. Aku pun akan menerapkan hukum kepada Putra Mahkota yang seberat-beratnya. Dengan tanganku sendiri akan kupenggal leher putraku karena telah melanggar hukum dan adat negeri ini..." 





Semua pembesar kerajaan tercenung. Sultan segera memerintahkan penangkapan Putra Mahkota Meurah Pupok yang bergelar Poteu Cut atau Sultan Muda. Pengadilan segera dilakukan dan Sultan Iskandar Muda telah memutuskan bahwa ia sendirilah yang akan memancung putra kesayangannya itu. Mendung menggelayut diatas Kerajaan Aceh, prahara telah menghantam negeri perkasa ini.





Beberapa pembesar kerajaan yang peduli terhadap kelangsungan kerajaan bersepakat untuk menghadap Sultan Iskandar Muda agar membatalkan hukuman pancung tersebut. Mereka mengajukan berbagai usul seperti pengampunan atau cukup dengan mengasingkan Putra Mahkota ke negeri lain. Termasuk mencari kambing hitam, mencari seorang pemuda lain untuk menjadi pesakitan menggantikan Putra Mahkota. Semua usul tersebut ditolak oleh Sultan dan dengan berang Sultan berkata akulah yang menegakan hukum di negeri ini dan kepada siapapun yang bersalah tidak terkecuali terhadap keluargaku sendiri harus dihukum.





Kerajaan ini kuat karena hukum yang ditegakan dan adanya keadilan. Sultan kemudian menyebut dalam bahasa Aceh - "...Gadoh aneuk meupat jrat, Gadoh hukom ngon adat pat tamita...?" - yang artinya "hilang anak masih ada kuburan yang bisa kita lihat, tetapi jika hukum dan adat yang hilang hendak kemana kita dicari?"





Semua pembesar kerajaan terdiam tak kuasa membantah titah Raja Perkasa yang adil ini. Mereka mulai membayangkan bagaimana masa depan negeri ini. Bahkan Menteri Kehakiman pun yang bergelar Sri Raja Panglima Wazir berusaha membujuk tetapi Sultan tetap tidak bergeming. Sultan berketetapan hati tetap melaksanakan putusannya. Sultan sendiri dengan tegas mengatakan apabila tidak ada seorang pun yang mau melakukan hukuman ini maka ia sendiri yang akan melakukannya. Pada hari yang ditentukan dilaksanakanlah hukuman pancung tersebut yang langsung dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda terhadap Putra Mahkota kesayangannya.





Dibawah linangan air mata masyarakat yang mencintai Sultan dan Putra Mahkotanya disaksikan pembesar kerajaan yang berwajah sendu dan tertunduk tidak mampu menatap kejadian tersebut, Sultan Iskandar Muda dengan tegar melaksanakan hukuman pancung terhadap Putra Mahkota kesayangannya itu. Langit kerajaan Aceh menjadi mendung kelabu.





Rakyat kebanyakan maupun pembesar kerajaan banyak yang tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Putra Mahkota. Mereka semua menaruh harapan besar terhadap Putra Mahkota sebagai pewaris kerajaan dan turunan langsung Sultan Iskandar Muda. Tetapi hukum telah ditegakan dan Sultan langsung yang melaksanakan keputusan tersebut.












Atas keputusan Sultan Iskandar Muda pula jenajah Meurah Pupok tidak dibolehkan untuk dimakamkan dikompleks pemakaman kerajaan. Pemakaman kerajaan disebut dengan Kandang Mas yang berada dilingkungan Istana Darul Donya. Jenazah hanya dimakamkan disuatu kompleks di luar area Istana Darud Dunya yaitu didekat lapangan pacuan kuda Medan Khayali.



Sebuah Konspirasi




Waktu terus berjalan, Sultan mulai memikirkan siapa penggantinya. Kemudian berkembanglah sebuah informasi bahwa Putra Mahkota Meurah Pupok yang bergelar Sultan Muda Poteu Cut, memang sengaja disingkirkan oleh sebuah konspirasi. Oleh sekelompok orang tertentu yang tidak menginginkannya menjadi Raja atau Sultan, mencoba mencari berbagai cara untuk mencegahnya menjadi Sultan. 





Kelompok ini tidak berani berhadapan secara langsung dengan Sultan atau melakukan tindakan gegabah. Mereka berusaha menjebak Putra Mahkota dengan berbagai cara. Dicarilah akal bulus untuk menggoda Sultan Muda yang sedang menanjak dewasa ini. Sebagai pria muda ia dianggap akan mudah tergoda dengan wanita.





Akhirnya ditemukan seorang wanita jelita yang kebetulan pula istri seorang Perwira Kerajaan dan kepercayaan Sultan Iskandar Muda. Karena istri seorang perwira kepercayaan Sultan, wanita ini dengan mudah masuk kedalam lingkungan Istana. Sehingga ia dengan mudah bergaul di istana dan mendekati Pangeran Muda yang tampan yang juga adalah seorang Putera Mahkota. Akhirnya akibat godaan sedemikian rupa Sultan Muda terjebak kedalam skenario yang dibuat oleh konspirasi jahat yang bertujuan ingin menjebak dan menyingkirkannya. Akhirnya sebagaimana diketahui bersama konspirasi jahat itu berhasil menyingkirkan Putra Mahkota Sultan Muda yang bernama asli Meurah Pupok.





Informasi ini sampai ketelinga Sultan Iskandar Muda, namun semuanya telah terjadi. Ia mulai membayangkan Putra kesayangannya tersebut yang juga Putra Mahkota yang kelak diharapkan melanjutkan kepemimpinannya. Terbayang olehnya akan wajah seorang pemuda tampan namun minim pengalaman. Ditengah usianya yang menanjak dewasa sangat mungkin ia mudah tergoda. 





Sultan mulai menyesali kealpaannya dalam mengawasi Putra Mahkota kesayangannya itu. Ia dirundung kesedihan mendalam. Kesedihan yang terus menerus ini membuat Sultan jatuh sakit. Sakitnya berlangsung terus dan semakin parah. Dalam beberapa waktu kemudian Sultan Iskandar Muda yang perkasa ini akhirnya mangkat tepatnya pada tanggal 27 Desember 1636.





Pengganti Sultan adalah menantunya yaitu Sultan Iskandar Tsani. Setelah Sultan Iskandar Tsani mangkat ditunjuklah istrinya yang juga anak Sultan Iskandar Muda dan adik Meurah Pupok yaitu Ratu Tajul Alam Syafiatuddin menjadi Ratu Penguasa Kesultanan Aceh. Dalam masa kepemimpinan Ratu Tajul Alam Syafiatuddin ia mencoba memulihkan kembali nama baik abangnya Meurah Pupok, karena sesungguhnya abangnya tersebut tidak sepenuhnya salah. Abangnya dijebak oleh suatu konspirasi yang jahat. 





Ratu kemudian membangun makam untuk abangnya Meurah Pupok yaitu suatu bangunan yang indah yang menjadi kenang-kenangan bagi peristiwa masa lalu untuk dijadikan pelajaran agar para penguasa dan keluarganya harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak. Bangunan makam ini disebut dengan Kandang Poteu Cut. Kandang ini terletak pada lokasi strategis yaitu disisi barat Kandang Perak dan Taman Sari pada tepi jalan masuk ke Medan Khayali. Namun, makam Meurah Pupok yang disebut Peucut ini sempat dihancurkan Belanda. Peucut berasal dari Pocut yang berarti Putra Kesayangan.





Hukum dan Adat harus ditegakkan meski anak harus dikorbankan. Sebab menegakkan Adat Identik dengan menegakkan Hukum Islam masa itu. "Hukom ngen adat lage zat ngen sifheut". 





Tuduhan berbuat zina dialamatkan kepada Meurah Pupok, namun tidak umum diketahui bagaimana proses peradilan berdasarkan hukum Islam terhadapnya. Tidak jelas siapa nama empat orang saksi yang dihadapkan ke muka pengadilan. Siapa saja yang bertindak sebagai hakim yang mengadili kasus ini. Sebab walaupun raja adalah penentu tertinggi, tapi sebagai sebuah kerajaan Islam, tentulah ketentuan-ketentuan syari’at dijunjung tinggi.





Demi menegakan hukum Sultan Iskandar Muda rela menghukum mati anaknya sendiri yang nota bene merupakan putra kesayangannya sekaligus penerus kekuasaannya. Meskipun kemudian diketahui kesalahan anaknya tersebut akibat suatu konspirasi yang memang sengaja menjebaknya. 





Tragedi Meurah Pupok ini memang telah dirancang sedemikian rupa oleh kelompok politisi istana yang berkhianat. Mereka dengan licik memanfaatkan Meurah Pupok yang tengah terjerat cinta. Konon ini merupakan permainan kelas tinggi. Sejarah telah memberikan pelajaran yang luar biasa buat kita, hukum memang harus ditegakan, namun kekuasaan itu pun syarat dengan intrik dan penuh tipu daya. Kisah Meurah Pupok memberikan hikmah yang sangat mendalam.

Minggu, 03 Mei 2015

Sejarah hari ini 3 Mei 1999: Tragedi Berdarah Simpang KKA







Pola kejadian  : Pembantaian sipil.

Hari/Tanggal   : Senin (3 Mei 1999)

Pukul               : 12.30 WIB

Tempat            : Simpang KKA Krueng Geukueh, Kec. Dewantara, Aceh Utara

Pelaku             : Aparat dari satuan Den Rudal 001 dan Yonif 113 Aceh Utara.

Saksi mata      : Masyarakat Simpang KKA Dewantara Aceh Utara

Kronologis      : Kronologi Tragedi Berdarah Simpang KKA




***



Memperingati 16 tahun Pembantaian Massal di Simpang KKA, Aceh Utara



Tanggal 3 Mei punya banyak makna bagi warga Aceh Utara, dan juga bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Tanggal tersebut selain bermakna resistensi atau perlawanan rakyat melawan negara, juga sebuah kenangan buruk, betapa negara begitu semena-mena terhadap rakyatnya.


Karenanya, saban tahun —meski tak rutin karena kondisi Aceh tak selalu kondusif untuk mengenang tragedi— warga Aceh Utara khususnya para korban tragedi Simpang KKA memperingatinya.


Sekedar merawat ingatan, Senin, 3 Mei 1999 atau 15 tahun silam, banyak darah berceceran di sekitar simpang PT KKA. Jeritan dan tangisan para korban memecah telinga siapa saja yang pernah mendengar.


Saat itu, harga peluru tentara begitu murahnya, karena bisa dihambur-hamburkan dengan sangat mudah. Setelah itu, puluhan mayat dan ratusan korban tergelatak, ada yang sudah kaku, banyak juga yang masih bernyawa sambil merintih, yang lainnya berlarian, mencari tempat yang bisa dijadikan tempat berlindung.


***


Sekilas Kronologi




Pukul 12.30 WIB, Suara gemuruh dan teriakan manusia memenuhi Simpang KKA. Ribuan orang berlarian menghindari serangan dari TNI.  Dua wartawan RCTI (Umar HN dan Said Kaban) yang kebetulan sudah berada di tempat itu sempat merekam moment-moment penting yang terjadi baik dengan foto atau video.


Dapat dikatakan, hasil rekamannya itu menjadi salah-satu bukti yang paling akurat dan tidak mungkin dapat dipungkiri tentang bagaimana peristiwa yang sebenarnya. Tembakan yang dilakukan tanpa peringatan terlebih dahulu dan dengan posisi siap tempur. Tentara yang dibagian depan jongkok dan yang berada pada barisan belakang berdiri. 




Selain itu, tentara yang berada di atas truk juga terus melakukan tembakan sambil melakukan gerakan-gerakan tempur. Saat itu penduduk yang tidak lagi sempat lari melakukan tiarap tapi terus diberondong.



Selain melakukan tembakan kearah masa, TNI juga mengarahkan tembakan ke rumah-rumah penduduk, sehingga banyak warga yang sedang di dalam rumah juga menjadi korban. Bahkan mereka mengejar dan memasuki rumah-rumah penduduk dan melakukan pembantaian di sana.




Banyak penduduk yang sudah tertembak dan tidak bisa lari lagi masih terus diberondong oleh tentara dari belakang. Mereka melakukan pembantaian seperti sebuah pesta. 


Dalam aksi pembantaian tersebut, 45 jiwa Tewas di tempat, 156 lainnya Luka-luka kebanyakan karena luka tembak, dan 10 diantaranya Hilang sampai saat ini tidak tahu keberadaannya.


Artikel Lengkap : Kronologi Tragedi Berdarah Simpang KKA








Kamis, 16 April 2015

Gajah Aceh yang Agung






Di Aceh serangan gajah liar meningkat berkelindan dengan meluasnya perambahan hutan. Konflik manusia dengan gajah tak terhindarkan. Gajah diburu dan dimusuhi. Akibatnya, populasi gajah di Aceh menurun. Pada 2014, Populasi gajah Sumatera di Aceh diperkirakan, hanya tersisa 600 ekor. Padahal, pada zaman Kesultanan Aceh abad ke-17, gajah memenuhi rimba dan menjadi simbol keagungan.





Menurut catatan ahli sejarah purbakala dipermulaaan tahun Masehi ahli geografi dari bangsa Griek dan Rome dalam lawatannya mengunjungi daerah-daerah India Belakang hingga sampai ke kepulauan nusantara. Ketika mereka sampai ke daerah Ujung Sumatera disana didapati sebuah kerajaan yang teratur, dimana rajanya mengendarai gajah dan memakai mahkota yang besar di kepalanya yang dibuat dari pada emas dan perhiasan batu permata. Mereka menamai kerajaan itu dengan nama Tabrobane.





Dalam tahun 500 Masehi, pernah didapati oleh pengembara-pengambara asing yang pernah mengunjungi ujung utara Pulau Sumatera disana didapati sebuah kerajaan yang bernama Poli rakyatnya beragama Budha rajanya mengendarai gajah. Raja itu dari dinasti Liang.



Sultan Perlak pada 1146 juga gemar mengendarai gajah berhias emas, sebagaimana dikutip Djamil dari Kitab Rihlah Abu Ishak al-Makarany. Sementara Marcopolo menyebut Samudra Pasai sebagai kerajaan yang mempunyai banyak gajah, dan sebagian besar kepunyaan raja.





Sebelum Kesultanan Aceh berdiri, kerajaan-kerajaan di utara Pulau Sumatra telah menjadikan gajah sebagai bagian tak terpisahkan dari kerajaan. Menurut M. Junus Djamil, seorang raja di Pidie memilih gajah sebagai tunganggannya.





"Dalam tahun 500 masehi didapati kerajaan yang bernama Poli, yaitu Pidie sekarang, rakyatnya beragama Buddha, rajanya mengendarai gajah," tulis Djamil dalam Gadjah Putih Iskandar Muda.





Dalam kitab Rahlah Abu Ishak Al Makarany disebut dalam tahun 1146 M. Di daerah Peureulak telah terdapat sebuah kerajaan Islam Sultan yang memerintah bernama dan bergelar Sultan Machdoem Johan Berdaulat Malik Mahmud Syah. Kelebihan dan kemegahan Sultan ini antara lain Baginda mengendari Gajah yang berhias emas yang berwarna warni Sultan ini memerintah dalam tahun 1134-1158 M.





Tahun 1265 M, Marcopolo pernah datang ke negeri Samudera (Pase) dalam masa pemerintahan Sultan Malikus Saleh (Meurah Silu) dimana didapati Sultan Malikusaleh selain mempunyai tentara berkuda yang banyak juga baginda mempunyai kenderaan gajah.



Dalam tahun 1345 M, seorang pengembara Arab yang bernama Ibnu Batuttah mengunjungi kerajaan Samudera Pase dalam masa pemerintahan Sultan Ahmad Malikul Dhahir bin Sultan Muhammad Malikul Dhahir bin Sultan Malikus Saleh Meurah Siloo, yang memerintah dalam tahun 1326-1350 M.




Dalam Rihlah Ibnu Batutah, Ibnu Batutah memberikan deskripsi lebih lengkap mengenai gajah Samudra Pasai pada 1345. Selain dimiliki Raja, gajah-gajah itu juga menjadi bagian armada perang kerajaan. Jumlahnya 300 gajah. Meski untuk berperang, gajah-gajah itu tetap dihias. Menurutnya, kekuatan dan kemegahan armada Gajah Samudra Pasai hanya bisa disaingi oleh Kerajaan Delhi (India).




Ibnu Batutah menulis dalam bukunya yang bernama Rahlah Ibnu Batutah tentang kedatangannya ke negeri Samudera/Pase sambutan dari kerajaan begitu meriah terhadap tamu kerajaan masjid dan para ulamanya begitu agung.








Diantara kebesaran dari kerajaan Samudera adalah ia memiliki 2000 laskar berkuda yang pakaian penunggangnya serba emas dan perak juga didapati 300 tentara gajah yang lengkap dengan perhiasan dan persenjataannya. Ibnu Batutah bemukim di negeri Samudera dan dapat menyaksikan bermacam-macam upacara kerajaan.




Pandangan kami bersama-sama dengan tuan Valentijn, selayang pandang pada Kerajaan Aceh, sesuai dengan apa yang disebutnya, maka sebenarnyalah, bahwa yang berkuasa itu adalah..., Maharaja yang terbesar di seluruh Sumatra, yang gelarannya antara lain, berbunyi sebagai berikut:



“Seorang Raja, yang mempunyai gajah yang bergading, yang berwarna, yang mewah, yang hitam, yang putih dan yang belang ; Seorang Raja yang kepadanya dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Kuasa memberi pakaian gajah-hajah itu dengan perhiasan emas dan batu permata (ratna mutu-manikam), juga sejumlah besar dari gajah peperangan, dengan kereta kencana di atas punggungnya, yang gading-gadingnya bersalutkan besi dan diberi sepatu tembaga.



Dr. W.A., Het gezantschap van den Sultan van Achin hlm. 19,20,21



Selanjutnya Valentijn menyebut dalam bukunya tentang tinjauannya terhadap Kerajaan Aceh antara lain :




Sultan Aceh mempunyai 40-50 ribu angkatan perang yang dapat dikerahkan ke medan perang dengan 2-3 ribu pucuk meriam yang dapat dibawa bersama, serta lengkap dengan mesiu dan peluru pelurunya. Juga Sultan Aceh (keradjaan Aceh), benar mempunyai 1000 ekor gajah yang dapat dipergunakan dalam peperangan, dan 200 kapal perang yang telah diturunkan ke air yang lengkap dipersenjatai de­ngan meriam-meriam dan alat perang.




Ketika Kesultanan Aceh berdiri pada paruh pertama abad ke-16, gajah tetap menjadi hewan andalan, selain kuda. Sultan-sultan Aceh masa itu tersohor sebagai penunggang gajah yang mahir. Kecakapan menunggang gajah dianggap salah satu simbol keagungan sultan. Gajah-gajah pun dirawat dengan baik.





Gajah-gajah liar di pedalaman diburu bukan untuk diambil gadingnya, melainkan untuk dijinakkan. Setelah jinak, gajah yang dipandang terbaik dan terbesar akan dijadikan gajah sultan. Sisanya untuk armada perang Aceh. Gajah-gajah perang itu dihias seindah mungkin dengan emas dan permata. Suatu pemandangan yang dapat ditemukan di India.





Kebanggaan Kesultanan Aceh terhadap gajah berlanjut hingga abad ke-17. Iskandar Muda, calon sultan, akrab dengan gajah sejak kecil. Indra Jaya, seekor anak gajah, menjadi teman bermain Iskandar Muda kecil. Kakeknya, Sultan Alau’ddin Riayat Syah, memberikan gajah itu saat Iskandar berumur 5 tahun. Iskandar senang menerimanya.





Dia menghabiskan sebagian besar waktu bermainnya dengan anak gajah itu. Menginjak usia 7 tahun, dia mulai berburu gajah liar yang berada dalam hutan. Saat beranjak dewasa, Iskandar Muda telah mahir menunggangi gajah. Mengutip Hikayat Aceh, Anthony Reid dalam "Elephants and Water in The Feasting of Seventeenth Century Aceh," dimuat dalam An Indonesian Frontier, menyebut sultan muda itu berlatih menunggang gajah tiap Senin dan Kamis. Sultan muda itu meneruskan tradisi kemahiran sultan Aceh dalam menunggangi gajah.





Tamu-tamu asing Kesultanan Aceh terpukau dengan gajah-gajah di sana. Sebaliknya, Aceh membanggakan gajah-gajahnya pada tamu-tamu asing. Untuk menyambut tamu asing, gajah dipersiapkan sebaik mungkin, baik perangai, kesehatan maupun perhiasannya. John Davies, navigator Inggris, mengungkapkan pengalamannya mengunjungi istana sultan pada 1599. "Saya berkendara ke istananya dengan seekor gajah," tulis Davies dalam "Kunjungan Pertama Belanda Berakhir Buruk, 1599," dimuat dalam Sumatera Tempo Doeloe.





Dia juga menyebut gajah dapat digunakan sebagai alat eksekusi hukuman mati. Gajah bisa merobek badan orang hingga pecah berkeping-keping. Catatan Francois Martin, pedagang Prancis, pada 1602 menguatkan cerita Davies. Hukuman mati dengan gajah dikenakan pada pezina dan pembunuh.





Meski gajah sempat menjadi alat eksekusi, fungsi utama gajah sebagai simbol kebesaran kesultanan Aceh tak terbantahkan. Augustin de Beaulieu, pedagang Prancis, menyaksikan bagaimana Aceh merupakan panggung teater besar para gajah pada 1621.



Dalam catatannya, "Kekejaman Iskandar Muda", dimuat dalam Sumatera Tempo Doeloe, dia menyebut Aceh memiliki 900 ekor gajah. Karena melimpahnya armada gajah, Aceh tak memerlukan benteng kota. "Gajah-gajah tempurnyalah yang merupakan benteng kota sesungguhnya," tulis Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh.





Gajah-gajah itu dilatih berperang sehingga tak takut ketika suara senapan yang memekakkan berbunyi disamping telinga besarnya. Sultan memberikan gajah-gajah itu nama sedangkan rakyat memberi penghormatan kepada gajah-gajah yang sultan gunakan. Ketika parade, gajah-gajah itu diiringi bunyi-bunyian yang membahana dari alat-alat musik seperti terompet, tamborin, dan simbal.





Catatan lain mengenai gajah Aceh berasal dari Peter Mundy, pelancong Inggris. Meski hanya mengunjungi Aceh selama 10 hari, dia melihat upacara besar yang menyertakan banyak gajah pada 1637. Dia mendeskripsikan dengan sangat jelas upacara yang digelar saat perayaan Idul Adha. Upacara itu dihadiri khalayak termasuk orang asing. Sultan mengundang semua rakyat hadir, dari jelata hingga bangsawan.





Dalam upacara itu, 30 gajah berhias terbagi dalam beberapa baris. Ada empat gajah tiap barisnya. Sebagian gajah ditutupi kain sutra sehingga hanya terlihat kaki, telinga, mata, dan belalai mereka. Gajah raja terlihat mencolok. Dengan hiasan kain mewah yang menutupi hampir seluruh tubuh dan menara setinggi satu meter di punggungnya, gajah itu berada paling belakang.



Menurut Takeshi Ito dalam The World of The Adat Aceh, tesis pada Australian National University, "dalam masa damai, gajah menjadi bagian integral dalam prosesi itu sebagaimana tertuang dalam kitab Adat Aceh."





Ito menambahkan Aceh tak hanya mengoleksi gajah tapi juga mengeskpor atau membarternya dengan sejumlah kuda atau hewan lain ke beberapa wilayah seperti Srilanka. Pada masa Sultanah Safiatuddin (1641-1675), kepemilikan gajah tak terbatas lagi pada sultan. Orang kaya boleh memilikinya.



Seiring meredupnya Kesultanan Aceh, gajah tak lagi menempati posisi penting dalam upacara keagamaan atau armada perang. Memasuki abad ke-20, nasibnya semakin naas; hanya menjadi barang buruan dan dagangan. Bahkan dimusuhi warga.

Rabu, 15 April 2015

Perempuan Tangguh Pahlawan Tiga Zaman, Malahayati





Perempuan itu berteriak lantang dari atas kapal. Suaranya beradu nyaring dengan gelegar meriam. Tegas. Memberi komando kepada pasukan perempuan di palagan perang.


Pada masa kejayaan Aceh, akhir abad 15 masehi, Aceh melahirkan seorang tokoh wanita tangguh, bernama Keumalahayati, ia lebih terkenal dengan sebutan Malahayati. Adapun nama Keumala dalam bahasa Aceh itu sama dengan Keumala yang berarti sebuah batu yang indah dan bercahaya.


Berdasarkan sebuah manuskrip yang tersimpan di University Kebangsaan Malaysia din berangka tahun 1254 H atau sekitar tahun 1875 M, Keumalahayati berasal dari kalangan bangsawan Aceh, dari kalangan sultan-sultan Aceh terdahulu.


Dia adalah muslimah pertama dunia yang menjadi laksamana di zaman pelayaran modern. Saat sebagian besar rakyat negeri ini belum memikirkan emansipasi, dia sudah mendobrak batas-batas gender yang baru dibincangkan kemudian.


Nama Malahayati mudah ditemukan di literatur Barat maupun China. Di Indonesia, dia memang tidak sepopuler Cut Nyak Dien, namun oleh peneliti barat, Malahayati disejajarkan dengan Semiramis, Permaisuri Raja Babilonia dan Katherina II, Kaisar Rusia.


Ia hidup di masa Kerajaan Atjeh Darussalam dipimpin oleh Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV yang memerintah antara tahun 1589-1604 M.


Ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530-1539 M. Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. (Rusdi Sufi, 1994 : 30-33).


Jika dilihat dari silsilah Keumalahayati dapat dipastikan bahwa dirinya berasal dari darah biru, yang merupakan keluarga bangsawan Istana. Ayah dan kakeknya Malahayati pernah menjadi Laksamana Angkatan Laut, sehingga jiwa bahari yang dimiliki oleh ayah dan kakeknya sangat berpengaruh pada perkembangan pribadinya, seperti kata pepatah, "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya".


Oleh karena sang ayah dan kakeknya seorang Panglima angkatan Laut, maka jiwa bahari tersebut dapat diwarisi oleh Malahayati. Kendatipun dirinya hanya seorang wanita, ia juga ingin menjadi seorang pelaut yang gagah berani seperti ayah dan kakeknya.


Malahayati pada awalnya adalah dipercaya sebagai kepala pengawal dan protokol di dalam dan luar istana. Karir militernya menanjak setelah kesuksesannya “menghajar” kapal perang Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Cornelis de Houtman yang terkenal kejam. Bahkan Cornelis de Houtman tewas ditangan Malahayati pada pertempuran satu lawan satu di geladak kapal pada 11 September 1599.


Masa Gadis


Pada masa Malahayati masih gadis remaja, Kerajaan Aceh telah memiliki Akademi Militer yang bernama Mahad Baitul Maqdis, yang terdiri dari jurusan Angkatan Darat dan Laut, dengan para instrukturnya sebagian berasal dari Turki.



Sebagai anak seorang Panglima Angkatan Laut, Keumalahayati mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan yang ia inginkan. Setelah melalui pendidikan agama di meunasah, dan dayah.


Malahayati berniat mengikuti karir ayahnya yang pada waktu itu telah menjadi Laksamana. Sebagai seorang anak yang mewarisi darah bahari, Keumalahayati bercita-cita ingin menjadi pelaut yang tangguh. Untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pelaut, ia kemudian ikut mendaftarkan diri dalam penerimaan calon taruna di Akademi Militer Mahad Baitul Maqdis.


Cucu dari Laksamana Muhammad Said Syah ini terbilang istimewa. Keleluasaannya memilih jenjang pendidikan itu dilandasi atas kecerdasan yang dimiliki.


Berkat kecerdasan dan ketangkasannya, ia diterima sebagai siswa taruna akademi militer tersebut. Pendidikan militer pada tahun pertama dan kedua ia lalui dengan sangat baik, karena ternyata ia adalah seorang taruna wanita yang berprestasi sangat memuaskan.


Sebagai taruna yang cakap dan mempunyai prestasi yang sangat menonjol telah membuat la sangat dikenal di kalangan para taruna lainnya, termasuk juga para taruna yang setingkat lebih tinggi dari dirinya. Maka tidak mengherankan kalau banyak mahasiswa di Akademi Militer tersebut yang sayang padanya. 


Bahkan banyak pula yang telah tertambat hatinya pada wanita tersebut. Namun di antara sekian banyak taruna laki-laki yang jatuh cinta padanya, tidak ada yang berkenan di hatinya. la lebih mementingkan pendidikannya dari pada memikirkan hal-hal yang menurutnya belum saatnya untuk dilakukan.


Sebagai siswa yang berprestasi di Akademi Militer Mahad Baitul Maqdis, Keumala berhak memilih jurusan yang ia inginkan. Sebagai seorang anak yang mewarisi darah bahari, ia memilih jurusan Angkatan Laut. 


Maklum karena sejak kecil jiwa pelaut telah ditanam oleh ayah dan kakeknya. Dalam masa-masa pendidikan militernya, ia berhasil dengan mudah melahap semua ilmu-ilmu yang diberikan oleh para instrukturnya.


Prestasi Malahayati tersebar di lingkungan istana. Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil pada masa pemerintahan 1589 M--1604 M mengangkat Malahayati sebagai komandan protokol Istana Darud-Dunia di Kesultanan Aceh Darussalam.


Jabatan ini menuntutnya piawai menguasai wawasan etika dan keprotokolan.


Pada suatu saat di Kampus Akademi Militer Mahad Baihil makdis tersebut, Keumala berkenalan dengan seorang calon perwira laut yang lebih senior dari dirinya. Perkenalan berlanjut hingga membuahkan benih-benih kasih sayang.


Keduanya akhirnya sepakat menjalin cinta. Setelah tamat pendidikan di Akademi Militer Mahad Baitul Maqdis, keduanya akhirya menikah sebagai suami-istri. Sayang, identitas suaminya tidak terlalu terungkap di berbagai manuskrip.


Suaminya disebutkan gugur di palagan Selat Malaka ketika melawan Portugis.


Pasukan Inong Balee (wanita janda)





Laksamana Keumalahayati
Setelah suaminya gugur, Malahayati memohon kepada Sultan al-Mukammil, raja Aceh yang berkuasa dari 1596-1604, untuk membentuk armada perang. Prajuritnya adalah para janda pejuang Aceh yang gugur dalam pertempuran di Selat Malaka itu.


Gayung bersambut. Saat itu Kerajaan Aceh memang tengah meningkatkan keamanan karena gangguan Portugis. Usul membentuk armada dikabulkan, Malahayati diangkat jadi Panglima Armada Inong Balee atau Armada Perempuan Janda. 


Ia didaulat sebagai laksamana. Sejak itulah gelar laksamana angkatan laut perempuan pertama ia sandang.


Pasukan itu bermarkas di Teluk Lamreh Krueng Raya. Benteng Kuto Inong Balee dengan tinggi sekitar tiga meter dibangun. Lengkap dengan meriam. Sisa-sisa benteng itu kini masih bisa dilihat di Aceh.


Sebagai seorang laksamana angkatan laut, peran Malahayati sangat krusial. Debut pertempuran perdananya ialah melawan Portugis di perairan Selat Malaka.


Tak hanya menyusun pertahanan di darat. Pasukan Inong Balee dilengkapi seratus lebih kapal perang. Pasukan yang semula hanya 1000 orang, lama-lama bertambah hingga mencapai 2000 pasukan. Armada asing yang melintas di Selat Malaka pun menjadi gentar.


Tak jauh dari pangkalan militer tersebut, Malahayati juga membangun Benteng Inong Balee. Kekuatan armada pimpinan Malahayati terbilang luar biasa. Ini terbukti dengan sepak terjangnya selama mengawasi Pelabuhan Syahbandar.


Mata uang dan koin emas


John Davis, seorang berkebangsaan Inggris, nahkoda di sebuah kapal Belanda yang mengunjungi Kerajaan Aceh pada masa Malahayati menjadi Laksamana. melaporkan, Kerajaan Aceh pada masa itu mempunyai perlengkapan armada laut terdiri dari 100 buah kapal perang, diantaranya ada yang berkapasitas 400 - 500 penumpang. 


Pada saat Malahayati menjadi laksamana, komoditas ekonomi yang dihasilkan bumi dan laut Aceh dan daerah-daerah Semenanjung Melayu sangat melimpah ruah sehingga banyak digemari bangsa Barat seperti Belanda, Portugis, dan Inggris. Di antara komoditas andalan Aceh adalah lada dan rempah-rempah. 


Aceh begitu terbuka untuk bekerja sama dengan mereka, tetapi sayang bangsa-bangsa Barat yang rakus dan ingin menguasai komoditas yang bukan hak mereka dengan berbagai cara mulai dan trik halus seperti membuat perjanjian dagang sampai yang paling kasar menyerang Aceh. 


Pada saat itu, Aceh telah menggunakan uang resmi yang digunakan sebagai alat tukar dalam perdagangan antar bangsa. Mata uang yang berbedar saat itu adalah ringgit dan dirham Aceh, rial cap meriam Portugis, ringgit cap matahari Jepang dan ringgit cap tongkat lnggeris. Uang yang diterbitkan Aceh terbuat dari tembaga, perak dan emas. 


Masa itu Kerajaan Aceh memiliki angkatan perang yang kuat. Selain memiliki armada laut, di darat ada pasukan gajah. Kapal-kapal tersebut bahkan juga ditempatkan di daerah-daerah kekuasaan Aceh diberbagai tempat. Untuk menerbitkan uang ini, Aceh secara khusus mengundang ahli emas dan India dan ditempatkan di Kampung Pandee.


Membunuh Cornelis de Houtman





Cornelis De Houtman
Peran Malahayati berlangsung hingga masa perlawanan Belanda. Kekuatan Malahayati mendapat ujian pertamakalinya ketika terjadi kontak senjata antara Aceh dengan pihak Belanda. 


Pada tanggal 21 Juni 1599 saudagar Belanda datang di Aceh, mereka menggunakan kapal De Leeuw dan De Leeuwin. Dua kapal itu di bawah kendali dua orang bersaudara yakni Cornelis De Houtman dan Frederick De Houtman. 


Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama yang tiba di Indonesia. Pasukan ekspedisi dari Belanda itu yang baru saja selesai berperang dengan Kesultanan Banten.


Setibanya di Aceh, keduanya disambut dengan baik oleh Sultan di istana. Kedatangan dua orang bersaudara ini berhasil memikat Sultan sehingga Belanda diizinkan untuk melakukan perdagangan dengan Aceh sekaligus diizinkan untuk membuka kantor dagang di Aceh. 


Kerjasama ini dimanfaatkan Aceh untuk menyewa kapal-kapal Belanda yang akan digunakan untuk mengangkut pasukan ke Johor. Perjanjian sewa kapal itu ditandatangani tanggal 30 Juli 1599 dan direncanakan berangkat pada tanggal 11 September 1599. 


Namun sayang, menjelang keberangkatan pasukan Aceh ke Johor, pihak Belanda mengingkari perjanjian tersebut dan kapten kapal yang bernama J. Van. Hamskerek pun melarang pasukan Aceh naik ke atas kapal. Aceh tidak terima dengan perlakuan itu. 


Sebagian pasukan Aceh yang telah berada di atas kapal langsung marah dan mengamuk ketika Belanda menembaki beberapa pembesar Aceh yang masih berada di atas sampan termasuk kerabat sultan dan korban dan kedua belah pihak pun tidak bisa dihindari. 


Pertempuran antara pasukan Aceh dan Belanda di laut dilaporkan ke Sultan dan didengar Keumalahayati yang saat itu menjadi Panglima Pengawal lstana. Saat itu juga, Keumalahayati memberi komando pasukannya untuk berkumpul dan mengepung kantor perwakilan dagang Belanda. 


Di darat pun terjadi tembak-menembak antara pasukan Belanda dan anak buah Keumalahayati. Dalam waktu singkat pasukan Keumalahayati berhasil membuat pasukan Belanda menyerah setelah sebagian besar tewas di tangan anak buah Malahayati.


Dalam penyerangan itu, Cornelis de Houtman sendiri tewas ditangan Malahayati dan beberapa anak buahnya juga terbunuh. Sedangkan Federick de Houtman ditawan selama dua tahun dan dijebloskan ketahanan kerajaan Aceh.


Namun ketika mereka hendak membakar kantor dan gudang Belanda, Sultan melarang dan atas komandan Malahayati rencana untuk membakar gedung itu batal dilakukan demi mentaati perintah Sultan.


Negosiator Ulung





Jacob Cornelisz. van Neck
Tak kapok, Pada 21 November 1600, Belanda mengirim pasukan ke Malaka. Kali ini di bawah komando Paulus van Caerden. Mereka menjarah dan menenggelamkan kapal-kapal yang penuh rempah-rempah di pantai Aceh. 


Juni tahun berikutnya, Malahayati berhasil menangkap Laksamana Belanda, Jacob van Neck, yang tengah berlayar di pantai Aceh. Setelah berbagai insiden, Belanda mengirim surat diplomatik dan memohon maaf kepada Kesultanan Aceh melalui utusan Maurits van Oranjesent.


Peristiwa terbunuhnya de Houtman penawanan  Jacob Cornelisz van Neck, sesuatu yang menggegerkan bangsa Eropa dan terutama Belanda sekaligus menunjukkan kewibawaan Keumala ketika Mahkamah Amsterdam menjatuhkan hukuman denda kepada Van Caerden sebesar 50.000 gulden yang harus dibayarkan kepada Aceh.


Tak hanya sebagai laksamana, Malahayati ternyata juga merupakan sosok negosiator ulung.





Maurits van Oranje sent
Pada Agustus 1601, Malahayati memimpin Aceh untuk berunding dengan dua utusan Maurits van Oranje sent, Laksamana Laurens Bicker dan Gerard de Roy.



Mereka sepakat melakukan gencatan senjata. Belanda juga harus membayar 50 ribu gulden tersebut sebagai kompensasi penyerbuan yang dilakukan van Caerden.



Denda tersebut adalah buntut tindakan Paulus van Caerden ketika datang ke Aceh menggunakan dua kapal, menenggelamkan kapal dagang Aceh serta merampas muatannya berupa lada, lalu pergi meninggalkan Aceh. 


Malahayati memerintahkan pasukannya bergerak ke laut mengejar Belanda. Dengan armada sampan dan perahu kecil mereka mengejar kapal Belanda yang ukurannya lebih besar. 


Untuk mempercepat laju kapalnya, Belanda membuang sauh agar kapal cepat melaju di laut dan bebas bergerak menghindari kejaran pasukan Keumalahayati menuju pulau Ceylon. Namun keduanya dapat dikejar dan akhirnya ditahan di Aceh. 


Sampai ke telinga Elizabeth I




Sepak terjang Malahayati sampai juga ke telinga Ratu Elizabeth, penguasa Inggris. Tak seperti Portugis dan Belanda, Negeri raksasa itu memilih cara damai dengan Aceh saat hendak melintas Selat Malaka. Pada Juni 1602, Ratu Elizabeth I memilih mengutus Sir James Lancaster ke Aceh.


Sultan memerintahkan Laksamana Keumalahayati untuk menyambut kedatangan orang-orang Inggris. Sumber wikipedia menyebutkan Sir James Lancaster bersama rombongan pertama kali mendarat di Aceh pada 5 Juni 1602.



Surat baik-baik dari Ratu Elizabeth I yang dibawa oleh Lancaster untuk Sultan Aceh, membuka jalan bagi Inggris untuk menuju Jawa dan membuka pos dagang di Banten.



Ketika menyambut utusan Inggris. Laksamana Keumalahayati melaksanakan semua instruksi sultan dalam rangka penyambutan utusan Inggris yang pada saat itu sedang bermusuhan dengan Portugis. 





Sir James Lancaster
Ini dilakukan karena Laksamana Keumalahayati berpendapat bahwa bersahabat dengan Inggris Aceh akan mempunyai kekuatan dan bergaining yang lebih tinggi sehingga bisa dimanfaatkan untuk menghadapi Portugis. 


Sir James Lancaster dan para pengiringnya disambut dengan jamuan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah pada malam hari.  Selama di Aceh, Malahayati memberikan perlindungan penuh bagi utusan Inggris. 


Ini dibuktikan dengan kedatangan Keumalahayati di tempat penginapan Sir Lancaster pada sore hari pada pertama kedatangannya setelah pagi harinya didatangi seorang utusan yang menyampaikan surat khusus dari sultan.


Kedatangan Malahayati ke penginapan Sir Lancaster untuk memberi tanda mata berupa zamrud. Di samping itu, Malahayati juga membawa kabar penting tentang kedatangan 20 armada Portugis di Malaka dan akan ke perairan Aceh. 


Perempuan pemberani ini memberi saran kepada utusan Ratu Elizabeth agar segera meninggalkan Aceh untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Lancaster ingin tetap bertahan di Aceh namun Laksamana meyakinkan bahwa Portugis akan menimbulkan bencana jika Lancaster tetap di Aceh karena Portugis juga mengincar perdagangan dengan Aceh terutama lada namun belum mendapatkan izin dan Sultan Sayid Mukammil. 


Malahayati menjanjikan, jika Lancaster mau meninggalkan Aceh saat itu, ia berjanji akan menahan Portugis di perairan Aceh selama 10 hari agar tidak bisa mengejar utusan Ratu Elizabeth itu. Setelah mendapat jaminan keamanan akhirnya Lancaster bersama rombongan meninggalkan Aceh pada malam itu juga untuk segera kembali ke Inggris. 


Keberhasilan menempuh jalan damai ini membuat James Lancaster dianugerahi gelar bangsawan sepulangnya ia ke Inggris.


Peristiwa penting lainnya selama Malahayati menjadi Laksama adalah ketika ia mengirim tiga utusan ke Belanda, yaitu Abdoelhamid, Sri Muhammad dan Mir Hasan ke Belanda. Ketiganya merupakan duta-duta pertama dari negara/kerajaan di Asia yang mengunjungi negeri Eropa.



Rombongan duta Aceh itu tiba pada Agustus 1602, tapi pada 9 Agustus Abdul Hamid sendiri meninggal dunia di negeri Eropa dan dimakamkan diperkarangan gereja St Pieter di Middelburg, Zeeland.






Tahun 1602, Abdul Hamid beserta rombongan tiba di Belanda.


Malahayati disebut masih memimpin pasukan Aceh menghadapi armada Portugis di bawah Alfonso de Castro yang menyerbu Kreung Raya Aceh pada Juni 1606. Sejumloah sumber sejarah menyebut Malahayati gugur dalam pertempuran melawan Portugis itu. 


Dia kemudian dimakamkan di lereng Bukit Lamkuta, sebuah desa nelayan yang berjarak 34 kilometer dari Banda Aceh.


Malahayati sungguh melegenda. Banyak cacatan orang asing tentang Malahayati. Kehebatannya memimpin sebuah angkatan perang ketiga itu diakui oleh negara Eropa, Arab, Cina dan India. Namanya saat ini dipakai untuk jalan, rumah sakit, universitas di Pulau Sumatera, hingga kapal perang TNI Angakatan Laut. 


Di bawah Sultan Iskandar Muda (1607 M--1636 M), Aceh mencapai puncak kejayaannya bersama Laksamana Keumalahayati, sang pahlawan wanita tiga zaman.




DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Rabu, 08 April 2015

Menguak Perintah Pembunuhan 300 Tokoh Aceh





Oleh : Iskandar Norman




Les hitam terhadap 300 tokoh Aceh, yang berencana dibunuh, serta sikap Soekarno yang ingkar janji menjadi alasan Tgk Muhammad Daoed Beureuh untuk memberontak terhadap Jakarta.





Menulis soal pemberontakan di Aceh, tak lekang dari pemberontakan DI/TII. Aceh yang awalnya begitu setia terhadap Republik Indonesia, tiba-tiba menjadi begitu berang, ketika Tgk Muhammad Daud Beureueh, mantan Gubernur Militer Aceh Langkat dan Tanah Karo, merasa dikhianati oleh Presiden Soekarno. Janji yang tak ditepati menjadi alasan utama Daud Beureueh memberontak.





Sejarawan Belanda, Cornelis Van Dijk, menyebutkan. Kekecewaan Daud Beureueh semakin memuncak, ketika sebuah dokumen rahasia dari Jakarta yang disebut-sebut dikirim oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo melalui Jaksa Tingi Sunarjo yang membawa dokumen itu ke Medan. Ada pula yang menyebutkan dokumen rahasia itu “warisan” dari kabinet Sukiman.







Isinya, Jakarta berencana membunuh 300 tokoh penting Aceh—ada juga yang menyebut 190 tokoh—melalui sebuah operasi rahasia. Yang disebut sebagai les hitam. Keputusan ini diambil setelah Jakarta memastikan bahwa Aceh akan menggelar sebuah pemberontakan. Tapi sampai kini tak ada yang bisa memastikan keberadaan dokumen tersebut.





Sejarawan Belanda lainnya, B.J.Boland, dalam bukunya “The Struggle of Islam in Modern Indonesia”, menyebutkan sebetulnya surat itu tak pernah ada.



“Desas-desus itu di embuskan oleh politikus sayap kiri di Jakarta untuk menghantam gerakan Islam di Aceh,” katanya. Secara tersirat Van Dijk menduga dokumen itu ada. “Daftar nama itu barangkali sengaja dibocorkan dengan tujuan tertentu. Orang Aceh terkemuka merasa mereka mungkin akan ditangkap dan, karena itu, memutuskan lari ke gunung,” kata Van Dijk. Tapi Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dalam rapat paripurna DPR pada 2 November 1953 menyangkal telah menyusun daftar itu.





Rumor tentang rencana pembunuhan itu membuat pemberontakan Darul Islam di Aceh menemukan momentumnya. Aktivis Darul Islam langsung pasang kuda-kuda. Teungku Daud Beureueh, salah satu orang yang disasar oleh dokumen tersebut, segera mengacungkan kapak perang.



“Les hitam adalah bukti yang menimbulkan kecurigaan kita bahwa pencetus peristiwa berdarah itu adalah permainan lawan-lawan politik Teungku Daud Beureueh untuk menghancurkan beliau dan kawan-kawan,” kata Nur el-ibrahimy, menantu Beureueh sekaligus saksi sejarah Aceh.





Setelah itu, sembilan tahun Daud Beureueh memimpin sebuah gerakan perlawanan dengan bendera Darul Islam. Gerakan itu menjadi pembuka kisah perlawanan Aceh pasca-era kolonial dan memunculkan Daud Beureueh, tokoh besar yang sulit dilupakan sejarah.





“Les hitam” bukan satu-satunya alasan mengapa peristiwa itu ada. Membela Republik di masa perjuangan kemerdekaan, Daud Beureueh merasa dikhianati Sukarno. Divisi X TNI di Aceh dibubarkan dan pada 23 Januari 1951 status provinsi bagi Aceh dicabut. Ada yang menyebut kabinet Natsir yang melakukannya. Tapi ada yang berpendapat itu hasil kabinet sebelumnya. Apa pun, yang terang Aceh dipaksa lebur dalam Provinsi Sumatera Utara.





Van Dijk bercerita. Dua hari setelah keputusan itu diambil, pemerintah Jakarta melantik Abdul Hakim menjadi Gubernur Sumatera Utara dengan Medan sebagai ibu kota pemerintahan. Beureueh, yang saat itu adalah gubernur jenderal yang meliputi kawasan Aceh, Langkat, dan Tanah Karo, bahkan tak tahu perihal pengangkatan gubernur baru tersebut.



“Semua surat yang dialamatkan ke residen koordinator dikembalikan ke Medan tanpa dibuka atas perintah Daud Beureueh,” tulis Van Dijk.





Selain itu, Aceh juga sudah lama merasa dipinggirkan penguasa Republik. Ekonomi rakyat tak diperhatikan, pendidikan morat-marit, dan Jakarta dalam pandangan Beureueh hanya sibuk bertikai dalam sistem politik parlementer. Dan yang terpenting, status otonomi khusus, yang memungkinkan Aceh memiliki sistem pemerintahan sendiri dengan asas Islam tak kunjung dipenuhi Soekarno.





Dalam usahanya memberontak terhadap Jakarta, Daod Beureuh menjalin hubungan Kartosoewirjo, pemimpin DI/TII di Jawa Barat, yang lebih dulu mengibarkan bendera perang. Tak jelas benar siapa yang lebih dulu “membuka kata” untuk sebuah kongsi yang bersejarah ini.








Menurut sebuah dokumen rahasia yang belakangan terungkap, Beureueh dan orang kepercayaannya, Amir Husin al-Mujahid, pernah berunding dengan Karto di Bandung pada 13 Maret 1953. Utusan Karto, Mustafa Rasyid, pernah pula dikirim ke Aceh untuk membicarakan hal yang sama. Mustafa ditangap tentara Indonesia ketika kembali ke Jawa pada Mei 1953.





Kemarahan Beureueh ini mendapat dukungan publik Aceh. Dalam kongres ulama Aceh di Medan, yang dilanjutkan dengan kongres Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA)—lembaga yang dipimpin oleh Beureueh—di Langsa, April 1953, menggumpallah itikad melawan Jakarta. Orang-orang Jawa dan Medan mereka sebut sebagai “kafir yang akan merebut Aceh”. Sukarno mereka sebut sebagai presiden yang hanya akan memajukan agama Hindu.





Puncaknya adalah maklumat perang yang ditulis Beureueh pada September 1953.



“Dengan lahirnya proklamasi Negara Islam Indonesia Aceh dan daerah sekitarya, lenyaplah kekuasaan Pemerintah Pancasila di Aceh,” demikian bunyi makmulat yang dikirim hingga ke desa-desa.





Jakarta bukan tak bergerak. Sebelum tentara dikirim, Sukarnolah yang mendatangi Aceh untuk mendinginkin suasana. Tapi, seperti kunjungannya pada 1951, kunjungan menjelang perang berkobar itu disambut dingin. Pengamat politik Herbert Feith dalam artikelnya di jurnal Pacific Affairs pada 1963 mencatat betapa Sukarno tak berdaya disambut poster-poster antipresiden.



“Kami cinta presiden tapi lebih cinta agama,” begitu bunyi salah satu poster.





Wakil Presiden Hatta, yang punya latar belakang keislaman, relatif lebih berhasil. Dalam kunjungan pada Juli 1953, ia berhasil berunding dengan Beureueh dan pulang ke Jakarta dengan keyakinan bisa mengatasi keadaan. Tak seperti Sukarno, Hatta adalah orang yang sejak awal percaya bahwa pemberontakan daerah hanya bisa diatasi dengan menerapkan otonomi khusus dan federalisme.





Tapi Hatta justru dikepung oleh kritik politikus sekuler, terutama PKI. Hatta dianggap ceroboh karena telah menggunakan pengaruhnya kepada Perdana Menteri Wilopo sehingga pemerintah tak mengambil tindakan apaapa menghadapi Aceh hingga 1953. Pertempuran akhirnya memang tak terhindarkan di Aceh. Dan Daud Beureueh berdiri dalam pusaran konflik yang berkepanjangan.





Dilahirkan di Beureueh, Sigli, pada 1898, Muhammad Daud adalah lelaki yang tak pernah mengenal sekolah formal. Ia mengecap pendidikan di beberapa pesantren di Sigli. Salah satunya milik Teungku Muhammad Hamid— orang tua Farhan Hamid, anggota DPR asal Partai Amanat Nasional. Pada usia 33 tahun, Daud mendirikan Madrasah Sa’adah Abadiah di Blang Paseh, Sigli.





Daud adalah ulama yang disegani. Majalah Indonesia Merdeka dalam terbitannya


pada 1 Oktober 1953 menulis betapa Daud Beureueh bisa “menyihir” orang dalam ceramahnya yang berjam-jam di masjid. Tak hanya memukau, Daud tak segan melontarkan kritik keras kepada mereka yang meninggalkan akidah Islam.



“Lidah Teungku Daud sangat enteng mengeluarkan vonis haram dan kafir kepada orang yang tak disukainya ketika ia berkhotbah di masjid, dalam rapat, atau di mana saja tempat yang dianggapnya perlu,” tulis Indonesia Merdeka.





Karena karismanya itu, Beureueh dipercaya memimpin tentara Indonesia dalam pertempuran melawan Belanda. Beureueh juga menjadi orang yang bisa menyatukan laskar-laskar perang di Aceh ketika mereka hendak digabungkan menjadi Tentara Rakyat Indonesia (TRl). Itulah sebabnya, meski ia tak mengenal sekolah, Wakil Presiden Muhammad Hatta mengangkatnya menjadi gubernur militer dengan pangkat jenderal mayor tituler.





Tapi Daud Beureuh bukankah tokoh tanpa kontroversi. Salah satu yang terpenting adalah kiprahnya dalam PUSA—lembaga yang didirikannya pada 1939 ter utama kaitannya dengan kaum uleebalang yang didukung pemerintah Belanda. Telah lama sebetulnya ada hubungan yang tak harmonis antara kalangan ulama dan kaum pamong praja di Aceh. Kalangan ulama menuding uleebalang hanya menjadi boneka penjajah. Puncaknya adalah meletusnya peristiwa Perang Cumbok.





Van Dijk mencatat, menjelang revolusi Darul Islam 1953, perang dingin di antara keduanya sudah terlihat. Pada 8 April 1951, kaum uleebalang membentuk Badan Keinsjafan Rakjat (BKR). Secara resmi lembaga ini bertujuan menegakkan pemerintahan yang bersih. Tapi, melihat statemen-statemen yang dikeluarkannya, jelas badan ini bertujuan menggugat PUSA.





Badan Keinsjafan, misalnya, meminta pemerintah pusat membersihkan panitia Pemilu 1955 dari “anasir-anasir” PUSA. Kunjungan pejabat Jakarta ke Aceh masa itu kerap disambut oleh demonstrasi pendukung keduanya. Salah satu poster yang dibentangkan BKR misalnya berbunyi, “Teungku Daud Beureueh Pengisap Darah Rakyat’,” tulis Van Dijk.





Van Dijk malah menuding gerakan PUSA tak independen. Persenjataan PUSA ketika bertempur, misalnya, tak lain berasal dari Jepang. Tapi tudingan ini dibantah M Nur El-Ibrahimy. Menurutnya, mereka berperang dengan menggunakan sisa-sisa senjata milik Jepang yang disita rakyat. Menurut El-Ibrahimy, serangan kepada Beureueh dan PUSA memang beragam. Tak hanya itu, gerakan kepanduan milik PUSA, Kasysyafatul Islam, pernah disebut sebut menerima bantuan 4.000 pakaian dan Borsumij, sebuah perusahaan Belanda.



“Bagaimana masuk akal kami menerima sumbangan dari musuh?” tulis El-Ibrahimy dalam buku Teungku Daud Beureueh: Peranannya dalam Pergolakan di Aceh.





Pemberontakan Daud Beureueh berlarut-larut sebagian pimpinan DI,TII menjalin kontak dengan pusat dan turun gunung, sementara itu rakyat lelah oleh perang. Pada 1961, ia menyerahkan diri kembali ke pangkuan Republik, selepas menjalani pemberontakan yang panjang.



Dalam surat menyuratnya dengan Kolonel M. Jassin, Panglima Kodam I Iskandar Muda, yang diutus untuk membujuk Beureueh, ia menyatakan kesediaannya untuk turun gunung dengan lebih dulu diberi kesempatan bermusyawarah dengan kalangan ulama, Ia bukan lagi pejabat, bukan pemimpin pemberontak, tapi pengaruhnya tak menyusut banyak.





Awal Mei 1978, ia bahkan diasingkan ke Jakarta oleh pemerintah Orde Baru untuk mencegah karismanya menggelorakan perlawanan rakyat Aceh. Di Jakarta, meski dipinjami kendaraan pribadi dan biaya hidupnya ditanggung pemerintah, Beureueh menderita. Kesehatannya merosot tajam. “Tidak ada penyakit yang serius yang diidap Teungku Baud kecuali penyakit rindu kampung halaman,” kata El-Ibrahimy.



Tapi tutup usia di tanah Aceh pada 1987. Napasnya berhenti hanya dua tahun sebelum pemerintah menetapkan Aceh sebagai daerah operasi militer (DOM) —masa yang membuat luka di Tanah Rencong kembali berduka.